Senin, 17 Agustus 2015

Kumpulan Cerpen Islami, Menambah Kecintaan Pada Islam

Judul Buku        : Kumpulan Cerpen Islam: Trio Mujahid
Penulis            : Dian Auliya
Penerbit           : Leutikaprio
Tahun Terbit      : 2012
Jumlah halaman   : 202
Cetakan           : Pertama
ISBN              : 978-602-225-318-1

      Buku fiksi ini berisi enam belas cerita pendek (cerpen) bernuansa Islam dengan tema yang berbeda-beda. Rata-rata bertema kehidupan remaja. Ada tema cinta seperti judul “Andai Ini Cinta”, menceritakan kehidupan tokoh bernama Hesty. Hesty memiliki teman bernama Nita yang hoby gonta ganti pacar. Prilaku pacaran Nita dan teman-teman SMA lainnya membuat Hesty enggan pacaran. Di kelas dua Hesty berkenalan dengan mbak Uyun yang membimbing Hesty mengenal Islam lebih dalam. Mbak Uyun memahamkan Hesty mengenai hukum pacaran yang haram dalam Islam. Saat Hesty jatuh cinta, dia ingat nasihat mbak Uyun mengenai cara mengatasi rasa itu.

“Alihkan perhatianmu pada hal-hal yang bermanfaat. Perbanyak aktivitas hingga membuatmu melupakannya,” begitu katanya waktu itu.
“Naluri cinta itu tak seperti orang lapar, Dek. Lapar itu muncul dari dalam diri manusia, dan harus segera dipenuhi. Tapi rasa cinta, dia hadir akibat pengaruh fakta dan pemikiran dari luar. Karenanya harus pinter-pinter mengalihkannya dan tidak fokus padanya jika memang belum siap untuk melaksanakan pernikahan.” (hal. 15-16)

      Kesabaran Hesty mengikuti lika-liku hidupnya dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama, akhirnya dihadiahi Allah Swt sesuatu yang membuatnya benar-benar merasa bahagia

      Ada tema tentang keteladanan seorang guru seperti judul cerpen “Jam Pertama”, bercerita tentang empat sekawan bernama Ridho, Iqbal, Bayu, dan Dedi. Ke empat pelajar SMA ini terkenal badung, selalu membuat jengkel teman-teman dan guru-guru mereka. Guru-guru mereka sampai angkat tangan dan berpendapat agar mereka berempat dikelurkan saja dari sekolah. Namun ada satu guru yang istimewa bagi mereka, Pak Hadi. Tidak seperti guru-guru lainnya, Pak Hadi masih memberi kesempatan bagi Ridho, Iqbal, Bayu dan Dedi untuk berubah jadi anak yang baik.

“Pak Hadi adalah salah seorang guru terbaik yang kami miliki. Beliau dengan nasihatnya yang meski terlalu tajam, namun selalu menggugah dan menyadarkan. Beliau selalu menghargai pekerjaan kami tanpa pernah menghina dan meremehkan hasil jerih payah pemikiran kami. Dengan tulus, beliau meluruskan kesalahan kami.” (hal. 35)

      Ending yang mengharukan, saat Pak Hadi mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.

Kini, beliau telah pergi. Rasanya masih bagai mimpi. Nyaris belum bisa kupercaya kalau semua ini nyata. Tapi...., gundukan tanah yang kian basah, wajah-wajah yang biasa riang kini berselimut duka, semua menyadarkanku bahwa esok, tak akan ada lagi Pak Hadi. Tak akan kutemui sosok berwibawa itu. Tak akan ku dengar lagi segala nasihatnya”.
Kini, bersama duka bak awan hitam pekat menyelimuti langit, hanya ada harapan yang tersisa untuk Pak Hadi, semoga Allah memberi tempat terbaik di sisi-Nya, sebagaimana beliau selalu berharap kami bisa menjadi yang terbaik. Nasihatnya akan senantiasa terpatri di jiwa-jiwa kami. Seluruh motivasi yang diberinya akan mengiringi langkah kami mengarungi kehidupan dan menyongsong masa depan. (Hal. 36)

      Ada pula tema perjuangan Islam seperti judul cerpen “Trio Mujahid”. Cerpen ini merupakan cerita andalan di buku ini, sekaligus dijadikan sebagai judul dari buku ini. Terinspirasi dari perjuangan para mujahid di bumi Palestina, cerpen ini menceritakan tiga bersaudara bernama Azzam, Yasin, dan Ayyasy. Ammah Fathimah ingin mereka menjadi para mujahid.

“Mujahid itu adalah pejuang. Pejuang kebenaran. Pembela agama Allah. Pembela kehormatan Islam dan kaum muslim”. (hal. 193)

Sejak kecil ketiganya diperkenalkan oleh Ammah Fathimah dengan kondisi umat Islam yang dijajah bangsa kafir. Mereka selalu diajak melihat gambar-gambar saudara-saudara muslim yang dibantai kaum kafir. Seperti muslim Palestina yang dibantai Israel laknatullah.

Layar laptop masih menyala. Di depannya, tiga pasang mata mungil nan bundar tak berkedip memandang slide show gambar yang bergantian menghiasi layar. Gambar-gambar yang sungguh membuat air mata meleleh. Mengacak-acak naluri dan rasa kemanusiaan Bahkan pada anak-anak kecil enam hingga sepuluh tahunan itu sekalipun.
“Itu adik bayi. Ada lubang dan darah di dadanya. Kasihan ya......dia mati sebelum sempat besar kayak kita. Kenapa dia dibunuh, Ammah? Ammah bilang, anak kecil kan nggak berdosa. Kalo nggak berdosa kenapa dibunuh? Berarti yang membunuh itu, orang jahat, kan, Ammah?” dengan penuh simpati Azzam mengungkap perasaannya yang begitu polos. (hal. 188-189).

      Apakah harapan Ammah Fathimah kepada Azzam, Yasin, dan Ayyasy terwujud? Silahkan baca sendiri bukunya ya.
      Secara umum, semua cerpen di buku ini menarik untuk dibaca. Menambah kecintaan pada Islam dan menambah wawasan keIslaman. Hanya ada beberapa catatan dari saya. Seperti ketidakjelasan pada cerita pada cerpen “Trio Mujahid”. Tidak jelas siapa sebenarnya Ammah Fathimah, apakah ibu ketiga tokoh yang diceritakan ataukah pengasuh mereka. Kalau ibu mereka, kenapa ada kalimat yang menunjukkan bahwa mereka punya ibu dan itu bukan Ammah Fathimah.

      “Masya Allah, Ammah. Itu kan seperti Ummi dan Ammah Fathimah”(Hal. 189)

Kalau Ammah Fathimah itu pengasuh, kenapa berperan sangat besar mendidik ketiganya. Kalau orangtua ketiganya sudah meninggal dan mereka diasuh Ammah Fathimah, itupun tidak ada petunjuk dalam cerita ini.

      Selain itu, umumnya karya fiksi kaya dengan kalimat-kalimat sastra yang puitis. Tapi di buku ini minim nuansa sastra. Banyak pula kalimat panjang yang cukup melelahkan membacanya. Di luar itu semua, sebagai karya pertama, buku ini bagus dan layak dibaca. Semoga karya ini bisa menambah berat timbangan pahala Dian Auliya di akhirat kelak, amin.

Islamic Reading Challenge 2015

2 komentar:

  1. Penasaran sama kisah Azzam, Yasiin, Ayyasi.

    Palestina, banyak kisah menyentuh dan menguras air mata di sana

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...