18 Oktober 2018

Akal Butuh Tuntunan

potongan e paper Harian Waspada Medan


Manusia adalah makhluk berakal. Kemampuan untuk berpikir menjadikan manusia berpeluang sebagai makhluk mulia dibanding yang lainnya. Mengapa memakai kata berpeluang? 

Sebab belum tentu manusia benar – benar bermartabat hanya dengan potensi akalnya. Tergantung bagaimana cara manusia itu berpikir. Jika ia berpandangan bahwa hidup ini dijalankan bebas tanpa aturan Sang Pencipta, maka ia telah terjatuh pada derajat terendah. Dipastikan, kreatifitas yang dihasilkannya bukannya berdampak baik justru merusak dirinya dan orang lain. Baik dampak tersebut akan dirasakan di dunia ataupun di akhirat kelak.

Sebutlah contoh kasus mucikari berstatus pelajar asal Medan Denai yang ditangkap karena menjual temannya. Pemuda tersebut terbilang cerdas. Dengan status pelajar dia sudah bisa berpikir untuk mecari uang dengan berdagang. 

Sayangnya ia bisnis dibidang kejahatan. Mengapa ia bisa melakukan hal demikian? Tak lain disebabkan akalnya melakukan pembenaran. Baginya yang penting dapat uang. Demi uang apapun sah dilakukan.

Akal remaja tersebut merasa bebas menilai satu perbuatan sebagai benar dan salah. Sebab ia tak memiliki tuntunan hidup dari Allah swt. Apa yang dilakukannya sebenarnya juga dilakukan oleh banyak pelaku kejahatan lainnya. 

Semisal para koruptor, yang menilai perbuatan menyalahgunakan kepercayaan publik demi keuntungan pribadi sebagai kebenaran. Ia memandang cara itu sah untuk mengembalikan modal kampanye di masa lalu. Koruptor adalah orang pintar yang akalnya dituntun oleh hawa nafsu. Pilihan hidup mereka memastikan derajat mereka telah jatuh serendah rendahnya.   

Maka penting bagi kita untuk membina akal dengan tuntunan Sang Pencipta Allah swt. Agar akal tidak liar menilai segala sesuatu menurut keinginan naluri semata. Bayangkan jika anak – anak muda lurus dalam berpikir, tentu mereka akan menghasilkan berbagai ide demi kemajuan umat. Bukannya menciptakan berbagai bentuk bisnis kejahatan. Mereka tidak akan menyia – nyiakan hidup untuk aktifitas yang tiada berguna.

Jika pemimpin tunduk akalnya pada hukum – hukum Allah swt, tentu akan menjalankan amanah secara maksimal. Ia akan mampu memberi rasa aman pada rakyatnya. Bukannya memusuhi rakyat yang mengkritiknya. 

Ia akan mampu mensejahterakan rakyat. Bukannya memanfaatkan harta milik rakyat demi keuntungan pribadi. Iapun akan mampu mendorong seluruh rakyatnya agar taat pada Allah swt.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah memberi komentar bijak dan bermanfaat untuk blog ini