Senin, 13 November 2017

Rahasia Para Muallaf

Irene Handono by paktiga.com

Saya suka ngiri sama para muallaf yang amat dekat pada agama. Kayak muallaf, Ustadzah Irena Handono, yang dikenal sebagai da’iyah plus kristolog. Dengan wadah Irene Centre, hingga kini beliau konsisten berdakwah serta membimbing dan memberi perlindungan bagi para muallaf lainnya agar kuat berada di jalan Islam.

Ada ustadz Felix Siauw, muallaf keturunan cina yang begitu getol dakwah ngajakin muslim menjalankan ajaran Islam secara utuh. Dai muda satu ini cukup fenomenal ya. Media sosial jadi sarana baginya sejak awal untuk berdakwah, hingga kini dikenal banyak orang. Akhir-akhir ini makin terkenal karena beberapa kali batal ngisi pengajian akibat ulah segelintir orang.

Banyak lagi muallaf yang mengagumkan. Suka malu sama diri ini yang ilmu agamanya belum apa-apa, jauh tertinggal dari mereka.

Tapi tak semua muallaf ternyata dekat dengan agama. Ada para muallaf yang pribadinya tak jauh berubah dibanding dirinya yang dulu. Gaya hidupnya biasa aja. Tetap membuka aurat. Tetap gaul bebas. Tetap melangkah ke tempat-tempat hiburan. Hemm, kenapa yang berbeda-beda?

Mereka jadi muallaf, saya merasa bahagia. Tapi ketika ternyata mereka belum berubah ke arah Islam, saya cukup sedih. Dari apa yang saya dengar di pengajian, saya punya beberapa kesimpulan yang buat saya jadi mengerti perbedaan tersebut.

Pertama, soal akidah. Memang hidayah datangnya dari Allah swt. Tapi tetap saja ada cerita di setiap peristiwa. Ternyata motivasi awal yang mendorong seorang muallaf berganti akidah macam-macam ya. Ada yang karena menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah. Ada yang karena mau menikah dengan muslim. Ini banyak terjadi dikalangan artis.

Ada yang karena telah puas dengan pembuktian akan kebenaran Islam. Yang terakhir ini ternyata pengaruhnya paling besar. Rata-rata muallaf yang terpuaskan akalnya akan kebenaran Islam, menyatakan diri sampai mati tetap ingin berislam.

Ustadzah Irene Handono dan Ustadz Felix masuk Islam karena terpuaskan dengan pencariannya. Akhirnya cinta mereka bermuara pada agama fitrah.

Ustadzah Irene bercerita, beliau berasal dari keluarga Katolik yang taat. Sejak kecil beliau aktif dalam kegiatan gereja. Sehari-hari mendalami agama. Namun beliau orang yang kritis. Hal-hal yang tak sesuai logika beliau suka mempertanyakan.

Seperti bertanya tentang konsep trinitas (Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus). Juga status Yesus sebagai Tuhan-kalau memang Yesus itu Tuhan-mengapa tatkala disalib ia memanggil-manggil, “Eloy… Eloy…, lama sabakhtani?” (Allah… Allah…, mengapa Engkau tinggalkan aku? (Markus 15 ayat 33)).

Jawaban yang diberikan kalangan beliau tak memuaskan. Bahkan tak boleh lebih banyak lagi bertanya. Saat suatu hari dapat kesempatan mempelajari al Qur’an, satu surat di dalamnya menggugah pikirannya.

Surat al-Ikhlas. “Katakanlah (hai Muhammad) Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak, dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia “. Ayat itu adalah jawaban memuaskan akal atas pertanyaannya tentang konsep keutahanan.

Di kemudian hari beliau bertemua surat Al-Hujurat ayat 13. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang bertakwa.” Ayat tersebut pun memberi pencerahan bagi dirinya, bahwa Islam itu agama universal, agama bagi seluruh umat manusia.

Puncak kesadaran beliau adalah ketika beliau mengetahui bahwa al Qur’an bukanlah buatan Muhammad, melainkan datang dari Allah swt. Tak sanggup lagi beliau mengingkari kebenaran dan akhirnya bersyahadat.

Kisah yang tak jauh berbeda juga terjadi pada Ustadz Felix Siauw. Benarlah kata Allah swt dalam al Qur’an, bahwa Allah swt akan memudahkan siapa saja yang berusaha menempuh jalan-jalanNya.

Kedua, soal belajar. Masih banyak orang yang menganggap belajar agama cukup di bangku sekolah dan kuliah. Itupun seadanya. Setelah itu, mengamalkan Islam seadanya. Alhamdulillah, geliat belajar Islam semakin meningkat di kalangan umat Islam. Tak terkecuali para muallaf tadi, terus belajar menyempurnakan pemahaman Islam mereka. Hingga mereka mampu menjadi da’i yang hafal al Qur’an dan hadist serta menguasai ilmu-ilmu keislaman.

Orang yang istiqamah dalam Islam memang biasanya tidak berhenti belajar. Ustadz Felix bercerita kalau sejak masuk Islam, beliau bisa menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari untuk membaca (tepatnya berapa jam, lupa). Beliau mengkaji Islam bersama jamaah, juga rajin minta nasihat pada ulama.

Ketiga, soal amalan. Islam itu pandangan hidup. Islam terdiri dari akidah dan syariah. Maka iman, ilmu dan amal selalu berjalan beriringan. Tak boleh belajar Islam tanpa diamalkan. Maka saat seorang muslim melaksanakan ajaran Islam yang telah dipelajarinya, sesungguhnya ia tengah berjalan menuju kesempurnaan.

Ia beribadah, menjaga makanan agar halal dan thoyyib, menutup aurat, berakhlak dan bermuamalah sesuai Islam. Itulah yang juga dilakukan para muallaf istiqamah. Amalan Islam yang tampak menonjol dari mereka adalah dakwah. Mereka terus menerus berdakwah dengan menjaga akhlak dan ukhuwah sesama muslim. Ustadz Felix selalu mendoakan muslim yang mencaci maki dirinya. Beliau selalu berdoa agar istiqamah di jalan Islam.

Keempat, soal kreatifitas. Mencintai jalan Islam mendorong para muallaf itu jadi kreatif. Untuk masalah dakwah, bagaimana agar dakwah menarik peminatnya, mereka tak berhenti menghasilkan ide-ide segar.

Keasyikan Ustadz Felix bersama timnya muali mengandalkan dakwah visual, dengan menghasilkan berbagai video, buku-buku dan mengisi berbagai ceramah membuatnya semakin mendalami peran. Beliau makin menyatu dengan dakwah. Insya allah terus istiqamah. Dan saya harus banyak belajar dari mereka.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...