27 Desember 2018

Berharaplah Hanya Kepada Allah


“Enaknya ya punya anak. Dimasa tua bisa diurusi”. Ucap seorang nenek padaku. Beliau berusia 71 tahun. Sedang menderita kolestrol tinggi dan darah tinggi. Beliau senang dikunjungi karena ada teman bercerita. 

Hari itu suara hatinya tercurah. Betapa beliau merindukan kehadiran anak sejak awal pernikahan dahulu. Tenaga, waktu dan harta sudah dihabiskan sebagai ikhtiar memperoleh anak. Namun Allah swt berkehendak lain. Hingga suami berpulang anak tak kunjung datang. 

Kini rindu itu masih sering muncul. Terutama saat sakit mendera. Ingin ada anak mendampingi dan merawatnya.

Ucapan si nenek membuat ingatanku melayang ke beberapa kenalan. Mereka juga sudah tua. Memiliki anak kandung. Namun nasib mereka tak jauh beda dengan nenek yang ku ceritakan di awal. Mereka pun kesepian karena ditinggalkan anak – anak mereka. 

Cerita semisal banyak sekali. Banyak anak hari ini menelantarkan orang tua yang telah melahirkan dan merawat mereka hingga dewasa. Alhasil panti jompo pun ramai. Ditemukan pula banyak orang lanjut usia terkatung katung di jalanan.
21 Desember 2018

Meneladani Cara Sehat Ala Nabi





Judul buku    : Rasulullah Is My Doctor
Penulis          : Jerry D. Gray
Penerbit         : Sinergi
Tahun terbit  : 2017
Cetakan         : ke-20
Ketebalan     : 266 hal
ISBN              : 978-979-98988-5-2


Dicetak sebanyak dua puluh kali menandakan buku ini cukup dipercaya dan bermanfaat bagi masyarakat. Sebagai mantan tentara Angkatan Udara AS tahun 1978, penulis mengaku tahu banyak mengenai sepak terjang Amerika Serikat. Menurutnya AS bertanggungjawab pada kematian banyak orang di dunia.

Industri farmasi dan makanan cepat saji menjadi bagian dari sarana penguasa dan pengusaha amerika untuk meraup keuntungan besar dari publik. Dan semua itu berjalan mulus karena sistem demokrasi berhasil diekspor oleh AS ke seluruh dunia.

 “Suatu bangsa yang pada awalnya dibentuk sedemikian rupa agar pembuat kebijakan dapat mempresentasikan kebutuhan rakyat jelata, saat ini telah berubah menjadi suatu sistem yang hanya melayani kebutuhan dari perusahan bisnis saja. Pemimpin AS telah menempatkan “tujuan bisnis” sebagai prioritas utama mereka dibandingkan keinginan dan kebutuhan rakyat Amerika Serikat. (Hal. 216)

Dalam buku ini Jerry berusaha meyakinkan pembaca, meski ia bukan dokter namun ia tahu banyak tentang industri farmasi Amerika. Informasi tentang hal itu didapatkan melalui berbagai tulisan dari sumber terpercaya yang lengkap dengan data – data ilmiah. Dalam buku ini Jerry memuat informasi – informasi tersebut.

Bisa dibilang hampir seratus persen Jerry tak lagi percaya pada dunia kedokteran modern yang didominasi AS, terutama industri farmasinya. Ia termasuk golongan anti vaksin.

“Apakah seluruh isi planet ini sudah kehilangan akalnya? Apakah saya satu – satunya yang telah membuka mata terhadap kebenaran “yang sebenarnya”? Mengapa orang – orang mempercayai lembaga – lembaga yang jelas – jelas menipu mereka? Apakah semua orang sudah keracunan? Mungkin memang demikian. (Hal. 218)

“Tidak ada yang tertarik terhadap kesehatan anda, kecuali anda sendiri. Tidak ada lembaga- lembaga, dokter – dokter, dan pemerintah – pemerintah yang memiliki keinginan agar anda benar – benar sehat.” (Hal. 224)

Kalimat – kalimat diatas jelas menggambarkan betapa kuat ia memegang pendapatkan. Terlalu ekstrim ya. Namun ia merasa memiliki alasan kuat untuk bersikap demikian.

Sebagai gantinya Jerry menawarkan cara – cara sehat ala Nabi. Ia menganjurkan pembaca menghindari bahan – bahan kimia untuk pengobatan ataupun pemeliharaan kesehatan. Lalu menggantinya dengan bahan – bahan alami seperti madu, minyak zaitun, dan rempah – rempah dapur.
8 November 2018

Tetesan Ilmu

Foto hanya ilustrasi, by Mina News


Zaman ini zamannya hijrah. Para artis banyak yang hijrah. Penggiat media sosial makin banyak yang obrolannya cenderung pada agama. Bermunculan para penggiat dakwah yang mengajak umat kembali pada Islam.

Alhamdulillah, satu demi satu muslim di sekitarku pun memilih untuk lebih dekat pada agama. Tak terkecuali temanku yang satu ini, Hanifa.

Aku searching di google tentang nama Hanifa. Arti nama itu bagus sekali. Hanifa, yang taat kepada agama Islam. Insya allah temanku yang satu ini berada dalam ketaatan. Dia punya kisah hijrah tersendiri.

Sejak masuk kampus Hanifa sudah bersentuhan dengan aktivitas pengajian anak-anak kampus. Biasanya para aktivis dakwah kampus memang tak melewatkan momen awal tahun ajaran. Mereka bakal membuat acara penyambutan untuk mahasiswa baru. Selanjutnya mengajak para mahasiswa baru itu untuk mengkaji Islam rutin bersama mereka. Hanifa jadi salah satu yang diajak dan tertarik ikut pengajian.

Kajian Islam biasanya diadakan setiap minggu di hari Jum’at.  Hampir tiap minggu Hanifa rutin menghadirinya. Beragam ilmu Islam didapatkannya. Mengenai makna keimanan. Tujuan hidup. Konsekuensi iman. Makna cinta kepada Allah swt dan Rasul. Berhijab syar’i. Pergaulan dalam Islam. Dan sebagainya.

Bulan demi bulan berlalu, Hanifa terus rajin mengikuti kajian. Uniknya, belum ada perubahan berarti pada dirinya. Pakaian masih serba ketat. Kerudung tak menutupi dada. Berteman dengan para pria. Bahkan pacaran.
6 November 2018

Aku Cemburu

Tribun Islam


Aku cemburu pada mereka yang setia berada dalam kebaikan hingga ajal menjemput. Setidaknya dalam dua bulan istimewa di tahun 1439 Hijriyah yakni Ramadhan dan Syawal, empat kematian menyejukkan hatiku.
Liputan6.com

Pertama; Wafatnya seorang pria tampan plus hartawan yang dermawan asal Australia bernama Ali Banat cukup mengharukan. Sejak beberapa bulan sebelumnya ia divonis dokter terkena kanker. Diperkirakan hidupnya hanya beberapa bulan saja.

Reaksi yang indah ditunjukkannya dalam menghadapi takdir Allah swt itu. Meski sedih ia menguatkan diri. Dalam renungannya dia merasa patut bersyukur.

Tak ada umpatan. Dia justru memandang penyakit mematikan itu sebagai hadiah. Inilah cara Allah swt menyadarkannya bahwa amal salih lebih berharga dari harta. Kelak, di hari penghisaban amal salihlah yang akan menjadi pembela.

Ia pun merasa istimewa. Sebab sangat jarang, ada manusia yang bisa mempersiapkan kematian seperti dirinya. Allah swt berkenan memberinya peluang untuk setia di jalan kebaikan sampai akhir kehidupan. Membeli tiket ke surga dengan kedermawanan. Sembari tetap menjalani proses pengobatan, dia serahkan keputusan pada Allah swt. Keimanan yang luar biasa.
Today's Muslim

Kedua; kematian gadis pemberani dan baik hati asal Palestina, Razan Annajar juga cukup mengguncang jagat media sosial.
1 November 2018

Setia Pada Status Jomblo

KabarMakkah.Com


Temanku yang satu ini unik. Fatimah namanya. Aku bukan sedang membicarakan kepiawayannya membaca al Qur’an. Juga bukan ingin bercerita tentang keseriusannya belajar Islam. Untuk hal tersebut aku salut dan ingin mencontoh dirinya.

Tapi letak keunikan Fatimah yang kumaksud adalah prinsipnya tentang jodoh. Bukan mau gosip ya, cuma mau ambil pelajaran saja. Memang, dengan pemahaman agamanya, dia yakin kalau manusia diciptakan Allah swt berpasang-pasangan. Dia yakin bahwa jodohnya telah disediakan Allah swt. Meski belum saatnya bertemu.

Tapi anehnya dia berpinsip “biar dia datang dengan sendirinya”. What?? Apa itu artinya dia tak ingin berusaha menjemput jodoh?

Hemm, dia nggak berkata demikian. Bukan nggak mau berusaha. Tapi ada rasa malu teramat sangat dia rasakan, saat ditawari mengikuti mekanisme pencarian jodoh ala ala anak pengajian.

Biasanya nih ya, kami-kami yang anak ngaji ini bakal minta tolong sama guru ngaji untuk dipertemukan sama ikhwan yang sudah siap menikah. Tukar menukar proposal pernikahan ceritanya.

Di proposal tersebut tercantumlah biodata singkat, visi misi pernikahan, tipe calon yang diinginkan plus foto. Nah, yang begituan Fatimah malu. Dia merasa dengan cara seperti itu berarti dirinya sedang menawarkan diri pada lelaki. Apa benaknya memandang hal itu terlalu murahan? Semoga saja bukan itu maksudnya.
30 Oktober 2018

Jangan Menjadi Kampung Maksiat

RMOL Sumut
April 2018, seorang teman berbagi berita mengejutkan di media sosial tentang daerah tempat tinggalku. Di sekitar Jalan Pukat I- Jalan Aksara Medan Tembung terpampang spanduk bertuliskan “Selamat Datang Di Kampung Maksiat”.

Tak hanya itu, tulisan lainnya yang berukuran lebih kecil pada spanduk itu  berbunyi, “Silahkan, pesan narkoba, mencuri, sex bebas, berjudi”.

Wah ternyata di Indonesia bukan cuma ada kampung baik-baik semisal Kampung Inggris, Kampung Arab, Kampung Betawi saja ya.

Tapi juga ada daerah yang punya julukan buruk karena kondisi memprihatinkan disana. Sebut saja seperti Kampung Maksiat ini. Selain itu ada juga yang namanya Kampung Narkoba. Kebayang dong maksudnya, hampir satu kampung terlibat narkoba.

Keterkejutanku terbawa sampai obrolan dengan teman. Kebetulan sehari setelah peristiwa itu aku silaturahmi ke rumah seorang teman. Anak dari temanku ingin dibina juga dalam jamaah tempat kami belajar Islam. Kami ingin mendiskusikan tentang jadwal si gadis.

Dari obrolan dengannya akupun semakin speechless. Karena dia tahu persis tempat dimana spanduk itu terpasang. Sekitar dua puluh tahun yang lalu, saat masih pengantin baru, dia dan suaminya pernah ngontrak rumah di daerah itu. Temanku mengakui apa yang tertulis pada spanduk itu.

Dia bercerita, disana pasangan belum menikah tinggal serumah aman-aman saja. Pasangan sesama jenis menjalin mesra pun tak jadi masalah. Tak ketinggalan, ada pemakai narkoba. Pernah suatu kali, saat temanku ini pulang kerja, terlihat bergelimpangan beberapa pemuda penuh luka di jalanan sekitar. Menurutnya para pemuda itu adalah anggota dari dua organiasi kepemudaan yang bentrok. Menyeramkan sekali bukan.


24 Oktober 2018

Berikan Rasa Aman Pada Anak - Anak Perempuan


Indonesia menjadi bagian dari 70 negara yang ikut memperingati International day of the Girl Child (IDG) atau Hari Anak Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 11 Oktober.IDG hadir atas inisiatif Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB). Dimaksudkan untuk menyoroti dan menangani kebutuhan anak-anak perempuan di seluruh dunia. Seperti tahun – tahun sebelumnya, IDG diperingati dengan mengangat tema tertentu. IDG 2018 mengangkat tema kota aman untuk anak perempuan.

Dalam pandangan pihak – pihak pencetus IDG, anak – anak perempuan membutuhkan kesetaraan. Belum terwujudnya kesetaraan gender dianggap menjadi penyebab anak – anak perempuan rentan menjadi korban kejahatan. Dipandang perlu adanya rasa aman bagi anak – anak perempuan terutama yang tinggal di perkotaan.Maka dalam mengisi peringatan IDG 2018 Yayasan Plan International sebagai penyelenggara IDG di Indonesia membuat kompetisi video blog dengan tema “Ciptakan Kota Aman untuk Anak Perempuan”. 12 anak perempuan yang menjadi pemenang diberi kesempatan mengambil alih posisi sejumlah pemimpin di berbagai institusi pemerintahan, BUMN, hingga lembaga internasional selama sehari penuh. 

Artinya, dalam hal ini kesetaraan yang dianggap ideal bagi anak – anak perempuan jika kelak mereka berkesempatan menjadi bagian dari pengambil keputusan dalam kebijakan publik. Pihak penyelenggara IDG mengajak semua pihak memberi kesempatan dan kesetaraan untuk anak – anak perempuan.

Tema mewujudkan kota aman untuk anak perempuan terdengar baik. Sayangnya spirit yang mewarnainya adalah kesetaraan gender. Dalam sejarahnya, berpuluh tahun lalu ide kesetaraan gender tak lebih sebagai respon para perempuan Eropa terhadap budaya patriarki saat itu. Berharap perempuan lebih terjaga kehormatannya karena punya peran di ranah publik. 

Terluka Bendera Tauhid Dibakar

Merdeka.com

Tauhid adalah pangkal keislaman seorang muslim. Tidak sah seseorang menjadi muslim tanpa pengakuan dari hati, lisan dan prilakunya bahwa tiada sesembahan selain Allah swt dan Muhammad saw adalah utusan Allah swt. Kalimat tauhid pun dinyatakan seorang muslim setiap kali ia salat. 

Dengan kedudukannya yang begitu tinggi, tak heran jika kalimat tauhid amat sakral bagi kaum muslim. Wajar pula jika kaum muslim merasa bahwa secarik kain berwarna hitam dan putih bertuliskan kalimat tauhid itu adalah milik mereka. 

Terlebih ini dibenarkan oleh hadist Rasulullah saw. Kain bertuliskan kalimat tauhid tersebut adalah bendera dan panji Rasulullah saw. Ibn ‘Abbas berkata: “Rayah Rasulullah saw. itu berwarna hitam dan Liwa’-nya berwarna putih.” (HR at-Tirmidizi).

Hingga kejadian luar biasa baru – baru ini viral. Anggota banser membakar bendera Rasulullah saw. Peristiwa ini melukai kaum muslim. Terluka sebagaimana sakitnya penghinaan terhadap al Qur’an surat al Maidah ayat 51. 

Tokoh – tokoh umat Islam mengungkapkan kekecewaan. Kaum muslim di berbagai daerah seperti Bogor, Garut, Banten pun mulai turun ke jalan untuk melakukan aksi bela bendera tauhid. Kejadian kali ini memang lebih menyedihkan. Sebab pelakunya adalah muslim. Pada momen peringatan Hari Santri mereka telah menodai simbol Islam.

Sebagai muslim sudah menjadi sebuah kewajiban untuk memuliakan Islam. Termasuk memuliakan simbol – simbol Islam seperti bendera tauhid. Jika sebuah ormas Islam selalu menyertakan bendera tauhid dalam setiap kegiatannya, bukan berarti itu simbol organsisanya. 

Tentu kita prihatin saat sekelompok orang membakar bendera tauhid dengan alasan benci kepada ormas tersebut. Benci pun, apalagi kepada saudara seiman tak selayaknya ditunjukkan dengan cara serendah itu. Bila merasa saudaranya salah maka nasihatilah dengan bijak. Bukan berbuat kerusakan.

Al liwa’ dan ar rayyah adalah simbol kepemimpinan dalam Islam. Pada zaman Rasulullah saw dan Khulafaur Rasyidin, keduanya selalu dibawa serta setiap kali perang. Misalnya pada saat Perang Khaibar, Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh aku akan memberikan ar-Rayah ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberikan kemenangan kepada dirinya.”Umar bin al-Khaththab berkata, “Tidaklah aku menyukai kepemimpinan kecuali hari itu.” (HR Muslim).

Saya seorang muslim. Mencintai Islam. Termasuk mencintai bendera tauhid yang merupakan bagian dari Islam. Saya ingin hidup dengan kalimat La ila haillallah Muhammadarrasulullah. Saya pun ingin mati dengan kalimat itu. Dan ingin hidup kembali dengan kalimat itu. Semoga yang membenci kebenaran segera bertaubat. Aamiin.
19 Oktober 2018

Berburu Tiket Ke Surga

hanya ilustrasi, by soeara peladjar bangkit


Tiga remaja putri itu sedang menikmati jalan hijrah. Tahap demi tahap ilmu Islam mereka lahap dengan semangat. Senyum mengembang hampir sepanjang kajian Islam berjalan. Mata berbinar. Mengangguk kala yang didengarnya kebenaran. Mengkerutkan dahi saat yang dijelaskan bentuk bentuk kemaksiatan.

Sekitar dua bulan kebersamaan kami. Berbagi pemahaman dasar Islam. Buruknya pacaran. Jahatnya curang. Indahnya menutup aurat. Mulianya hidup dalam naungan Islam. Semua sudah mereka dengar. Tak semua terserap mungkin. Tapi yang butuh dipahami sepertinya sudah dipahami.

Alhamdulillah, sedikit demi sedikit perubahan terjadi. Dua dari mereka bercita-cita menjadi guru, guru saliha. Satunya bercita-cita menjadi dokter, dokter saliha. Ketiganya sepakat untuk mengejar prestasi lebih dari sebelumnya. Bukan semata ingin pujian. Tidak hanya karena ingin unggul dari sesama. Namun karena belajar adalah bagian dari ibadah. Orang cerdas nan taat disukai Allah swt. Semua muslim selayaknya bersemangat menjadi yang terbaik.

Bukan hanya bicara prestasi di sekolah, tapi juga dalam hal perbaikan ibadah. Ingin menjadi yang terbaik dihadapan Allah swt. Belajar bahasa arab. Memperbaiki cara menutup aurat. Berusaha menjaga pergaulan. Berjanji akan mengajak teman lainnya untuk berhijrah. Sebab sebagaimana hijrahnya muslim yang lain, mereka merindukan surga.

Mereka terus berlomba – lomba berburu tiket ke surga. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang – orang bertakwa” (TQS. Ali ‘Imran: 133).
18 Oktober 2018

Akal Butuh Tuntunan

potongan e paper Harian Waspada Medan


Manusia adalah makhluk berakal. Kemampuan untuk berpikir menjadikan manusia berpeluang sebagai makhluk mulia dibanding yang lainnya. Mengapa memakai kata berpeluang? 

Sebab belum tentu manusia benar – benar bermartabat hanya dengan potensi akalnya. Tergantung bagaimana cara manusia itu berpikir. Jika ia berpandangan bahwa hidup ini dijalankan bebas tanpa aturan Sang Pencipta, maka ia telah terjatuh pada derajat terendah. Dipastikan, kreatifitas yang dihasilkannya bukannya berdampak baik justru merusak dirinya dan orang lain. Baik dampak tersebut akan dirasakan di dunia ataupun di akhirat kelak.

Sebutlah contoh kasus mucikari berstatus pelajar asal Medan Denai yang ditangkap karena menjual temannya. Pemuda tersebut terbilang cerdas. Dengan status pelajar dia sudah bisa berpikir untuk mecari uang dengan berdagang. 

Sayangnya ia bisnis dibidang kejahatan. Mengapa ia bisa melakukan hal demikian? Tak lain disebabkan akalnya melakukan pembenaran. Baginya yang penting dapat uang. Demi uang apapun sah dilakukan.

Akal remaja tersebut merasa bebas menilai satu perbuatan sebagai benar dan salah. Sebab ia tak memiliki tuntunan hidup dari Allah swt. Apa yang dilakukannya sebenarnya juga dilakukan oleh banyak pelaku kejahatan lainnya. 

Semisal para koruptor, yang menilai perbuatan menyalahgunakan kepercayaan publik demi keuntungan pribadi sebagai kebenaran. Ia memandang cara itu sah untuk mengembalikan modal kampanye di masa lalu. Koruptor adalah orang pintar yang akalnya dituntun oleh hawa nafsu. Pilihan hidup mereka memastikan derajat mereka telah jatuh serendah rendahnya.   

Maka penting bagi kita untuk membina akal dengan tuntunan Sang Pencipta Allah swt. Agar akal tidak liar menilai segala sesuatu menurut keinginan naluri semata. Bayangkan jika anak – anak muda lurus dalam berpikir, tentu mereka akan menghasilkan berbagai ide demi kemajuan umat. Bukannya menciptakan berbagai bentuk bisnis kejahatan. Mereka tidak akan menyia – nyiakan hidup untuk aktifitas yang tiada berguna.

Jika pemimpin tunduk akalnya pada hukum – hukum Allah swt, tentu akan menjalankan amanah secara maksimal. Ia akan mampu memberi rasa aman pada rakyatnya. Bukannya memusuhi rakyat yang mengkritiknya. 

Ia akan mampu mensejahterakan rakyat. Bukannya memanfaatkan harta milik rakyat demi keuntungan pribadi. Iapun akan mampu mendorong seluruh rakyatnya agar taat pada Allah swt.
11 Oktober 2018

Guru Belum Sejahtera

Pidjar.com


Ada peristiwa unik terjadi di Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari, Gunung Kidul, DIY. Ratusan siswa di sebuah sekolah bernama SD Mentel 1 menyisihkan uang jajan mereka untuk tambahan gaji 8 Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT). Para siswa tersebut merasa kasihan dengan guru mereka yang bergaji sangat kecil. 

Perbulannya GTT disana hanya digaji 100 ribu/ bulan ditambah 200 ribu dari Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Salah seorang guru mengaku menjalani kondisi prihatin tersebut sejak tahun 2005. Tak terbayangkan bagaimana mereka menjalani hidup selama ini. Dengan kondisi berbagai harga kebutuhan pokok yang meningkat, tentu hidup para GTT penuh keterbatasan. Hebatnya, sebagian besar mereka tetap bertahan untuk mengajar.

Apa yang kita rasakan, jika melihat ada orang yang mengambil alih tugas orang lain. Jika kita adalah orang ketiga, barangkali kita akan merasa kagum melihat ada orang yang mau mengerjakan tugas orang lain. Dimata kita orang itu baik hati dan peduli pada sesama. 

Rasa itu diikuti dengan rasa prihatin terhadap pihak yang mempunya tugas. Bisa – bisanya dia membiarkan orang lain memikul tanggung jawabnya. Maka sikap yang seharusnya dimiliki oleh orang yang memiliki tugas tersebut adalah malu. Selayaknya dia segera menghentikan pengambilalihan tugas tersebut dan menyelesaikan sendiri tugasnya.

Ilustrasi di atas penulis tujukan untuk kasus yang terjadi di SD Mentel 1 tersebut. Bagi kita, aksi heroik para siswa SD Mentel 1 yang dilakukan sejak Maret 2018 lalu itu memang patut diacungi jempol. Mereka adalah sedikit dari anak – anak zaman now yang memiliki kepedulian tinggi pada sesama. Tentu kita senang karena mereka menjadi cikal bakal pemimpin baik hati ke depannya. 
23 September 2018

Maksiat Resahkan Masyarakat

Regional Kompas

Masyarakat yang tinggal di sekitar Komplek MMTC Medan untuk sementara bisa bernafas lega. Sebelumnya mereka dibuat resah dengan keberadaan sebuah usaha ice cream yang dicurigai menjadi tempat peredaran narkoba dan seks bebas. 

Akhirnya, kasus tersebut terbongkar. Sepasang suami istri pengelola usaha tersebut pertengahan Agustus lalu ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polrestabes Medan. Kapolrestabes Medan Kombes Dadang Hartanto menyebut bahwa tersangka diduga menjadikan lokasi usahanya sebagai tempat peredaran narkoba dan seks bebas bagi anak di bawah umur.

Penyebutan kata – kata’sementara bisa bernafas lega’ yang penulis gunakan di atas bukan tanpa alasan. Namun hal tersebut penulis lakukan berdasarkan fakta yang dirasakan. Tak ada yang bisa menjamin bahwa setelah penangkapan tersebut masyarakat bisa bebas dari seks bebas dan narkoba. Setidaknya ada beberapa alasan yang bisa penulis ungkapkan.

Pertama. Hukum Indonesia lemah. Sangat banyak pelaku kriminal narkoba keluar masuk penjara. Logika sederhana. Kalau memang hukum berefek jera, mengapa penjahat narkoba bukan berkurang, malah justru makin banyak? 
6 Agustus 2018

Agama Adalah Nasihat

(Review Buku)

Shopee


Judul Buku          : Taman Tausyiah Kumpulan Kultum dan Nasehat Terbaik

Penulis                 : Arief B. Iskandar

Penerbit                : Al Azhar Fresh Zone

Tahun terbit         : 2015

Ketebalan             : 152 halaman

Sebagai makhluk lemah yang mudah lupa serta lalai, manusia butuh nasihat. Bukan hanya bagi yang awam. Orang berilmupun tak luput dari kealpaan. Makanya Allah swt memerintahkan dalam al Qur’an surat al Asr, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.

Sebagaimana judulnya, buku ini cocok menjadi bahan tausiyah singkat. Biasanya kultum pasca salat subuh dan salat isya.

Tulisan di sampul bukunya secara jelas menunjukkan isi buku. Nasihat bagi pebisnis, pendusta, pendosa, penuntut ilmu, para pemimpin dan bagi kita semua yang bakal menyongsong kematian. Namun ternyata di dalamnya ada tambahan. Ada materi-materi dakwah singkat seputar bulan Ramadhan.

Nasihat seputar Ramadhan ditujukan agar muslim yang memperoleh materi tersebut bisa mengingat kembali pesan-pesan Rasulullah saw jelang Ramadhan. Mereguk keutamaan Ramadhan. Maksimal dalam proses penyucian diri. Bisa berlatih melembutkan hati. Berhati-hati pada hal-hal yang membatalkan pahala puasa. Terdorong untuk maksimal bersedekah. Lalu mengakhiri Ramadhan dengan kembali pada fitrah. Bisa menjadi hamba bertakwa sebagaimana tujuan berpuasa. Pada akhirnya dapat memelihara ketaatan pada Allah swt sebelas bulan berikutnya.

***

Pebisnis di zaman now rentan terlibat riba. Hal ini wajar. Sebab pondasi ekonomi kapitalis hari ini adalah riba. Ekonomi kapitalis sama dengan ekonomi ribawi.

Maka butuh kekuatan iman dan ilmu Islam untuk bisa menghindar dari riba. Harus bisa mengenali segala bisnis berbau riba. Butuh pula untuk selalu diingatkan dengan nasihat-nasihat Islami. Agar tetap terjaga dalam ketaatan.
17 Juli 2018

Perbedaan Pendapat Ulama Tentang Sedekah Pahala

(Review Buku)

Judul Buku   : Hukum Sedekah Pahala

Penulis         : Fathiy Syamsuddin Ramadlan An Nawiy

Penerbit       : Al Azhar Fresh Zone

Tahun terbit  : 2014

Ketebalan     : 84 halaman

Kehadiran buku ini oleh penulisnya ditujukan untuk merespon sikap sebagian muslim yang sulit menerima perbedaan dalam hal fiqih. Padahal masalah fiqih adalah ranah ijtihad (penggalian hukum).

Artinya para mujtahid (para penggali hukum) boleh berbeda pendapat tentang suatu hukum Islam. Asalkan pendapat tersebut dihasilkan sesuai syarat-syarat berijtihad dalam Islam.

Maka bukan menjadi masalah bagi muslim di masa Khilafah dulunya ketika Abu Bakar berbeda pendapat dengan Umar bin Khattab tentang masalah talaq dan ghanimah. Bukan masalah pula ketika Imam Syafi’i berbeda pendapat dengan Imam Malik dalam hal rincian praktek wudhu dan salat.

Masalah fiqih yang dibahas dalam buku ini mengenai sedekah pahala. Sebagian muslim di Indonesia mengamalkan beberapa hal dengan keyakinan pahalanya akan diterima oleh  orang yang dituju. Seperti membaca al Qur’an, berhaji atau berpuasa yang dimaksudkan agar pahalanya diperoleh seseorang yang telah meninggal dunia.