26 Desember 2019

Berani Membuka Pintu Rezeki



Allah swt tak pernah ingkar janji. Jaminan rizki dariNya itu benar. Kuncinya dua. Yakin dan usaha. Satu pengalaman tentang datangnya rizki dari arah tak terduga terjadi pada kami. Di usia pertama pernikahan kami, kondisi keuangan keluarga belum stabil seperti sekarang. Suamiku bisnis bimbingan belajar kecil - kecilan. Hanya itu. Belum ada usaha tambahan. Waktu itu penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari – hari dan menabung untuk sewa rumah.

Akhir semester genap adalah libur terpanjang bagi usaha suamiku. Sebab murid – murid bimbel kebanyakan adalah siswa kelas akhir, yang tengah persiapan UN. Sekitar bulan April UN dilaksanakan. UN berlangsung, jumlah murid bimbel pun menurun drastis. Tersisa sedikit murid dari kelas lain. Sebulan kemudian mereka pun ujian dan libur les pula. Bulan tujuh awal sekolah baru dimulai lagi.

Artinya, bisa dikatakan selama dua bulan lebih hampir – hampir tak ada penghasilan yang kami dapatkan. Hingga keuangan kami mulai seret. Tambah seret. Makin seret.

Masa liburan masih tersisa sebulan lebih waktu itu, uang di tangan tinggal dua puluh ribu. Ada beberapa pilihan bagi kami. Pertama, menghemat uang tersebut hingga masa libur usai. Makan nasi pakai garam misalnya. Karena beras masih ada. Tinggal beli garam. Kedua, berhutang. Tapi pilihan ini tidak disukai suamiku. Ketiga, menjadikan uang dua puluh ribu itu sebagai modal buka pintu rezeki.

Suamiku memilih alternatif ketiga. Dengan keyakinan bahwa setiap yang hidup pasti ada rezekinya. Siapa yang berusaha, Allah swt pasti menghargai usaha tersebut. Allah maha penyayang, akan memberi rezeki pada siapa yang kehendakiNya. Kami yakin Allah swt tidak akan meninggalkan kami.

Saat itu keahlian suamiku hanya mengajar. Maka suamiku memutuskan mencoba mencari murid privat. Padahal kalau ditimbang pakai akal, siapa sih yang mau les masa libur begitu? Ada sih satu dua orangtua yang memilih mengkursuskan anaknya di masa libur. Daripada main terus, ntar lupa dengan pelajaran, mending liburan diisi kursus. Kata mereka. Tapi orang – orang seperti itu langka.
25 Desember 2019

Andai Aku Menjadi Muslimah Uyghur

http://terkininews.com/2019/12/24/Solighur-Unjukrasa-Protes-Bungkamnya-Pemerintah-Indonesia-Terkait-Muslim-Uighur.html


Aku membayangkan menjadi muslimah Uyghur, dipaksa menikah dengan pria asing. Terutama berbeda akidah denganku. Seumur hidup harus kujalani dengannya. Hatiku pasti terluka. Padahal dalam Islam seorang wanita berhak ditanyai persetujuannya, terhadap pria yang ingin meminangnya. Tapi pemerintah China tak kenal toleransi. Mereka bertangan besi. Memaksakan kehendaknya pada muslimah Uyghur.

Bagaimana pula jika aku menjadi muslimah Uyghur yang bernasib lebih malang. Bukan dinikahi. Tapi diperkosa. Naudzubillah. Tapi itulah yang terjadi. Muslimah Uyghur digagahi oleh petugas – petugas pemerintah China secara bergantian. Tak ada belas kasihan. Tiada terbayang oleh mereka, bagaimana seandainya yang diperkosa itu adalah istri atau anak perempuan mereka.

Bagaimana jika aku menjadi muslimah Uyghur, yang suaminya dimasukkan ke tahanan bersama satu juta warga Uyghur lainnya. Tanpa salah apa – apa. Tanpa kejahatan yang menjadi alasan ia pantas menerima siksa. Suamiku harus menerima tindak kekejaman setiap harinya. Didoktrin dengan ajaran – ajaran komunis. Dipaksa berbangga dengan pemerintah China yang faktanya kejam. Dipaksa mencintai negara yang menebar kejahatan bagi kaumku.

Apa rasanya menjadi muslimah Uyghur yang dirampas hak beragamanya? Al Qur’an disita dari tanganku. Kitab suciku malah dibakar pemerintah China. Tak boleh memahami Islam. Tak boleh mengamalkan Islam. Tak boleh belajar membaca al Qur’an. Tak boleh menutup aurat.

Hatiku pasti sedih dan terluka. Takut, marah, tak berdaya semua menyatu. Apa mereka tak melihatku sebagai manusia merdeka? Siapa aku dimata mereka? Kenapa mereka memperlakukanku seperti itu?

Bagiku dan kaumku, masih adakah harapan merdeka? Siapa yang akan membebaskan kami dari siksaan pemerintah China? Siapa yang berani menghentikan kejahatan pemerintah China? Penguasa negeri muslim mana yang berani melepaskan diri dari pengaruh China lalu dengan sigap membela kami? 

Penguasa negeri muslim mana yang sanggup mengembalikan kedamaian hidup kami? Penguasa muslim mana yang mampu mengembalikan kehormatan kami? Penguasa muslim mana yang bisa mengembalikan senyum anak – anak kami?

25 November 2019

Jasa Guruku

#SelamatHariGuru


Tetiba peringatan hari guru, saya terkenang dengan seorang guru. Namanya ibu Aisyah. Beliau guru saya di kelas 1 SD. Saat itu beliau sebenarnya sudah lebih cocok saya panggil nenek. Usia beliau sudah 60 tahun lebih. Jelang pensiun. Meski begitu tetap dipanggil ibu guru.

Sebenarnya saya masuk SD di usia yang cukup, yaitu tujuh tahun. Namun tingkah saya kayak anak balita. Masih suka pecicilan. Padahal lagi ada bu Aisyah di ruang kelas waktu itu. Tapi saya tak peduli, main di kelas. Pukul – pukul meja dan berlarian. Apa reaksi bu Aisyah?

Beliau santai menghadapi saya. Beliau tidak memarahi saya. Hanya menegur dengan halus. Suara beliau lembut dan mudah senyum. Kami murid beliau merasa nyaman diajar beliau.

Tak sampai setahun seingat saya beliau mengajar, lalu pensiun. Terputus kabar tentang beliau. Dengan hitung – hitungan manusia, hari ini sekitar 27 tahun telah berlalu. Beliau mungkin sudah menghadap Allah swt. Semoga amal salihmu diterima Allah swt buk. Terima kasih atas kasih sayang dan ilmu yang engkau berikan pada kami murid – muridmu.

7 November 2019

Pendidikan Untuk Anak Zaman Now



Judul Buku  : Seri Parenting Ideologis Strategi Mendidik Anak Zaman Now, Berpikir Konsep, Metode, Uslub, dan Sarana
Penulis        : Yanti Tanjung
Penerbit      : Al Azhar Fresh Zone
Tahun Terbit: 2018
Cetakan      : Pertama
Tebal           : 248 halaman

Buku pendidikan anak menjadi salah satu buku yang paling diminati saat ini. Mengingat tantangan orang tua mendidik anak di zaman teknologi canggih cukup berat.

Sebagai penggiat home schooling, penulis merasa ikut bertanggung jawab untuk berbagi ilmu dan pengalaman beliau pada orang banyak. Maka lahirnya buku Seri Parenting Ideologis, yang mana buku Strategi Mendidik Anak Zaman Now ini menjadi seri ketiga melengkapi dua buku sebelumnya.

Hal paling menonjol di era digital saat ini adalah kecanggihan sarana komunikasi berbentuk HP, sosial media, dan internet. Kemajuan teknologi di bawah sistem politik kapitalisme ternyata tak hanya membawa manfaat semata melainkan juga mudharat.

Sebab kebebasan ala kapitalis liberal memunculkan konten – konten berbahaya seperti pornografi, games tak mendidik dan konten merusak lainnya.

Untuk itu menurut penulis, dalam mendidik anak orang tua harus serius. Diawali dari menentukan gambaran output pendidikan yang hendak diwujudkan. Sebagai muslim, selayaknya orang tua berkeinginan menyiapkan anak – anak sebagai generasi yang tangguh.

Cirinya yaitu, punya kepribadian Islam yang baik, menjadi ulama yang ilmuwan dan ilmuwan yang ulama, mampu menjadi pemimpin yang paham politik, hukum dan jihad, menjadi pewaris dakwah dan bagian dari peradaban Islam. Penjelasan mengenai poin – poin tersebut ada dalam buku.

Selanjutnya orangtua harus memahami mengenai fikrah (pemikiran), thariqah (metode), uslub (strategi dan teknis) dan sarana dalam mendidik. Mengenai fikrah dan thariqah menurut beliau harus bersumber sepenuhnya dari Islam.
5 November 2019

Tips Menjaga Buku Dari Peminjam Nakal



My Own Picture
Mencintai benda milik kita wajar ya. Asalkan tidak melebihi cinta pada Allah dan Rasul. Saya mencintai buku milik saya. Dipinjam boleh. Asal dipulangkan. Sayangnya banyak kenalan bisa minjam tapi sulit memulangkan. Selama komitmen rutin baca buku sejak sembilan tahun lalu, setidaknya lebih dari dua puluh buku saya yang dipinjam nggak balik.

Saya pernah ke rumah seorang teman. Saat itu ada buku di sekitarnya. Dia berucap, "Ini buku siapa ya? Aku lupa siapa yang punya buku ini, sangking lamanya ku pinjam."

Saya jadi mengaitkan peristiwa teman itu dengan masalah saya. Bisa jadi teman teman yang pinjam buku saya ada yang ingin mengembalikannya. Tapi dia lupa siapa pemilik buku tersebut. Karena sudah lama meminjam. Apalagi memang tak semua buku saya tertulis identitas diri. Itu prasangka baiknya ya. Selebihnya, wallahu a'lam bishawab.

Yang lalu biarlah berlalu. Direlakan aja buku yang lenyap itu. Semoga buku itu dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh orang tersebut. Jadi nggak sia sia buku itu ada ditangannya.

Nah, biar hal ini nggak terjadi lagi. Saya dan suami melakukan beberapa hal untuk meminimalisir kehilangan buku yang dipinjam.

Pertama, menetapkan aturan baca di tempat. Bagi kenalan biasa.

Bagi kenalan umum yang belum cukup diketahui sikap amanah pada dirinya, maka bentuk kewaspadaan kami adalah mempersilahkan mereka untuk baca di tempat. Rumah kami didesain untuk belajar bagi anak anak yang belajar dibimbingan belajar kami.

Jadi ada ruang diskusi yang disediakan. Diruang tersebut aktivitas membaca pun cukup nyaman. Makanya kami menetapkan aturan begini.

Resiko mempersilahkan orang mengambil dan meletakkan sendiri buku-buku kami adalah, berantakan. Hemm, persis seperti kondisi diperpustakaan. Saya pikir kerja yang paling berat dan menyita waktu bagi pustakawan adalah membereskan buku buku pasca sentuhan pengunjung. Saya cukup kesal dengan kebiasaan orang yang tak bisa meletakkan buku dengan benar seperti sebelum ia mengambilnya.

Makanya saya cukup cerewet mengingatkan mereka yang sedang pilih-pilih buku hendak dibaca, “Mohon diletakkan lagi sebagaimana keadaan semula.”


Kedua, menetapkan jangka waktu peminjaman. Yaitu maksimal dua minggu.

Bagi kenalan dekat yang ingin baca buku kami, boleh membawa pulang. Tapi untuk menghindari penundaan dalam membaca dan memulangkan buku, maka baiknya memang ada jangka waktu peminjaman. Sehingga memang peminjam serius menyelesaikan membaca buku tersebut.
1 November 2019

Sobat, Prinsip Hidup Lo Kok Seram Amat Sih


Pictured by https://sahabatihya.com

Berpegang pada sebuah prinsip dalam menjalani hidup memang penting. Penting banget. Supaya hidup manusia itu punya arah. Manusia pun bisa hidup dengan serius sesuai prinsipnya untuk mencapai suatu tujuan. Tapi yang jauh lebih penting adalah darimana prinsip itu kita dapatkan. Apa dasar dari terbentuknya prinsip hidup tersebut. Karena ternyata sekedar memiliki prinsip nggak cukup.

Kita ambil contoh rapper Young Lex yang bangga punya prinsip biar bandel asal tanggung jawab. Kayak yang dia lakukan bersama pacarnya. Ya, seks bebas sampai hamil. Mengetahui pacarnya hamil dia bilang senang. Sebab itu karunia Tuhan katanya. Banyak orang yang sudah menikah berharap punya anak tapi tak kunjung diberi anak. Jadi dia merasa beruntung pacarnya hamil. Dia sama sekali nggak malu melakukan hal tersebut. Bukan bangga ya katanya, tapi nggak malu mengakui perbuatannya.

Prilakunya memperlihatkan bahwa ikatan pernikahan nggak ada artinya buat dia. Baginya nikah sama pacaran nggak ada beda. Kalau sudah saling suka ya bebas mau melakukan apa saja. Yang penting kalau udah hamil harus bertanggungjawab membesarkan si anak. Dalam videonya pun dia berpesan, buat yang mengalami hal serupa dengan dia, jangan gugurin itu anak. Siapa tau anak itu kelak jadi presiden. Siapa tau kelak anak itu jadi orang hebat.

Prinsip Young Lex lainnya yaitu benar benar nggak suka ditanya tentang agama. Nggak suka membicarakan agama. Baginya yang penting jadi orang baik. Untuk berbuat baik nggak butuh mengetahui terlebih dahulu agama seseorang. Lagipula menurutnya semua agama sama – sama baik. Jadi nggak ada pentingnya untuk menunjukkan identitas agam diri. Serem amat kan prinsipnya.

Darimana dia dapati prinsip hidupnya itu? Katanya dia menentukan prinsip hidup berdasarkan pengalaman. Dari situ tampak bahwa pengalaman hidupnya jauh dari agama. Dia nggak paham sucinya hubungan pernikahan. Dia nggak paham tentang pentingnya kedudukan agama dalam kehidupan. Untuk apa Sang Pencipta menurunkan agama? Agama mana yang diridhai Sang Pencipta?

Untuk membentuk sebuah prinsip hidup, selayaknya seseorang terlebih dahulu mempertanyakan mengenai hakikat kehidupan ini. Kenapa manusia ada di dunia ini? Apa maksud keberadaan manusia di dunia? Dan mau kemana manusia setelah meninggal dunia?
29 Oktober 2019

Suami Pegang HP Jelang Tidur Bikin Masalah?



Ada teman bikin status di fb mengenai kebiasaan suaminya pegang hp jelang tidur yang sempat ganggu komunikasi mereka. Lalu dia bikin treatment buat suaminya. Suaminya dikasih challenge sepuluh hari bebas hp jelang tidur. Hasilnya memuaskan. Komunikasi mereka kembali baik.

Aku pikir suamiku saja yang punya kebiasaan pegang hp jelang tidur. Aku lupa ini lagi zamannya. Sehingga harusnya aku sadar suamiku nggak sendirian. Hehe.

Sebenarnya di masyarakat bukan cuma lelaki sih yang pegang hp jelang tidur. Perempuan juga. Bahkan bukan cuma mau tidur. Dalam keseharian kita, hampir hampir banyak orang tak bisa lepas dari hp.

Gawai sudah menjadi semacam kebutuhan pokok. Gawai sebagai alat pendukung kerja, kebutuhan mengikuti isu – isu di media sosial, baca artikel atau sekedar lihat – lihat foto. Jadi bukan hanya suamiku sih yang pegang hp jelang tidur. Aku juga. Haha.

Lah tulisan ini aku tulis pakai hp jelang tidur. Dan disampingku ada suamiku yang juga sedang pegang hp. Hihihi.

Tapi pengalamanku berbeda dari temanku. Meski aku dan suamiku sama sama pegang hp di tempat tidur, kami belum mengalami masalah karenanya. Kami fleksibel sih. Saat ada yang perlu didiskusikan kami akan berhenti dari melototi hp dan ngobrol. Sesaat kemudian kembali menatap hp kala obrolan dianggap selesai.

By the way, apa sih yang dikerjain suamiku dengan hpnya? Hemm, suamiku baca novel kungfu haha. Iya, diantara aktivitas mengelola bimbel dan ngajar bahasa arab, suamiku hobi main catur di komputer dan baca novel kungfu.

Suamiku pun sering cerita mengenai kisah di novel yang ia baca. Baca sebentar, lalu cerita. Begitu seringnya. Ceritanya kayak mendongeng gitu, pakek ekspresi. Lucu deh. Hehe.
25 Oktober 2019

Ketemu Pemuda Yang Epilepsi Gara – Gara Main Game



Lama tak datang ke praktek kesehatan dokter Aznan Lelo sang Profesor ahli farmasi yang terkenal di Medan itu. Kali ini aku dan suami datang untuk keperluan ikhtiar memiliki anak. Suasana di tempat itu lebih ramai dari pada waktu beberapa tahun lalu kami datang ke sana.

Model registrasinya juga udah beda. Kalau dulu, saat datang bisa langsung registrasi untuk berobat hari itu juga. Meski menunggu lama tak mengapa, tetap dapat pelayanan. Kali ini, kita yang datang hari ini harus mendaftar untuk berobat esok hari. Memaksa ingin berobat hari itu juga, tak diperkenankan.

Para calo antrian masih ada. Bahkan kini jumlahnya lebih banyak. Sekitar enam orang. Setiap harinya mereka akan menawarkan jasa potong antrian pada calon pasien yang kira kira mau cepat. Upahnya sekian.

Mereka juga merangkap jaga parkir. Para pemarkir dikenakan biaya 2 rb rupiah. Saat itu aku sempat kesal dengan aksi mereka. Aku berkata: "Enak ya dapat banyak. Udah dapat di dalam, dapat lagi di luar."

Jawabnya, "Alah kak, yang penting kami kan nggak ganggu orang."

Yaaah, ganggu dong itu namanya. Kita capek capek ngantri, lah dia main nyelonong aja bawa nama seseorang yang bakal dilayani lebih cepat dari kita. Padahal, bagi anak anak atau yang memang butuh cepat karena keadaannya cukup parah, bakal dilayani lebih cepat kok.

Jadi nggak butuh jasa calo lagi. Eh, kok jadi panjang ya cerita tentang calo. Hehe. Habis kesal sih. Di pikir pikir lagi ya harus berusaha memaklumi mereka. Sebab cari kerja memang susah. Masih mending mereka tawarkan suatu jasa. Di sekitar rumahku, preman minta duit tanpa nawarin jasa apapun.
2 September 2019

Kecerdasan Politik: Memisahkan Konsep Politik dan Realitas Politik







Judul buku          : Political Quotient Meneladani Perilaku Politik Para Nabi
Penulis                 : M. D. Riyan
Penerbit                : Madania Prima
Tahun terbit         : 2008
Cetakan                : I
Ketebalan             : 208 hal
ISBN                     : 978-979-166-227-7


Buku ini saya beli beberapa waktu lalu dengan harga diskon. Murah banget. Jadi meski terbitan lama dan tidak mengenal nama penulisnya ya beli saja. Terlebih bahasan politik salah satu bahasan yang saya suka. Kenapa saya suka? Karena aspek politik punya pengaruh besar untuk hidup manusia termasuk diri saya. Jadi saya merasa harus tahu mengenai politik.

Dibagian pengantar penulis mengutip pernyataan Socrates bahwa manusia itu makhluk yang berpolitik. Itu disetujui penulis. Sebab menurut penulis, dengan segenap potensi yang dimilikinya manusia mampu untuk mengatur diri, komunitas dan lingkungannya.

Sayangnya politik yang merupakan masalah atur mengatur urusan manusia justru dijauhi oleh sebagian manusia. Hal ini tak lepas dari kondisi carut marutnya perpolitikan negeri kita. Sehingga persepsi negatif tentang politik pun berkembang di masyarakat. Ada yang bilang politik itu kotor. Politik cuma urusan berebut kekuasaan. Politik urusan pejabat, rakyat nggak perlu ikut ngurusin. Dan berbagai persepsi negtif lainnya.

Nah kehadiran buku ini merupakan bentuk upaya penulis untuk mengubah persepsi negatif pembaca tentang politik. Poin pentingnya, kita harus mampu membedakan mengenai realitas politik dengan konsep politik. Agar dapat memiliki Political Quotient atau kecerdasan politik.

Konsep politik berdiri di atas ideologi tertentu. Disebut konsep politik Islam, karena bersumber dari al Qur’an dan As sunnah. Disebut konsep politik demokrasi tentu bersumber dari pemikiran para tokohnya. Sedangkan realitas politik adalah berbagai peristiwa berkaitan dengan politik yang dilakukan oleh manusia.
30 Mei 2019

(Review Buku) Mengenal Secara Ringkas Sosok Sahabat Rasulullah saw

pictured by Gramedia Digital


Judul buku          : Sirah 60 Sahabat
Penulis               : Ummu Ayesha
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit        : 2017
Ketebalan           : 328 hal
ISBN                  : 978-602-03-4637-3


Mengenal pribadi para sahabat Rasulullah adalah salah satu penyubur iman. Buku ini jadi sarana bagi saya mengenal enam puluh orang sahabat Rasulullah saw. Tidak mendalam memang tetapi poin pentingnya dapat. Siapa namanya, asal, kelahiran, kapan masuk Islam, apa yang dialami saat awal memeluk Islam serta kontribusi terhadap Islam. Saya membaca versi e-booknya.

Penulis meringkas kisah – kisah mereka dari berbagai sumber. Dengan catatan, nama Khulafaurasyidin tidak dibahas disini. Sebab penulis membahasnya secara khusus dalam buku berbeda.

 Nama – nama sahabat yang kurang familiar bagi saya ada di buku ini. Seperti Miqdad bin Amru ra, Abu Jabir ra, Abu Ayyub Al - Anshari ra, Abu Musa Al – As’ary ra dan lain sebagainya. Kisah mereka tak kalah heroik dengan sahabat – sahabat besar seperti Mushaib bin Umair, Abdurahman bin Auf, Zubair bin Awwam dan lain sebagainya.

Enam puluh sahabat yang diceritakan dalam buku ini memiliki benang merah. Pertama, mereka beriman kepada Allah swt dengan pemikiran. Mereka masuk Islam setelah mendapatkan penjelasan mengenai Islam, baik melalui teman, sahabat, kerabat ataupun sejak awal secara langsung didakwahi Rasulullah saw.

Allah swt berkenan memberi hidayah pada mereka setelah mereka sendiri berupaya mendapatkannya. Keimanan yang diperoleh dengan pemikiran membuat keislaman mereka berkualitas tinggi.
6 Mei 2019

Cantik Itu Murah



“Eva pakai apa nak. Mamak lihat tadi wajah eva berseri seri”.  Ini pesan whatsapp mamakku. Walah aku ini sudah tua lo sebenarnya. Usia sudah kepala tiga. Tapi dasar anak perempuan satu – satunya, mamakku amat perhatian. Setiap kali berkunjung ke rumah mamak pasti diperhatikan kondisi diriku ini. Berat badan susut dikit aja sudah diomeli. Wajah terlihat kusam diomeli. Sebaliknya, kalau wajahku terlihat cerah misalnya, bakal dipuji. Kayak pesan itu tu, wajahku dipuji berseri seri.

Perawatan wajahku ku share ke ortu dan ke kalian yang fren. Siapa tau bermanfaat. Aku ini golongan ekonomi menengah ke bawah. Jadi nggak punya budget yang besar untuk perawatan kecantikan. Tadinya sih mau cuek aja. Tapi suami dan ortu senang melihat diriku berpenampilan fresh. Alhasil menyenangkan orang – orang yang disayangi baik kan ya. Ku rawatlah wajahku dengan ramuan sederhana yang diperoleh dari berbagai sumber.

Pertama, minum air mineral yang cukup. Kamu yang baca tulisan ini pasti sudah paham pentingnya air bagi tubuh kita. Bagi kulit, air dapat melembabkan dan menyamarkan kerutan. Dianjurkan bagi kita minum air minimal dua liter per hari. Tadinya ukuran konsumsi air per hari tidak kuperhatikan.

Namun aku dapat inspirasi dari sebuah video di youtube. Jadikan botol air ukuran besar sekitar satu hingga dua liter sebagai wadah khusus air minum kita. Minum dengan gelas seringnya membuat kita minum sedikit karena malas ambil air. Tapi bila botol air dengan isi standar ada selalu di dekat kita, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menghabiskan air minum sesuai standar. Apalagi botolnya dipilih yang cantik, hingga terlihat beingnya air. Dalam cuaca yang panas seperti hari – hari ini, melihat air bening pasti menggiurkan untuk selalu diminum.

Tapi gimana saat Ramadhan. Sama sih, aku tetapt menggunakan botol air isi satu setenga liter. Diisi penuh dan diminum perlahan di waktu sahur. Jangka waktu menyiapkan sahur, sahur dan menunggu adzan kan lumayan lama tuh. Waktu yang saya habiskan sekitar satu setengah jam. Dalam jangka waktu itu bisa habis sekitar satu liter. Sisanya dihabiskan saat berbuka hingga malam.
23 April 2019

Baca Buku Apa? #HariBukuSedunia



Apa kamu satu dari seribu orang Indonesia yang hobi baca buku? Semoga. Kalau saya hobi kok membaca buku. Hanya saja standar jumlah buku yang  saya baca mungkin masih kurang untuk bisa disebut bookaholic. Sehari satu buku? Enggak. Paling sebulan bisa menamatkan satu buku. Itupun karena ada tuntutan nulis resensi dari komunitas Baca Yuk tempat saya bergabung. 

Apalagi dengan semakin berkembangkan teknologi digital yang semakin memudahkan peredaran informasi, membaca menjadi kegiatan yang bukan cuma diperoleh dari buku. Membaca status di media sosial, informasi di web atau berbagai artikel yang di share ke jalur pribadi. Membaca pesan pribadi dari kenalan termasuk juga kan ya. Wow banyak sekali bacaan kita tiap harinya. Buku jadi punya saingan deh.

Tapi bagaimanapun membaca buku tetap menarik bagi saya. Menamatkan buku sebulan sekali itu dulu. Sejak awal tahun 2019 saya bertekad menamatkan setidaknya satu minggu satu buku. Alhamdulillah bukan cuma satu buku, bahkan seminggu bisa dua hingga tiga buku terselesaikan. 

Kok bisa? Ia sebab saya memanfaatkan e-book dari perpustakaan digital. Favorit saya adalah I-Jogya. Setidaknya sudah lima buku saya baca bulan lalu. Dari komik, buku kumpulan esai hingga sejarah Islam. Saat ini sedang proses menamatkan Buku Tarikh Khulafa karya Imam Suyuthi. Agak lama selesainya karena tebal.

Sederet buku cetak sudah saya persiapkan untuk bacaan selanjutnya. Sedangkan I-Jogya sebagai selingan juga saya manfaatkan. Membacanya bergantian antara buku cetak dan e-book. Ada satu buku yang ingin saya miliki dan dimasukkan dalam antrian bacaan. 

Yaitu buku biografi tokoh Sumut Haji Anif. Saat melihatnya di toko buku saya cuma diizinkan beli satu buku sama suami. Saat itu saya memilih buku lain yang dianggap lebih urgen. Dengan tetap berharap besok - besok bisa beli buku itu. Semoga deh ya.

Buku cukup berpengaruh dalam meningkatkan kepercayaan diri saya. Membaca berarti bertambah ilmu. Makin nambah pengetahuan tentu makin PD buat diskusi sama orang - orang sekitar. 

Buku juga turut memotivasi, jadi tetap fresh menghadapi hari. Alhamdulillah pula suami saya sangat mendukung kegiatan membaca buku. Beliau bilang, senang kalau lihat istrinya pintar hehe. Btw, kamu - kamu sedang baca buku apa? Selamat Hari Buku Sedunia yaa buat sobat semuanya.

#SelamatHariBukuSedunia

#23April2019

Kartini Masa Kini




Melalui surat – suratnya kepada para sahabatnya di Eropa yang dikumpulkan dalam buku Door Duisternis tot Licht oleh J. H. Abendanon, pikiran dan pandangan Kartini dituturkan demi untuk memajukan nasib perempuan Jawa agar memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar (Imron, 2012:109). 

Spirit perjuangan Kartini untuk kebangkitan pendidikan kaum perempuan dapat dijiwai hingga saat ini. Bahkan dapat pula kiranya dilihat dari berbagai sudut pandang. Termasuk melihatnya dari perspektif Islam.

Pendidikan Dalam Pespektif Islam

Bagi Islam menuntut ilmu bukan hanya hak melainkan juga kewajiban. “Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat”(HR. Ibnu Abdil Bari)

Allah swt memuji orang – orang berilmu, sehingga hal tersebut juga dapat menjadi motivasi bagi kaum muslim untuk melengkapi proses perjalanan hidupnya dengan ilmu. Allah swt berfirman: niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Qs. Al-Mujadilah: 11)

“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs. Az-Zumar: 9).

Baiknya Islam, dorongan menuntut ilmu bukan hanya ditujukan bagi kaum lelaki namun juga bagi kaum perempuan. Hal ini telah dipahami sejak wahyu tersebut turun sekitar seribu tiga ratus tahun lalu. Sehingga di masa kejayaan Islam para muslimah tidak merasakan diskriminasi sebagaimana yang dirasakan kaum perempuan di zaman Kartini. 

Aisyah, Fatimah Az Zahra, Fatimah binti  Khattab dan para muslimah lainnya adalah kaum terdidik, hasil didikan baginda Rasulullah saw. Seperti Ibnu Abdil Barr yang berkata: “Aisyah adalah orang nomor satu pada zamannya dalam 3 ilmu : agama, kedokteran dan syair”.

Ketika kegemilangan Islam sedang berlangsung, justru dibelahan bumi lainnya terjadi diskriminasi terhadap perempuan. Sehingga bertahun – tahun kemudian lahirlah gerakan feminisme yang diinisiasi suatu gerakan perempuan di barat. Tulisan Mary Wollstonecraft yang berjudul A Vindication of The Rights of Woman dianggap sebagai salah satu karya tulis feminis awal yang berisi kritik terhadap Revolusi Prancis yang hanya berlaku untuk laki-laki namun tidak untuk perempuan (https://id.wikipedia.org). Di Indonesia, Kartini dianggap menjadi ikon perjuangan emansipasi perempuan, yang menuntut persamaan kedudukan dengan kaum lelaki.

Pasca redupnya cahaya Islam yang ditandai dengan runtuhnya Khilafah Turki Utsmaniyah, cerita – cerita mengenai diskriminasi pada perempuan terus bermunculan. Bahkan kisah semisal menyentuh negeri – negeri muslim dan mempengaruhi para muslimah. Barat menuduh Islam sebagai ajaran yang mendukung diskriminasi perempuan. Aturan mengenai pembagian warisan dan poligami misalnya, dijadikan sebagai senjata menyudutkan Islam. 

Sekulerisasi dan Komersialisasi Pendidikan

Kembali kepada spirit perjuangan Kartini untuk kebangkitan pendidikan kaum perempuan dan perspektifnya dalam Islam. Di zaman yang serba digital sekarang ini, para perempuan masih banyak yang tertinggal dalam aspek pendidikan. Baik ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan umum maupun  ilmu agama. Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pusat Data dan Statistik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada 2017 merilis data bahwa terdapat 2,2 juta penduduk tidak mengenal tulis baca. Diantaranya merupakan perempuan dan mayoritas ibu rumah tangga (https://www.jawapos.com).
1 April 2019

Minuman Sehat di Pagi Hari

https://www.youtube.com/channel/UCGra1BUP8MPDDcnfU4XzDXw

Kombinasi kayu manis, cengkeh, kapulaga dan jahe menjadi minuman saya dan suami di pagi hari. Maklum, pasca terkena TBC beberapa tahun lalu, saya dituntut untuk lebih memperhatikan kesehatan. Jika daya tahan tubuh saya menurun, saya mudah terserang batuk. Butuh waktu lama buat saya untuk pulih bila sudah terlanjur terkena batuk. Alhamdulillah kayu manis, cengkeh, kapulaga dan jahe turut membantu menjaga daya tahan tubuh saya. Batuk pun jarang datang.

Awalnya terinspirasi gaya hidup baru yang dijalani oleh Dewi Hughes. Dimana mbak Dewi menjadikan rempah – rempah sebagai salah satu minuman sehat beliau. Ditambah membaca buku berjudul Rasulullah is My Doctor karya Jerry D. Grey. Jadilah saya dan suami memilih mengganti teh manis yang biasanya diminum di pagi hari menjadi teh rempah – rempah.

Selain menjaga daya tahan tubuh, empat jenis rempah – rempah itu memiliki keunggulan lainnya. Berbagai sumber menyebutkan bahwa kayu manis misalnya, dapat mencegah kanker dan dapat menurunkan berat badan. Jahe baik diminum oleh pasangan yang sedang program kehamilan. Terlebih disebutkan dalam al Qur’an bahwa jahe adalah minuman surga (QS. Al Insan: 17). Tentu hal itu menunjukkan bahwa jahe adalah minuman istimewa.

Kalau mbak Dewi Hughes meramu rempah – rempah sebagai minuman, tanpa menyertakan pemanis. Kalau saya sih tetap bisa menikmati bila ikutan cara mbak Dewi. Tapi tidak dengan suami saya. Minuman tanpa rasa ogah beliau minum. Jadi setelah saya merebus rempah – rempah tersebut bersama air secukupnya, saya pun memberi campuran gula aren dan madu ke dalamnya. Terkadang juga kami turut mencampurkan dua sendok makan susu kambing bubuk ke dalamnya. Wah kalau yang ini rasanya lezat sekali. Rasa bandrek lah. Silahkan dicoba minuman sehat nan lezat ini ya ibu – ibu.