Sabtu, 26 Maret 2016

Selera Kita Berbeda, Tapi.......


                Beberapa waktu lalu teman saya Nita berkunjung ke rumah saya. Kebetulan saat itu jelang siang, waktunya makan siang, sekitar pukul 12-an. “Udah makan dek?”, saya tanya Nita.

“Belum kak?” jawabnya.

Saya pun menghidangkan makan siang buat Nita. Kalau saya dan suami udah duluan. Saya masak gulai tahu campur kentang. Selesai sholat zuhur, saya menemani Nita makan sambil ngobrol. Suapan pertama pun sampai ke mulutnya. Tiba-tiba wajah Nita berubah agak masem lalu berkata, “emm, manis. Nita kurang suka makan lauk yang manis. Nita sukanya masakan asin.”

                “Yaah, suami kakak kan orang Jawa, ya suka makanan manis. Kakak pun senang makan apa aja. Jadi nggak masalah mau manis atau asin.” Saya jawab sambil tersenyum

          Dengan nada maksa saya bilang, “Harus dihabisin ya. Nggak boleh nyisakan makanan, nggak bersyukur namanya.”

                Hehehehe, maaf ya dek Nit. Kali ini Nita makan dengan hati agak tersiksa. Saya emang udah kenal lama dengan Nita. Udah biasa juga ceplas ceplos ngomongnya. Bukan mau nyakitin hati, tapi ngomong apa adanya.

                ***
                Satu hal yang patut dimaklumi, kalau setiap manusia punya selera yang berbeda. Baik terhadap makanan, minuman, pakaian, model rumah, warna dan lain sebagainya. Kita pun patut menghargai perbedaan selera diantara kita. Satu hal buruk kalau memaksakan selera kita pada orang lain. Tentang kasus Nita, itu karena demi menghindari makanan yang mubazir. Masih banyak orang di luar sana yang susah buat makan. Jadi sebisa mungkin kita nggak buang makanan. Kalau sekali-kali nggak berbuat sesuai selera karena tujuan baik nggak papa juga kan ya hehehe.

            Uniknya, meski selera manusia berbeda-beda, bukan berarti nggak bisa punya standar yang sama. Maksudnya gini loh. Islam itu kan aturan hidup bagi muslim. Maka konsekuensi keimanan seorang muslim harus tunduk pada semua aturan Allah Swt. Salah satu dalilnya, “Maka hukumilah segala perkara diantara mereka dengan hukum Allah. Janganlah kamu menuruti hawa nafsu mereka” (QS. Al Maidah ayat: 48)

              Inti dari makna ayat tersebut ialah, bahwa umat muslim kudu berbuat sesuai hukum Allah Swt. Kalau berbuat bukan dengan hukum Allah, berarti mengikuti hawa nafsu manusia. Jadi, Islam adalah standar hidup, tolak ukur berbuat, cara kita memandang kehidupan dan jadi problem solving dalam hidup kita.

                Kalau gitu, gimana dengan selera manusia? Apa Islam bermaksud mengekang selera manusia dan memaksa untuk mengikuti standar yang sama? Bukan gitu. Nih coba saya jelaskan. Islam datang dari Allah Swt sang Pencipta manusia. Pasti dong yang paling tahu tentang manusia itu Allah Swt. Bahwa manusia punya selera, itu Allah tahu dan Allahlah yang menciptakan selera itu pada diri manusian. Nah, ketika Allah menjadikan Islam sebagai aturan hidup bagi manusia, so pasti manusia tetap bisa memenuhi seleranya. Dengan catatan, tetap di dalam koridor Islam.

                Contoh, teman saya Nita suka makanan asin, kalau suami saya yang lidah Jawa terbiasa dengan makanan manis. Islam nggak melarang kita suka makanan manis atau asin. Tapi Islam kasih batasan, makanannya harus halal dan thayib. Asalkan halal dan thayyib, makanan pahit sekalipun kalau suka ya silahkan makan. Misalnya lagi, Islam menetapkan wanita menutup aurat dengan jilbab dan kerudung. Nah, jilbab dan kerudung jadi standar berpakaian muslimah ke luar rumah. Masalah, model atau warna silahkan pakai sesuai selera, yang penting syar’i. Contoh lagi, Allah tidak melarang kita punya harta. Asalkan memenuhi standar, sumber harta tersebut halal sesuai Islam dan harta tersebut dikeluarkan untuk jalan yang halal pula.

www.gamissyarimurah.com
             So, kalau masih ada dari kita yang ngerasa Islam itu ribet, mengekang dan memberatkan, kita mesti belajar lebih dalam lagi tentang rincian aturan Islam. Saya sendiri, semakin belajar, semakin merasakan keindahan aturan Islam. Islam hanya meluruskan agar selera kita dipenuhi pada koridor yang diridhai Allah Swt hingga berbuah pahala dan syurga.

4 komentar:

  1. Alhamdulillah aku ngga pernah ngerasa islam itu ribet mak.. Karena semua ketentua dalam islam senantiasa ada manfaat untuk umatnya ya Mak.. Makasi sharing pengingatnya ya Maaak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Islam nggak bikin ribet ya mak..sama-sama mak :)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...