18 Desember 2017

Hebatnya Islam Bertoleransi




Saya yakin, yang menuduh Islam tidak toleran, apalagi itu diucapkan oleh muslim sendiri, dia belum melek Islam. Saya semakin kagum dengan agama saya. Salah satunya karena baiknya ajaran Islam tentang bersikap pada nonmuslim. Dalam rubrik Ustadz Bertanya di Tabloid Media Umat pernah dibahas hukum berta’ziyah kepada nonmuslim.

Bagaimana sikap kita jika ada tetangga nonmuslim meninggal dunia? Sebagai masyarakat yang hidup di satu lingkungan pasti hati ini tak enak dong kalau tak berbelasungkawa. Ternyata Islam memang membolehkan muslim melayat kafir.

Demikian pendapat jumhur ulama seperti pendapat Imam Nawawi dan Imam Ibnul Qayyim. Imam Nawawi bilang boleh hukumnya seorang Muslim berta’ziyah kepada seorang dzimmi karena kerabatnya yang dzimmi meninggal dunia, lalu mengucapkan, “Semoga Allah mengganti musibah yang menimpa Anda dan semoga Allah tidak mengurangi jumlah anda”. (Imam Nawawi dalam al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab)

Dalil dari perkataan sang imam adalah al Qur’an surat al Mumtahanah ayat 8, bahwa muslim boleh berbuat baik pada nonmuslim, selama ia tak memusuhi atau memerangi kaum muslim.

Dalil lainnya adalah hadist yang menyatakan bahwa Rasulullah saw pernah mengunjungi seorang pemua Yahudi yang sedang sakit, (HR. Bukhari).

Penjelasan lainnya, ada rambu-rambu yang harus diperhatikan seorang muslim dalam berta’ziyah pada nonmuslim. Pertama, pastikan nonmuslim tersebut bukan pembenci Islam yang nyata.

Pacaran Bukan Jaminan


Judul buku   : Just Married
10 Kisah Nyata Tentang Cinta, Pengorbanan, Dan Cobaan Dalam Dunia  Perkawinan
Penulis          : Indah Hanaco
Penerbit         : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit  : 2013
Ketebalan      : 117 hal
ISBN               : 978-602-03-0010-8
Peresensi      : Eva Arlini

Kisah-kisah dalam buku ini makin meyakinkan saya kalau pacaran itu tidak perlu. Sudahlah haram (menurut agama saya), sia-sia pulak. Ketika pacaran dianggap jalan mengenal pasangan, nyatanya gagal.

Rata-rata pasangan yang dikisahkan memulai hubungan dengan pacaran. Pernikahan baru seumur jagung, ketika mereka sadar ternyata baru kenal pasangannya sebatas kulit luar.
Sudah menikah baru tersingkap aslinya. Dan penuh perjuangan bagi mereka untuk menanggalkan ego masing-masing guna mempertahankan pernikahan.

Dua kisah, endingnya berpisah. Satunya karena ketahuan sang suami maniak seks dan tak ingin berubah. Satunya berpisah gara-gara suami yang posesif tingkat akut. Sampai memilih memukuli istrinya tiap cemburu buta. Sementara pasangan lainnya berhasil bertahan.

Meski tiap konflik dalam sepuluh kisah itu berbeda, tapi cara penulis menceritakan cukup monoton. Pembukanya sama, mulai pacaran, saling percaya, berkomitmen hidup bersama lalu menikah. Tak lama mulai timbul konflik. Diakhir cerita masalah terurai dan terselesaikan.

Pelajarannya, menikahlah dengan proses sesuai Islam. Pilih pasangan sesuai standar Islam. Kenali pasangan sesuai tuntunan Islam. Dan jalani pernikahan dengan Islam. Meski tak juga ada jaminan langgeng, tapi insya allah berkah dan ridha Allah digapai.