Kamis, 31 Mei 2018

Pramuniaga Toko Berwajah Cemberut

Tribunnews.com

Umumnya, pramuniaga sebuah toko bakal beramah tamah atau minimal bermuka cerah pada pengunjung toko yang datang. Harapannya, dengan begitu pengunjung lebih berminat untuk membeli. Sebab, selain faktor benda yang dijual, pelayanan juga cukup menentukan terjadinya jual beli. Tapi beberapa kali berkunjung ke toko sekitar rumah saya, penampakannya tak demikian.

Saat berkunjung ke toko assesoris hp, sang pramuniaga yang berwajah ketat membuntuti saya. Saya paham, bahwa ia memang ditugaskan demikian, berada di sisi pengunjung toko agar bisa memberi bantuan. Tapi dengan wajah tak ramah, ditambah satu sikap lagi yang cukup bikin tak nyaman (dia buru-buru merapikan barang yang baru saja saya pegang, dihadapan saya), saya pikir itu kurang etis.

Di Ramadhan ini, hal serupa terjadi lagi. Kemarin saya menemani suami membeli baju koko ke sebuah toko. Kami datang ke toko itu memang awal sekali. Toko itu belum sempurna dibuka, kami sudah memilih-milih baju. Masih ada yang menyapu dan mengeluarkan baju-baju untuk dipajang dibagian depan toko.

Saat sedang memilih-milih baju, seorang pramuniaga menghampiri kami, dengan wajah datar. Saat itu keadaan masih normal. Hingga saat kami minta size lain dari baju pilihan kami kepadanya. Tanpa berusaha mencari lebih maksimal, diapun bilang size yang kami minta tidak ada.

Masih dengan wajah cemberut bahkan kelihatan lebih buruk lagi ekspresinya. Kalau boleh saya simpulkan menurut penglihatan saya, dia tidak suka kami mintakan bantuan. “Cari saja dari apa yang dilihat”, seolah begitu kata wajahnya.

Tak ingin mengurangi nilai puasa saya, saya berusaha berbaik sangka kepada pramuniaga tersebut. Dibantu oleh suami saya, kami menilai bahwa barangkali saja ia karyawan baru, yang belum paham seluk beluk toko, sehingga ia bekerja dalam keadaan mengambang, lalu berefek pada sikapnya ke pembeli.

Atau barangkali ia lelah, karena setiap harinya bekerja dari pagi hingga sore bahkan malam hari. Maklum, Ramadhan adalah waktunya penjualan pakaian meningkat. Dimana karyawan toko juga dituntut untuk bekerja dengan waktu yang lebih panjang.

Saya berhenti pada kata lelah. Saya meyakinkan diri kalau memang pramuniaga itu sedang lelah. Sebab sayapun pernah mengalami hal tersebut. Sebelum menikah, saya pernah bekerja di toko pakaian yang cukup besar, sebagai kasir.

Di bulan Ramadhan, saya dituntut untuk lembur. Biasanya jam kerja saya normal, delapan jam, pagi hingga sore. Tapi selama ramadhan, terutama dua minggu terakhir Ramadhan, para karyawan diminta hadir pukul 7.30 dan pulang pukul 10 malam.

Bayangkan, dalam keadaan puasa, saya harus berdiri dalam waktu yang lama, dan dengan memakai high heels. Parahnya, toko sedang ramai pembeli tepat di waktu berbuka puasa.

Saya pernah membatalkan puasa hanya dengan seteguk air, sambil tetap melayani pembeli. Lalu saya dan teman-teman istirahat bergantian dengan jatah waktu yang singkat. Sholat dan makan terburu-buru lalu bekerja kembali. Dengan kelelahan tersebut, para karyawan tetap dituntut untuk tersenyum dan melayani pembeli dengan ramah.

Keharusan beramah tamah itupun lebih sering saya abaikan, tanpa sadar. Saat itu saya merasa kehilangan kaki, saking pegalnya. Sembari melayani pembeli yang begitu ramai, tak terpikir lagi untuk memberikan wajah cerah ceria. Saya benar-benar sangat lelah.

Mengingat diri saya dulu, saya pun memaklumi sikap para pramuniaga toko berwajah kecut itu. Meski kadang kesal juga. Saya kan manusia biasanya yang ingin dihargai. Tapi saya nggak kepikiran buat protes ke pemilik toko. Padahal kalau mau, saya bisa bilang, karena pemilik toko ada di kursi kasir.

Saya memaklumi sekaligus prihatin pada kondisi para pekerja yang ada. Tenaga mereka begitu diporsir untuk mendapatkan uang yang tak seberapa. Gaji pas-pasan, hanya cukup untuk melanjutkan hidup sehari-hari agar tenaga tetap ada untuk bekerja. Daya tawar mereka rendah dan harus rela bekerja keras serta digaji murah. Ditambah mahalnya harga kebutuhan hidup akibat kebijakan pemerintah, derita para buruh terasa lengkap.

Disamping itu saya bersyukur. Sebab sekarang keadaan saya lebih baik setelah menikah. Saya bisa mengisi Ramadhan sesuai program ibadah yang saya tetapkan. Sholat sunnah, membaca al Qur’an dan lain sebagainya bisa saya lakukan. Saya pun bisa istirahat dengan cukup. Bisa tidur jelang sholat zuhur dan tidur tepat waktu pada malam hari. Alhamdulillah.

Harapan saya, semoga kondisi masyarakat secara keseluruhan dapat menjadi lebih baik. Saya merindukan keberkahan bagi keseluruhan hidup kita. Tentunya itu bisa terjadi saat syariah Islam diterapkan secara sempurna dalam hidup kita.

2 komentar:

  1. Senyum, salam, sapa bisa buat konsumen betah belanja.. memang banyak faktor yang mempengaruhi mood dalam bekerja..

    Dilematis jika dihadapkan antara pekerjaan yang benar-benar dibutuhkan untuk mencari nafkah dengan kesempatan beribadah, kalo saya selama ibadah wajib saya masih bisa saya jalankan dan masih ada waktu untuk menjalankan ibadah sunnah, lanjut,, namun klo sudah berefek lalai pada ibadah wajib,, lebih baik ditinggalkan, barokahnya udah hilang

    BalasHapus
  2. kadang memang ada hal-hal yang tidak dirasakan oleh pembeli menjadi seorang pramuniaga, padahal mereka sudah berusaha seprofesional mungkin, tapi apa daya suasana hati akibat kelelahan dan lain-lain membuatnya terkadang bersikap seperti itu. Syukurnya mbak paham

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...