23 Juni 2016

Belajar Dari Para Ibu Tegar

http://www.infokomputer.com/2015/09/profil/habibie-afsyah-kuasai-internet-marketing-dari-kursi-roda
Memiliki anak adalah masa – masa yang paling indah bagi seorang perempuan. Belumlah sempurna rasanya kehidupan perempuan jika belum dipercaya oleh Sang Pencipta alam semesta untuk mengasuh anak-anak dengan tangan mereka. Jadi para ibu layak berbangga hati, lebih tepatnya bersyukur bila Allah SWT menganugerahkan anak – anak untuk diasuh.
Mempunyai anak juga berarti sebuah tanggungjawab. Sebab titipan Allah itu harus dididik dan dibesarkan dengan baik, mendapat limpahan kasih sayang terutama dari ibu, ayah dan orang-orang sekitar untuk bekal menjalani kehidupan.
Ketika makhluk mungil itu keluar dari rahim, harapan besar muncul dalam benak sang ibu terhadap perjalanan hidup si buah hati kelak. Ibu ingin anaknya tumbuh dengan fisik yang sehat, lincah, cerdas, berakhlak baik, bermanfaat bagi masyarakat serta mengisi kehidupannya dengan semua hal terbaik yang ada di dunia. Rasa sakit ibu selama mengandung tak lagi berarti karena mendengar tangis bayi mungilnya yang sejak lama dinantikan. Lega hati ibu memandang wajah lugu si bayi, bahagia rasanya.
Namun harapan manusia terkadang tidak selalu sejalan dengan keputusan Allah SWT. Dengan maksud baiknya, Allah SWT memilih manusia – manusia yang layak diberi ujian kehidupan dalam rangka meningkatkan derajat manusia itu dihadapanNya.
Ini yang dirasakan ibu Endang Setyanti, warga Jalan Sumbangsih V/3 RT 006/01, Kelurahan Karet Jakarta. Awalnya sang anak, Habibie Afsyah, lahir dengan kondisi normal. Anggota keluarga baru itu pun disambut dengan penuh suka cita. Namun menjelang usia satu tahun Habibie terdeteksi mengidap kelainan bawaan pada saraf motoriknya. Secara perlahan kondisi Habibie akan mengalami perubahan. Fisiknya akan mengalami keterbatasan karena saraf – saraf motoriknya rusak. Bahkan dokter memprediksi umur Habibie tidak akan lebih dari 25 tahun. Bisa sampai usia 25 tahun saja sudah bagus, begitu kata dokter.

Kesabaran Itu Manis

sunnahposter.blogspot.com

Patut diacungi jempol ikhtiar ikhwan yang satu ini. Asal tau aja wanita pujaan hati yang kini menjadi pendamping hidupnya merupakan wanita kesekian belas yang menjalani proses ta’aruf dengannya hingga akhirnya berlabuh kedermaga pernikahan.

Dia lelaki sholeh yang telah lama berazam menggenapkan separuh agamanya. Ia bukan ingin merajut cinta palsu layaknya hubungan pacaran remaja remaji zaman ini. Namun yang diinginkannya adalah cinta suci penuh berkah Ilahi Rabbi. 

Dia bukan menginginkan cinta model Romeo and Juliet yang tragis hingga menderita dunia akhirat. Tapi dia ingin cintanya seindah kisah Ali dan Fatimah yang berbuah bahagia di dunia maupun surga di akhirat.

Seorang pemuda yang jahirnya tak sempurna berniat menjaga pandangan, berjuang menemukan jodohnya. Belasan wanita menolaknya. Aku salah satunya. Namun buah kesabaran itu amat manis. 

Cintanya berlabuh pada seorang wanita nan cantik jelita, sholeha, yang perjuangannya dalam dakwah tak diragukan lagi. Sang pemuda diamanahkan oleh gerakan  dakwah yang membinanya untuk mengembangkan dakwah di lahan baru. 

Dan sang belahan jiwa cocok sekali bersamanya mendobrak peradaban kelam di daerah tersebut. Dilingkungan awalnya, gadis itupun cukup terdengar gaung dakwahnya.
21 Juni 2016

Pelacuran Bukan Pup


Setujukah anda bila kotoran manusia atau pup disamakan dengan pelacuran? Analogi ini diutarakan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Professor Dr. Sarlito Wirawan Sarwono di sebuah surat kabar nasional. Beliau beranggapan kedua hal tersebut sama haramnya. Pup itu najis dan tidak layak bertebaran dimana - mana di balik lemari, di kolong tempat tidur atau di bawah karpet. 

Maka pup harus dilokalisasi di tempat yang namanya kakus atau toilet. Kalau bisa kakus itu dibuat seindah dan sebersih mungkin agar kesan joroknya hilang. Demikian dengan pelacuran yang haram. Agar pelacur tidak berkeliaran atau beroperasi kemana – mana maka mereka harus dilokalisasi. 

Maksudnya pak professor mau bilang, kita terima saja keberadaan praktek seks bebas atau perzinahan sebagaimana kita menerima keberadaan pup dalam kehidupan kita. Kalau dilokalisasi justru menguntungkan negara. Keberadaan mereka dapat menambah pemasukan dana pembangunan. Ini pernah dipraktekkan oleh Gubernur Ali Sadikin dan Pemerintahan Malaysia dan pak Sarlito mengapresiasi langkah tersebut. Selain itu di tempat lokalisasi para pekerja seks lebih bisa di kontrol kesehatannya. Jadi penularan penyakit kelamin dapat diminimalisir, begitu barangkali maksudnya.

Tanggapan pertama, benarkah pup sama dengan pelacuran? Pup itu bagian dari hidup manusia. Secara alami dia akan ada akibat kerja organ tubuh kita. Jadi keberadaan pup memang harus ada. Jika tubuh kita tidak bekerja sebagaimana mestinya untuk mengeluarkan pup, maka beresiko kematian.  Demikian pak professor juga ingin katakan kalau pelacuran itu bagian dari hidup kita yang tidak bisa dihilangkan. Keberadaannya sama dengan pup, harus ada. Namun apakah jika pelacuran tidak ada akan mengancam nyawa manusia? Tentu tidak. Jadi tidak tepat menganalogikan pup dengan pelacuran.
18 Juni 2016

Ratusan Remaja Ingin Bunuh Diri

shasays.wordpress.com
Apa negeri muslim ini harus seperti negeri-negeri komunis yang tingkat bunuh dirinya tinggi? Tentu kita tidak menginginkannya. Negeri kita negeri beragama, bahkan mayoritasnya memeluk agama Islam. Kita punya Islam sebagai problem solving bagi segala persoalan hidup kita. Tidak pantas bangsa Indonesia ada yang mengalami stress berlebihan hingga punya keinginan bunuh diri, ketika kita meyakini bahwa ada Allah Swt yang Maha Pengasih dan Penyayang pada hambaNya.

Namun survey kesehatan mental oleh Badan Penelitian dan Pengembangan  Kesehatan (Balitbangkes) pada tahun 2015 lalu, benar-benar mengejutkan. Ketika diberi pertanyaan kepada 10.300 siswa SMP dan SMA mewakili remaja di 34 provinsi tentang masalah kesehatan mereka, maka hasilnya sekitar 650 orang dari mereka teridentifikasi memiliki rasa ingin bunuh diri. Alasan remaja tersebut, mereka merasa kesepian dan kurang kasih sayang dari keluarga. Survei tersebut juga mengungkap tentang peningkatan jumlah siswa yang merokok, mengonsumsi alkohol dan narkoba.

Hal yang membuat kita semangat bertahan hidup adalah harapan, tujuan ataupun rencana masa depan. Semua itu ditopang oleh dukungan, terutama dari orang-orang terdekat. Bisa kita pahami bagaimana pikiran dan perasaan anak-anak yang ingin bunuh diri itu. Mereka sepertinya kehilangan harapan, tak mengerti tujuan dan kabur akan rencana masa depan. Mereka merasa sia-sia untuk berbuat, sebab kurang pengarahan. Tak ada yang membantu mereka menetapkan tujuan hidup dan menapakinya dengan penuh keberanian. Kasihan. Padahal pemuda punya energi besar yang  bila dikelola dengan baik, potensi itu bisa dipakai untuk membangun peradaban yang lebih bermartabat yaitu bangunan peradaban Islam seperti di masa kejayaannya dahulu.  

Bapak dan ibu yang berperan sebagai orangtua, meski tak meminta, bisa jadi ratusan anak yang mengaku bosan hidup itu mewakili suara anak-anakmu. Maka dengarlah ungkapan hati anak-anakmu itu. Perhatian dan kasih sayang amat penting bagi setiap manusia termasuk anak-anakmu. Bapak dan ibu, berhentilah memandang bahwa cara utama menunjukkan kasih sayang pada anak-anak adalah dengan memberi mereka uang dan fasilitas hiburan.
12 Juni 2016

Ramadhan, Momen Semangat Mengkaji Islam




Setiap hari jum'at pukul 08.00 diadakan pengajian di Kantor Camat Percut Sei Tuan, Medan Tembung, dekat lokasi rumah saya. Saya tinggal berseberangan dengan Kantor Camat. Sebenarnya pengajian ini dibuat Pemda setempat, untuk semua warga sekitar, baik tua atau muda, lelaki ataupun perempuan. 

Namun sepertinya agenda tersebut khusus dihadiri para orangtua dan kebanyakan para ibu. Biasanya saya enggan datang ya karena ini, segan sama yang hadir, orangtua semua. Tapi karena memang berkesempatan hadir dan mengkaji Islam adalah bagian dari kewajiban, yang di bulan Ramadhan pahalanya dilipatgandakan, saya jadi semangat untuk datang.

Dan benar, rata-rata di dalam ruangan aula tempat diadakannya pengajian ini dipadati ibu-ibu usia 40-an ke atas. Kebanyakan malah sudah pada sepuh. Semangat mereka dalam menambah ilmu Islam patut juga diacungi jempol. Sebaliknya, para pemuda yang nggak datang, hemmm. Tapi kemungkinan yang muda bukan enggan datang, tapi karena jum'at pagi waktunya mereka berkegiatan seperti sekolah, kuliah dan bekerja. Jadi yang berpeluang hadir ya orangtua. Saya sendiri biasanya jum'at pagi bertugas bersih-bersih rumah plus bimbel dan masak.

Ceramah dibawakan oleh Ustadz Ngadimin. Beliau membahas mengenai kriteria keimanan yang sesungguhnya. Menurut beliau, setidaknya ada empat hal yang menandakan bahwa seseorang itu memiliki keimanan yang sesungguhnya.
6 Juni 2016

Hari Pertama Berbuka Puasa

ukmmunlam.wordpress.com

Alhamdulillah sudah merasakan buka puasa di hari pertama Ramadhan ini. Bersama suami di rumah, berdua aja. Minum teh manis hangat ditambah biskuit. Makanan beratnya, nasi lauk telur puyuh disambal dan sayur tunas sawi direbus. Nikmatnya berbuka insya allah akan dirasakan setiap hari selama Ramadhan, kecuali tamu bulanan datang hehe. Gimana dengan buka puasa di hari pertama kamu?

Ngomong-ngomong tentang berbuka, Islam mengatur tentang adab berbuka loh. Kalau berbuka mengikuti adab yang sudah diatur oleh Allah Swt, insya allah puasa lebih berkah kan ya. Barangkali udah pada tahu karena ilmu Islam mudah di cari sekarang, apalagi seputar fiqih puasa, buku-buku maupun artikel di internet banyak yang membahas tentangnya. Tapi nggak apa ya saya ulang lagi di sini, setidaknya ini saya sesuaikan dengan pengalaman sendiri jadi barangkali ada hal baru yang bisa kamu dapatkan. Nih dia...

Bersegera Untuk Berbuka

Kalau dulu masih remaja, saya menyangka kalau berbuka itu lebih dilambatkan lebih baik. Saya berprasangka kalau semakin lama waktu berbuka berarti semakin lama waktu puasa saya dan dihitung pahala sama Allah Swt. Kalau bersegera berbuka maka waktu puasa sudah habis dan nggak dapat pahala lagi. Hehe, lucu ya. Itulah jadinya, karena beramal berdasarkan prasangka bukan ilmu, akhirnya bukan pahala yang didapat malah tersesat.

5 Juni 2016

Ramadhan dan Cinta

ooyi.wordpress.com

Sebesar-besar cinta seorang hamba, ialah cinta pada Allah Swt dan RasulNya. Satu kisah generasi awal Islam, menggambarkan betapa cinta tertinggi di hatinya hanyalah untuk agama. Suatu ketika, Zaid bin Datsinah dan lima orang muslim lainnya diutus oleh Rasulullah Saw untuk mengajarkan Islam pada suatu kaum. Ternyata kaum itu tak benar-benar ingin belajar Islam. Mereka memperdaya para sahabat Nabi. Utusan itu pun terbunuh, tak ada yang tersisa. Sebelum dibunuh, orang kafir bertanya pada Zaid bin Datsinah, “Sekarang, apakah engkau senang jika Muhammad berada di tangan kami menggantikan tempatmu, lalu engkau memenggal lehernya dan engkau kembali kepada keluarga keluargamu?”

Kalau kita yang ditanya begitu kira-kira jawabnya apa ya? Kebanyakan manusia cenderung lebih suka mempertahankan diri ketimbang berkorban buat orang lain. Tapi betapa cintanya Zaid bin Datsinah pada Rasulullah Saw, terlepas apakah tawaran orang kafir itu basa basi atau sungguhan, Zaid bin Datsinah dengan tegas menjawab, “Demi Allah! Aku tidak rela Muhammad menempati suatu tempat yang akan dihantam jerat yang menyiksanya, sementara aku duduk-duduk dengan keluargaku”.

Ini namanya jawaban yang mengagumkan. Jawaban yang hanya bisa diucapkan seorang pecinta sejati. Kaum kafir pun menunjukkan kekaguman dan berkata, “ Aku tidak pernah melihat seseorang yang mencintai sahabatnya seperti kecintaan sahabat-sahabat Muhammad kepada Muhammad.”

2 Juni 2016

Harapan Kok Minimalis?

www.voa-islam.com
"Aku ngajikan anakku supaya yaaaa minimal dia bisa baca al Qur'an. Syukur-syukur bisa khatam al Qur'an. Minimal satu kali khatam pun jadi. "

Aduuuh buuk, harapan kok minimalis sih? Emang ada yang ngelarang ya anak ibu jadi hafizh al Qur'an? Ada yang melarang anak ibu jadi pintar agama? (membatin saya)

Sering sih mendengar pernyataan seperti kalimat di atas. Para orangtua membatasi harapan mereka dalam hal agama. Seolah ada rasa minder dan keraguan terhadap pencapaian agama. Padahal tanpa Islam, hidup tak akan berkah. Tanpa Islam hidup tak akan terarah. Muslim berilmu tanpa memegang Islam sebagai prinsip hidupnya, maka besar kemungkinan ilmunya berbahaya bagi orang lain. Sebab ia akan menggunakan ilmu sesuai hawa nafsunya yang bisa saja merugikan orang lain. 

Kalau ditanyakan kepada semua orangtua, pasti ingin anaknya salih dan saliha. Tapi kalau ditanya lebih dalam lagi, kriteria salih saliha yang seperti apa yang dimaksud. Maka jawaban yang pernah saya temui, "nurut sama orangtua, rajin shalatnya, baik akhlaknya".