Minggu, 20 Maret 2016

Deradikalisasi Berbalut Penelitian Ilmiah

Opini yang dimuat di Harian Waspada Medan, 12 Maret 2016


            Dinamika dakwah kampus terusik. Pasalnya ada pernyataan cukup mengejutkan yang datang dari peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Anas Saidi, bahwa dunia kampus terancam adanya radikalisme ideologi yang merambah melalui proses Islamisasi. Beliau berkata bahwa kampus kini dikuasai oleh tiga kelompok besar yang radikal yaitu KAMMI, HTI dan Salafi. Sampai-sampai beliau juga mengatakan bahwa gerakan dakwah kampus yang dianggap sebagai ancaman tersebut berpotensi memporak-porandakan Indonesia serta memecah belah negara karena perbedaan ideologis, (CNNIndonesia.com, 19/02/2016).
Sebagai bukti Anas Saidi mengutip pula hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. 
Hikmah Dakwah Kampus
            Saya termasuk bagian dari didikan kampus, yang tersentuh dengan geliat dakwah Islam disana. Saya mengenal cukup baik gerakan dakwah yang disebutkan oleh Anas Saidi. Justru yang saya rasakan saat bertemu mereka adalah kebaikan. Sebelumnya saya tidak pernah tertarik memahami isi al Qur’an dan as sunnah. Sebagaimana masyarakat kebanyakan yang teracuni budaya kebebasan ala barat, saya menganggap shalat sebagai sesuatu yang tidak begitu penting. Apalagi urusan menutup aurat, berakhlak sampai menjaga pergaulan, tidak terpikir oleh saya untuk menatanya sesuai Islam.
Namun berkat bimbingan para aktivis dakwah tersebutlah saya berpikir untuk hijrah dari prilaku ala jahiliyyah barat kepada kemuliaan Islam. Saya mulai menjaga sholat fardhu bahkan menambahnya dengan sholat sunnah, mulai membiasakan puasa sunnah, menutup aurat secara syar’i, mengatur interaksi dengan pria sesuai Islam, belajar berakhlak baik dengan sesama muslim maupun non muslim dan lain sebagainya. Berkat mengkaji Islam bersama gerakan dakwah kampus saya mengenal toleransi yang benar sesuai Islam. Muslim tidak boleh menyakiti sesama manusia, namun sebaliknya dengan lemah lembut mengajak mereka pada Islam yang diridhai Allah Swt.
Berkat dakwah itu pula saya paham kalau segala kerusakan hidup saat ini, seperti merebaknya seks bebas, penyimpangan seksual LGBT, korupsi hingga penjarahan sumber daya alam oleh penjajah asing diakibatkan karena beralihnya pandangan manusia dari kesempurnaan hukum Islam. Manusia lalai dan lupa bahwa Allah Swt menjanjikan keberkahan dari langit dan bumi jika suatu penduduk negeri beriman dan bertakwa dengan sebenar-benarnya. Tidak ada ajaran untuk berbuat kekerasan dalam gerakan dakwah kampus. Tidak ada ajaran kebencian dan segala apa yang dituduhkan tersebut. Kami ditanamkan rasa cinta dan jiwa kepedulian, bahwa kehidupan manusia harus diselamatkan dengan cara kembali kepada aturan Allah Swt.

Berubah Itu Keniscayaan
            Di tengah realita persoalan bangsa yang bertumpuk-tumpuk seperti kemiskinan massal, korupsi berjamaah, darurat narkoba, krisis moral remaja, maraknya gerakan penyuka sesama jenis dan lain sebagainya, adalah hal wajar jika masyarakat berpikir untuk berubah. Sudah puluhan tahun negeri kita merdeka. Sudah berkali-kali kita mengalami pergantian pemimpin, namun kehidupan kita bukannya semakin baik, malah sebaliknya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan hingga September 2015 mencapai 28,51 juta atau 11,13% dari total penduduk Indonesia, meningkat dari angka 27,73 juta atau 10,96% pada periode September 2014, (sindonews.com, 04/01/2016). Tingkat pengangguran pun meningkat. Deputi Neraca dan Analisis Statistik BPS, Suhariyanto mengungkapkan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada bulan agustus 2015 sejumlah 7,56 juta orang atau 6,18%, meningkat dari periode yang sama tahun 2014 sebesar 5,94% atau 7,24 juta orang, (bataranews.com). Hal yang sama terjadi pada prilaku seks bebas remaja, angka penularan penyakit HIV/ AIDS dan lain sebagainya.
            Sistem demokrasi kapitalis berasaskan sekulerisme yang telah diterapkan selama ini terbukti tidak mampu mengatasi berbagai persoalan yang ada. Wajar bila akhirnya masyarakat meragukan keampuhan sistem ala barat tersebut. Dan wajar pula bila publik termasuk mahasiswa berfikir mencari sistem pengganti. Jika kemudian syariah Islam diajukan sebagai sumber penyelesaian persoalan, bukankah itu justru konsekuensi logis keimanan setiap muslim? Allah Swt berfirman, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim/pemutus terhadap perkara yang mereka perselisihkan,…” (An-Nisaa’ 65).
            Lalu, apakah layak menganggap kecenderungan untuk mendukung penerapan syariat sebagai ancaman atau bahaya bahkan dilabeli radikal ideologis? Sementara yang jelas-jelas menjadi ancaman bagi negeri ini adalah neoliberalisme dan neoimperialisme. Rakyat Papua, hidup di tanah yang diberkahi Allah Swt, dengan sumber daya alam melimpah. Namun masih banyak dari penduduk Papua yang hidup miskin. Apakah kemiskinan tersebut disebabkan oleh para pejuang syariah? Bukan, tetapi diakibatkan ulah perusahaan Amerika yaitu PT. Freeport yang menguasai gunung emas di sana. Apakah propinsi paling merauke di Indonesia yaitu Timor Timur lepas dari Indonesia disebabkan para pejuang Khilafah? Tentu kita sudah tahu bahwa Australia dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya yang menyebabkan hal itu terjadi. Sementara seruan para pejuang syariah dan Khilafah adalah persatuan umat Islam di bawah naungan al Qur’an dan as sunnah. Maka apa yang dimaksud sebagai ancaman dari mereka yang ingin hidup dengan syariah Islam? Mereka baru sebatas membuat wacana, belum ada realisasi karena proses perjuangan masih berlangsung.
Latah Dengan War on Terrorism ala AS
            Sesungguhnya dunia sudah menyadari kemunculan kekuatan baru yang berasal dari dunia Islam. Kekuatan itu akan mengubah peta perpolitikan dunia dan menyelamatkan hidup manusia yang selama ini lemah dihadapan kapitalisme. Khilafah diprediksi akan menggeser kedudukan Amerika sebagai adidaya dunia. Majalah the Economist (1996) menyebutkan bahwa pada abad ke 21, akan ada dua kekuatan ekonomi raksasa yang muncul, yang pertama adalah China dan  yang satunya lagi adalah Kekhalifahan. Hasil penelitian National Intellegence Council (NIC) melansir kemungkinan kembalinya Khilafah Islamiyyah sebagai pemimpin dunia di tahun 2020. Hal inilah yang ditakutkan Barat, sehingga mereka melancarkan propaganda war on terrorism (perang melawan terorisme) sebagai upaya menghalangi kebangkitan Khilafah.
                Berbagai pernyataan tokoh barat memperlihatkan ketakutan mereka terhadap berdirinya Khilafah. Donald Rumsfeld menyatakan pada bulan Februari 2011, “Kami menghadapi musuh yang kejam. Para Islamis radikal ada di sana. Mereka berniat untuk mencoba mendirikan Khilafah di dunia ini dan secara fundamental mengubah sifat negara bangsa”, http://www.rushlimbaugh.com/daily/2011/02/08/eib_interview_donald_rumsfeld. Profesor di Harvard, Niall Ferguson, dalam sebuah wawancara dengan The Telegraph, memperingatkan bahwa menjelang tahun 2021, “kemungkinan kecil kita mendapatkan demokrasi gaya Barat di Timur Tengah”. Lebih mengkhawatirkan ketika berpikir tentang kebangkitan kembali Kekhalifahan”, http://www.telegraph.co.uk/finance/financevideo/8367183/Niall-Ferguson-In-2021-well-be-amazed-how-much-the-world-has-changed.html. George W. Bush dalam sebuah pidatonya menyatakan, “Mereka berharap mendirikan utopia kekacauan politik yang melampaui Timur Tengah yang mereka sebut Chalipate (Khilafah) dan semuanya akan diatur berdasarkan ideologi kebencian mereka”, https://www.youtube.com/watch?v=fyGTvHijIp8. Pada tahun 2006 presiden dari negara demokasi pembela Israel ini dengan nada sinis menyebut kata Khilafah sebanyak 16 kali dalam berbagai pidatonya.
            Sejalan dengan misi barat, pemerintah berkomitmen ikut memimpin pada isu-isu global seperti terorisme dan ekstremisme kekerasan. Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) AS-ASEAN 2016, Presiden Jokowi menyebutkan, “serangan di Jakarta mengingatkan pentingnya kerja sama dalam tiga hal, yakni mempromosikan toleransi, memberantas terorisme dan ekstremisme, serta mengatasi akar masalah dan menciptakan suasana kondusif terhadap terorisme”.
            Kita tentu menyayangkan pernyataan dari LIPI tersebut. Pernyataan pihak LIPI terindikasi bagian dari proyek deradikalisasi, yaitu upaya menangkal kebangkitan Islam politik. LIPI seharusnya menjadi lembaga yang kredibel untuk menilai kecenderungan masyarakat secara objektif tanpa dipengaruhi oleh stigma terhadap kalangan tertentu. LIPI juga tidak seharusnya membuat penelitian yang justru memunculkan keresahan publik. Sungguh ini merupakan penyesatan terhadap opini umat dan pemaksaan untuk melibatkan semua pihak dalam kampanye global ‘perang melawan terorisme’ ala AS. Jangan jadikan Islam musuh. Karena ideologi Islam satu-satunya pandangan hidup yang tepat menggantikan ideologi kapitalisme perusak kehidupan. Wallahu a’lam bishawab.

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...