23 April 2019

Kartini Masa Kini




Melalui surat – suratnya kepada para sahabatnya di Eropa yang dikumpulkan dalam buku Door Duisternis tot Licht oleh J. H. Abendanon, pikiran dan pandangan Kartini dituturkan demi untuk memajukan nasib perempuan Jawa agar memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar (Imron, 2012:109). 

Spirit perjuangan Kartini untuk kebangkitan pendidikan kaum perempuan dapat dijiwai hingga saat ini. Bahkan dapat pula kiranya dilihat dari berbagai sudut pandang. Termasuk melihatnya dari perspektif Islam.

Pendidikan Dalam Pespektif Islam

Bagi Islam menuntut ilmu bukan hanya hak melainkan juga kewajiban. “Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat”(HR. Ibnu Abdil Bari)

Allah swt memuji orang – orang berilmu, sehingga hal tersebut juga dapat menjadi motivasi bagi kaum muslim untuk melengkapi proses perjalanan hidupnya dengan ilmu. Allah swt berfirman: niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Qs. Al-Mujadilah: 11)

“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs. Az-Zumar: 9).

Baiknya Islam, dorongan menuntut ilmu bukan hanya ditujukan bagi kaum lelaki namun juga bagi kaum perempuan. Hal ini telah dipahami sejak wahyu tersebut turun sekitar seribu tiga ratus tahun lalu. Sehingga di masa kejayaan Islam para muslimah tidak merasakan diskriminasi sebagaimana yang dirasakan kaum perempuan di zaman Kartini. 

Aisyah, Fatimah Az Zahra, Fatimah binti  Khattab dan para muslimah lainnya adalah kaum terdidik, hasil didikan baginda Rasulullah saw. Seperti Ibnu Abdil Barr yang berkata: “Aisyah adalah orang nomor satu pada zamannya dalam 3 ilmu : agama, kedokteran dan syair”.

Ketika kegemilangan Islam sedang berlangsung, justru dibelahan bumi lainnya terjadi diskriminasi terhadap perempuan. Sehingga bertahun – tahun kemudian lahirlah gerakan feminisme yang diinisiasi suatu gerakan perempuan di barat. Tulisan Mary Wollstonecraft yang berjudul A Vindication of The Rights of Woman dianggap sebagai salah satu karya tulis feminis awal yang berisi kritik terhadap Revolusi Prancis yang hanya berlaku untuk laki-laki namun tidak untuk perempuan (https://id.wikipedia.org). Di Indonesia, Kartini dianggap menjadi ikon perjuangan emansipasi perempuan, yang menuntut persamaan kedudukan dengan kaum lelaki.

Pasca redupnya cahaya Islam yang ditandai dengan runtuhnya Khilafah Turki Utsmaniyah, cerita – cerita mengenai diskriminasi pada perempuan terus bermunculan. Bahkan kisah semisal menyentuh negeri – negeri muslim dan mempengaruhi para muslimah. Barat menuduh Islam sebagai ajaran yang mendukung diskriminasi perempuan. Aturan mengenai pembagian warisan dan poligami misalnya, dijadikan sebagai senjata menyudutkan Islam. 

Sekulerisasi dan Komersialisasi Pendidikan

Kembali kepada spirit perjuangan Kartini untuk kebangkitan pendidikan kaum perempuan dan perspektifnya dalam Islam. Di zaman yang serba digital sekarang ini, para perempuan masih banyak yang tertinggal dalam aspek pendidikan. Baik ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan umum maupun  ilmu agama. Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pusat Data dan Statistik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada 2017 merilis data bahwa terdapat 2,2 juta penduduk tidak mengenal tulis baca. Diantaranya merupakan perempuan dan mayoritas ibu rumah tangga (https://www.jawapos.com).

Hasil riset dari Institut Ilmu Alquran (IIQ) akhir pekan lalu mencatat sekitar 65 persen masyarakat Indonesia buta huruf Alquran. Tentu di dalamnya juga terdapat muslimah. Selain itu, minimnya kaum perempuan yang memahami Islam dapat dibuktikan dari keseharian mereka yang jauh dari prilaku Islami. 

Mereka tidak menutup aurat dengan benar sesuai Islam. Mereka berproses menjemput jodoh dengan pacaran yang diharamkan dalam Islam. Lebih suka karaokean daripada menghadiri majelis ilmu dan prilaku non islami lainnya.

Di masa berjayanya sistem kapitalis saat ini, masalah minimnya pendidikan kaum perempuan bukan semata disebabkan budaya patriarki sebagaimana perempuan Jawa era Kartini. Namun sekulerisasi serta komersialisasi pendidikan memiliki pengaruh yang lebih mendalam. Sistem pendidikan berbasis sekuler membentuk para kaum terdidik yang tidak memahami Islam sebagai aturan hidup. Karenanya output pendidikan merasa enjoy dengan gaya hidup kebarat – baratan.

Sementara pengaruh komersialisasi pendidikan, dapat dilihat salah satunya dari hasil penelitian Hasil Bantuan Siswa Miskin Endline di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada. Responden terbanyak yaitu 47,3 persen menjawab tidak bersekolah lagi karena masalah biaya (https://student.cnnindonesia.com).

Menjadi Kartini Masa Kini

Masalah sekulerisasi dan komersialisasi pendidikan adalah masalah sistemik. Artinya jika para perempuan berjiwa Kartini ingin membangkitkan kaumnya, maka perjuangannya juga harus skala sistemik. Artinya, mereka harus menyadarkan kaumnya bahwa keterbelakangan perempuan adalah karena diterapkannya sistem kapitalis berbasis sekuler. Sistem tersebut telah mengabaikan peran agama dalam kehidupan, termasuk dalam hal mengatur sistem pendidikan. 

Alhasil lahirnya sistem ekonomi kapitalis memaksa sektor pendidikan masuk ke ranah bisnis. Pendidikan berkualitas pun hanya untuk yang berduit saja. Keluarga miskin menjadi sulit memberi pendidikan terbaik bagi anak – anak mereka.

Meneladani spirit perjuangan Kartini berarti layak pula melirik Islam sebagai solusi kebangkitan. Sejak berkenalan dengan Kyai Sholeh Darat, Kartini sangat tertarik dengan Islam. Kartini sempat mendengar  ceramah Kyai Sholeh Darat mengenai tafsir surat al Fatihah. Kartini juga diberi hadiah pernikahan oleh Kyai Sholeh Darat berupa 13 juz terjemahan al Qur’an berbahasa jawa. 

Andai sampai kepadanya mengenai kesempurnaan Islam sebagai aturan hidup, Kartini pasti mengajak kaum perempuan untuk mempelajari Islam secara kaffah agar kebangkitan hakiki dapat diraih. Wallahu a’lam bishawab.

Note: Tulisan ini dimuat pula di Harian Waspada Medan 22 April 2019 

2 komentar:

  1. Masya Allah, iyah baru tau kalau kartini begitu dekat dengan nilai-nilai keislaman semasa hidupnya :o

    BalasHapus

Terima kasih telah memberi komentar bijak dan bermanfaat untuk blog ini