Sabtu, 01 Agustus 2015

Masaku (OSPEK) Dulu

Foto kenangan waktu Ospek dan Foto Inagurasi bareng teman satu kelompok 

Teman – teman blogger udah banyak yang ngebahas masalah MOS ataupun OSPEK. Ada dari sisi panitia MOS sendiri seperti mbak mimi, www.mimitorium.com/2015/07/bukan-maksud-saya-membela-kegiatan-mos.html#more. Ada yang cerita soal pengalaman Ospek yang cukup unik. Soalnya ada cerita tentang 13 peraturan yang dibuat kakak panitia dengan nama Petaka 13. Isinya mengocok perut, lucu abis. Tapi mengandung hikmah. Intinya niat baik panitia buat peraturan tersebut supaya adik – adik kelas bisa lebih Islami dengan tetap akrab sama kakak kelasnya. Itulah yang saya tangkap dari mbak fitri. Bisa disimak di sini https://fitrimelinda.wordpress.com/2015/07/30/ospek-oh-ospek/. Kalo mbak handriati membahas tentang perlu nggaknya diadakan OSPEK. Si mbak mengupas tentang pengertian, tujuan OSPEK, kritik terhadap praktek OSPEK saat ini yang banyak melenceng dari tujuan sebenarnya, manfaat OSPEK, serta memberi masukan seperti apa OSPEK yang baik, www.handdriati.com/2015/07/masih-perlukah-ospek.html.  Mungkin masih banyak tulisan lainnya yang nggak terbaca oleh saya. Inti tulisan ketiga teman blogger ini, semua setuju adanya OSPEK asal bermutu.

Kalau saya sendiri, pengalaman MOS di bangku SMA seingatnya biasa aja. Nggak ada disuruh pakek atribut macam-macam. Selam tiga hari masa MOS, dari pagi hingga siang, kami hanya disuruh masuk kelas, lalu kakak-kakak panitia dari OSIS akan berbagi tugas untuk mengisi kelas kami dengan berbagai acara yang sudah diprogram. Satu kelas berisi dua orang panitia. Satunya jadi MC dan satunya pemandu games. Ada dua sesi ceramah seputar sekolah yang diberikan oleh guru, diselingi dengan games. Games yang saya ingat adalah permainan gerak badan diiringi lagu topi saya bulat. Kalo dengar kata topi kami harus pegang kepala, kalau dengar kata saya kami harus tunjuk diri dan kalau dengar kata bulat kami harus membentuk lingkaran dengan kedua jari telunjuk tangan kami. Yang salah dihukum bernyanyi.
Dihari terakhir kami disuruh ngumpulin tanda tangan kakak senior yang udah ditentukan terlebih dahulu namanya oleh panitia. Disini kami dikerjai, karena kakak-kakak yang tahu bahwa dirinya dicari, menyembunyikan nama yang tertera di atas kantong bajunya. Pas ditanya mereka nggak mau sebut namanya. Gitu aja sih. Kalau salah satu tujuan dari masa orientasi adalah mengenal lingkungan tempat belajar, MOS di sekolah saya nggak mencapai tujuan tersebut. Saya nggak ingat isi ceramah guru saat MOS. Bisa jadi memang berkaitan dengan persiapan belajar di sekolah. Lumayanlah nggak pakek kekerasan dan atribut yang menyusahkan.
Nah, pas kuliah agak beda. Di sini baru saya ngerasain menggunakan atribut aneh sesuai aturan panitia OSPEK. Kami di suruh pakek kopiah dihiasi pita melingkar warna merah putih, tau kan tuh sejenis tutup kepala yang dipakai laki-laki buat sholat. Trus disuruh pakek dasi, tas goni plastik dengan tali plastik, minuman botol dengan tali plastik, kaos kaki warna putih dan sepatu putih. Makanannya disuruh bawak nasi dengan lauk ikan lele berkumis dua helai. Kalo kumis ikan lelenya lepas satu, maka di hukum. Kalau atributnya kurang lengkap juga dihukum. Hukumannya disuruh nyanyi atau minta tanda tangan kakak panitia yang nama dan ciri-cirinya disebutkan.
Waktu itu saya nggak ngerasain apa-apa sih disuruh makek atribut aneh itu. Tapi pas melihat adik-adik junior makek gituan, kok rasanya kasihan, nggak berwibawa gitu. Nampak culun. Padahal calon mahasiswa loh, manusia dewasa yang berproses mematangkan diri membentuk intelektualitasnya. Adik-adik junior saya lebih berat bebannya ketimbang OSPEK saya dulu, mereka disuruh bawa makanan tertentu yang harganya cukup mahal, seperti coklat dan lainnya. Cukup memberatkan bagi calon mahasiswa kampus saya yang banyak dari golongan kurang mampu. Saya nggak ngerti pelajaran apa yang mau diambil dari atribut tersebut. Kalo rangkaian acara indoornya, lumayan ada yang berkesan. Yang saya ingat adalah ucapan selamat datang dari wakil presiden kampus dan motivasi belajar dari beliau. Acara lainnya berjalan cukup membosankan. Soalnya ruangan yang besar diisi orang dengan jumlah banyak membuat suasana nggak kondusif, panas dan sesak. Kalau acara outdoor ada juga. Tapi sebatas mengenal lokasi kelas dan berkenalan dengan dosen dan kakak senior di jurusan.
Pakar pendidikan, Ayah Edi, pernah mengulas mengenai gaya OSPEK di sebuah negara Eropa. Disana, selain mengenalkan hal-hal berkaitan dengan dunia kampus tentunya, calon mahasiswa didorong untuk mempresentasikan gambaran visi misi hidup mereka  di depan teman-temannya. Mereka menceritakan perencanaan mereka selama menjalani kuliah nantinya, agar fokus belajar dan berhasil mencapai cita-cita. Nggak pakek disuruh menggunakan atribut aneh-aneh. Tapi memang sih, calon mahasiswa itu bisa disuruh membicarakan gambaran belajar mereka ke depan karena sejak sekolah dasar memang sudah diarahkan kesana.
Kalau di negeri kita, banyak calon mahasiswa belum mengenal tujuannya berada di bangku kuliah apalagi membuat perencanaan kuliah. Bahkan milih jurusan aja banyak yang gak tahu alasannya mengapa mereka pilih jurusan tersebut. Sebagian memilih jurusan dibantu orangtua, belum punya visi misi ke depan yang ia tentukan sendiri. Termasuk saya, kuliah dengan semangat sebatas ingin kerja saja. Padahal kan tujuan kuliah bukan hanya sekedar cari kerja. Tapi lebih dari itu, harusnya punya cita-cita misalnya membuka lapangan pekerjaan dan melakukan banyak hal untuk diri, keluarga, masyarakat dan negara.
Sejak sekolah dasar memang kebanyakan kita menjalani saja sebagai tahapan fase yang memang harus dijalani. Jarang yang dipandu oleh keluarga dan sekolah untuk mempunya visi luas, yang bukan hanya sekedar berujung pada kerja. Jadi, OSPEK yang diadakan di negeri kita selain ada yang nggak mutu karena pakai kekerasan dan membebani dengan atribut aneh, juga aktivitasnya masih standar itu-itu aja, mengenalkan lingkungan pendidikan dan civitas kampus. Kurang merangsang kreatifitas calon mahasiswa untuk berpikir dan bertindak lebih bagi diri dan orang lain.
Di masa kuliah, saya tergabung dalam forum kajian Islam mahasiswa. Nah, kami juga melakukan kegiatan penyambutan bagi adik-adik mahasiswa baru. Kalau OSPEK mengenalkan mereka pada hal-hal seputar kampus. Kalo kami membantu adik-adik mengenal hakikat diri mereka, menggali potensi yang Allah berikan pada diri manusia dengan harapan adik-adik meraih prestasi dunia akhirat. Pada tulisan berikutnya saya akan mengulas tentang acara itu.
Bersambung...

4 komentar:

  1. Aku juga sama, waktu ospek SMA ga aneh-aneh. Eh, malah pas masuk universitas malah pake atribut aneh-aneh itu.
    Ga ngerti juga sih kenapa ada budaya ospek begitu. Mungkin karena orang Indonesia terlalu berbudaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada ulasan tentang sejarah OSPEK nih mbak..ternyata udah ada sejak zaman belanda. http://www.kaskus.co.id/thread/52be8822f9ca173d368b4632/sejarah-mos-ospek-di-indonesia

      Hapus
  2. Aku MOS SMP dan SMA maupun ospek perguruan tinggi juga gak pernah dapet yang aneh-aneh banget kayak yang selalu diblow-up media. Yang paling capek tuh malah pas sesi perang yel-yel. Energi habis buat teriak-teriak :D

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...