Selasa, 09 Januari 2018

Pengaruh Islam



Pada awalnya, Islam hanya tersebar diantara orang-orang Mekkah. Selama 13 tahun dakwah Rasulullah saw di Mekkah, nama beliaulah yang sampai pada penduduk luar Mekkah. Bila pun ada orang di luar Mekkah yang masuk Islam, masih dalam batas hitungan jari.

Namun setelah Rasulullah saw berhasil mendirikan negara Islam di Madinah, Islam pun tersebar luas hingga ke berbagai penjuru negeri. Pada puncaknya, dua pertiga dunia pernah berada dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Saat itu, isi al Qur’an surat an Nasr benar-benar terwujud, “Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong”.

Hingga kini, negeri-negeri yang pernah menjadi bagian dari Khilafah tetap berwarna Islam. Meski negeri-negeri tersebut sudah tercerai berai akibat ulah penjajah kafir barat, walau sebagian besar staqafah Islam telah hilang dari benak kaum muslim, namun keimanan pada Allah swt dan Rasul tetap di dada.

Nusantara, tempat berbagai kerajaan Islam perwakilan Khilafah dulunya, kini berpenduduk mayoritas muslim. Begitupun negeri-negeri di Timur Tengah bekas Khilafah, tetap menjadikan Islam sebagai agama resmi negara dengan penduduk rata-rata muslim.

Tentu kuatnya pengaruh Islam pada umat muslim bukan tanpa sebab. Islam memiliki sejumlah rahasia, mengapa Islam bisa begitu tertancap kuat pada jiwa-jiwa pemeluknya. Pertama, Islam adalah agama yang akidahnya bersifat aqliyah.

Umat Islam membawa misi dakwah dalam menaklukkan sebuah negeri. Bukan penjajahan seperti yang dilakukan barat. Umat Islam hendak membebaskan berbagai negeri dari kekufuran sesuai yang Allah swt perintahkan.

Dasar pemikiran tersebutlah yang kemudian mendorong kaum muslim mematuhi Allah swt dalam memperlakukan penduduk negeri yang baru saja bergabung dalam Khilafah.

Penduduk baru tersebut diajak berpikir tentang hakikat pencipta, disadarkan tentang tujuan hidup yang hakiki serta diajak pada kebahagiaan yang sebenarnya. Pada akhirnya, pikiran mereka bangkit dan tercerahkan. Mereka menemukan makna hidup dan jalan hidup yang benar.

Allah swt adalah pencipta yang sebenarnya (QS. Al Ikhlas). Tujuan hidup semata beribadah padaNya (QS. Adzariyat: 56). Bahagia itu ketika seorang muslim meraih ridhaNya (QS. Ali Imran: 174).

Kedua, kontinyu dalam amal Islam. Setelah memperoleh akidah yang lurus, para muallaf tersebut dibimbing untuk mengamalkan seluruh ajaran Islam. Secara rutin mereka pun mengkaji Islam. Alhasil, mereka semakin menemukan kenikmatan dalam Islam.

Ketiga, Islam mendorong manusia untuk maju. Islam tidak anti dunia, justru selaras dengan kemajuan hidup. Jika teknologi disebut sebagai simbol kemajuan suatu negeri, maka Khilafah Islamiyah pantas bergelar negara maju zaman itu.

Sebagai contoh adalah kehidupan di masa pemerintahan Abdurahman II (822-852 M). Pada waktu itu, Eropa masih gelap gulita. Sementara jalan-jalan di Cordova terang benderang disinari lampu. Kala itu, para tokoh Eropa tidak bisa menulis namanya sendiri. Sementara anak-anak Cordova sudah mulai masuk sekolah.

Kaum muslim tetap dalam posisinya sebagai umat terbaik, selama masih berpegang teguh pada ideologi Islam. Rahmat Islam dapat dirasakan alam dan seisinya, selama Islam masih diterapkan secara kaffah.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...