Jumat, 04 September 2015

Sentuhan Dakwah Di Penjuru Dunia

Judul Buku    : Nyala Nyali Dakwah di Penjuru Negeri
Penulis          : Nur Maulidiyah, Damayanti Muhajar, Gilig Pradhana, Meinilwita Yulia,   
             Emma Kaze, Ice Trianiza, Rindyanati Septiana, Alga Biru,
             Aqila Fikriya, Anjar Rositawati, Dian Auliya, Caca Anastasia dan
             Kavana Elkava
Penerbit         : Al Azhar Fresh Zone
Tahun Terbit : 2013
Tebal              : 223
ISBN               : 602186627-4



Sebuah persembahan untuk orang-orang yang meniti jalan dakwah. Sebuah persembahan untuk orang-orang yang akan meniti jalan dakwah. Bermula dari ingin berbagi bahwa dakwah bukanlah profesi dan aktifitas tertentu. Bahwa dakwah dari seluruh dunia masih menyala. Bahwa kita, para pengemban dakwah tidak sendirian. Denyut dan nyala dakwah itu ada di titik-titik peta dunia. Dan Insya Allah tidak akan bisa dipadamkan walau banyak yang berusaha mematikannya.

Buku antologi ini adalah hasil dari sayembara menulis yang digagas oleh Nur Maulidiyah. Judulnya adalah NBR (Nulis Bareng Rombongan). Hasilnya, terhimpun tujuh belas kisah seru dan heroik tentang jejak-jejak para pengemban dakwah di seluruh penjuru negeri. Ada kisah dari Jepang, Amerika, Taiwan, Mesir dan dalam negeri sendiri.
Ketiga belas orang yang bercerita dalam buku ini asli Warga Negara Indonesia (WNI). Hanya saja sebagian mereka tinggal di berbagai negeri sebagaimana yang mereka ceritakan di buku ini. Uniknya, mereka dibina dalam satu partai politik internasional bernama Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir sendiri sudah tersebar luas di lebih dari lima puluh negara termasuk Indonesia, mencakup benua Eropa, Amerika, Asia dan Afrika dengan satu visi misi mengemban dakwah Islam untuk mengembalikan kehidupan Islam. Jadi, dimanapun berada, kisah aktivis Hizbut Tahrir tak pernah jauh dari dakwah.
Cerita ini dikelompokkan dalam enam bagian. Bagian pertama berjudul: “Saingan Dakwahku”. Tiga kisah dalam judul ini menceritakan kalangan di luar Islam yang tak kalah semangat “mendakwahkan” ajaran mereka. Damayanti Muhajar bercerita, ia tinggal di negeri Paman Sam, Amerika, tepatnya di kota kecil di negara bagian Utah. Ia sedang menemani suami yang sedang studi. Disana, ia berkenalan dengan penganut ajaran Mormon, yang mengaku sebagai bagaian dari agama Kristen. Pengikut ajaran Mormon menjadi penduduk mayoritas di kota tersebut. Disinilah Damayanti menyaksikan aksi mereka dan mengambil pelajaran darinya.

Yang membuatku belajar dari orang Mormon adalah, misionaris yang seolah berdakwah tanpa lelah. Mereka mengetuk pintu dari satu rumah ke rumah lain. Suatu hari mereka mengetuk pintu rumahku dan menemui suamiku. Berdiskusi cukup lama memperkenalkan ajaran Mormon, hingga diskusi terhenti saat suamiku mengatakan bahwa saya seorang muslim. (Hal. 20)

Dari sini aku belajar banyak dari Mormon, bahwa yakin akan kebenaran yang dibawanyalah yang membuat mereka tak mudah menyerah. (Hal. 21)

 Cerita lainnya datang dari Gilig Pradhana dan Nur Maulidiyah. Gilig tinggal di Kobe, Jepang dan Nur tinggal di Taiwan. Di tempat tinggal mereka masing-masing, kegiatan misionaris sangat gencar. Bahkan para misionaris tersebut ada yang merupakan penduduk asli daerah tersebut. Gilig pernah didatangi oleh seorang remaja perempuan bersama seorang nenek yang asli orang Jepang. Mereka fasih berbahasa Inggris dan mencoba mempengaruhi Gilig dengan agama mereka. Mereka terlihat amat teratur dan terlatih dalam berceramah. Besoknya Gilig didatangi oleh seorang perempuan yang fasih berbahasa Indonesia dan mengajak Gilig kepada agama Kristen.
Sementara Nur menyaksikan para misionaris beroperasi di taman-taman universitas, terminal bus, stasiun dan tempat-tempat umum lainnya. Mereka menguasai bahasa inggris dan bahasa mandarin dengan baik.
Gilig sempat beberapa kali berdiskusi dengan kedua misionaris yang mencumpainya. Setelah tak ada hasil, mereka menyudahi pertemuan itu. Ada hikmah yang Gilig dapat dari mereka.

Harus diakui, cara “dakwah” mereka menginspirasiku. Kubeli satu pak amplop di hyakuen shoppu, dan beberapa jenis alat tulis seperti pensil atau penghapus, lalu kumasukkan ke dalam setiap amplop tersebut. Setelah itu di selembar kertas ku ketik dalam bahasa Arab, Inggris dan Jepang, penggalan kitab suci al Qur’an, sebuah surat yang membuat Umar bin Khatab masuk Islam, Surat Thoha ayat 1-20. Selain itu juga kulampirkan bersamanya beberapa pamflet mengenai sekilas agama Islam dan profil masjid Kobe yang kudapat setiap sholat jum’at disana. Lembaran-lembaran itu ajakan masuk Islamnya, pensil dan penghapus hanyalah hadiahnya, jadilah satu paket surat dakwah. Setiap surat kumasukkan dalam kotak surat di masing-masing kamar di apartemenku, satu lantai ada 20 kamar, dan ada 9 lantai di sana. (hal. 39)

Bab kedua berjudul, “Indahnya Dakwah pada Sang Darah Muda”. Mengisahkan pengalaman Nur Maulidiyah, Meinilwita Yulia dan Kavana Elkava saat berdakwah dikalangan remaja. Sedangkan bab tiga, berjudul, “Dakwah Pada Para Bunda, Sang Tiang Negara”. Tergambar dari judulnya, bahwa kisah dalam judul ini bercerita seputar dakwah kepada kaum ibu. Ceritanya datang dari Emma Kaze, Ice Trianiza dan Rindyanti Septiana.
Bab empat berjudul, “Saat Futur Dalam Dakwah”. Diceritakan oleh Alga Biru, Aqila Fikriya dan Anjar Rositawati. Alga Biru berkisah tentang seorang sahabat yang dikenal dimasa awal ia dibina di Hizbut Tahrir. Beberapa waktu kemudian teman Alga menghilang dari arena dakwah. Dua tahun berlalu, Alga bertemu kembali dengan Aisyah temannya. Pertemuan itu membawa angin segar untuk perjuangan Islam. Ada sms dari Aisyah untuk Alga.

“Assalamu’alaikum. Dek, pengen deh ketemu lagi sama Dian. Kapan adek punya waktu? Hemm, kakak rindu mengkaji Islam. Dian mau jadi mentor kakak?Jzk.”(Hal. 139).

Bab V berjudul “Bersama Tokoh, Dakwah Kian Kokoh”. Dian Auliya saat itu masih mahasiswa. Ia bercerita pengalaman mengisi kajian seorang profesor. Sementara Nur Maulidiyah bercerita tentang semangat beberapa orang ibu tokoh masyarakat dalam menambah ilmu Islam dan mengenal Hizbut Tahrir Indonesia. Bab terakhir berjudul “Dakwah Di Tengah Keterbatasan”. Tiga buah cerita dari Nur Maulidiyah, Caca Anastasia dan Dian Auliya tentang ketegaran para pengemban dakwah ditengah keterbatasan kondisi ekonomi maupun terbatasnya gerak dakwah disuatu lingkungan karena sebab-seba tertentu.

Kesan dan Pesan  
Sampul berwarna orange bergambar simbol berbagai negara cukup mewakili judul buku Nyala Nyali Dakwah di Penjuru Negeri ini. Hanya saja, beberapa gambar simbol negara yang tertera tidak punya cerita di buku ini. Pemilihan font baik pada judul buku, judul cerita dan isi serta design gambar didalamnya berjiwa muda. Tampak bahwa buku ini diperuntukkan bagi pembaca usia muda. Kesalahan terjadi pada halaman akhir tentang profil penulis. Ada satu profil penulis yang terabaikan, yaitu profil Alga Biru.
Bagi teman-teman yang mau mengenal lebih dekat kehidupan para aktivis pejuang Syariah dan Khilafah, buku terbitan Al Azhar Fresh Zone ini bisa menjadi referensi.   

Islamic Reading Challenge 2015

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...