Selasa, 14 Juli 2015

Rakyat Hidup Prihatin

ilustrasi by www.ciputranews.com
            Di sebuah lokasi, warga Purwokerto, Jawa Tengah berdesakan dan berebutan menyerbu tumpukan baju bekas yang diobral murah, hanya seribu rupiah per lembar. Baju bekas layak pakai diburu demi bisa dipakai saat berlebaran nanti. Mereka sebenarnya bukan penyuka baju bekas, melainkan terpaksa membelinya, karena tak mampu membeli baju baru di toko. Tidak mengapa, karena tidak wajib berlebaran dengan pakaian baru. Yang disunnahkan saat lebaran adalah menggunakan pakaian terbaik. Sebagaimana sahabat Ibnu Umar yang menggunakan pakaian terbaiknya pada hari pertama dan kedua lebaran, (HR Al-Baihaki). Rasulullah Saw sendiri memiliki jubah khusus yang digunakan saat hari raya Idul Fitri.
            Sebagian masyarakat memang sanggup membeli baju baru untuk lebaran. Bahkan mereka sampai berbuat boros, yang dilarang dalam Islam. Hanya saja, ramainya masyarakat yang rela membeli baju bekas seharga seribu rupiah, menunjukkan tingkat kemiskinan di Indonesia. Sama halnya dengan tindakan 4 orang siswa SMP di Palembang yang mencuri bebek demi membeli baju baru. Bila sampai nekat mencuri, kemungkinan besar karena tak memiliki pakaian bagus untuk dipakai saat lebaran. Pemahaman agama yang kurang dan kondisi ekonomi yang sulit membuat mereka berbuat kesalahan.

            Teringat dengan pemberitaan di sebuah media pada tanggal 11 Juli 2015 tentang ucapan Presiden Jokowi bahwa beliau sedang menjalankan reformasi struktural dalam perekonomian nasional. Jokowi mengatakan ingin mendorong pertumbuhan ekonomi dari sektor produktif dan investasi dari sebelumnya yang lebih mengandalkan mesin konsumsi. Untuk mewujudkan tujuannya, Jokowi meminta agar masyarakat mau bersakit – sakit dahulu. Bisa dipahami maksudnya bahwa rakyat disuruh hidup prihatin lebih dari saat ini.
            Sebagaimana anggapan pemerintah, salah satu sektor konsumtif yang dianggap perlu dipangkas yaitu subsidi BBM. Jokowi pernah berkata bahwa subsidi BBM hanya membakar uang negara. Padahal, bukankah yang naik angkot adalah para pelajar yang produktif menimba ilmu. Mereka yang menggunakan sepeda motor untuk bekerja juga melakukan aktivitas produktif. Setelah subsidi BBM dicabut, imbasnya harga kebutuhan pokok pun naik dan rakyat jadi semakin susah. Rakyat yang terpaksa membeli baju bekas untuk lebaran seharga seribu rupiah, termasuk yang terkena imbas kebijakan pemerintah.
            Rakyat sudah hidup prihatin pak Jokowi. Disaat pejabat menggunakan fasilitas hidup yang mewah, jalan – jalan ke luar negeri dan membeli baju lebaran di butik, rakyat pakai baju bekas seharga 1000 rupiah. Mungkin pakaian itu banyak kumannya. Lebih dari sekedar masalah baju, bahkan masih banyak rakyat yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Ada yang makan nasi aking, ada yang meminta - minta dan masih ada anak – anak di daerah yang busung lapar. Tapi mendengar perkataan pak Jokowi, sepertinya pemerintah tidak berhenti disitu saja. Hidup rakyat akan dibuat lebih prihatin lagi. Tarif listrik sebentar lagi juga akan naik. Dan apalagi yang akan dilakukan pemerintah untuk menyuruh rakyatnya hidup lebih prihatin lagi? Kira – kira, apa yang lebih sakit dari makan nasi aking?
            Dalam kita al Manaqib Amirul Mukminin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah bercerita, suatu kali Khalifah Umar bin Khatab dikirimi makanan oleh gubernurnya. Sebelum memakan makanan tersebut, Khalifah bertanya pada utusan sang gubernur, “Apakah rakyat sudah memakannya?” Ternyata tidak semua rakyat bisa memakan makanan lezat tersebut. Khalifah Umar marah dan berkata pada gubernurnya, “Wahai Utbah, makanan semanis dan selezat ini bukan dibuat dari ayah dan ibumu. Kenyangkan perut rakyatmu dengan makanan ini sebelum engkau mengenyangkan perutmu dengannya.” Dalam kesempatan lain Khalifah Umar juga pernah berkata, “ Saya adalah orang yang pertama merasakan lapar kalau rakyatku kelaparan, dan orang terakhir yang merasakan kenyang kalau mereka kenyang”.

            Demikianlah perbedaan pemimpin dalam pemerintahan Islam dengan pemimpin dalam sistem demokrasi. Kalau seorang Khalifah lebih mendahulukan kepentingan rakyatnya, namun pemimpin dalam sistem demokrasi sibuk menyuruh menyuruh rakyatnya hidup prihatin sementara dirinya dan para pejabatnya hidup enak. Perekonomian Indonesia terpuruk karena pemberlakukan ekonomi kapitalis demokrasi yang sarat riba. Hutang Indonesia menumpuk, namun rakyat yang kena getahnya. Jujurlah, kita pasti merindukan sistem pemerintahan seperti Khilafah ‘ala minhajjin nubuwah, ya kan?
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...