Minggu, 18 Oktober 2015

Hijabku, Fitrahku


Kalau mbak Ruli si empunya hajatan give away ini berproses panjang hingga 11 tahun sampai nemuin hijab terbaik bagi beliau, saya punya cerita sendiri. Sejak di bangku SMP saya udah berkerudung. Itupun karena belajar di Sekolah Islami. Kalau jebol sekolah negeri yang umum, mungkin lain lagi ceritanya. Hingga tamat SMU saya berkerudung cuma nurutin aturan sekolah, hanya kalau saya suka dan sekedar ikut-ikutan teman saja.
Nggak terpikir buat nutup aurat yang benar sesuai ajaran Islam saat itu. Kerudungnya transparan kayak yang masih banyak dipakai anak sekarang. Pakaiannya serba ketat bahkan kadang lengan bajunya sebatas siku atau bahkan pernah pakai baju lengan pendek berpadu kerudung. Aneh ya pakaiannya. Baju lengan pendek, pakai kerudung. Tapi begitulah dulu. Saya enjoy aja. Nggak terbebani, nggak ngerasa salah dan nggak pengen memperbaiki. Karena melihat orang-orang sekitar saya juga berprilaku sama dengan saya.

Sampai pada tahun 2009, saya duduk di bangku kuliah semester empat. Ada teman dari sebuah gerakan dakwah ngajak saya pakai gamis yang beliau sebut jilbab. Beliau perlahan mengajak saya berdiskusi. Menunjukkan dalil-dalil yang beliau jadikan sebagai hujjah pernyataan itu. Beliau tunjukin al Qur’an surat al ahzab ayat 59 untuk dalil jilbab dan an nur ayat 31 untuk dalil khimar.
 Beliau katakan, kalau memang khimar dan jilbab sama, mengapa ada dua dalil berbeda dan menunjukkan arti yang berbeda. Kalau khimar artinya penutup kepala. Kalau jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh. Beliau sebutkan tafsir seorang mufasir, bahwa yang dimaksud jilbab adalah pakaian bak terowongan, yang lurus tanpa berpotongan, tidak transparan dan tidak membentuk badan.
Hati dan pikiran saya bergejolak. Apa benar seperti itu? Meski belum maksimal mencari tahu lebih lanjut tentang tafsir ayat yang dimaksud, saya cenderung meyakini ucapan beliau. Saya juga melihat saat jamaah pengajian tersebut lagi berkumpul dan pakai jilbab (gamis) berpadu kerudung, mereka terlihat indah. Hati saya tersentuh. Sekitar sebulan berpikir, saya putuskan ikut mengkaji Islam bareng mereka dan pakai hijab yang terdiri dari jilbab plus kerudung.
Sejak pertengahan tahun 2009 saya memakai jilbab dan kerudung ke luar rumah, sembari sedikit demi sedikit mempelajari ilmu Islam. Lama kelamaan saya makin meyakini model hijab yang sesuai buat muslimah, yaitu jilbab dan kerudung. 
Saya sudah melihat tafsir ibnu katsir dan beberapa tafsir lainnya, bahwa makna jilbab yang dimaksud dalam al qur’an surat al ahzab ayat 59 memang pakaian yang menutupi seluruh badan. Alhamdulillah sampai kini masih istiqomah. Ditambah beberapa tahun belakangan, trend gamis dengan berbagai ragam modelnya semakin dikenal. Semakin banyak yang memakainya.
Meski ada yang tidak syar’i, fenomena jilbab patut dipandang sebagai kebangkitan muslimah menuju fitrahnya. Fitrah yang dimaksud disini adalah rasa alamiah pada diri kita yang ingin dilindungi. Bukankah hijab artinya pelindung, yang melindungi kita dari pandangan buruk dan potensi berbuat jahat. 
Memang tidak semua yang berhijab akan mengalami hal yang demikian. Tapi ketika berhijab karena ilmu, insya allah hijab itu akan menjaga dari prilaku yang tidak disenangi Allah Swt. Semoga semua yang berjilbab tetap istiqomah hingga akhir hayat, amin.
Well, hijab yang nyaman di hati saya, ya itu, jilbab (gamis) dan kerudung. Kalau model kerudung, awalnya sih saya mengikuti standar minimal panjang kerudung, yaitu sampai batas menutupi dada. Tapi lama kelamaan ngerasa lebih nyaman pakai yang lebih panjang. Saya suka kerudung berwarna krim, berbahan katun, dengan model segi empat dilipat dua dan dipakai dengan gaya sederhana. 
Kerudung besar yang lagi  in saat ini cantik-cantik sih. Tapi mengingat harganya yang bagi saya cukup mahal, back to nature aja deh. Intinya, saya suka yang simpel-simpel aja. Kalau jilbab (gamis), saya suka yang berwarna hitam dan berbahan apa aja asal nggak panas dipakai. Semakin lebar jilbabnya, saya semakin suka. Soalnya enak kalau dibonceng naik motor sama suami bisa duduk ngangkang. Bergerak juga bisa lebih leluasa kalau pakai jilbab longgar.
Harapan saya, semakin banyak muslimah yang kembali pada fitrahnya, berlindung dibalik hijab. Kewajiban berhijab adalah bentuk kasih sayang Allah Swt, untuk menjaga kehormatan para muslimah. Beruntung deh kita jadi muslimah. Karena Islam amat perhatian pada diri kita. Bila kita berusaha jadi sholehah, kita disebut perhiasan yang sebaik-baiknya di dunia. So, berbahagialah para muslimah.




11 komentar:

  1. Setiap muslimah punya cerita sendiri tentang pengalaman berhijabnya. Semoga kita Sama-sama istiqomah.

    BalasHapus
  2. Setiap muslimah punya cerita sendiri tentang pengalaman berhijabnya. Semoga kita Sama-sama istiqomah.

    BalasHapus
  3. Selalu ada hikmah di balik perintah dan larangan Allah, ya,Mbak?

    BalasHapus
  4. 2009 kuliah semester 4? kayaknya kita seumuran hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi saya tamat sekolah tahun 2004 Aireni..tiga tahun kemudian baru kuliah hehehe..

      Hapus
  5. Balasan
    1. Terima kasih mbak...ntar saya juga main ke web mbak..insya allah :)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...