29 Juli 2015

Disukai Karena Hijab

picture by lifemoonlovemoon.blogspot.com
                Disukai itu menyenangkan. Begitu yang kita rasakan, termasuk saya. Saat lelaki yang kini menjadi suami saya memilih saya sebagai pendamping hidupnya, tentu karena ada yang disukai dari diri saya. Saya bertemu beliau di sebuah bimbingan belajar tempat kami bekerja. Beliau sebagai manajer dan saya tentornya. Baru beberapa hari berkenalan, ia menyampaikan kalau ia ingin memiliki istri yang bisa sama – sama belajar Islam. Ini sudah pernah saya ceritakan di artikel sebelumnya. Tapi sedikit mengulang ya, dengan mengambil fokus berbeda dari kisah tersebut.
Waktu berjalan, sayalah orang yang akhirnya berkomitmen dengan suami tercinta berjalan bersama mengarungi kehidupan dalam biduk rumah tangga. Dalam kebersamaan kami, tak sadar beliau menyingkap rahasia, mengapa bersedia memperistri saya. Ternyata, yang beliau sukai dari saya adalah kerudung panjang yang saya pakai.
Suami saya bilang, kerudung muslimah yang dipanjangkan mencerminkan aura kesholehan pada dirinya. Kita bisa saja mengatakan bahwa penampakan luar belum menentukan apa – apa. Karena masih banyak muslimah menutup auratnya dengan pakaian lebar dan kerudung panjang, namun ketahuan berbuat maksiat. Seperti, jalan dengan lelaki yang bukan muhrimnya, tertawa terbahak – bahak dan perbuatan tak pantas lainnya. Namun begitulah lelaki yang ingin baik. Benar, bahwa semua lelaki tertarik pada fisik perempuan. Para lelaki pasti senang dengan cewek seksi yang buka – bukaan. Tetapi, lelaki yang ingin baik hanya ingin kecantikan dan keseksian istrinya terjaga dari pandangan yang tidak berhak. Lelaki baik bersifat melindungi, menghormati, menghargai muslimah yang taat pada Tuhannya dengan menggunakan pakaian syar’i di tempat – tempat umum.
25 Juli 2015

Awas, Propaganda LGBT

Opini tayang di Koran Waspada Medan, 25 Juli 2015

LGBT dan Pendukungnya
Di tengah semaraknya umat Islam seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, terdengar kabar kontroversial dari Amerika Serikat. Berbagai media memberitakan bahwa pada hari Jum’at, 26 Juni 2015, Mahkamah Agung AS melegalisasi pernikahan sejenis di seluruh negara bagiannya. Reaksi bermunculan. Presiden AS Barack Obama memuji keputusan ini, “Today is a big step in our march toward equality. Gay and lesbian couples now have the right to marry, just like anyone else.” (Hari ini kita mengambil langkah besar di dalam perjuangan mencapai kesetaraan. Pasangan gay dan lesbian sekarang memiliki hak untuk menikah seperti siapa pun) kata Obama. (twitter.com, 26/6/2015). Pujian Obama terhadap legalisasi pernikahan LGBT menunjukkan betapa ia merupakan bagian dari penganut liberal tulen produksi Amerika.
Tak cuma Obama, beberapa selebritis Indonesia ada yang secara terang – terangan menyambut baik kabar tersebut. Artis Anggun C. Sasmi, yang pernah lama tinggal di Perancis menulis di akun twitternya pada tanggal yang sama dimana legalisasi itu diumumkan, ““YES!!!!! Mariage is between love and love ??,” ( ya, perkawinan adalah antara cinta dan cinta). Sementara mantan artis cilik Sherina Munaf, dua hari kemudian menulis di akun twitternya, “Banzai! Same sex marriage is now legal across the US. The dream: next, world! Wherever you are, be proud of who you are. #LGBTRights”. Mengawali pernyataannya dengan ungkapan gembira ala Jepang, Sherina seolah bersyukur bahwa pernikahan sesama jenis kini ada hukumnya di Amerika Serikat. Mimpi berikutnya, ia ingin LGBT diakui di seluruh dunia. Tak sekedar pernyataan, pelawak Aming bahkan langsung terbang ke Negeri Paman Sam tak lama setelah legalisasi LGBT diumumkan. Ia bersama teman – temannya ikut turut ke jalan, tepatnya di jalan Madison Avenue, New York, untuk merayakan hari kemenangan kaum LGBT bertajuk Gay Pride Parade 2015, http://www.swadeka.com/rayakan-parade-lgbt-aming-dapat-kritikan-pedas-dari-netizen/2594/.
Kelakuan para artis Indonesia pendukung pernikahan sejenis ini disesalkan banyak pihak. Mereka telah memposisikan diri menjadi para propagandis dari prilaku seks menyimpang LGBT. Mereka adalah publik figur yang dilihat dan digemari banyak orang. Apa yang mereka katakan dan lakukan berpotensi untuk ditiru oleh masyarakat, sebagaimana populernya pakaian ala Syahrini dan terkenalnya kalimat “sakitnya tuh di sini” dari sebuah lagu dangdut. 
24 Juli 2015

Astaghfirullah, anak maen perkosa perkosaan...

picture by kalam.ukm.upi.edu
Cerita Lebaran II

Sebenarnya sedih nulis tentang ini. Tapi rasanya bagian ini pantas dishare. Supaya tiap ibu berhati-hati dan menyadari bahwa ancaman pada anak nyata terjadi.
Masih dari momen lebaran. Seperti tahun – tahun sebelumnya, silah ukhuwah ke rumah guru ngaji  menjadi agenda wajib saya saat lebaran. Guru saya mengkaji Islam banyak. Tak semua bisa dikunjungi. Dengan segala keterbatasan, hanya sebagian yang dapat saya kunjungi. Ustadzah yang satu ini menyambut saya dan suami dengan suka cita. Kebetulan sudah ada tiga orang teman yang bertamu sebelum kami. Mereka belum hendak beranjak pulang saat kami tiba. Secara otomatis kami mengatur posisi. ustadzah, tiga orang teman dan saya sendiri bergabung di ruang tengah. Sementara, suami ustadzah dan suami saya beranjak ke ruangan yang terpisah dari kami.
Lama tak berjumpa kamipun saling menanyakan kabar, pengalaman selama lebaran dan ngobrol hal-hal ringan lainnya sembari minum teh manis dan makan kue khas lebaran. Di luar ruangan terlihat anak bungsu ustadzah yang berumur sekitar 3 tahun, Amam sedang bermain. Jalan di depan rumah ustadzah cukup besar, cukup ramai dan lumayan banyak kendaraan yang lalu lalang. Satu dari teman saya bertanya, “Nggak papa tu mbak, Amam main di situ?” sambil menunjuk ke arah Amam.
22 Juli 2015

Motivasi Ibu

ilustrasi by generusindonesia.wordpress.com

Cerita Lebaran I
            Lebaran penuh cerita. Bukan lebaran namanya kalau tidak berkunjung kerumah keluarga dan kerabat. Bertemu sapa, bertukar cerita dan merasakan pengalaman indah mereka. Cerita bahagia, ku dapatkan dari keponakan. Seharusnya kabar ini sudah ku ketahui sejak lama. Tapi karena satu dan lain hal, cerita ini baru kudengar saat kumpul lebaran.
            Beberapa waktu sebelum ujian akhir, kakak ipar ngobrol bareng anaknya/ ponakanku. “Dian, kalau Dian juara, trus dapat satu juta, enak juga ya. Dian bisa beli macam – macam.” Dian duduk di kelas 2 SD. Dia belum pernah dapat ranking puncak di sekolah. Capaiannya selalu di bawah 10 besar, mendekati angka 20. Nah, perusahaan swasta daerah rumah Dian memberi beasiswa sebesar 1 juta rupiah untuk siswa juara satu di Sekolah Dian. Makanya, kakak ipar berpikir, kalau Dian bisa meraih juara satu, lumayan hadiahnya. Tebak apa yang terjadi, saat pengumuman juara pasca ujian semester itu, Dian juara satu. Pengumuman tidak disaksikan secara langsung oleh ibunya Dian. Selesai pembagian rapor, Dian pulang dengan menyandang gelar juara. Sepanjang jalan menuju rumah, Dian bernyanyi riang, merasa senang. Sampai di rumah. Kalimat yang diucapkan Dian, “Dian nggak nyangka loh buk. Kok bisa ya, Dian juara satu buk.”
            Ibunya Dian sempat nggak percaya. Sebelum akhirnya benar – benar nyata terlihat tulisan dalam rapor, Dian juara I.
14 Juli 2015

Rakyat Hidup Prihatin

ilustrasi by www.ciputranews.com
            Di sebuah lokasi, warga Purwokerto, Jawa Tengah berdesakan dan berebutan menyerbu tumpukan baju bekas yang diobral murah, hanya seribu rupiah per lembar. Baju bekas layak pakai diburu demi bisa dipakai saat berlebaran nanti. Mereka sebenarnya bukan penyuka baju bekas, melainkan terpaksa membelinya, karena tak mampu membeli baju baru di toko. Tidak mengapa, karena tidak wajib berlebaran dengan pakaian baru. Yang disunnahkan saat lebaran adalah menggunakan pakaian terbaik. Sebagaimana sahabat Ibnu Umar yang menggunakan pakaian terbaiknya pada hari pertama dan kedua lebaran, (HR Al-Baihaki). Rasulullah Saw sendiri memiliki jubah khusus yang digunakan saat hari raya Idul Fitri.
            Sebagian masyarakat memang sanggup membeli baju baru untuk lebaran. Bahkan mereka sampai berbuat boros, yang dilarang dalam Islam. Hanya saja, ramainya masyarakat yang rela membeli baju bekas seharga seribu rupiah, menunjukkan tingkat kemiskinan di Indonesia. Sama halnya dengan tindakan 4 orang siswa SMP di Palembang yang mencuri bebek demi membeli baju baru. Bila sampai nekat mencuri, kemungkinan besar karena tak memiliki pakaian bagus untuk dipakai saat lebaran. Pemahaman agama yang kurang dan kondisi ekonomi yang sulit membuat mereka berbuat kesalahan.
11 Juli 2015

Tips Mudik Aman

picture by www.tempo.co
Jelang lebaran, musimnya mudik. Ada yang sudah pada mudik? Atau ada yang masih melakukan persiapan mudik dan akan berangkat mendekati hari H lebaran? Bagi yang sudah berangkat dan berada dalam perjalanan, semoga perjalanannya lancar dan selamat sampai tujuan ya, amin. Bagi yang lagi persiapan, berarti kalian sama dengan saya.
Kalau dua tahun belakangan, keluarga kecil saya berlebaran di rumah orangtua saya yang lokasinya nggak jauh dari rumah kami. Paling perjalanan menghabiskan waktu setengah jam dengan sepeda motor. Selesai sholat Ied di dekat rumah, kami langsung ke rumah orangtua saya. Setengah hari di sana, kami melanjutkan silaturahmi ke rumah mertua. Tapi lebaran kali ini gantian, kami sekeluarga langsung berangkat mudik ke rumah mertua dan menghabiskan lebaran pertama di sana. Rencana keberangkatan sama sih seperti sebelumnya. Sholat Ied dulu di dekat rumah, baru kami berangkat mudik, insya allah. Rumah mertua lebih jauh jaraknya dari rumah kami, ketimbang rumah orangtua saya. Tapi juga nggak begitu jauh. Ke rumah mertua ditempuh sekitar dua jam dengan sepeda motor. Di rumah mertua sekitar dua atau tiga hari, baru ke rumah ortu saya.
Kali ini, memilih mudik setelah selesai sholat Ied, alasannya karena suami ingin menghindari kemacetan dan demi promosi usaha. Lokasi usaha bimbingan belajar kami yang baru di samping toko kue. Semakin dekat lebaran, apalagi pada H-1, toko kue itu pasti ramai dikunjungi pembeli. Nah, kesempatan bagi bimbingan belajar kami untuk promosi. Maksudnya, kami akan menyediakan pernak pernik spanduk promosi, plus membiarkan bimbel tetap buka agar menarik perhatian para pembeli kue di toko sebelah. Syukur – syukur ada yang masuk ke bimbel dan tanya – tanya lalu mendaftar les. Jadi, kami ingin bimbel tetap buka meski sehari sebelum lebaran. Bisa aja sih, buka hanya setengah hari dan sore ditutup. Tapi ya begitu, kalau tetap mudik hari itu, pasti ramai sekali di jalan. Cari amannya, mending berangkat besok aja, selesai sholat Ied.
Biasanya, perjalanan mudik rawan kecelakaan kan ya. Apalagi yang mudik dengan kendaraan bermotor. Kita mesti menjadikan pengalaman orang – orang di masa lalu sebagai pelajaran. Segalanya memang kuasa Allah Swt, tapi kita wajib berusaha. Sebagai usaha maksimal kita, berikut hal – hal yang perlu dilakukan agar mudik aman dengan sepeda motor;
7 Juli 2015

Nikah Massal Picu Nikah Dini?


Pernikahan massal memicu pernikahan dini, begitu yang disampaikan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di sebuah koran lokal Medan. Sebagaimana kita ketahui bersama, pernikahan usia muda dianggap masalah terutama oleh pemerintah. Alasannya, pernikahan dini dapat meningkatkan angka kematian  ibu dan anak serta menjadi beban pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Maka, Kepala BKKBN menghimbau  kepada komponen masyarakat dan pemerintah daerah untuk tidak lagi mengadakan acara nikah massal.
Pernikahan massal atau nikah bareng sering digelar oleh berbagai pihak baik lembaga pemerintah maupun lembaga swasta. Seperti acara nikah massal yang digelar oleh PT. Bank Sumut bekerjasama dengan Kementerian Agama Kota Medan dan Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia Sumatera Utara di Lapangan Gajahmada Medan  pada tanggal 6 Juni 2015 lalu, http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/06/07/npk07d-100-pasangan-di-medan-nikah-massal. Usia pasangan bervariasi, dari yang muda hingga yang tua. Pasangan kakek nenek berusia 80 dan 68 tahun yang mengikuti acara nikah massal di Kediri menjadi pasangan pengantin tertua di acara tersebut, http://news.detik.com/jawatimur/2856935/wabup-kediri-hadiri-106-pasangan-nikah-massal. Sementara pasangan berusia 16 tahun menjadi pasangan termuda di event pernikahan massal di Istora Senayan tahun 2011 yang sempat tercatat dalam rekor dunia sebagai acara dengan jumlah pasangan pernikahan terbanyak, yakni 4.541 pasangan, http://www.republika.co.id/berita/senggang/unik/11/07/19/lol06m-rekor-dunia-nikah-massal-di-istora-senayan.
2 Juli 2015

Buka Puasa Bareng Ortu

ilustrasi by hsd-the-explorer.tumblr.com
Nikmatnya Ramadhan, salah satunya sebagai ajang silaturahmi. Terutama acara berbuka puasa. Semua muslim saya kira memanfaatkan momen berbuka puasa untuk mempererat hubungan silaturahmi dengan keluarga ataupun mengencangkan jalinan ukhwah diantara sesama muslim. Kalau keluarga kecil saya seperti biasa tiap Ramadhan ada hari dimana kami buka bareng dirumah orangtua saya. Sebenarnya di ramadhan lalu ada juga agenda pulkam ke rumah mertua. Namun kali ini kondisi nggak memungkinkan untuk kesana. Berhubung rumah orangtua saya nggak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, agenda berbuka dirumah ortu saya tetap kami lakukan.
Saya masih tinggal berdua aja sama suami. Belum ada momongan. Begitupun ibu saya, tinggal berbuda dengan nenek di rumah. Jadi kalo udah ngumpul lumayan rame, menyenangkan. Ibu saya tuh hobi masak. Waktu belum nikah, posisi saya di rumah sebatas jadi asistennya ibu saya. Dan berhubung di hari kami akan buka bareng, saya terkendala untuk datang lebih awal ke rumah ibu, jadi saya nggak sempat bantu – bantu. Maaf ya mak hehe.
ilustrasi by iresepi.com

Minggu, 21 Juni 2015 saya dan suami buka bareng ibu saya dan nenek. Ibu saya masakin bubur pulut hitam buat kami. Hemmm, bubur pulut hitam masakan kesukaan suami saya. Ceritanya kami baru pindahan, perlengkapan rumah belum sempurna tersusunnya. Sebelumnya suami ada bilang pengen dimasakin bubur. Belum sempat buatin karena rumah masih berantakan, eh pas buka puasa di rumah mamak, dapat bubur, alhamdulillah hehehe.
ilustrasi by cateringaisyah.com
Pulangnya kami dibontoti makanan, cukup untuk sahur besoknya. Alhamdulillah. Semoga mamak dan nenek sehat selalu dan berada dalam lindungan Allah Swt, amin