Rabu, 22 Juli 2015

Motivasi Ibu

ilustrasi by generusindonesia.wordpress.com

Cerita Lebaran I
            Lebaran penuh cerita. Bukan lebaran namanya kalau tidak berkunjung kerumah keluarga dan kerabat. Bertemu sapa, bertukar cerita dan merasakan pengalaman indah mereka. Cerita bahagia, ku dapatkan dari keponakan. Seharusnya kabar ini sudah ku ketahui sejak lama. Tapi karena satu dan lain hal, cerita ini baru kudengar saat kumpul lebaran.
            Beberapa waktu sebelum ujian akhir, kakak ipar ngobrol bareng anaknya/ ponakanku. “Dian, kalau Dian juara, trus dapat satu juta, enak juga ya. Dian bisa beli macam – macam.” Dian duduk di kelas 2 SD. Dia belum pernah dapat ranking puncak di sekolah. Capaiannya selalu di bawah 10 besar, mendekati angka 20. Nah, perusahaan swasta daerah rumah Dian memberi beasiswa sebesar 1 juta rupiah untuk siswa juara satu di Sekolah Dian. Makanya, kakak ipar berpikir, kalau Dian bisa meraih juara satu, lumayan hadiahnya. Tebak apa yang terjadi, saat pengumuman juara pasca ujian semester itu, Dian juara satu. Pengumuman tidak disaksikan secara langsung oleh ibunya Dian. Selesai pembagian rapor, Dian pulang dengan menyandang gelar juara. Sepanjang jalan menuju rumah, Dian bernyanyi riang, merasa senang. Sampai di rumah. Kalimat yang diucapkan Dian, “Dian nggak nyangka loh buk. Kok bisa ya, Dian juara satu buk.”
            Ibunya Dian sempat nggak percaya. Sebelum akhirnya benar – benar nyata terlihat tulisan dalam rapor, Dian juara I.

Kabar selanjutnya, tahun ini si perusahaan swasta nggak ngasih beasiswa lagi buat anak juara di Sekolah Dian. Tapi, kekecewaan itu tak seberapa, dibanding kejutan bahwa Dian mampu meraih prestasi luar biasa. Saya bukan hendak mengatakan bahwa pencapaian nilai adalah yang utama. Sebab, sering nilai tak mencerminkan output yang sebenarnya yaitu kecerdasan secara pemikiran dan prilaku. Bahkan adakalanya, nilai dicapai karena nepotisme atau dengan kecurangan. Meski saya yakin untuk anak kelas dua SD, kemungkinan curang kecil terjadi. Kalau tentang nepotisme, Dian bukan anak guru ataupun tokoh berpengaruh. Untuk Dian, saya yakin semangatnya tumbuh hingga bisa menjawab soal – soal ujian dengan baik karena motivasi ibunya.
Saya ingin ambil dua pelajaran dari cerita Dian. Pertama, motivasi orangtua itu penting buat anak. Walaupun motivasi yang diberikan kakak ipar masih harus diluruskan (sebaiknya mendorong juara bukan karena uang, tapi mendorong mencintai ilmu untuk meraih cinta Allah Swt), tapi besar pengaruhnya. Apalagi kalau disampaikan dengan bahasa yang lembut dan terus menerus. Seperti motivasi ibunya Thomas Alfa Edison yang menjadikan sang anak sebagai ilmuwan bersejarah dan motivasi ibunya Imam Syafi’i yang menjadikan anak tersebut sebagi ulama besar sepanjang masa. Kedua, tidak ada anak yang bodoh. Mereka hanya butuh dukungan dan motivasi, terutama dari orangtua. Kalau saja tiap orangtua pandai bersikap pada anaknya, selalu peduli dengan kepedulian yang sempurna, sabar mengajarkan anak mencintai Allah dan RasulNya, maka semua anak bisa meraih kesuksesan dunia akhirat, insya allah.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...