30 Maret 2016

CLBK Dengan...


Dulu aku pernah dekat dengannya, dekat sekali. Hampir setiap petang kami bertemu, berinteraksi dengan akrabnya. Aku tak pernah ingin jauh darinya, senang selalu berdekatan, ceria bersamanya. Semangat masa itu diriku menjalani hari, nggak bosan-bosannya bertemu, hampir setiap hari.

Seiring waktu, keakraban itu melemah, bahkan luntur. Hari-hari berikutnya, aku mulai jarang bertemu dengannya, semakin jarang, bahkan amat jarang. Kulupakan ia dalam waktu yang cukup lama. Bukan hitungan hari atau bulan, tapi tahunan. Tak pernah aku mengingat-ingatnya. Nggak ngerasa butuh kehadirannya, nggak ngerasa ia harus ada.


26 Maret 2016

Selera Kita Berbeda, Tapi.......


                Beberapa waktu lalu teman saya Nita berkunjung ke rumah saya. Kebetulan saat itu jelang siang, waktunya makan siang, sekitar pukul 12-an. “Udah makan dek?”, saya tanya Nita.

“Belum kak?” jawabnya.

Saya pun menghidangkan makan siang buat Nita. Kalau saya dan suami udah duluan. Saya masak gulai tahu campur kentang. Selesai sholat zuhur, saya menemani Nita makan sambil ngobrol. Suapan pertama pun sampai ke mulutnya. Tiba-tiba wajah Nita berubah agak masem lalu berkata, “emm, manis. Nita kurang suka makan lauk yang manis. Nita sukanya masakan asin.”

                “Yaah, suami kakak kan orang Jawa, ya suka makanan manis. Kakak pun senang makan apa aja. Jadi nggak masalah mau manis atau asin.” Saya jawab sambil tersenyum

          Dengan nada maksa saya bilang, “Harus dihabisin ya. Nggak boleh nyisakan makanan, nggak bersyukur namanya.”

                Hehehehe, maaf ya dek Nit. Kali ini Nita makan dengan hati agak tersiksa. Saya emang udah kenal lama dengan Nita. Udah biasa juga ceplas ceplos ngomongnya. Bukan mau nyakitin hati, tapi ngomong apa adanya.
20 Maret 2016

LGBT, Proxy War Ala Kapitalis Global


            Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menilai fenomena kemunculan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia bagian dari “proxy war” atau perang proksi untuk menguasai suatu bangsa tanpa perlu mengirim pasukan militer, demikian yang beliau katakan kepada news.okezone.com. 

            Proxy war, perang gaya baru dimana pihak yang memerangi tidak perlu mengotori tangannya dengan darah lawan. Cukup hancurkan lawan melalui pihak ke tiga, maka kemenangan dapat diraihnya. Kemenangan tersebut berarti mulusnya kepentingan-kepentingan pihak penghancur terhadap bangsa yang dihancurkan. 

           Kenyataan yang dapat kita rasakan, gerakan LGBT menambah poin bagi potensi kehancuran negeri ini. Tentu jika fenomena LGBT tidak ditanggapi serius oleh berbagai pihak terutama pihak yang memiliki kekuatan itu pemerintah.

LGBT dan Pendukungnya

Jumlah LGBT hingga kini semakin meningkat. Khusus di Kota Depok, kota yang berbatasan dengan Jakarta, jumlah mereka bertambah secara signifikan dalam setahun. Tahun 2014 jumlah gay ada 4.932 jiwa. 

Setahun kemudian menjadi 5.791jiwa. Untuk skala Nasional, pada tahun 2011 saja catatan badan PBB memprediksi jumlah LGBT sekitar 3 juta jiwa. Sejak lama penyuka sesama jenis ini telah berlindung di balik ratusan organisasi masyarakat yang mendukung homoseksual. Sampai akhir tahun 2013, terdapat dua jaringan organisasi LGBT yang menaungi 119 organisasi di 28 provinsi. 

Pertama, Jaringan Gay, Waria, dan Laki-Laki yang Berhubungan Seks dengan Laki laki Lain Indonesia (GWLINA), didirikan pada februari 2007. Jaringan kedua, yaitu Forum LGBTIQ Indonesia, didirikan pada tahun 2008. 

Jaringan ini bertujuan memajukan program-program hak-hak seksual yang lebih luas dan memperluas jaringan agar mencakup organisasi-organsisasi lesbian, wanita biseksual, dan pria transgender. Kedua jaringan besar tersebut didukung oleh lembaga internasional.

Deradikalisasi Berbalut Penelitian Ilmiah

Opini yang dimuat di Harian Waspada Medan, 12 Maret 2016
Dinamika dakwah kampus terusik. Pasalnya ada pernyataan cukup mengejutkan yang datang dari peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Anas Saidi, bahwa dunia kampus terancam adanya radikalisme ideologi yang merambah melalui proses Islamisasi. Beliau berkata bahwa kampus kini dikuasai oleh tiga kelompok besar yang radikal yaitu KAMMI, HTI dan Salafi.

Sampai-sampai beliau juga mengatakan bahwa gerakan dakwah kampus yang dianggap sebagai ancaman tersebut berpotensi memporak-porandakan Indonesia serta memecah belah negara karena perbedaan ideologis, (CNNIndonesia.com, 19/02/2016).

Sebagai bukti Anas Saidi mengutip pula hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal.

Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. 

Hikmah Dakwah Kampus

Saya termasuk bagian dari didikan kampus, yang tersentuh dengan geliat dakwah Islam disana. Saya mengenal cukup baik gerakan dakwah yang disebutkan oleh Anas Saidi.
Justru yang saya rasakan saat bertemu mereka adalah kebaikan. Sebelumnya saya tidak pernah tertarik memahami isi al Qur’an dan as sunnah.

Sebagaimana masyarakat kebanyakan yang teracuni budaya kebebasan ala barat, saya menganggap shalat sebagai sesuatu yang tidak begitu penting. Apalagi urusan menutup aurat, berakhlak sampai menjaga pergaulan, tidak terpikir oleh saya untuk menatanya sesuai Islam.

Memetik Hikmah Dari Berkendara


Judul buku: "On the Road Cerita Hati Pengguna Kereta Api"
Penulis: Baban Sarban
Penerbit: Quanta

Buku yang satu ini karya jadul dari penulis dan blogger Baban Sarbana. Dan mungkin sanking jadulnya, buku yang saya beli seharga 5000 rupiah di bazar gramedia ini, tidak dimasukkan ke dalam daftar karya sang penulis yang tercatat di blog pribadi beliau. Padahal karya perdana beliau di catatan tersebut tertulis tahun 2002, sama dengan tahun terbit buku ini. Tapi kok ya buku ini nggak dicantumin? Waalahu a'lam bishawab.

By the way, tulisan di buku ini yang disebut oleh penulisnya sebagai cernil alias cerita bernilai, merupakan kumpulan kisah tentang berkendara, khususnya naik kereta api.
Pada waktu itu sehari harinya penulis berangkat dan pulang dari tempat kerja naik kereta api kelas ekonomi non AC. Mungkin yang udah pernah ngalamin bisa merasakan tantangan naik kereta api kelas orang kecil tersebut ya. Suasana desak desakan sesama penumpang, nggak dapat tempat duduk, ancaman copet, dihibur pemusik jalanan dan lain sebagainya. Itu pula yang dirasakan dan diceritakan penulis.

Kisah lucu, sedih maupun senang dari penulis  disajikan dengan petikan hikmah. Diantaranya kisah tentang dua orang cacat. Waktu di kereta apai, pernah penulis bertemu dengan seorang penumpang yang tangannya buntung sebelah. Pria itu sempat menawari penulis permen. Pria itu asyik membaca buku. Tanpa sadar ada yang sedang mengincar dompetnya. Saat pria tersebut tersadar dompetnya sudah hilang. Lalu penulis menyebut pencopet yang membawa lari dompet pria bertangan buntung sebenarnya juga cacat, cacat moral. Ia, pelaku maksiat itu bisa disebut cacat moral.

8 Maret 2016

Suka Duka Itu Irama Hidup

Ikan asin goreng kalau dimakan bersama sayur gulai daun singkong bernuansa asin, rasanya gimana ya? Asin sekali, garing, nggak berwarna rasanya, nggak enak. Yup, betul. Tapi coba kalau sayurnya di ubah jadi nuansa manis. Hemm, dijamin lebih sedap rasanya.


Begitu juga hidup. Jangan heran kalau Allah kasih manisnya kebahagiaan dan pahitnya kesedihan pada kita, baik bersamaan atau bergantian. Sebab bahagia  saja akan jadi hambar, biasa. Sementara kesedihan bertubi-tubi rasanya sakit berlipat-lipat. Kau takkan merasakan nikmatnya kebahagiaan jika tak merasakan kesedihan.
6 Maret 2016

Trims Dokter Aznan Lelo

hd-sekadau.blogspot.com

Penulis Alga Biru nulis tentang Professor Aznan Lelo dengan judul "Prof Aznan Dalam Ingatan". Karena saya juga punya pengalaman tentang Prof Aznan, jadi pengen nulis juga tentang dokter yang satu ini. Sebelumnya saya sudah pernah nulis tentang pendapat Prof Aznan terhadap MSG, ni dia http://evaarlini.blogspot.co.id/2015/08/narkoba-mengancam-keluarga.html 
Artinya ini tulisan kedua tentang beliau. Kalau Alga sebagai mahasiswa pak Prof, kalau saya pernah jadi pasien beliau.
Tahun ke-2 pernikahan, saya mengalami suatu penyakit yang nggak ngerti namanya apa. Yang jelas sakit itu terasa di daerah sensitif saya.  Saat saya curhat dengan teman tentang penyakit saya, beliau menyarankan saya berobat ke dokter Aznan. Kok rekomnya ke situ? Ia, soalnya saya sedang krisis keuangan saat itu, dan kabarnya dokter Aznan terkenal tidak menetapkan tarif buat pasien beliau.
Temannya pun ngasih alamat plus ngasih tahu jadwal dokter Aznan praktek. Karena kesibukan beliau, tidak setiap hari praktek pengobatan di rumah mertua beliau itu ditangani sendiri oleh pak dokter. Sekitar dua dampai tiga hari dalam seminggu kalau nggak salah dokter Aznan ke luar kota. 
Saya berobat di hari senin, tepat saat dokter Aznan ada di tempat. Tiba di tempat, sudah ramai calon pasien menunggu. Saya menuju tempat pendaftaran lalu mendaftarkan diri dan mengambil amplop yang disedikan untuk tempat ongkos berobat. Amplop itu boleh diisi uang sesanggupnya.
Tiba giliran saya, pak dokter melayani saya dengan baik. Kepada suami saya pak dokter memberi beberapa saran demi membantu penyembuhan saya. Lalu saya dikasih obat dan resep obat untuk pengobatan lebih lanjut, bila obat yang diberi pak dokter belum menyembuhkan. 
Benar yang dikatakan dari mulut ke mulut itu, kalau pak dokter ini baik sekali, tidak mengenakan tarif dan memberi resep yang harga obatnya terjangkau. Alhamdulillah, penyakit saya pun sembuh. Terima kasih pak dokter. Semoga sehat selalu dan mendapat berlimpah kebaikan dari Allah Swt, amin.
Prof Aznan Brifing Untuk Syuting di Kick Andy

Prilaku Orang Terdidik Kok...??

pixabay.com

Baru saja buka-buka blognya Raditya Dika dan semangat kembali nulis di blog, eh laptop kesayanganku, satu-satunya itu padam. Sepertinya yang rusak chargernya. Mudah-mudahan deh. Masalahnya mau beli baru belum punya duit.


Tadi baru saja pulang pengajian. Nggak seperti biasa (biasanya pakai motor), kali ini pergi dan pulang pengajian naik angkot. Salah satu kelebihan naik angkot adalah selama perjalanan bisa baca buku. Nah tadi aku baca buku On The Road karya Baban Sarbana. Buku itu yang sebelum buka blognya Radith, sudah lebih dulu ngingatin kalau aku harus kembali ngisi blogku dengan tulisan baru. Dan ternyata antara Radith dan Baban ada kesamaan loh. Sama-sama menulis buku yang isinya kumpulan tulisan di blog mereka. Kali aja aku juga bisa begitu.


Cerita pengalaman barusan deh, saat pulang dari pengajian. Ada kejadian yang menurutku pantas buat jadi catatan. Kelakuan orang terdidik yang nggak ada bedanya dengan kalangan berpendidikan rendah. Itu catatannya.


Gini. Tadi sewaktu angkot yang aku tumpangi melewati sejumlah petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub), menurut "etika yang berlaku", sopir angkot harus setor sejumlah uang kepada petugas tersebut.