Selasa, 20 Desember 2016

Jangan Seperti Cinderella (Review Buku)



Judul buku    : Cinderella Syndrome
Penulis          : Leyla Hana
Penerbit         : Salsabila
Tahun terbit    : Cetakan pertama , 2012
Ketebalan      : 240 hal
ISBN              : 978-602-98544-2-8
Peresensi      : Eva Arlini

Ini kisah tiga orang perempuan yang terkena sindrom kisah Cinderella. Erika, 30 tahun, seorang wanita karir yang anti pernikahan, bertekad untuk tak menikah seumur hidupnya. Kegagalan rumah tangga orangtuanya yang berujung pada trauma mendalam ibunya dan kisah-kisah kelam rumah tangga teman-temannya yang sering dicurahkan kepadanya cukup untuk membentuk persepsi negatif terhadap lembaga bernama pernikahan. “Jangan berharap menemukan kebahagiaan dalam pernikahan”, pikirnya.

Sampai suatu saat ia menghadapi masalah dengan anak bos perusahaan tempat ia bekerja, ditambah kehadiran seorang lelaki rekan kerja yang tanpa disengaja menarik hatinya, membuatnya sempat berfikir untuk menikah demi berlepas diri dari masalah yang membelitnya.

Sementara Violet, 25 tahun, seorang penulis maniak, anak semata wayang yang manja dan pelupa berat dalam hal mengenali suatu jalan. Keperluannya terbiasa diurus semua oleh orangtuanya. Mulai masalah uang, beresin rumah hingga soal makan, semua beres diurus ibu dan ayahnya. Ia tinggal terima bersih. Kondisi Violet yang tak mandiri menyulitkan ia untuk pergi kemana saja, sementara ia harus menghadiri berbagai even yang bersangkut paut dengan dunia tulis menulis sesuai bidang yang digelutinya.

Ketika ada seorang editor suatu penerbit menyentuh hatinya, ia sempat berfikir untuk menikah saja. Sesuai saran temannya Chika, supaya ada suami yang bisa ngantar Violet kemana saja.

Terakhir An nisa, 28 tahun, seorang guru TK yang merasa hidupnya sia-sia. Kerja dengan gaji hanya duaratus ribu rupiah. Punya ibu yang ketus, selalu menuntutnya berbuat lebih dari kemampuannya. Ditambah sehari-hari makan gosip tetangga dan rekan-rekan kerja membuat hidupnya tertekan. Semua sepakat bahwa ia “perawan tua yang nggak laku-laku”.

Hingga ia bertemu dengan duda kaya, ayah salah seorang murid Tknya yang memberi harapan akan perubahan nasibnya. Ia merasa lelaki itu bisa menjadi melepaskannya dari beban hidupnya selama ini, bak pangeran tampan yang menyelamatkan sinderela dari siksaan ibu dan saudara tirinya.

Kisah ketiganya terpisah sama sekali, namun memiliki benang merah, bahwa ketiganya berfikir bisa selamat dari masalah dengan bersandar pada pria. Namun ternyata hidup ini tak seindah dongeng Cinderella.

Novel ini mengajarkan pada pembaca wanita, agar kuat bersandar pada jati dirinya. Tak sepantasnya memang wanita bersikap lemah, apalagi menjadikan laki-laki sebagai solusi keluar dari masalah. Sebab, Allah swt ciptakan lelaki dan wanita dengan potensi yang sama, sama-sama bisa kuat menjalani perannya.

“Yang jelas, aku tidak ingin menjadi seperti Cinderella yang menyerahkan solusi permasalahannya kepada pangeran. Aku lega karena telah berhasil keluar dari permasalahanku dengan usahaku sendiri”. (hal. 225)

Lelaki diberi kemampuan untuk memimpin, menafkahi dan melindungi kaum wanita. Sementara wanita diberi kemampuan menjadi ibu dan pengurus rumah tangga dengan kecendrungan sikap lembut, penyabar dan penyayang yang dimilikinya. Lelaki dan wanita saling melengkapi, bekerjasama untuk kebaikan peradaban manusia. Kuncinya, punya ilmu dan kesadaran mengenai peran masing-masing.

Novel ini juga mengajarkan untuk meluruskan niat. Pengen nikah jangan karena menjadikannya pelarian dari masalah. Tapi nikah harus karena niat ikhlas dan kesiapan menjalaninya.

“Jika kamu sudah siap, belahan jiwamu pasti datang,” ayah berkata lagi, membuatku semakin bertanya-tanya di mana letak ketidaksiapanku. (hal.221)

Inilah cerita sederhana tentang wanita yang dikemas dengan cara menarik, menurut saya. Mudah dicerna dan menyenangkan saat membacanya.. Penuturan awal dan endingnya pun cukup memuaskan. Buku ini karya lama mbak Layla Hana, baru sekarang berkesempatan membacanya. Semoga yang minat baca masih bisa mendapatkannya di pasaran.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...