22 Mei 2016

Back To Home Schooling

ilustrasi by mimpipejuang.wordpress.com

Kalau banyak orangtua berharap anaknya dapat nilai tinggi di sekolah, ibu yang satu ini justru punya harapan utama yaitu akhlak buah hatinya terbentuk sesuai Islam. Kalau banyak orangtua memandang penting ijazah, namun ibu yang satu ini justru memandang penting kepribadian Islam dari anak-anaknya. Itulah mengapa anak pertamanya yang baru satu semester di sekolahkan di sekolah formal, diberhentikan dan di sekolahkan dengan sistem home schooling.

Home schooling cara ibu ini benar-benar menyekolahkan anaknya di rumah. Ia memanggil guru yang sesuai kriterianya untuk mengajar anaknya di rumah. Loh, trus gimana dengan sisi sosial si anak? Gimana nanti dengan masa depannya kalau nggak punya ijazah dari sekolah formal? Apa nggak pengen kuliah? Hemm tenang. Ibu ini lulusan S2 yang punya wawasan luas. Ia sudah fikirkan segala sesuatunya. Lagipula ini bukan keputusan sendiri melainkan sudah melalui musyawarah dengan si ayah.

Kalau kita perhatikan, baik di sekitar kita atau cari info di dunia maya, orangtua yang memilih menyekolahkan anaknya di home schooling sudah banyak. Model sekolah informal kayak home schooling juga sudah menjamur. Dengan berbagai alasan home schooling menjadi pilihan. Baik karena mutu pendidikan sekolah formal yang meragukan para orangtua, maupun karena pengaruh lingkungan sekolah yang dianggap kurang positif bagi anak.
18 Mei 2016

Intelektual Tanpa Moral, Salah Siapa?


Intelektual tanpa moral, kalimat ini barangkali yang sedang hinggap di kepala banyak orang sejak peristiwa duka tepat pada hari dimana Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei yang lalu. Dunia pendidikan telah dinodai. Padahal banyak harapan yang digantungkan pada mahasiswa. Mereka dijuluki agent of change. Sebab kelak di tangan merekalah nasib bangsa dipertaruhkan. 

Namun justru yang terjadi, mahasiswa tega berbuat amoral, mengakhiri nyawa dosennya sendiri, bahkan secara terang-terangan kejahatan itu dilakukan di lingkungan kampus. Di duga pemicu tragedi tersebut masalah dendam. Ingatan masyarakat kembali dihentak, bahwa ada yang salah pada proses pendidikan terutama di kampus.

Masalah Mahasiswa

Kalau bukan karena sedang berada dipuncak kemarahan, siapa yang tega menyakiti orang lain? Kalau bukan karena akal sehat yang sedang hilang, apa mungkin berani berbuat kesalahan, tanpa pikir panjang akan akibat di masa mendatang? Kenapa mahasiswa, kaum intelektual berbuat kejahatan yang sedemikian fatal? Mengapa ia bisa begitu kehilangan moral?
15 Mei 2016

Keuntungan Memilih Kebaikan

Majelis Ta'lim An Nisa Jalan Cemara Medan

            Kalau udah lihat remaja muslim berkumpul trus belajar Islam, hati saya berbunga-bunga. Kayak orang jatuh cinta aja ya hehe. Ia, mengingat problem kenakalan remaja masa kini yang luar biasa, mulai dari gaul bebas, narkoba dan sebagainya, maka aktivitas mengkaji Islam merupakan pilihan tepat bagi remaja. 

         Harapannya, remaja Islam yang ikut pengajian dapat membentengi diri dari arus kehidupan liberal barat. Diharapkan pula mereka bisa tampil dengan prilaku Islam hingga teman-teman mereka yang lain tertarik untuk ikut mengkaji. Pemuda harus memperbaiki pribadinya dengan Islam dan ikut berkontribusi dalam kebangkitan Islam selayaknya pemuda Islam generasi awal.

            Idealnya, ilmu Islam sudah diberikan pada diri kita sejak dini, bahkan sejak masih dalam perut ibu. Sering dielus sambil dishalawati, diperdengarkan ayat al Qur’an, diceritakan kisah teladan para Rasul dan lain sebagainya. Hanya saja kenyataannya nggak semua orangtua mampu melakukannya, mengingat ilmu agama yang kita terima dari bangku sekolah pun tak cukup bisa diandalkan. 

      Makanya saya mengapresiasi keberadaan gerakan-gerakan dakwah Islam yang membantu kaum muslim mengenal agamanya lebih dalam. Kalau remaja yang saya ceritakan ini, mendapat kajian dari kakak-kakak Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI).
Kajian Islam di Areal Mesjid Al Amin Jalan Serdang Medan
            Remaja merupakan fase peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Saat itu mereka benar-benar butuh mematangkan diri menuju manusia dewasa. Secara, orang dewasa akan berhasil menjalani kedewasaannya, saat ia memiliki prinsip hidup ilahiyah. 

           Kakak-kakak MHTI menyadari hal ini, hingga berusaha memberi kajian dengan materi yang tepat bagi mereka, yaitu materi yang dapat membangun pemikiran yang utuh tentang kehidupan.
4 Mei 2016

"Fainna Ma'al 'Usri Yusraa"

hendarti.tumblr.com

Hidup selalu menghadirkan ujian. Dengannya Allah Swt menilai kualitas manusia. Pernah seorang wanita merasakan sakit selama bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Kerja utamanya mencuci pakaian, selain menggosok dan membersihkan rumah. Setiap hari bersentuhan dengan sabun cuci dalam waktu lama. Maklum, waktu itu belum musim pakai mesin cuci.

Zat kimia pada sabun cuci yang biasa dipakai melukai kakinya. Ia terkena kutu air. Selain itu kakinya juga pecah-pecah. Sehari-harinya ia kerap menahan sakit setiap kali bersentuhan dengan sabun cuci. Sehabis bekerja diobati, namun besok kena sabun cuci lagi. Begitu seterusnya. 

Sesekali pernah sembuh. Belajar dari pengalaman, ia berusaha kreatif dalam menghadapi persoalan itu. Sewaktu nyuci, kadang kaki digantungkan di satu tempat hingga posisi kaki di atas air sabun. Tapi saat membilas bagaimana? Ya kena air juga, meski bukan air sabun. Kadangpun kakinya kena air sabun lagi. Dengan cara seperti itu lumayanlah, kondisi nggak semakin parah, tapi kutu air juga sulit sembuh total. Gatal, sakit, selalu ia rasakan setiap hari. 

Mengeluh. Ia sebatas mengeluh yang bisa dilakukan. Tak mungkin menghindari aktivitas mencuci setiap hari. Sebab disitulah ladang rizki baginya. Sementara kunci kesembuhan kakinya adalah berhenti sejenak dari kegiatan mencuci pakaian.

2 Mei 2016

Memisahkan Ekonomi Islam dengan Ekonomi Kapitalis


Judul Buku        : Ekonomi Islam Madzhab HAMFARA Jilid I Falsafah Ekonomi Islam
Penerbit            : Irtikaz
Ketebalan          : 422 Halaman
Tahun terbit      : cetakan ketiga, 2014
ISBN                  : 978-979-97937-4-4


Ilmu yang paling bertanggungjawab terhadap nasib jutaan umat manusia adalah ilmu ekonomi. Apakah manusia disatu belahan dunia mendapat aliran makanan atau tidak, itu urusan ilmu ekonomi. Apakah jutaan buruh yang bekerja peras keringat banting tulang akan mendapat upah layak, itu urusan ilmu ekonomi. Itu makanya, penulis buku ini berani menyebut bahwa ilmu ekonomi punya peran penting dalam kehidupan yang harusnya dapat perhatian maksimal.

Ekonomi Islam madzhab Hamfara bukan satu aliran fiqih baru yang diperkenalkan oleh mujtahid era kini. Apalagi ntar Ustadz Dwi Condro yang disangka ngaku-ngaku sebagai mujtahid mutlak era kini. Hamfara singkatan dari Hadza min fadhli rabbi (Ini adalah karunia dari Tuhanku). Ustadz Dwi Condro sang pakar ekonomi dan pendakwah ini mau bilang, bahwa konsep ekonomi yang beliau sajikan dalam buku ini murni dari Islam, bukan Islamisasi.
1 Mei 2016

Jangan Maksa Dong


“Saat ini, semboyan tambah anak tambah rezeki bukan zamannya lagi. Karena situasi ekonomi sudah berbeda” (http://harian.analisadaily.com/kota/news/ Jumat, 29 April 2016)

Aduh, gimana ya, saya kok nyesek membaca potongan kalimat itu. Kok masih ada yang berprasangka kayak gini dan menyebarluaskan prasangkanya pada orang lain.

Bahwa setiap manusia ada rizkinya masing-masing, itu Allah Swt yang menyampaikan.  “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dan Dia meengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS. Hud: 6). Subhanallah, binatang melata saja dijamin rezekinya oleh Allah Swt, apalagi manusia yang diserahi akal oleh Allah untuk berfikir dan berusaha menjemput rezeki dari Allah Swt.

So, kalau tiap manusia sudah ditetapkan oleh Allah Swt rezekinya, otomatis nambah anak nambah rezeki dong. Artinya slogan itu nggak salah dan nggak akan pernah salah. Sebab hukum Allah Swt berlaku hingga kiamat.

Bagai kehilangan akal, para penyeru yang mengatakan bahwa “semboyan tambah anak tambah rezeki bukan zamannya lagi”, termasuk di dalamnya pihak pemerintah telah membahayakan akidah umat Islam. Nggak boleh kan ya mengingkari satupun ayat-ayat Allah Swt. Nah kalau kita disuruh membuang semboyan tersebut, apa namanya? Jadi sepakat ya wahai orang-orang beriman, jangan ingkari ayat Allah Swt termasuk soal rezeki.

Kalau mau menjarangkan kelahiran anak atau terkena penyakit berbahaya semisal kanker yang mengharuskan untuk menghentikan potensi kehamilan pada diri kita ya boleh saja. Tapi kalau hendak membatasi kelahiran dengan keyakinan bahwa ayat Allah nggak cocok lagi untuk dijalankan zaman sekarang, waduh hati-hati deh sama akidahnya. Ya Allah jauhkanlah kami dari prasangka buruk terhadapMu. Engkaulah yang Maha Kuasa, Maha Tahu segalanya.