24 Desember 2016

Partai Islam Dalam Kacamata Ilmu Komunikasi


Judul buku                 : Komunikasi Politik Partai Politik Islam
Penulis                        : Dr. Dedi Sahputra, MA
Penerbit                      : Orbit Yogyakarta
Tahun terbit               : 2016
Cetakan                      : Pertama
Dimensi buku            : 20,2 cm x 14,5 cm
Harga buku                : Rp. 100.000

Sewajarnya jumlah umat Islam Indonesia yang besar berkorelasi positif dengan dukungannya terhadap partai politik (Parpol) Islam. Dimana keberadaan partai politik merupakan kebutuhan bagi umat untuk menampung aspirasi menyangkut kemaslahatan hidup mereka. 

Namun kenyataan yang terjadi sebaliknya, partai politik Islam semakin lama semakin tidak populer di kalangan umat Islam.

Pada Pemilihan Umum (Pemilu) pertama tahun 1955, lima Parpol Islam dari 30 Parpol yang bertarung menguasai hampir separuh suara parlemen yakni 43,72%. Partai tersebut yakni Masyumi (memperoleh 20,92% suara), Nahdatul Ulama/NU (memperoleh 18,41% suara), Partai Syarikat Islam Indonesia/PSII (memperoleh 2,89% suara), Pergerakan Tarbiyah Indonesia/Perti (memperoleh 1,28% suara), dan Partai Politik Tarikat Islam/PPTI (memperoleh 0,22% suara), (Herbert Feith, dalam Katimin, dalam Dedi Sahputra, h. 05).

Sedangkan dalam Pemilu tahun 2009, 9 Parpol Islam diantara 38 Parpol yang menjadi peserta hanya memperoleh 23,84% total suara. Dengan rincian, Partai Keadilan Sejahtera/PKS (memperoleh 7,88% suara), Partai Amanat Nasional/PAN (memperoleh 6,01% suara), Partai Persatuan Pembangunan/PPP (memperoleh 5,32% suara), Partai Kebangkitan Bangsa/PKB (memperoleh 4,94% suara), Partai Bulan Bintang/PBB (memperoleh 1,79% suara), Partai Kebangkitan Nasional Ulama/PKNU (memperoleh 1,47% suara), Partai Bintang Reformasi /PBR (memperoleh 1,21% suara), Partai Matahari Bangsa/PMB (memperoleh 0,40% suara), Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia/PPNUI (memperoleh 0,14% suara), (www.kpu.go.id, dalam Dedi Sahputra).

Fenomena tersebut disinyalir merupakan efek dari kesenjangan antara aktivitas partai politik Islam dengan Islam itu sendiri. Selayaknya, Islam sebagai pandangan hidup paripurna yang diturunkan Allah swt kepada umat manusia melalui RasulNya terwujud dalam tubuh partai politik Islam. Hal inilah yang ingin dijawab oleh penulis buku ini melalui pendekatan ilmu komunikasi.

Aku dan Buku


Yang ku ingat, sejak masuk SD aku kenal yang namanya buku. Buku pelajaran sekolah. Senang juga baca cerita-cerita di Buku Bahasa Indonesia. Tentang apa? Aku lupa. Selanjutnya, buku sekolah jadi hal biasa. Masih terus senang baca cerita di Buku Bahasa Indonesia. Cuma sebatas itu.

Aku termasuk juara di sekolahku loh. Oh iya, di luar buku sekolah, aku pernah dibelikan buku sama pamanku. Buku doa-doa harian anak dan nama-nama benda dalam bahasa inggris. Tanpa sadar, seingatku untuk beberapa nama benda dalam bahasa inggris saat SD aku ingat. Meski di bangku SD sama sekali belum pernah belajar bahasa Inggris.

Perkembangan mengenal buku terjadi di bangku SMP. Semasa aku sekolah, ibuku bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Di rumah majikan mamaklah aku kenal Komik Doraemon, Komik Detektif 5 Sekawan dan komik-komik Jepang lainnya. Milik anak majikan mamak.

Maafkan aku yang saat bantu bersih-bersih kamar anak majikan mamakku, membawa bukunya pulang dan membacanya di rumah. Maafkan aku. Sebahagian besar bukunya ku pulangkan kok. Tapi sebagian kecil masih bersamaku.

Lagipula, buku komiknya banyak sekali. Apa dia akan merasa kehilangan kalau satu dua komiknya nggak ada? Tapi kalau dia sangat sayang pada bukunya. Mungkin saja dia akan merasa kehilangan. Tapi buktinya nggak ada ribut-ribut di rumah itu bilang kalau si anak majikan kehilangan komiknya. Makanya hobi baca komik itu berlangsung cukup lama, hingga mamakku berhenti bekerja dari sana.
23 Desember 2016

Merawat Energi Dakwah


Judul buku    : Puzzle Dakwah
Penulis         : Nurisma Fira dkk
Penerbit      : Irtikaz
Tahun terbit    : Cetakan pertama , 2014
Ketebalan      : 210 hal
ISBN           : 978-979-97937-9-9
Peresensi     : Eva Arlini

Memilih ada di jalan dakwah membutuhkan energi berlipat-lipat.  Pasalnya jalan ini penuh liku tantangan dan menuntut pengorbanan harta, waktu, tenaga bahkan jiwa.

Energi utama tentu datangnya dari iman. Maka para pengemban dakwah harus merawat keimananya dengan menjaga kedekatan pada Allah swt.

Setelahnya, kedekatan dengan jamaah, membenamkan diri pada pergolakan pemikiran dengan umat dan membaca kisah-kisah teladan para nabi, sahabat dan orang-orang yang senantiasa istiqamah di jalan dakwah akan turut menyuburkan semangat dakwah dalam diri.

Buku ini satu diantara kumpulan kisah para aktivis dakwah tentang suka duka dunia dakwah yang dijalaninya. Lebih dari lima puluh cerita di dalamnya, yang dikumpulkan dari tulisan sekitar lima puluh kontributor. Kisah dari berbagai penjuru dunia, oleh yang muda hingga yang tua dengan segala sisi kehidupan mereka. Luasnya ragam kisah tersebut yang membedakan buku ini dengan buku sejenisnya.

Fataatun Najibun bercerita tentang kelegaannya, bahwa dakwah juga butuh seni, sesuai hobinya. Seni tak bebas nilai, namun juga tidak dilarang secara mutlak dalam Islam, melainkan diatur pelaksanaannya oleh Islam. Rasulullah saw saat hijrah pun disambut dengan nyanyian “Thala’ah Badru ‘Alaina..”.
20 Desember 2016

Jangan Seperti Cinderella (Review Buku)



Judul buku    : Cinderella Syndrome
Penulis          : Leyla Hana
Penerbit         : Salsabila
Tahun terbit    : Cetakan pertama , 2012
Ketebalan      : 240 hal
ISBN              : 978-602-98544-2-8
Peresensi      : Eva Arlini

Ini kisah tiga orang perempuan yang terkena sindrom kisah Cinderella. Erika, 30 tahun, seorang wanita karir yang anti pernikahan, bertekad untuk tak menikah seumur hidupnya. Kegagalan rumah tangga orangtuanya yang berujung pada trauma mendalam ibunya dan kisah-kisah kelam rumah tangga teman-temannya yang sering dicurahkan kepadanya cukup untuk membentuk persepsi negatif terhadap lembaga bernama pernikahan. “Jangan berharap menemukan kebahagiaan dalam pernikahan”, pikirnya.

Sampai suatu saat ia menghadapi masalah dengan anak bos perusahaan tempat ia bekerja, ditambah kehadiran seorang lelaki rekan kerja yang tanpa disengaja menarik hatinya, membuatnya sempat berfikir untuk menikah demi berlepas diri dari masalah yang membelitnya.

Sementara Violet, 25 tahun, seorang penulis maniak, anak semata wayang yang manja dan pelupa berat dalam hal mengenali suatu jalan. Keperluannya terbiasa diurus semua oleh orangtuanya. Mulai masalah uang, beresin rumah hingga soal makan, semua beres diurus ibu dan ayahnya. Ia tinggal terima bersih. Kondisi Violet yang tak mandiri menyulitkan ia untuk pergi kemana saja, sementara ia harus menghadiri berbagai even yang bersangkut paut dengan dunia tulis menulis sesuai bidang yang digelutinya.

Petualangan Yang Melelahkan (Riview Buku)



Judul buku    : Sarvatraesa Sang Petualang
Penulis          : Dian Nafi
Penerbit         : Diandra Pustaka Indonesia
Tahun terbit  : Cetakan pertama , 2013
Ketebalan      : 158 hal
ISBN               : 978-602-1612-04-0

Sarvatraesa, seorang lelaki tampan dan cerdas yang sukses berkarir sebagai dokter tentara. Ia memiliki istri yang setia dan dua orang buah hati, disenangi banyak teman dan adik-adik senior dalam bidang profesinya. Rasanya hidup Sarva sudah sempurna. Tak perlu memiliki masalah yang berarti dalam hidupnya.

Sayang, ia mencapai semuanya karena rasa dendam. Ia ingin membuktikan diri dihadapan Mayana, gadis yang dimasa SMA membuatnya jatuh cinta. Mayana berhasil membuat Sarva penasaran setengah mati karena sikap ‘jual mahal’ yang ia tunjukkan. Mayana dan Sarva sempat menjadi sepasang kekasih karena suatu insiden. Namun hubungan itu berakhir menyakitkan. Sarva tak pernah bisa memenangkan hati Mayana.

Dalam memuluskan jalannya mencapai kesuksesan di kampus, Sarva mendekati anak salah satu profesornya yang bernama Davina. Kebetulan Davina memang cinta berat pada Sarva. Meski Sarva terus terang tentang hatinya yang tertambat hanya pada Mayana, namun Davina tetap bersedia menikah dengan Sarva.

Davina menjadi istri super sabar menghadapi suaminya yang menjadi petualang cinta, memacari wanita di setiap daerah tempat suaminya bertugas. Sikap mertua yang merendahkan harga diri Sarva, memperkeruh hubungan Sarva dengan Davina . Sarva menjadi manusia bermasalah sepanjang hidupnya. Membawa-bawa beban berat sakit hati , hingga tega menyakiti banyak hati.
11 Desember 2016

Pemimpin Janji-Janji

Merdeka.co
Kehidupan masyarakat bawah semakin terhimpit. Pasalnya, penguasa mereka semakin tak peduli pada mereka. Seperti yang dialami oleh warga miskin di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara yang dikecewakan bupati mereka. Sejumlah masalah dihadapi masyarakat disana.

Diantaranya, masalah pungutan liar (pungli) yang dilakukan oknum pejabat dijajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) kepada warga miskin terkait program bedah rumah.

Padahal pungli terjadi sejak tahun 2013. Banyak warga yang akhirnya tak mendapatkan jatah bedah rumah karena menolak menandatangani pernyataan tidak keberatan dilakukan pemotongan. Sejumlah media daerah mengekspos masalah tersebut namun ternyata tak dapat perhatian dari Bupati Langkat, Ngogesa Sitepu.  

Di lain kesempatan tokoh nelayan Kecamatan Besitang, Bahtiar Nasution mengeluhkan sikap buruk oknum pengusaha disana yang merusak ekosistem lingkungan pesisir.
10 Desember 2016

Konsekuensi Menerapkan Sistem Demokrasi (Review Buku)

https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/hukum/1inb8g-jual-buku-noda-hitam-hukum-indonesia

Judul Buku   : Noda Hitam Hukum Indonesia
Penulis         : Muhammad Awan
Penerbit       : NAVILA IDEA
Ketebalan     : 140 Halaman
Tahun terbit : cetakan pertama, 2010
ISBN             : 978-979-3065-35-9
Peresensi     : Eva Arlini

Berbagai praktek menyimpang yang dilakukan oleh penguasa ibarat noda hitam yang mengotori hukum Indonesia. Noda hitam itu ada karena celah yang dimiliki oleh UU, Perppu, Perpres, Kepres, Inpres, PP dan peraturan lain yang ada di bawah keenam pruduk hukum tersebut.

Beberapa kasus yang mengandung permainan hukum dibahas dalam buku ini. Dari mulai program BLT, pembentukan Wantimpres, kasus Lumpur Lapindo hingga permainan dalam pemilu. Kesemuanya terjadi pada masa pemerintahan SBY. Dalam hal ini, aktor utama yang dianggap bersalah oleh penulis adalah Presiden dan DPR sebagai regulator.

Bantuan Tunai Langsung (BLT) yang diberikan pemerintah berdasarkan Inpres Nomor 12 Tahun 2005 sebagai kompensasi kenaikan harga BBM disinyalir sebagai alat bagi penguasa untuk mencuri hati rakyat pada pemilu berikutnya.

Sementara tragedi Lumpur Lapindo yang menyengsarakan rakyat direkayasa sedemikian rupa oleh Presiden agar tidak merugikan mitranya yaitu Grup Bakrie. Dengan kekuasaan perintahnya melalui Pasal 15 Perpres Nomor 14 Tahun 2007, Presiden mengeluarkan 3 triliun dari APBN untuk ikut menanggung beban tanggungjawab Grup Bakrie.

Lebih mengerikan lagi saat pembahasan tentang rekayasa peraturan dalam Pemilu. Bagaimana peran Banwaslu dikerdilkan, Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang disengaja agar datanya tidak valid hingga bisa dipermainkan, dan lain sebagainya.

Rezeki Yang Tiada Disangka

صاحب القرآ
Sintia tak bisa hindari perasaan rindu, menyatu dengan belahan hati. Bukan tak sabar. Bukan tak yakini janji Allah. Bukan sebatas desakan keluarga. 

Bukan hanya karena dorongan usia. Tapi dia mendamba segera bertemu pemimpin yang mengimami sholatnya. Mengharap teman sejati yang hadir, saat dia sedang kepayahaan memahami ilmu Islam, lalu dengan lembut menjelaskan. 

Kapan dia merasakan diri menjadi perempuan utuh, melahirkan para Qurrata A’yun, yang melalui doa-doa mereka dia bisa menginjak syurga.

“Siapa gerangan jodoh yang disediakan Allah swt untukku? Dimana dia? Kapan bisa bersama.”

Di usianya yang ke tigapuluh tiga, Sintia dikelilingi para sahabat bersama suami dan anak-anak mereka. Pemandangan yang mengesankan, membuat Sintia mengiba pada Allah swt Sang pemilik ketetapan. Kiranya Dia berkenan bersegera mempertemukan Sintia dengan pasangan hidupnya. 

Apalah daya, Allah swt masih beri ujian pada hati Sintia. Mengajarkan untuk lebih bersabar. Menahan rasa, karena Dia lebih tahu yang terbaik bagi hambaNya.

Namun kali ini, kegundahan hati Sintia menanti penyempurna separuh agamanya dikalahkan dengan kesedihan kehilangan salah satu sahabat tercinta. Ibu kepala sekolah tahfizh qur’an tempatnya mengajar berpulang. 

Sengatan listrik tegangan tinggi telah merenggut nyawanya. Kesedihan teramat sangat di hati Sintia, mengingat jasa-jasa beliau kepadanya.

Sintia terkenang, saat dulu dia kebingungan mencari pekerjaan, Ustadzah Neneng memberi penawar rasa bingungnya. Dia diterima sebagai guru di Sekolah Tahfizh al Qur’an Ihsanul Insan milik perempuan berusia tiga puluh lima tahun itu

Betapa senangnya hati Sintia. Meski honor mengajar terbilang kurang memuaskan. Pekerjaan itu memberi harapan kebaikan. Kalimat-kalimat Ustadzah Neneng saat pertama kali Sintia mengajar masih terngiang di telinganya.

 “Dek, jadi guru tahfizh di sekolah saya gajinya nggak banyak. Sebab sekolah itu cuma sekolah kecil. Tapi insya allah berkah. Karena Sintia bersama guru lainnya sedang menanam benih kebaikan dalam diri murid murid kalian. Saat mereka kelak jadi penghafal al qur’an yang salih dan saliha, doa mereka bukan cuma buat orangtua mereka. Tetapi juga untuk guru-gurunya. Semoga gaji dari Allah karena menghantarkan anak-anak itu menjadi para penghafal al Qur’an jauh lebih besar. Semoga kalian mendapat syurga.”
4 Desember 2016

Ekonomi Islam Itu Luar Biasa

Toko Buku Ideo

Apa yang kamu kenal tentang ekonomi Islam di bangku kuliah? Saya kuliah di jurusan ekonomi akuntansi. Waktu di semester 4 kami diajarkan mata kuliah ekonomi Islam. 

Yang saya ingat, materi yang diajarkan seputar bisnis berbasis syariah yang diklaim bersih dari riba. Seperti keberadaan bank syariah, asuransi syariah dan sebagainya. Sesederhana itukah yang namanya ekonomi Islam?

Lalu saat Islam digelar Allah swt sebagai pandangan hidup sempurna yang membawa kerahmatan bagi semesta alam, mengapa ekonomi Islam tak menjadi basis berekonominya seluruh kaum muslim di Indonesia yang jumlahnya mayoritas ini?

Pertanyaan itu masih sebatas pertanyaan. Sampai beberapa waktu lalu saya bisa menjadi lebih mengerti mengenai ekonomi Islam

Ketika saya membaca buku Ekonomi Islam Mazhab Hamfara jilid I karya Pakar Ekonomi Islam sekaligus Direktur Keuangan dan Administrasi Syafa’at Marcomm Yogyakarta dan Anggota Mejelis Ulama (MUI) Yogyakarta bidang Ekonomi Islam, Dwi Condro Triono, Ph. D, saya menemukan jawabnya.

Ekonomi Islam itu luar biasa. Bukan sekedar satu bidang ilmu tertentu yang identik dengan bisnis Islami dan masalah zakat saja. Bebas dari riba sudah pasti. Lebih dari itu, bicara ekonomi dalam Islam berarti bicara sistem atau aturan Islam seputar masalah ekonomi.

Ekonomi Islam membahas mengenai pengaturan kepemilikan (al-milkiyah), pemanfaatan kepemilikan (at-tasarruf fil-milkiyah), serta distribusi harta kekayaan di tengah manusia (tauzi’u tsarwah banyan-nas).

Islam berbicara mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dijadikan sarana oleh seorang muslim untuk meraih rizki Allah swt. Bagaimana pemanfaatan tanah, bagaimana anggaran pendapatan dan belanja negara dan lain sebagainya.

Jika semua sistem ekonomi yang ada di dunia, baik sistem ekonomi kapitalis, sistem ekonomi sosialis dan yang lainnya punya pandangan yang khas tentang bagaimana alokasi sumber daya ekonomi yang adil, Islam juga punya.

1 Desember 2016

Nasib Guru Memprihatinkan


#MyTeacherMyHero, inilah hastag di twitter yang baru-baru ini berada pada urutan teratas. Artinya, sedang dibahas hangat peran guru sebagai pahlawan pendidikan. Apa jadinya sebuah negeri tanpa guru? Bisa-bisa negeri tersebut akan binasa, karena tidak ada orang-orang berpendidikan yang siap mengurusinya. Kesadaran akan pentingnya peran guru dalam mendidik generasi sepertinya tidak dirasakan oleh pemerintah kita.  Buktinya, hingga saat ini nasib guru tak kunjung terjamin kesejahteraannya.

Sudah berbulan-bulan, 730 guru honorer yang terdiri dari guru SD, SMP dan SMA di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara tidak menerima gaji lagi dari Pemerintah Kabupaten Simalungun, sejak Juni 2016 lalu. Melalui wadah Forum Guru Honorer yang dibentuk, mereka mengadukan kezhaliman yang mereka alami kepada DPRD, Dinas Pendidikan, bahkan sudah sampai kepada pihak DPR RI, namun sampai saat ini tak satupun yang sanggup membantu menyelesaikan masaah tersebut. 

Kalaupun ada yang menerima honor, ialah sebagian guru SD dan SMP. Mereka menerima gaji dua ratus ribu rupiah hingga tiga ratus ribu rupiah setiap bulan yang diambil dari dana sekolah. Padahal selain mengajar mereka juga bertugas sebagai operator sekolah. Sebagai operator sekolah, para guru SD itu seringkali bekerja lembur, pulang hingga pukul 5 sore, karena harus mengurusi Data Pokok Pendidikan siswa sekolah.
30 November 2016

Ide Kreatif Guru Menghadapi Murid

Unik juga ya ide guru dalam tulisan ini, dalam mengatasi suasana kelas yang riuh oleh ulah murid-muridnya. Saya sendiri baru kali ini mendengar ide seperti itu. Kalau saya jadi guru tersebut, masih mikir-mikir pakai ide itu hehe..
https://issuu.com/waspada/docs/waspada__rabu_30_november_2016

28 November 2016

Kaya Pemikiran, Kepekaan dan Kepedulian


Judul Buku   : Mendatangi Kesulitan
Penerbit       : AzzaMedia
Ketebalan     : 133 Halaman
Tahun terbit : cetakan pertama, 2015
ISBN             : 9-786027-247413
Peresensi     : Eva Arlini

Kaya akan pemikiran, menggambarkan kepekaan dan kepedulian pada berbagai permasalahan bangsa, merupakan kesimpulan dalam benak saya sehabis membaca buku ini. Berisi kumpulan tulisan penulis yang diterbitkan di Harian Waspada Medan tiap hari Senin dan Kamis.

Kolom Foliopini namanya, sesuai dengan jumlah kata dalam tulisan tersebut, satu folio, tidak boleh lebih. Ada sekitar 30 judul tulisan, yang masing-masing mengandung hikmah dan harapan akan kebaikan negeri ini.

Judul pertama “Mendatangi Kesulitan”, sekaligus menjadi judul buku ini, yang awalnya saya kira menjadi tema bagi semua tulisan yang ada di dalamnya. Judul ini berisi pesan bagi kita untuk berani mengalami hambatan dan kesulitan dalam bidang yang kita geluti, guna menempah diri menjadi lebih berkualitas.

Banyak mengeluh hanya akan membentuk kita menjadi orang yang terlihat hanya punya kekurangan, tergerus sebagai manusia yang sebenarnya punya kelebihan. Tulisan dalam judul ini dilatarbelakangi fakta yang penulis jumpai tentang seorang mahasiswa yang menyatakan kesulitannya menembus narasumber karena hanya berasal dari pers mahasiswa di kampusnya.
23 November 2016

Secantik Barby

Forbe
“Wajah kakak bersihkan kenapa?”
(Aku menatap wajahnya dengan tatapan heran).
“Ia tahi lalat kakak hilangkan aja?
“Loh kenapa? Inikan Allah yang kasih. Mana boleh dihilangkan.”
“Biar cantik kayak barby”.
***
Jelang mengisi pesantren kilat untuk suatu majelis ta’lim remaja pada Ramadhan lalu, saya disapa seorang gadis kecil. Namanya Fira. Begitulah dialog kami. Fira si gadis kecil imut dan lucu, berumur sekitar 4 tahun itu memberi ‘nasihat’ untuk merubah keadaan wajah saya, agar bisa secantik tokoh kegemarannya, barby.  

Tanpa disadari oleh Fira, sudah terbentuk persepsi dalam benaknya, tentang sosok ideal seorang wanita. Standarnya adalah wajah mulus dan putih, serta hidungnya yang mancung. Ia sudah mengenal kata cantik dari tokoh boneka barby.

Apa sampai disitu saja? Tak sesederhana itu. Boneka barby produksi barat itu bukan cuma berwajah cantik, tapi tubuhnya juga langsing dan berpakaian serba terbuka. Bisa jadi dalam memandang penampilan terbaik seorang wanita pun, Fira akan mengukurnya dari penampilan boneka barby yang fashionable bergaya kebarat-baratan. Kalau anak muda di barat sana, sampai ada yang rela mengeluarkan uang jutaan dolar hanya agar dirinya bisa menyerupai boneka barby. 
20 November 2016

Kehilangan

VOA Islam
Kehilangan adalah satu satu momen yang tidak kita sukai. Sekedar kehilangan benda-benda kesayangan, apalagi kehilangan orang yang disayangi. Kehilangan itu menyedihkan. Kehilangan itu menyakitkan. Kehilangan itu menyisakan ruang hampa di hati. Meski begitu, tiap orang berbeda-beda dalam merespon sebuah kehilangan. Tergantung bagaimana ia memandang kehidupan.

Baru saja dua orang temanku mengalami peristiwa kehilangan. Teman pertama kehilangan anak pertamanya yang baru saja dilahirkan. Belum sempat ia memberikan air susunya buat bayinya. Bahkan belum lagi ia mendengar tangis si bayi, Alla swt telah mengambilnya kembali.

Tidak sampai dua jam pasca dilahirkan, bayi itu meninggal dunia. Inna lillahi wa inna laihi raji’un. Kabar dari bidan yang menangani proses melahirkan temanku itu, respon ibu si bayi melegakan. Ia tidak bereaksi yang menyebabkan kondisinya mengalami bahaya Tentu ia bersedih, tapi tidak menangis meronta-ronta.

Antara Komunikasi Verbal dan Non Verbal


Belum lama baca buku “Mendatangi Kesulitan” karya jurnalis senior, Pak Dedi Sahputra, masih segar dalam ingatan saya ada bahasan mengenai komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi verbal (bahasa lisan) terkadang di atas komunikasi non verbal (bahasa tubuh). Artinya, barangkali seseorang bisa saja mengeluarkan kata-kata tanda setuju, padahal mimik wajahnya, sorot matanya lebih jujur untuk berkata bahwa ia kurang setuju.

Kemaren tanpa sengaja saya bertemu kenalan di mesjid. Mereka bertiga mahasiswa sebuah kampus negeri di Medan, salah satu dari mereka nyambi jualan jilbab (gamis). Sebelum shalat, saya lihat mereka sedang melipat beberapa potong jilbab yang dijual. Saya melihat ada yang menarik hati saya, jilbab bermotif batik, model payung dan berwarna hijau mint. Selesai shalat saya ajak mereka keluar mesjid untuk lihat-lihat jualan mereka.

Tak lama saya putuskan untuk beli jilbab yang menarik hati saya itu. Tapi, saya hanya bawa uang setengahnya. Lalu saya memastikan apa boleh bayar setengahnya dan sisanya dibayar belakangan.  
15 November 2016

Ajang Pencarian Bakat Bikin Prihatin

Erhan Ardianda | Personal Blog
Ajang pencarian bakat semisal Dangdut Academy yang baru-baru ini kembali diselenggarakan ole salah satu stasiun TV Swasta tak pernah sepi peminat. Ramai-ramai peserta yang kebanyakan pemuda ngantri untuk mengadu nasib di ajang ini. Audisi dilaksanakan di area basis pemuda bahkan pemuda yang berpredikat intelektual, yaitu di kampus.

Di Medan, acara itu diadakan di Gedung Serba Guna Universitas Medan Area (Unimed). Sudah pasti para mahasiswa ikut ambil bagian dalam ajang ini. Seperti yang juga pernah kusaksikan sendiri, ajang Indonesian Idol pernah diselenggarakan di tempat yang sama.

Ada dua alasan kiranya yang mendasari minat pemuda ikut lomba pencarian bakat. Pertama, menyalurkan apa yang mereka sebut sebagai bakat itu. Kedua, ingin mengubah nasib. Keduanya berujung pada keinginan meraih uang.

Dalam kacamata sekuler liberalis saat ini, ikut-ikutan ajang berbau hiburan seperti itu tak ada yang salah. Fine fine aja. Bahkan dianggap positif. Kan menyalurkan bakat. Mending berkarya dibidang musik, ketimbang terjerumus pakai narkoba atau semacamnya.

Secara, cari kerja itu susah, lumayan kan dapat kerjaan yang pendapatannya pasti lumayan kalau terkenal. Tingginya angka pengangguran dan kesenangan masyarakat pada dunia hiburan benar-benar dimanfaatkan oleh pebisnis enternainment. Hingga dengan mudah para kapitalis itu meraup keuntungan besar dari penyelenggaraan event pencarian bakat ini.
13 November 2016

(Review) Muslimah Negarawan Yang Diinginkan Islam


Istilah muslim negawaran sudah pernah saya dengar sebelumnya. Meski tak begitu mencari tahu arti sebenarnya yang dimaksud dengan muslim negarawan, tapi teman-teman aktivis kampus yang menggaungkannya membuat saya bisa berkesimpulan, kalau muslim negarawan yang dimaksudkan terkait sosok yang terlibat dalam pemerintahan dan punya karakter Islami sebagai pemangku jabatan dalam lingkup kenegaraan.

Kalau istilah muslimah negarawan, terus terang saya baru mendengar  sejak terbitnya buku yang cukup fenomenal di kalangan aktivis dakwah ini. Mengapa saya katakan fenomenal, sebab meski diterbitkan oleh penerbit minor, tapi terbitan pertamanya sudah habis terjual tak lama setelah diterbitkan. Buku yang saya miliki adalah cetakan kedua, sudah ada cap “Best Seller” nya.

Kiranya istilah muslimah negarawan akan memberi kesempatan pada pikiran kita untuk mengira bahwa isinya membahas peran muslimah dalam kedudukannya secara praktis di ranah pemerintahan atau muslimah sebagai penguasa.

Ternyata bukan, yang dimaksud dengan muslimah negarawan dalam hal ini bermakna berpegang teguh pada identitas sebagai muslimah dan disaat yang sama juga “memberi nyawa” terhadap setiap peran yang merupakan kewajiban utamanya untuk satu tujuan kebangkitan umat, baik itu kewajiban sebagai ummu wa rabbatul bait, kewajibannya dalam menuntut ilmu dan kewajibannya dalam melakukan dakwah serta perbaikan ditengah masyarakat.


Mbak Fika menulis buku ini karena ingin mengajak para muslimah untuk menghidupkan visi politik dan menghiasi setiap peran muslimah dengan cita-cita besar, berdasarkan refleksi dan pengalamannya baik sebagai penuntut ilmu, pegiat media dan ibu generasi dalam bingkai tanggungjawab terhadap umat dan dakwah. 

Tiga inti dari pembahasan dalam buku ini yaitu mengarahkan para muslimah agar menjadi negarawan dalam visi keilmuan, visi pergerakan opini dan visi pembentukan generasi. Tiga kerangka besar tersebut yang akhirnya membentuk muslimah hingga pantas disebut muslimah negarawan.

Menjadi muslimah negarawan adalah peran besar yang layak dipilih oleh para muslimah. Sebab mereka istimewa dengan perannya. Peradaban Islam bisa tegak dan jaya di zamannya, melahirkan para pemimpin dan penakluk, tak terlepas dari peran muslimah. Peran besar ini akan menghantarkannya ke syurga dan di dunia layak diberikan predikat sebagai kehormatan tak ternilai harganya.


Cukup menyenangkan membacanya, karena buku ini dilengkapi dengan berbagai kisah inspiratif dari muslimah negarawan tempo dulu, seperti kisah Aisyah sang sumber rujukan ilmu sepeninggal Rasulullah saw bagi kaum muslim saat itu, Khaizuran yaitu ibu dari Khalifah pencinta ilmu; Harun Ar Rasyid, Asma binti Abu Bakar yaitu motivator anaknya Abdullah bin Zubair dan kisah-kisah menggugah lainnya. 

Beberapa kesalahan pengetikan di dalamnya tak mengurangi manfaat buku ini, insya allah, buku ini dapat membantu para muslimah mengerti peran pentingnya dan mendorong dirinya untuk membina diri menjadi muslimah negarawan yang diinginkan Islam.