Minggu, 20 Maret 2016

LGBT, Proxy War Ala Kapitalis Global


            Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menilai fenomena kemunculan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia bagian dari “proxy war” atau perang proksi untuk menguasai suatu bangsa tanpa perlu mengirim pasukan militer, demikian yang beliau katakan kepada news.okezone.com. 

            Proxy war, perang gaya baru dimana pihak yang memerangi tidak perlu mengotori tangannya dengan darah lawan. Cukup hancurkan lawan melalui pihak ke tiga, maka kemenangan dapat diraihnya. Kemenangan tersebut berarti mulusnya kepentingan-kepentingan pihak penghancur terhadap bangsa yang dihancurkan. 

           Kenyataan yang dapat kita rasakan, gerakan LGBT menambah poin bagi potensi kehancuran negeri ini. Tentu jika fenomena LGBT tidak ditanggapi serius oleh berbagai pihak terutama pihak yang memiliki kekuatan itu pemerintah.

LGBT dan Pendukungnya

Jumlah LGBT hingga kini semakin meningkat. Khusus di Kota Depok, kota yang berbatasan dengan Jakarta, jumlah mereka bertambah secara signifikan dalam setahun. Tahun 2014 jumlah gay ada 4.932 jiwa. 

Setahun kemudian menjadi 5.791jiwa. Untuk skala Nasional, pada tahun 2011 saja catatan badan PBB memprediksi jumlah LGBT sekitar 3 juta jiwa. Sejak lama penyuka sesama jenis ini telah berlindung di balik ratusan organisasi masyarakat yang mendukung homoseksual. Sampai akhir tahun 2013, terdapat dua jaringan organisasi LGBT yang menaungi 119 organisasi di 28 provinsi. 

Pertama, Jaringan Gay, Waria, dan Laki-Laki yang Berhubungan Seks dengan Laki laki Lain Indonesia (GWLINA), didirikan pada februari 2007. Jaringan kedua, yaitu Forum LGBTIQ Indonesia, didirikan pada tahun 2008. 

Jaringan ini bertujuan memajukan program-program hak-hak seksual yang lebih luas dan memperluas jaringan agar mencakup organisasi-organsisasi lesbian, wanita biseksual, dan pria transgender. Kedua jaringan besar tersebut didukung oleh lembaga internasional.

Pasca legalitas perkawinan sesama jenis di Amerika, LGBT seperti mendapat angin segar, yaitu rasa optimis akan keberhasilan perjuangan mereka untuk mendapat pengakuan di masyarakat. 

Anggapan sebahagian pihak, bahwa kabar dari negara maju kampiun demokrasi nun jauh di sana tersebut tidak akan mempengaruhi perkembangan LGBT di Indonesia, salah telak. Sejak saat itu komunitas LGBT semakin berani unjuk diri bahkan unjuk kekuatan. Melalui media jejaring sosial, ratusan akun Facebook dan Twitter komunitas LGBT bermunculan. 

Diantara akun yang cukup mengejutkan ialah akun Twitter @gay_kids dengan follower sekitar 3000-an dari kalangan remaja dan anak-anak. Diduga akun tersebut dibuat oleh orang dewasa. 

Namun gambar-gambar yang ditunjukkan di akun tersebut memperlihatkan kalau aktivitas kaum sodom tersebut dilakukan oleh anak-anak. Kota Medan sendiri dikejutkan dengan kemunculan FB fan page  LGBT of USU beranggotakan sekitar delapan puluh orang.
Media sosial bukan saja menjadi alat menyebarluaskan opini LGBT, namun kalangan kapitalis penyedia aplikasi LINE dan Whatsapp juga terang-terangan memberikan dukungan terhadap para pelaku penyimpangan seksual tersebut. 

LINE menyediakan stiker bergambar dua pria saling berpelukan dan bahkan sedang berhubungan intim. Stiker itu berjudul Love is love dan GAY’s LOVE VOICES. Siapapun bebas menggunakan stiker tersebut jika mereka mendukung LGBT. Whatsapp juga memiliki stiker yang menunjukkan hal serupa. 

Sama halnya dengan Facebook yang baru-baru ini menyediakan stiker khusus LGBT. Stiker tersebut bergambar dua orang pria seperti sedang menikah. Seorang pria berjas putih membawa bunga dihadapan mempelai lelakinya yang mengenakan jas hitam. Keduanya berdiri dengan latarbelakang simbol “love” besar.

Sebagai komitmen dukungan kapitalis global, minggu lalu sejumlah media memberitakan tentang dana yang digelontorkan badan PBB yaitu United Nations Development Programme (UNDP) untuk program penguatan LGBT. Dana tersebut cukup besar, senilai 8 juta dolar As atau sekitar 108 milyar rupiah. 

Program yang juga didukung Swedia tersebut diberi nama the Being LGBT in Asia Phase 2 Initiative (BLIA-2). Salah satu dari empat negara yang menjadi target pendanaan mereka adalah Indonesia.
Laman resmi UNDP menyatakan, bahwa tujuan badan PBB tersebut memberi dana kepada kalangan LGBT adalah membangun dan memberdayakan masyarakat untuk mendukung pelaku LGBT mengetahui hak-haknya. 

Selain itu, agar LGBT memiliki akses hukum, hingga dengan mudah bisa melaporkan pelanggaran hak asasi mereka. Tujuan lainnya, memobilisasi masyarakat hingga terwujud advokasi hukum serta mendorong perubahan kebijakan yang menjamin hak-hak LGBT. UNDP berharap, kedepannya dapat dicapai dialog dengan para pemangku kepentingan, seperti organisasi keagamaan, swasta, otoritas hukum, dan institusi pendidikan. 

Dialog ini diarahkan untuk menyudahi stigma, diskriminasi, dan tindakan yang mengganggu LGBT. Capaian lainnya adalah meningkatnya kapasitas dan aksi pemerintah, otoritas hukum, parlemen, dan lembaga hak asasi manusia nasional dalam menrumuskan hukum dan kebijakan mengenai orientasi seks dan identitas gender.

Seiring merebaknya kabar kucuran dana UNDP untuk LGBT, pemerintah memanggil pihak UNDP guna menjelaskan perihal dana tersebut. Hasilnya, pak Jusuf Kalla memastikan tidak ada aliran dana dari UNDP ke komunitas LGBT di Indonesia. 

Beliau berkata, bahwa kalaupun ada aliran dana untuk kalangan LGBT, maka itu berasal dari lembaga non pemerintah. Tetapi fakta yang jelas, pernyataan pada website resmi UNDP lebih merupakan pengakuan secara resmi akan adanya program tersebut.

Selain itu tercium pula dukungun dari perusahaan asing kepada kaum LGBT. Sebuah merk produk susu anak kedapatan memuat gambar aneh pada kemasan kotak susu tersebut. Sebelumnya gambar yang dimuat adalah sepasang lelaki dan perempuan dengan satu orang anak. 

Namun baru-baru ini merebak di facebook mengenai perubahan gambar di kemasan susu anak tersebut dari gambar normal sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak, menjadi dua orang pria dengan satu anak dan satunya lagi bergambar dua orang wanita dengan satu orang anak. 

Adapula dukungan pada LGBT yang tampak dari perusahaan Starbucks. Kedai kopi terbesar di dunia ini beriklan dengan kampanyenya: ‘Minum Kopi, Dukung Pernikahan Sesama Jenis’. 

Perusahaan ini mendonasikan sebagian dari pendapatan perusahaan untuk mendukung pernikahan LGBT. Telah terbukti bahwa aktivitas jaringan LGBT di seluruh negeri dapat berjalan lancar berkat dukungan dari asing baik dana maupun propaganda.

Dari kalangan liberal, dukungan terhadap LGBT ditunjukkan oleh dedengkot liberal Ulil Absar Abdalla. Pembelaannya pada kaum LGBT sampai-sampai membuatnya ragu pada kisah kaum Nabi Luth yang diazab oleh Allah Swt dalam Al Qur’an. 

“LGBT bukan ancaman. Sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Dan spesies manusia tak punah karena mereka”, begitu tulisnya di akun Twitter pribadinya. Dibalik kalangan LGBT juga ada kalangan pemuja Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka inilah yang selama ini melindungi LGBT atas nama HAM. LGBT hampir mendapatkan legalitasnya saat Komisi Nasional (Komnas) HAM menggelar rapat paripurna pada Juli 2013 untuk membahas pengakuan terhadap LGBT. Organisasi HAM lainnya yang mendukung LGBT yaitu Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Wajar bila kaum LGBT sampai berani menggugat, siapapun yang menentang mereka. Mereka menggugat Republika dan sejumlah pejabat negara karena dianggap mengucilkan mereka. 

“Kami meminta Presiden RI Joko Widodo menindak tegas Menteri Pendidikan Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Menteri Pendidikan, Wali Kota Bandung, dan beberapa anggota DPR yang memuat rasa kebencian kepada LGBT,” ujar Koordinator Divisi Advokasi Gaya Warna Lentera Indonesia (GWL-INA), Slamet Rahardjo, mewakili Forum LGBTIQ, di Gedung LBH Jakarta akhir Januari lalu. 

Wajar pula bila kalangan LGBT bersemangat merumuskan suatu bentuk fikih guna melegitimasi urusan mereka dihadapan agama. Pondok Pesantren Waria Al-Fatah, Yogyakarta berencana menyusun fikih Waria. 

Shinta Ratri selalu pimpinan di tempat tersebut mengatakan, mereka akan menyusunnya selama dua tahun dan kemudian mencari rujukan kepada kyai-kyai di beberapa daerah di Jawa.

Menurut Sekjen Aliansi Cinta Keluarga (AILA), Rita Hendrawaty Soebagio, Indonesia menjadi target propaganda LGBT disebabkan karena Indonesia adalah negeri mayoritas muslim terbesar di dunia. Indonesia akan menjadi alat legitimasi ampuh dan strategis bagi gerakan LGBT terutama dalam penguatan opini bahwa prilaku mereka normal. 

Sehingga dengan berbagai upaya mereke akan coba menanamkan di Indonesia sebagai argumen bahwa LGBT dapat diterima di negeri muslim, (Media Umat edisi 168).  Inilah barangkali yang disebut Menhan sebagai “proxy war” atau perang proksi untuk menguasai suatu bangsa tanpa perlu mengirim pasukan militer. 

Barat memiliki kepentingan teradap dunia Islam dan LGBT menjadi salah satu instrumen penjajahan Amerika terhadap dunia Islam. Bila anak-anak muslim terutama bangsa Indonesia rusak oleh LGBT, maka proyek-proyek penjajahan ekonomi politik dan budaya mereka akan berjalan dengan mulus. Barat berharap tak ada lagi sumber daya potensial yang menentang penjajahan mereka.

Bentengi Generasi Dengan Islam

Berhati-hatilah wahai bangsa Indonesia, sistem kapitalis liberal berikut ide HAM milik barat yang ikut-ikutan dianut oleh Indonesia telah menyuburkan prilaku amoral dan berpeluang semakin melanggengkan kepentingan barat di negeri ini. 

Selayaknya ulama, ormas-ormas Islam, lembaga pendidikan, guru, masyarakat dan keluarga bekerja sungguh-sungguh dalam membentengi generasi dari pengaruh LGBT dengan Islam. 

Seharusnya pula kita menolak sistem kapitalis liberal dan mendukung perjuangan syariah Islam dalam naungan Khilafah. Insya allah, penerapan Islam secara kaffah akan menjadi solusi paripurna bagi kerusakan seperti LGBT dan lain sebagainya. Wallahu a’lam bishawab.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...