23 April 2019

Baca Buku Apa? #HariBukuSedunia



Apa kamu satu dari seribu orang Indonesia yang hobi baca buku? Semoga. Kalau saya hobi kok membaca buku. Hanya saja standar jumlah buku yang  saya baca mungkin masih kurang untuk bisa disebut bookaholic. Sehari satu buku? Enggak. Paling sebulan bisa menamatkan satu buku. Itupun karena ada tuntutan nulis resensi dari komunitas Baca Yuk tempat saya bergabung. 

Apalagi dengan semakin berkembangkan teknologi digital yang semakin memudahkan peredaran informasi, membaca menjadi kegiatan yang bukan cuma diperoleh dari buku. Membaca status di media sosial, informasi di web atau berbagai artikel yang di share ke jalur pribadi. Membaca pesan pribadi dari kenalan termasuk juga kan ya. Wow banyak sekali bacaan kita tiap harinya. Buku jadi punya saingan deh.

Tapi bagaimanapun membaca buku tetap menarik bagi saya. Menamatkan buku sebulan sekali itu dulu. Sejak awal tahun 2019 saya bertekad menamatkan setidaknya satu minggu satu buku. Alhamdulillah bukan cuma satu buku, bahkan seminggu bisa dua hingga tiga buku terselesaikan. 

Kok bisa? Ia sebab saya memanfaatkan e-book dari perpustakaan digital. Favorit saya adalah I-Jogya. Setidaknya sudah lima buku saya baca bulan lalu. Dari komik, buku kumpulan esai hingga sejarah Islam. Saat ini sedang proses menamatkan Buku Tarikh Khulafa karya Imam Suyuthi. Agak lama selesainya karena tebal.

Sederet buku cetak sudah saya persiapkan untuk bacaan selanjutnya. Sedangkan I-Jogya sebagai selingan juga saya manfaatkan. Membacanya bergantian antara buku cetak dan e-book. Ada satu buku yang ingin saya miliki dan dimasukkan dalam antrian bacaan. 

Yaitu buku biografi tokoh Sumut Haji Anif. Saat melihatnya di toko buku saya cuma diizinkan beli satu buku sama suami. Saat itu saya memilih buku lain yang dianggap lebih urgen. Dengan tetap berharap besok - besok bisa beli buku itu. Semoga deh ya.

Buku cukup berpengaruh dalam meningkatkan kepercayaan diri saya. Membaca berarti bertambah ilmu. Makin nambah pengetahuan tentu makin PD buat diskusi sama orang - orang sekitar. 

Buku juga turut memotivasi, jadi tetap fresh menghadapi hari. Alhamdulillah pula suami saya sangat mendukung kegiatan membaca buku. Beliau bilang, senang kalau lihat istrinya pintar hehe. Btw, kamu - kamu sedang baca buku apa? Selamat Hari Buku Sedunia yaa buat sobat semuanya.

#SelamatHariBukuSedunia

#23April2019

Kartini Masa Kini




Melalui surat – suratnya kepada para sahabatnya di Eropa yang dikumpulkan dalam buku Door Duisternis tot Licht oleh J. H. Abendanon, pikiran dan pandangan Kartini dituturkan demi untuk memajukan nasib perempuan Jawa agar memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar (Imron, 2012:109). 

Spirit perjuangan Kartini untuk kebangkitan pendidikan kaum perempuan dapat dijiwai hingga saat ini. Bahkan dapat pula kiranya dilihat dari berbagai sudut pandang. Termasuk melihatnya dari perspektif Islam.

Pendidikan Dalam Pespektif Islam

Bagi Islam menuntut ilmu bukan hanya hak melainkan juga kewajiban. “Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat”(HR. Ibnu Abdil Bari)

Allah swt memuji orang – orang berilmu, sehingga hal tersebut juga dapat menjadi motivasi bagi kaum muslim untuk melengkapi proses perjalanan hidupnya dengan ilmu. Allah swt berfirman: niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Qs. Al-Mujadilah: 11)

“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs. Az-Zumar: 9).

Baiknya Islam, dorongan menuntut ilmu bukan hanya ditujukan bagi kaum lelaki namun juga bagi kaum perempuan. Hal ini telah dipahami sejak wahyu tersebut turun sekitar seribu tiga ratus tahun lalu. Sehingga di masa kejayaan Islam para muslimah tidak merasakan diskriminasi sebagaimana yang dirasakan kaum perempuan di zaman Kartini. 

Aisyah, Fatimah Az Zahra, Fatimah binti  Khattab dan para muslimah lainnya adalah kaum terdidik, hasil didikan baginda Rasulullah saw. Seperti Ibnu Abdil Barr yang berkata: “Aisyah adalah orang nomor satu pada zamannya dalam 3 ilmu : agama, kedokteran dan syair”.

Ketika kegemilangan Islam sedang berlangsung, justru dibelahan bumi lainnya terjadi diskriminasi terhadap perempuan. Sehingga bertahun – tahun kemudian lahirlah gerakan feminisme yang diinisiasi suatu gerakan perempuan di barat. Tulisan Mary Wollstonecraft yang berjudul A Vindication of The Rights of Woman dianggap sebagai salah satu karya tulis feminis awal yang berisi kritik terhadap Revolusi Prancis yang hanya berlaku untuk laki-laki namun tidak untuk perempuan (https://id.wikipedia.org). Di Indonesia, Kartini dianggap menjadi ikon perjuangan emansipasi perempuan, yang menuntut persamaan kedudukan dengan kaum lelaki.

Pasca redupnya cahaya Islam yang ditandai dengan runtuhnya Khilafah Turki Utsmaniyah, cerita – cerita mengenai diskriminasi pada perempuan terus bermunculan. Bahkan kisah semisal menyentuh negeri – negeri muslim dan mempengaruhi para muslimah. Barat menuduh Islam sebagai ajaran yang mendukung diskriminasi perempuan. Aturan mengenai pembagian warisan dan poligami misalnya, dijadikan sebagai senjata menyudutkan Islam. 

Sekulerisasi dan Komersialisasi Pendidikan

Kembali kepada spirit perjuangan Kartini untuk kebangkitan pendidikan kaum perempuan dan perspektifnya dalam Islam. Di zaman yang serba digital sekarang ini, para perempuan masih banyak yang tertinggal dalam aspek pendidikan. Baik ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan umum maupun  ilmu agama. Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pusat Data dan Statistik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada 2017 merilis data bahwa terdapat 2,2 juta penduduk tidak mengenal tulis baca. Diantaranya merupakan perempuan dan mayoritas ibu rumah tangga (https://www.jawapos.com).
1 April 2019

Minuman Sehat di Pagi Hari

https://www.youtube.com/channel/UCGra1BUP8MPDDcnfU4XzDXw

Kombinasi kayu manis, cengkeh, kapulaga dan jahe menjadi minuman saya dan suami di pagi hari. Maklum, pasca terkena TBC beberapa tahun lalu, saya dituntut untuk lebih memperhatikan kesehatan. Jika daya tahan tubuh saya menurun, saya mudah terserang batuk. Butuh waktu lama buat saya untuk pulih bila sudah terlanjur terkena batuk. Alhamdulillah kayu manis, cengkeh, kapulaga dan jahe turut membantu menjaga daya tahan tubuh saya. Batuk pun jarang datang.

Awalnya terinspirasi gaya hidup baru yang dijalani oleh Dewi Hughes. Dimana mbak Dewi menjadikan rempah – rempah sebagai salah satu minuman sehat beliau. Ditambah membaca buku berjudul Rasulullah is My Doctor karya Jerry D. Grey. Jadilah saya dan suami memilih mengganti teh manis yang biasanya diminum di pagi hari menjadi teh rempah – rempah.

Selain menjaga daya tahan tubuh, empat jenis rempah – rempah itu memiliki keunggulan lainnya. Berbagai sumber menyebutkan bahwa kayu manis misalnya, dapat mencegah kanker dan dapat menurunkan berat badan. Jahe baik diminum oleh pasangan yang sedang program kehamilan. Terlebih disebutkan dalam al Qur’an bahwa jahe adalah minuman surga (QS. Al Insan: 17). Tentu hal itu menunjukkan bahwa jahe adalah minuman istimewa.

Kalau mbak Dewi Hughes meramu rempah – rempah sebagai minuman, tanpa menyertakan pemanis. Kalau saya sih tetap bisa menikmati bila ikutan cara mbak Dewi. Tapi tidak dengan suami saya. Minuman tanpa rasa ogah beliau minum. Jadi setelah saya merebus rempah – rempah tersebut bersama air secukupnya, saya pun memberi campuran gula aren dan madu ke dalamnya. Terkadang juga kami turut mencampurkan dua sendok makan susu kambing bubuk ke dalamnya. Wah kalau yang ini rasanya lezat sekali. Rasa bandrek lah. Silahkan dicoba minuman sehat nan lezat ini ya ibu – ibu.

Agar Barang Pecah Belah Tidak Mudah Pecah



Barang berbahan kaca memang rentan pecah. Sementara kita ibu – ibu ini cenderung sayang dengan perabotan rumah yang kita miliki. Aduh, kalau sedikit – sedikit peralatan dapur pecah saat nyuci piring, jadi galau dong. 

Kebetulan pas buka – buka lagi buku jadul tentang merawat perabotan rumah tangga, saya nemu tips ini. Cara agar barang pecah belah tidak mudah pecah.

Pertama, ambil panci dan isi air secukupnya. Beri 1 sendok makan deterjen

Kedua, masukkan barang pecah belah ke dalam panci hingga terendam deterjen.

Ketiga, panaskan air sampai mendidih dan air tinggal setengahnya

Keempat, diamkan sampai air menjadi dingin, baru diangkat.

Saya sendiri belum mencoba tips ini. Maklum kesibukan sehari – hari membuat lupa untuk merawat barang – barang yang ada di rumah. Menurut bukunya tips ini sih manjur. Niscaya barang – barang pecah belah menjadi awet dan tidak gampang pecah katanya. 

Ibu mau coba? Ntar kalau sudah coba hasilnya boleh share di kolom komentar ya.

Sumber: Buku 101 Tips Cerdas Merawat Rumah Dan Perabotnya by Farida Utami