27 Agustus 2015

Narkoba Mengancam Keluarga

Picture by serambiminang.com
         Bahaya narkoba sudah mengancam keluarga. Harian Waspada tanggal 20 Agustus 2015 memberitakan bahwa menurut pakar kesehatan dari Universitas Sumatera Utara (USU) Prof. H. Aznan Lelo, berdasarkan hasil kajian, ada jenis narkoba yang tanpa disadari masyarakat, telah tercampur ke dalam makanan sehari-hari. Jenis narkoba tersebut adalah monosodium glutamate (MSG). MSG dianggap sebagai narkoba terselubung yang terkandung dalam penyedap makanan. Meski tergolong jenis narkoba dan berbahaya, MSG belum terdaftar sebagai narkoba. Obat jenis ini tersedia dalam berbagai bentuk dan dikonsumsi masyarakat luas tanpa kendali, peredarannya aman dan diatur Undang-Undang.
           Selama ini saya sendiri dan mungkin banyak orang lainnya tidak begitu menganggap MSG sebagai bahan berbahaya sebagai penyedap masakan. Karena banyak sekali makanan yang menggunakan MSG. Masih menurut Profesor Aznan Lelo, meski MSG selalu ditemukan dalam berbagai jenis makanan, namun bukan berarti MSG itu aman dikonsumsi. Beliau mengaku pernah disuruh tutup mulut oleh salah satu perusahaan penyedap makanan ternama di Indonesia, agar tidak membeberkan kepada publik tentang bahaya MSG tersebut secara kajian ilmiah. Beliau juga mencurigai peristiwa keracunan makanan yang dialami pelajar di sekolah atau keracunan pada buruh di tempat kerja dan di asrama pada pemberitaan televisi diakibatkan oleh MSG. MSG dapat menimbulkan kecanduan seperti narkoba. Konsumsi MSG yang berlebihan telah dilaporkan dapat menimbulkan efek yang merugikan pada banyak organ tubuh, terutama mempengaruhi fungsi dan fisiologi otak, menyebabkan stres oksidatif yang berat.
23 Agustus 2015

Yes, Pernikahanku Samara


Judul Buku               : Risalah Khitbah
Penulis                     : Yahya Abdurrahman
Penerbit                   : Al-Azhar Press
Tahun Terbit            : 2007
Jumlah halaman      : 255
Cetakan                   : II
ISBN                        : 979-3118-67-9
            
            Semua muslim pasti ingin merajut pernikahan yang berkah. Tapi jujur, masih banyak dari kita yang butuh ilmu tentang proses menuju pernikahan sakinah mawaddah warahmah (samara). Pernikahan samara adalah janji Allah Swt pada pasangan yang menempuh jalan menuju pernikahan sesuai tuntunanNya. Nah, buku ini bisa jadi salah satu rujukan bagi kamu yang ingin mengisi diri dengan ilmu tentang proses pernikahan Islami. Sebelum saya menikah, buku ini menjadi salah satu bacaan saya. Saya sama dengan kamu, ingin punya keluarga samara J

            Buku ini terdiri dari 10 bab. Ustadz Yahya Abdurahman memulainya dengan pembahasan yang mendasar hingga ke inti pembahasan. Pada bahasan awal, buku ini mengajak pembaca merenung tentang potensi diri yang telah diberikan Allah sebagai awal munculnya keinginan memiliki pasangan. Tujuannya agar pembaca kembali mengingat nikmat Allah Swt dan bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut. Konsekuensi rasa syukur itu, diharapkan menumbuhkan semangat untuk memahami dan melaksanakan tuntunan Islam seputar pendahuluan ke arah pernikahan. 

18 Agustus 2015

Merdeka Itu, Ketika Muslimah Dilindungi Kehormatannya.

#BloggerMuslimah
#GerakanMenujuSholehah

Pernah suatu kali saya ke Toko resmi Acer cabang Medan di Jalan Putri Hijau, Medan. Keperluan saya, untuk memperbaiki laptop yang rusak. Sembari menunggu teknisi memperbaiki laptop saya, mata saya melihat-lihat seisi ruangan di sana. Tak berapa lama mata saya fokus memperhatiakan seorang pegawai perempuan yang serius membaca al Qur’an dengan suara pelan. Kok sedang kerja, malah baca al Qur’an? Ah, barangkali memang sedang nggak ada tugas yang hendak dikerjakan, pikir saya. Tapi, kenapa nggak menutup aurat? Nggak pakai kerudung? Bukannya salah satu adab membaca al Qur’an adalah menutup aurat. Ah, barangkali beliau hanya membaca artinya saja, hanya bermaksud mengerti terjemahan al Qur’an saja. Tapi saya tetap penasaran.
Saat ada kesempatan, saya menyapa beliau, “Rajin ya buk, baca Qur’an”.
“Ia, tugas saya melayani pelanggan yang ingin konsultasi. Jadi pas lagi sepi, bisa baca al Qur’an”, ujar beliau. Saya tatap al Qur’an di tangan beliau. Nggak ada terjemahannya. Berarti beliau sedang baca al Qur’an sebagai ibadah sunnah. “Maaf bu, bukannya adab baca al Qur’an menutup aurat ya buk?”
“Oh, di sini dilarang pakai kerudung. Tapi kalau di luar, saya pakai kerudung kok kemana-mana”
Nah, ini poin saya. Di zaman yang katanya sudah merdeka, masih banyak muslimah yang sulit melaksanakan aturan agamanya. Saya juga pernah dengar ini terjadi pada pramugari, pernah ramai juga dibahas terjadi pada polwan. Hal yang sama juga terjadi di Papua saat ini, terutama Tolikara. Kemarin media mengungkap adanya perda pelarangan menggunakan kerudung bagi muslimah di Tolikara.
Merdeka itu ialah ketika kita leluasa menghamba pada yang Kuasa. Merdeka itu ialah ketika kita mudah menjalankan aturanNya. Merdeka itu ialah ketika muslimah dilindungi kehormatannya. Merdeka itu ialah ketika kehidupan kita selalu dihiasi kebaikan, berkah dan rahmatNya.
Semoga kemerdekaan hakiki bisa kita raih kelak ketika kehidupan Islam diterapkan secara keseluruhan, amin.
"BW Spesial Blogger Muslimah"

Komersialisasi Pendidikan

picture by pembebasan-makassar.blogspot.com
Sebagaimana diberitakan banyak media, permasalahan mengenai kelas sisipan oleh sejumlah sekolah negeri bergengsi di Sumatera Utara, muncul kembali kepermukaan. Keresahan masyarakat terutama orangtua siswa terkait masalah tersebut mendorong Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara untuk memanggil Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, Marasutan Siregar guna mempertanyakannya. Ternyata anggota Komisi C DPRD Medan, yang juga merupakan Komite Sekolah SMA Negeri 5 Medan, Godfried Effendi Lubis mengamini hal tersebut. Kepada media beliau membocorkan bentuk dugaan praktek penerimaan siswa sisipan di SMA Negeri 5. Dalam menerima siswa sisipan, pihak sekolah turut memungut biaya dari orangtua siswa sebesar Rp. 6-7 juta per siswa. Ada dugaan konspirasi terselubung antara Kepala SMA Negeri 5 Haris Simamora dengan Kepala Dinas Pendidikan Marasutan Siregar. Sebab, praktek ini masif dan terstruktur, sebut beliau.
SMA Negeri 5 Medan melalui Humasnya, Leo Janser Situmorang tak menampik adanya penerimaan siswa sisipan pasca penyelenggaraan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini di sekolah tersebut. Yang dibantah oleh beliau adalah mengenai jumlah kelas sisipan tersebut, bukan tiga kelas melainkan hanya ada satu kelas sisipan saja. Pak Leo beralasan, pihaknya membuat kelas tambahan lantaran desakan dari warga sekitar yang ingin memasukkan anaknya ke sekolah tersebut. Agar sekolah kondusif, terpaksa diterima orang sekitar sebagai muris, ujarnya. Kalau memang untuk memenuhi permintaan masyarakat sekitar demi kelancaran aktivitas sekolah, mengapa sampai memungut biaya jutaan rupiah. Bukankah sama saja sekolah bermaksud mengambil keuntungan dari biaya tersebut?
17 Agustus 2015

Kumpulan Cerpen Islami, Menambah Kecintaan Pada Islam

Judul Buku        : Kumpulan Cerpen Islam: Trio Mujahid
Penulis            : Dian Auliya
Penerbit           : Leutikaprio
Tahun Terbit      : 2012
Jumlah halaman   : 202
Cetakan           : Pertama
ISBN              : 978-602-225-318-1

      Buku fiksi ini berisi enam belas cerita pendek (cerpen) bernuansa Islam dengan tema yang berbeda-beda. Rata-rata bertema kehidupan remaja. Ada tema cinta seperti judul “Andai Ini Cinta”, menceritakan kehidupan tokoh bernama Hesty. Hesty memiliki teman bernama Nita yang hoby gonta ganti pacar. Prilaku pacaran Nita dan teman-teman SMA lainnya membuat Hesty enggan pacaran. Di kelas dua Hesty berkenalan dengan mbak Uyun yang membimbing Hesty mengenal Islam lebih dalam. Mbak Uyun memahamkan Hesty mengenai hukum pacaran yang haram dalam Islam. Saat Hesty jatuh cinta, dia ingat nasihat mbak Uyun mengenai cara mengatasi rasa itu.

“Alihkan perhatianmu pada hal-hal yang bermanfaat. Perbanyak aktivitas hingga membuatmu melupakannya,” begitu katanya waktu itu.
“Naluri cinta itu tak seperti orang lapar, Dek. Lapar itu muncul dari dalam diri manusia, dan harus segera dipenuhi. Tapi rasa cinta, dia hadir akibat pengaruh fakta dan pemikiran dari luar. Karenanya harus pinter-pinter mengalihkannya dan tidak fokus padanya jika memang belum siap untuk melaksanakan pernikahan.” (hal. 15-16)

      Kesabaran Hesty mengikuti lika-liku hidupnya dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama, akhirnya dihadiahi Allah Swt sesuatu yang membuatnya benar-benar merasa bahagia
16 Agustus 2015

Menyenangkan Hati Mereka Yang Tersayang

link : http://heydeerahma.com/index.php/2015/07/13/kontes-blog-giveaway-lebaran-bersama-heydeerahma/
Menyenangkan hati orang-orang tersayang sama saja dengan menyenangkan diri sendiri. Melihat senyum dan wajah ceria itu membuat hati bahagia. Lebaran salah satu momen berbagi kebahagiaan. Biasanya, lebaran identik dengan bagi-bagi THR alias Tunjangan Hari Raya. Dan yang paling beruntung adalah anak-anak. Karena mereka yang paling diincar untuk diberi THR. Alasannya, mereka belum bisa cari duit sendiri. Ngasih mereka juga nggak perlu banyak. Uang baru yang licin saja misalnya, meski cuma sepuluh ribu mereka senang.
Lebaran kali ini, saya kasih THR dalam bentuk berbeda dari biasanya kepada anak kecil di keluarga saya. Bukan duit, tapi berbentuk barang. Kalau ditanya, kenapa? Pertama, saya melihat mereka suka jajan yang kurang sehat. Daripada uangnya dipakai jajan sembarangan, baiknya diberi barang bermanfaat saja. Kedua, ini sekaligus cara saya menyiasati kondisi keuangan yang tipis. Keponakan saya ada sepuluh orang. Yang paling besar tingkat SMA dan paling kecil baru lahir sekitar dua bulan yang lalu. Untuk yang baru lahir, bukan THR sih namanya. Sejak lahir saya belum berkesempatan menjenguk. Jadi, lebih bisa disebut hadiah kelahiran si bayi. Cuma momennya pas lebaran. Ada lagi sepupu kecil saya, layak diberi hadiah lebaran. Kalau uang saya cukup, saya ingin memberi kepada lebih banyak orang lagi. Tapi apa daya, cuma cukup buat mereka, itupun disiasati supaya murah meriah dan bermanfaat. Alhamdulillah.
Ide memberi THR dalam bentuk barang pada anak-anak bukan hal baru. Sudah banyak yang melakukan. Hanya buat saya, ini hal yang baru pertama kali saya lakukan. Saya pun butuh ide dari teman-teman. Saya tanya ke teman-teman di dunia maya dan dunia nyata. Ada yang usulkan beri alat tulis, ada yang bilang kasih mainan puzzel dan lain-lain. Akhirnya saya pilih ngasih mereka alat tulis. Karena pas juga dengan momen back to school. Saya cari alat tulis unik dan cantik di Super Market sekitar rumah. Mondar mandir, pilih sana pilih sini, mengamati perlahan setiap alat tulis yang tersedia.
picture by www.bisnismainananak.com
Alhamdulillah, dapat juga alat tulis sesuai keinginan saya. Untuk yang gedean saya kasih pulpen tiga buah, warnanya saya pilih bervariasi. Ada yang hijau, orange dan ungu. Keunikan pulpen tersebut, karena ada hiasan berbentuk topi di ujungnya. Menurut saya itu lucu. Buat ponakan yang duduk di sekolah dasar, saya kasih pencil berbentuk bulat-bulat tersusun sebanyak tujuh bulatan. Tiap bulatan punya warnanya sendiri. Jadi, satu pensil warnanya warna warni. Pada tiap bulatan itu ada gambar emotikon dengan ekspresi tertawa, tersenyum, cemberut, sedih, marah hingga menangis. Lucu sih menurut saya. buat yang berumur sekitar dua tahun, saya kasih boneka gajah mungil berwarna biru muda. Boneka itu bisa dipakai buat bantal guling juga. Buat yang berumur dua bulan saya belikan sepatu dan alat-alat mandi. Tsumma alhamdulillah, yang saya rencanakan terealisasi tanpa kendala.
picture by bonekalucuna.wordpress.com
Di hari H, bertemu mereka dan menyerahkan sendiri hadiah dari saya adalah saat istimewa itu. Sebagaimana goresan di awal tulisan ini, “menyenangkan orang lain sama dengan menyenangkan diri sendiri”. Saya senang melihat mereka gembira menerima pemberian saya. Lebaran pertama, seharian kami bercengkrama di rumah mertua. Ada ibu mertua, saya dan suami serta kakak dan abang ipar bersama para keponakan. Kami makan bersama, bercerita, menyambut tamu dari tetangga sekitar, menghabiskan waktu dari pagi sampai sore. Sorenya saya dan suami ke rumah salah seorang kakak ipar. Kami mencicipi kue lebaran beliau dan hidangan lainnya disana. Pulangnya, Rani (ponakan) bilang sambil tertawa riang, “Makasih ya buk pensilnya. Sekali lagi ngasihnya buku ya buk”.
“Insya allah, kalau Rani juara”. Spontan aja yang keluar jawaban seperti itu. Semoga kehadiran kita bisa selalu menyenangkan orang-orang sekitar, amin. 

Artikel ini diikutsertakan dalam#GiveAwayLebaran yang disponsori oleh Saqina.comMukena Katun Jepang Nanida, Benoa KreatiSandermDhofaro, dan Minikinizz
14 Agustus 2015

Anak Jalanan, Berjudi dan Diperlakukan Kasar

picture by www.anneahira.com
Anak jalanan, salah satu potret suram dunia anak. Mereka seharusnya berada di sekolah, sedang sibuk mengerjakan soal matematika atau berdiskusi tentang sejarah dengan guru dan temannya. 

Namun mereka tak seberuntung itu. Rambut gimbal, tubuh yang penuh tato, bertindik di telinga, alis, bibir dan dagunya. Di terik matahari mereka berkeliaran di jalan. Memegang gitar lusuh lalu memainkannya di depan pengendara mobil pribadi, angkot, sepeda motor dan becak motor yang kebetulan terjebak lampu merah. 

Berpindah dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya, berharap uang receh dari mereka. Uang yang sudah di tangan, lalu dibelikan rokok. Duduk dipinggir jalan sambil merokok. 

Bersama teman-teman senasib bercengkrama, kadang tertawa sambil mengeluarkan candaan berbau makian. Semua  saya saksikan dengan mata kepala sendiri. Sebab saya menjadi satu diantara orang-orang berkendara yang berhenti menunggu lampu merah kembali hijau.

Di lain kesempatan, saya kerap menyaksikan kekasaran demi kekasaran yang dilakukan orangtua terhadap anak. Hanya karena anak tidak mau makan, anak dibentak, dicaci maki dengan ucapan buruk. 

Saya sampai heran dengan kenalan yang satu itu. Padahal kelahiran anak itu sangat ditunggu-tunggu. Sekitar empat tahun menikah, pasangan tersebut belum juga dikaruniai anak. Mereka memohon pada Allah untuk diberi keturunan, terus berdoa dan selalu berharap. 

Setelah dikabulkan, anak diperlakukan dengan buruk. Apapun alasannya, berbuat kasar pada anak bukanlah solusi. Lagipula, orangtua yang harusnya intropeksi. Jangan-jangan memang makanan yang disajikan tidak sesuai selera anak. Atau mungkin kondisi kesehatan anak sedang menurun hingga tak selera untuk makan.

Ada lagi saya lihat, anak yang habis-habisan dicubit dan dibentak sekeras-sekerasnya dengan menyebut isi kebun binatang. Prilaku anak dianggap suatu kenakalan oleh ibu. 

Tapi pantaskah kenakalan itu dibayar dengan siksaan tersebut? Ibu berteriak-teriak dan anak semakin meraung, kesakitan, ketakutan dan melampiaskan kesal. Akhirnya tetangga yang merasakan ketidaknyamanan mendengar suara bising mereka. 

Hasil dari memberi sanksi gaya preman tersebut, anak jadi melawan pada orangtua. Lalu timbul di hati anak kebencian pada orangtuanya. Kadang, bila hal seperti itu terus berlarut-larut hingga anak besar, kebencian yang memuncak membuat anak tega membunuh orangtua. Begitu yang pernah ada di pemberitaan media. 

Saya suka merasa pedih sendiri menatap wajah ibu yang kejam itu. Mereka anggap perbuatan mereka benar, padahal berdampak fatal bagi anak. Masih banyak lagi peristiwa serupa, terjadi di hadapan saya.
13 Agustus 2015

Kerugian Pelanggan Token Listrik

picture by chipsaktipulsa.com
Harian Waspada pernah memberitakan mengenai kerugian yang dirasakan pelanggan token listrik (pulsa listrik prabayar) di Sumatera Utara khususnya Medan. Pasalnya, voucher listrik yang dibeli pelanggan tidak sesuai antara isi dengan jumlah yang dibayar. Hal ini terungkap saat Ketua Komite II DPD RI Parlindungan Purba, SH, MM bersama General Ma-nager PLN Wilayah Sumut Dyananto dan Area Manager Medan Rifky mengunjungi pemukiman warga di Jl. Rah-madsyah, Kelurahan Kota Matsum I, Medan Area. Salah satu pelanggan bercerita, saat membeli voucher listrik seharga lima ratus ribu rupiah, namun isinya hanya empat ratus lima puluh ribu rupiah.
Rupanya pihak PLN memang sengaja melakukan pemotongan terhadap isi voucher listrik yang dibeli masyarakat. Alasannya karena ada biaya administrasi dalam setiap pembelian. PLN mengatakan, pemotongan dilakukan sebanyak 7,5 persen. General Manajer (GM) Wilayah Sumut, Dyananto menjelaskan,  bahwa potongan biaya administrasi yang dikenakan pelanggan token listrik di Sumatera Utara terbilang murah dibanding daerah lainnya seperti Makassar dimana potongannya mencapai 10 persen. Namun kenyataan dilapangan, pemotongan token listrik warga Sumut lebih dari 7,5 persen. Pelanggan yang mengadukan bahwa voucher listrik yang dibelinya seharga lima ratus ribu rupiah, isinya hanya empat ratus lima puluh ribu rupiah. Artinya, telah terjadi pemotongan sebanyak 10 persen. Dari tiga juta pelanggan listrik di Sumut terdapat 800 ribu warga atau sekitar 25 persen yang menggunakan token listrik. Di Medan, terdapat 100 ribu pengguna token listrik. Bila dirata-ratakan pelanggan token listrik di Sumut yang berjumlah 200 ribu membeli voucher listrik seharga lima ratus ribu rupiah, maka dengan potongan senilai lima puluh ribu rupiah, maka PLN untung sekitar 10 milyar rupiah perbulan.
11 Agustus 2015

Berubahlah, Untuk Nasib Yang Lebih Baik

Judul Buku  : 30 Jurus Mengubah Nasib

Penulis      : Prof. Dr. Ing. H. Fahmi Amhar
Penerbit     : Al Azhar Fresh Zone
Tahun Terbit: 2014
Tebal       : 180
ISBN        : 978-602-7986-14-5


Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka”. (QS. Ar’d: 11)

Berdasarkan ayat tersebut, penulis buku ini meyakini bahwa harus ada upaya dari diri manusia untuk berubah agar Allah mengubah nasibnya menjadi lebih baik serta mengabulkan doa-doanya. 30 jurus mengubah nasib merupakan serangkaian tulisan beliau di akun facebook miliknya selama Ramadhan 1434 H. Setelah diedit kembali, ditambah mendalam bahasannya dan dilengkapi al Qur’an dan Hadist, tulisan itupun dibukukan.


Sesungguhnya tidak ada orang maupun kaum, yang mengalami perubahan nasib tanpa mereka mengubah dulu apa yang dikonsumsinya”(hal. 1)

      Jurus pertama ialah mengubah konsumsi. Ada 3 macam yang harus diubah dalam jurus ini, yaitu:
a.   Ubah apa saja yang dikonsumsi
Sadari bahwa manusia punya macam-macam kebutuhan, seperti kebutuhan jasadiyah (seperti makanan atau pakaian), kebutuhan sosial (seperti hiburan atau alat komuniasi) dan lain sebagainya. Jika selama ini kita belum tepat dalam memenuhi segala kebutuhan diri kita, maka ubahlah kebiasaan kita dengan menyeimbangkan pemenuhannya.
b.   Ubah status yang dikonsumsi
Kalau selama ini kita kurang memperhatikan status dari apa yang kita konsumsi, apakah halal dan thayyib ataukah tidak, maka saatnya kita mulai memberi perhatian terhadap hal tersebut.

Memakan yang haram (baik dari sisi zat maupun cara memperolehnya), tidak thayyib atau memakai pakaian yang tidak sempurna menutup aurat, itu pasti menghalangi perubahan ke arah yang baik, bahkan menghalangi terkabulnya doa! (hal. 2)
c.    Mengubah pola konsumsi.
Jika selama ini pola makan kita tidak teratur (misalnya makan sekali tapi langsung berlebihan), tentu perubahan yang terjadi bukan ke arah yang lebih baik. Ubahlah pola konsumsi sesuai porsinya.
8 Agustus 2015

Anak, Berkah Terindah Sebuah Keluarga

dari kiri: Zahira, Adik Adwa dan Aliza
Berkah terindah, hemm. Pastinya semua yang sudah diberikan Allah pada kita adalah sebuah keberkahan. Yang perlu dipastikan, kita tetap berusaha berdiri di jalanNya, bersikap qonaah (menerima apapun dariNya) dan merasa selalu bahagia. Hanya saja, sebagai manusia yang punya naluri, pasti selalu ada keinginan yang ingin dicapai. Kalau disebut sebagai keberkahan, ya, ada berkah yang masih ingin saya capai.
Sebagai perempuan, sesudah menyandang gelar sebagai istri, tentu ingin menghangatkan rumahtangga dengan kehadiran buah hati. Anak-anak merupakan tanda cinta, perekat hubungan yang kuat antara bapak dan ibunya. Kalau sedang berselisih dengan pasangan, anak bisa meredupkan kemarahan dan dapat membatalkan keputusan fatal yang mungkin hendak diambil. Sebab kita tahu, bahwa perpecahan antara ibu dan ayah sedikit banyak akan berpengaruh pada perkembangan mental anak. Anak membuat ramai rumah kita, ladang pahala dan berkah terindah dalam sebuah keluarga. Saya pun menginginkannya.
Maka bersyukurlah bagi pasangan yang telah dianugerahi anak-anak. Jangan sia-siakan mereka. Rawat mereka dengan baik. Sayangi mereka. Beri pendidikan yang mampu menyelamatkannya dunia akhirat. Beri makanan yang halal dan thoyyib. Perlakukan mereka sebagaimana tuntunan Pencipta kita. Karena ia amat berharga. Karena tak semua kita diberi kepercayaan oleh Allah Swt untuk melahirkan dan merawat anak. Sayalah salah satunya, tiga tahun menjalani pernikahan, masih terus merayu Allah untuk mendapat keberkahan yang satu itu.

Sebenarnya saya pernah hamil, tapi belum berhasil. 6 bulan pernikahan saya terdeteksi mengalami kehamilan di luar kandungan. Ketahuannya, suatu hari saya merasakan sakit yang teramat sangat. Seperti rasa sakit senggugutan. Namun berkali-kali lipat. Beberapa hari sebelumnya saya merasa seperti mendapatkan haid. Ternyata darah yang keluar itu adalah pertanda dari kehamilan di luar kandungan itu. Saat saya periksa ke dokter kandungan, di situlah saya tahu bahwa saya hamil dan kondisinya tak memungkinkan bagi saya untuk melahirkan anak saya. Sebab janin itu tidak berkembang. Ia berada di area yang tidak tepat. Ia harus diangkat sesegera mungkin. Bila tidak, akan membahayakan diri saya. Sempat juga nangis beberapa saat. Terbersit sebuah kekecewaan, kehilangan dia. Tapi alhamdulillah saya segera pulih, menghapus kekecewaan yang tak perlu berlarut-larut dirasakan. Allah Swt yang paling tahu segalanya. Saat-saat seperti itulah saya merasa bersyukur dengan keimanan ini, yang membuat tegar menghadapi cobaan. 

detik-detik keberangkatan, danti(sepupu saya) masih sempat foto
Sejauh ini, saya curahkan kasih sayang yang muncul dari naluri keibuan saya kepada para keponakan. Keponakan dari pihak suami maksudnya. Kalau dari saya belum ada. Saya anak pertama dari dua bersaudara dan adik saya belum menikah. Suami saya punya lima saudara kandung. Kalau dijumlahkan anak-anak mereka ada sepuluh orang. Dari yang besar, duduk di kelas satu sekolah menengah atas, hingga bayi berumur sekitar tiga bulan. Saya beri perhatian pada mereka sebisa saya, menjadi tante yang baik bagi mereka.  Saya juga senang berinteraksi dengan anak-anak teman, juga dengan sepupu yang imut. Yaah, sudah biasa sih itu ya, senang dan berinteraksi dengan anak-anak. Karena ya itu tadi, perempuan punya naluri keibuan. 
bersama Salsa (keponakan yang sudah lebih dulu menghadap Allah)

bersama kedua muridku (Usi dan Sila)

bersama Syifa

bersama anak teman (lupa namanya)

bersama Kaisan
Allah melarang muslim berputus asa pada rahmatNya. Kita harus terus menghidupkan harapan dalam diri, bahwa Allah akan beri apa yang kita inginkan. Atau bila keinginan itu tak kunjung tiba, berarti saya sedang diuji sama Allah Swt, disuruh lebih maksimal lagi mendekat padaNya.  Semoga yang baca tulisan ini ikut mendoakan saya diberi berkah anak oleh Allah Swt, amin.

 "Blessful August Giveaways by indahnuria.com


7 Agustus 2015

Orang Beriman Takut Dosa


Judul Buku        : Dosa “Investasi”
Penulis            : H. Dwi Condro Triono, Ph. D
Penerbit           : Irtikaz
Tahun Terbit      : 2013
Jumlah halaman   : 112
Cetakan           : Pertama
ISBN              : 978-979-97937-6-8

Orang beriman pasti takut dosa dan berusaha menghindarinya. Buku ini mengajak kita untuk mengenal perkara yang menyebabkan kita terkena dosa “investasi”. Menurut penulis, Ustadz Dwi Condro, ada jenis dosa yang bisa diistilahkan sebagai dosa “investasi”. Dosa “investasi” istilah yang unik, diambil dari dunia bisnis. Kalau dalam bisnis, orang yang berinvestasi (investor) adalah orang yang menyertakan modalnya kepada pihak yang memiliki usaha. Selanjutnya, investor hanya bertugas untuk diam tanpa peran apa-apa terhadap usaha tersebut. Jika usaha yang sudah dijalankan menghasilkan keuntungan, maka investor mendapat bagian keuntungan pula, demikian sebaliknya. Nah, bila kata dosa disandingkan dengan kata investasi, artinya adalah dosa yang akan diperoleh muslim hanya karena “diam”.
Investasinya dimana? Nah, ketika kita menjadi muslim, sesungguhnya kita sudah menyertakan diri (berinvestasi) menjadi bagian dari umat Islam, umat yang satu. Artinya, ada amalan dalam Islam, dimana kita bertanggungjawab atas sesama kita. Amalan itu disebut fardhu kifayah. Jadi, dosa “investasi” sama dengan dosa “kifayah”, yaitu dosa yang muncul karena fardhu kifayah yang tidak diamalkan oleh kaum muslimin.
 Di bangku sekolah, yang selalu dicontohkan sebagai amalan fardhu kifayah adalah mengurus jenazah. Jika ada jenazah yang tidak diurus pemakamannya oleh keluarganya dan muslim lainnya diam saja tidak mau mengurus jenazah itu pula, maka bukan hanya keluarga tersebut yang berdosa, melainkan juga muslim satu kampung itu. Bahkan bisa meluas hingga muslim satu kota itu, bila mereka diam. Dan bisa meluas lagi dosa bagi muslim lainnya bila mereka juga ikut diam.
 Ternyata, perkara yang termasuk fardhu kifayah bukan hanya mengurus jenazah. Ada banyak amalam fardhu kifayah yang dicontohkan oleh Ustadz Dwi Condro, sekaligus kronologi hingga akhirnya kaum muslim bisa terkena dosa “investasi”. Menariknya, kronologi tersebut ditulis dalam bentuk tanya jawab rinci, sehingga lebih mudah dimengerti. Satu diantaranya, yaitu :

(kutipan buku)   
2. Perzinahan
         Untuk bisa memahami contoh yang kedua ini, kita juga bisa membuat format butir-butir dialognya:
Ø  Jika ada dua orang berzina, siapakah yang akan menanggung dosanya?
Ø  Jawabnya: kedua orang yang berzina tersebut.
Begitulah biasanya, kalau kita mendengar ceramah atau pengajian dari para kyai atau ustadz tentang orang yang berzina, tentu akan dijelaskan bahwa yang akan berdosa adalah orang berzina tersebut. Kedua orang itu akan berdosa, kedua orang itu akan masuk neraka, akan disiksa dengan siksaan yang sangat pedih. Demikianlah penjelasan dari para ustadz. Namun, sesungguhnya jawaban tersebut masih dapat memunculkan pertanyaan berikutnya:
Ø  Apakah penjelasan tersebut benar?
Ø  Jawabnya: tentu saja benar.
Ø  Namun, sesungguhnya masih ada yang kurang lengkap dari penjelasan di atas.
Ø  Apanya yang kurang lengkap?
Ø  Jawaban apa yang lebih lengkap?
Ø  Jawaban yang lebih lengkap adalah: yang menanggung dosa adalah seluruh kaum muslimin di dunia ini!
Ø  Mengapa?
Ø  Mengapa seluruh kaum muslimin harus menanggung dosanya?
Ø  Padahal mereka tidak berbuat zina? Mengintip saja tidak?
Ø  Sekali lagi, mengapa harus menanggung dosanya?
Ø  Untuk mengetahui jawabannya, silahkan buka QS. An-nuur: 2.
Ø  Allah Swt berfirman:
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasiahan kepada keduanya mencegah kamu untu (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman”. (QS. An-nuur: 2)
Ø  Darimana kita mengetahu tentang dosa yang harus ditanggung oleh seluruh kaum muslimin?
Ø  Kata kuncinya adalah lafadz “fajliduu”. “maka deralah!”.
Ø  Apa maknanya?
Ø  Itu adalah kalimat perintah yang mukhothob-nya (pihak yang diseru) adalah orang kedua jamak, yaitu seluruh kaum muslimin.
Ø  Jadi, kalau ada perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka siapa yang mendapat beban (taklif) perintah dari Allah?
Ø  Jawabnya, tentu bukanlah pezina-nya, akan tetapi justru kepada mereka yang tidak berzina, yaitu seluruh kaum muslimin di dunia ini,
Ø  Bagaimana jika seluruh kaum muslimin “diam”?
Ø  Apa konsekuensinya?
Ø  Untuk mengetahui konsekuensinya dapat dilihat pada kelanjutan ayat tersebut: “dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama, Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat...”
Ø  Maksudnya apa?
Ø  Jika kita “diam”, karena merasa belas kasihan kepada keduanya, maka “diam”nya kita itu sama saja kita sudah dianggap tidak punya iman kepada Allah dan Hari Akhir, menurut ayat di atas.
Ø  Artinya apa?
Ø  Artinya, kita sudah dianggap “sama” dengan orang yang kafir.
Ø  Maksudnya apa?
Ø  Maksudnya perintah tersebut jatuhnya adalah wajib.
Ø  Sebab, jika kita ada perintah kemudian diiringi dengan qorinah (indikasi) yang bersigat jazm (tegas), yaitu: jika tidak mau melaksanakannya akan disamakan statusnya dengan orang kafir, maka perintah itu jatuhnya adalah wajib.
Ø  Apa artinya wajib?
Ø  Jika perintah itu tidak diamalkan, maka seluruh kaum muslimin akan berdosa.
Ø  Dosa apa?
Ø  Dosa “investasi”!
Itulah contoh kedua tentang dosa “investasi”. Apakah ada contoh berikutnya? Insya Allah masih ada. Insya Allah masih ada. (hal. 34-36)
      Penjelasan rinci seperti ini memang cukup jelas. Tapi juga terkesan bertele-tele. Ditambah lagi ada pengulangan kalimat, meski saya yakin itu dimaksdukan sebagai penegasan, namun agak bosan membaca kalimat demi kalimatnya.
      Tak hanya menjelaskan tentang perkara yang menyebabkan kaum muslim jatuh ke dalam dosa “investasi”, bab berikutnya juga membahas mengenai cara menggugurkan dosa “investasi. Hal-hal yang berkaitan dengan pembahasan dosa “investasi juga dibahaskan seperti, menjawab pertanyaan, “Mengapa kita harus menanggung dosa orang lain?”, “Jalan Menuju Surga” dan lain-lain. Buku ini cukup bagus untuk menambah referensi ilmu keislaman kita dan sebagai motivasi bagi kita dalam menjalankan hukum-hukum Allah Swt. Wallahu a’lam bishawab.

Islamic Reading Challenge 
3 Agustus 2015

Kenali Diri, Gali Potensi, Ukir Prestasi

( Nostalgia masa kuliah)


            Masih berkaitan dengan OSPEK ni. Kali ini saya bukan lagi cerita soal acara pengenalan kampus yang diadakan oleh pihak Universitas, melainkan acara yang dibuat organisasi kampus. Sudah menjadi kebiasaan di kampus saya, Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah Medan, kalau di awal tahun ajaran, diadakan acara penyambutan kepada adik-adik mahasiswa baru oleh beberapa organsiasi Islami kampus. Tujuannya untuk berkenalan dan dakwah.
            Forum kajian Islam kami saat itu bernama Majlis Ta’lim (MT) An Nahdoh. MT An Nahdoh mengundang calon mahasiswa (cama) pas ujian tes masuk. Acara yang kami beri nama Teram (Temu Ramah) itu diadakan di hari pengumuman kelulusan. Kami meminta adik-adik cama ikut acara Teram dulu baru lihat pengumuman. Kami turut membantu mereka melihat pengumuman. Nggak masalah yang ikut acara Teram belum tahu tentang kelulusan. Karena seperti yang sudah-sudah, rata-rata cama lulus tes masuk kok. Untuk kampus swasta, kemungkinan diterima jauh lebih besar ketimbang di kampus negeri. MT An Nahdoh sudah izin menggunakan ruang kelas yang cukup besar untuk acara tersebut. Sekitar 20 hingga 50 orang cama hadir di acara Teram. Sedikit ya. Soalnya banyak yang anak daerah. Seteleh ujian tes masuk, sebagian besar pulang kampung dulu dan melihat pengumuman dari internet. Ada juga anak Medan yang melihat hasil pengumuman lewat internet. Ditambah lagi kita-kita organisasi kampus yang buat acara penyambutan untuk adik-adik calon mahasiswa, mengadakannya di hari yang sama. Jadi menyebar deh adik-adiknya.