29 Juni 2015

Ramadhan, fokus Ibadah

image by www.renungkanlah.com 

Ramadhan, selain bulan berlimpah pahala, juga bulan panen buat pedagang. Pedagang musiman khusus menjajakan makanan berbuka menjamur, pedagang kue lebaran, pakaian, sepatu, alat – alat beribadah, semua menuai rizki yang lebih dibanding hari – hari biasa. Sebab, sudah menjadi kebiasaan muslim di Indonesia untuk memeriahkan Ramadhan dengan makan makanan istimewa dan menyiapkan perlengkapan lebaran berupa makanan dan pakaian. Ada pula yang memperdagangkan uang baru dengan harga penjualan 10% lebih tinggi dibanding jumlah uang yang ditukar. Untuk perdagangan uang, yang saya ketahui tukar menukar barang sejenis harus sama nilainya. Kalau salah satunya berlebih, itu sudah terkategori riba. Jual beli uang baru untuk kebutuhan THR ini cukup saya sayangkan.
By the way, yang ingin saya ceritakan ialah dua orang teman saya yang sehari – harinya rajin berdagang, namun di Ramadhan ini justru memilih istirahat dari berdagang. Padahal mereka menjual barang – barang yang juga dibutuhkan untuk lebaran seperti pakaian dan makanan. Mereka paham, kalau di bulan Ramadhan omset penjualan biasanya meningkat. Tapi bulan Ramadhan itu istimewa, datangnya sekali setahun, bulan diturunkannya al Qur’an dan bulan dilipatgandakannya pahala dari segala amalan. Inilah yang membuat mereka berat menghabiskan sebagian besar waktu mereka di bulan Ramadhan dengan aktivitas yang tidak berbau ibadah. Inginnya, diri fokus beribadah tanpa mengurusi kesibukan dunia.

Untuk para lelaki, bekerja adalah kewajiban. Berarti, bekerja di bulan Ramadhan seperti hari – hari biasa melipatgandakan pahala mereka. Tetapi, bagi perempuan hukum bekerja itu mubah, tidak berpahala dan tidak berdosa. Saya sependapat dengan kedua teman saya itu, kalau berdagang tidak begitu urgen, atau hanya untuk memenuhi pernak pernik lebaran semata, sebaiknya muslimah lebih memilih istirahat dari aktivitas berdagangnya selama bulan Ramadhan. Agar berhasil panen pahala. Salam ukhuwah J
5 Juni 2015

Ramadhan dan Batuk Keras


Alhamdulillah, bentar lagi Ramadhan. Siapa yang sudah nyium bau Ramadhan? Kalo saya, dengar lantunan ayat Qur’an jelang sholat maghrib, udah kayak siap – siap bedug buka puasa aja rasanya. Duh rindunya...

By the way, salah satu Ramadhan paling berkesan saya ialah Ramadhan tahun 2011. Waktu itu, saya mengalami batuk keras. Batuknya sudah lama, sejak beberapa minggu sebelumnya. Tapi, karena menganggapnya sakit ringan, saya hanya minum obat generik aja. Rupanya batuk saya terus berkepanjangan. Sampai bulan Ramadhan masih batuk, malah semakin keras. Saya tetap menganggapnya batuk biasa. Karena, saya merasa kondisi tubuh fit. Tidur pun nggak terganggu. Hanya sering batuk dan lumayan sakit mengeluarkan batuknya. Jadi, saya tetap beraktivitas seperti biasa. Saya tetap berpuasa, mengerjakan skripsi dan melakukan aktivitas pembinaan Islam di kampus.
Saat ngisi kajian dasar Islam di kampus, tiap beberapa kata terucap, saya batuk. Batuk dan batuk terus. Adik binaan kasihan melihat saya. Tapi kajian tetap berlanjut. Ramadhan bertepatan pula dengan masa penerimaan mahasiswa baru. Jadi, kami buat acara penyambutan untuk adik – adik mahasiswa baru. Kami nyiapin  acaranya bareng. Acara kami adakan di lantai dua. Sambil batuk – batuk saya ngangkat peralatan acara seperti sound system dan LCD proyektor ke lantai dua. Yang lain nyusun bangku dan nyiapin hal – hal lainnya. Alhamdulillah, acaranya sukses.
Dengan padatnya kegiatan, nggak terasa Ramadhan sudah di ujung. Pagi hari di tanggal satu syawal, saat akan pergi sholat Ied bareng keluarga dan tetangga, ibu sebelah rumah bilang ke saya, “Eva kok kurus ya?”. Ha. Buru – buru saya bercermin dan menatapi serius wajah saya. Memang kayaknya pipi saya agak menyusut. Setelah nimbang badan beberapa waktu kemudian, baru sadar, sudah turun berat badan 10 kg. Awalnya berat saya 62 kg, jadi 52 kg. Akhirnya saya harus berobat serius, karena belakangan ketahuan kalau saya kena infeksi paru – paru. Alhamdulillah, Ramadhan berkesan :)

“Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway Ramadhan In Love”
http://braveandbehave.blogspot.com/2015/06/kuis-giveaway-ramadhan-in-love.html
4 Juni 2015

Keluargaku Bentengku

egiitubeda.blogspot.com
Dia pelajar berseragam putih merah.Tapi, 6 bulan lagi ia akan berganti seragam, putih biru. Baru saja dia kedatangan tamu bulanan alias menstruasi. Fungsi organ tubuhnya sudah menuju kesempurnaan sebagaimana orang dewasa. Dia lagi puber, sedang beranjak remaja.

Ternyata tak selugu umurnya, dia banyak tahu. Televisi mengajarkannya makna kebahagian. “Bahagia ialah kalo kamu punya hp keluaran terbaru, baju bermerk, makan di restoran, dan semua kamu dapatkan dari pacarmu”.

Games mendidiknya untuk senang menghabiskan waktu sia-sia. Internet membuka wawasannya tentang hal-hal baru. Sayangnya, sesuai dengan paham hidup yang berkembang saat ini, dia lebih banyak menyerap wawasan busuk. Just fun for your life, lakukan apapun yang menyenangkan bagimu.Kalo ajaran kebaikan dari rumah, mungkin ada.

Dan sudah seharusnya seseorang dapat pendidikan di rumah.Namun, sepertinya kurang berpengaruh.

Jadi nggak pakek rasa risih, ketika dia menjalin hubungan dengan orang yang lebih pantas jadi bapaknya. Dia pacaran dengan wakil kepala sekolahnya.

Karena cinta? Aduh jangan alasan itu lagi deh. Basi. Punya pacar lelaki berduit bisa mewujudkan kebahagiaan sebagaimana ajaran di TV. Bumbu syahwat bisa jadi juga menyertai. Kan dia belajar tentang itu juga dari dunia maya.

Mau bilang apa ya, hemm miris banget. Anak ingusan yang seharusnya getol bergelut dengan pelajaran, tapi malah pacaran.

Dan dia menjadi selingkuhan gurunya sendiri. Ya Allah, sudah sedemikian rusakkah pemuda saat ini.Prilaku si guru lebih layak lagi disesali. Pendidik kok nggak mendidik.
1 Juni 2015

Janji




Cewek itu suka yang pasti-pasti saja. Nggak mau yang neko-neko. Sama persis kayak teman saya yang satu ini. Terjebak dalam hubungan pacaran, sesungguhnya yang ia dambakan adalah pernikahan. Dia tahu apa itu pacaran. Kapanpun lelaki itu mau ninggalin dia, bisa. Kalau nikah kan nggak segampang itu. Meski kini pun banyak pria yang seenaknya ninggalin keluarganya, namun tetap saja kenyamanan lebih terasa pada hubungan pernikahan. Sebab,pernikahan diakui Allah Swt.
Hubungan mereka udah hitungan tahun. PDKTnya udah sejak kelas satu SMA. Jadiankelas tiga, lalu pacaran hingga bertahun tahun lamanya. Sebenarnya, sejak tamat SMA dia gelisah. Dia ingin cepat dilamar pujaan hatinya. Tapi si cowok belum siap menikah. Mental belum siap, kantong apalagi. Gelisah si cewek dijawab dengan janji, “Iya kita nikah kalo tabungan udah cukup.” Cukupnya kapan? Standar cukupnya berapa tu tabungan? Nggak jelas. Tahun depan janji ditagih. Si cowok masih bilang, “Iya nanti, tabungannya belum cukup.”
Janji terus ditagih. Namun jawabannya adalah janji lagi. Genap sepuluh tahun usia pacaran mereka. Namun janji tak kunjung dipenuhi. Sepuluh tahun ngumpulin duit buat nikah,sekaligus mereka nabung dosa. Apalagi pakek acara tunangan segala. Tunangan yang diartikan hubungan setengah jadi. Mereka berdua merasa lebih leluasa berbuat lebih dari sebelumnya. Entah seperti apa gaya hubungan mereka. Entah sebebas apa. Entah dosanya sudah seberapa. Wallahu a’lam.

Jangan Abaikan Al Qur’an


Waktu kecil, rata-rata muslim belajar baca Al Qur’an. Mulai mengenal huruf hijaiyah, melafadzkan satu dua hurufnya, hingga akhirnya mampu membaca Al Qur’an. Mereka belajar dengan berbagai cara. 

Ada yang diajarkan langsung oleh orangtua, ada yang manggil guru ke rumah, adapula yang datang ke rumah guru untuk mengaji. Seperti aku, dulu belajar baca Qur’an sama kawan – kawan ke rumah guru. Beramai – ramai kami ngaji dan berlomba untuk bisa baca Al Qur’an. 

Bagi yang naik kajian dari buku Iqra’ ke Al Qur’an, biasanya membawa pulut kuning dengan inti (kelapa campur gula merah) dan telur. Makanan itu dibagi – bagikan sebagai rasa syukur sudah mampu baca Al Qur’an. Setiap malam kami dekat dengan bacaan Al Qur’an. 

Meski anak sekarang mengenal teknologi dunia maya ataupun games, aku pikir kebiasaan untuk belajar baca Al Qur’an di waktu kecil masih dilakukan. Rasanya akrab dengan Al Qur’an.

Sudah beranjak dewasa, keadaan tak seindah di masa kecil. Saat aku kuliah, waktu uji kemampuan baca Al Qur’an, banyak mahasiswa yang tak lagi akrab dengan Al Qur’an. 

Ada yang membacanya dengan terbata – bata, ada yang bahkan huruf hijaiyahpun sudah lupa.Baca al Fatihanya juga salah pengucapannya. 

Saat  tim dakwah kami mengadakan kajian dasar Islam bersama 3 orang mahasiswi yang bersedia dibina, kejadian serupa terulang. Salah satu dari mereka lupa – lupa ingat bacaan al Qur’an. 

Sepertinya sudah begitu lama tak berjumpa dengan huruf-huruf itu. Rasanya jauh dengan Al Qur’an.