Selasa, 26 Mei 2015

Teroris Botak


Ternyata teroris itu orang-orang botak, begitu penggalan kalimat di media sosial yang menggambarkan Biksu Ashin Wiirathu dan pengikutnya. Biksu yang memang botak plontos ini, digambarkan oleh Majalah Time sebagai wajah teror Budha dari Burma.
Biksu Budha ini dan para pengikutnya telah menunjukkan ajaran welas asih Budha di Burma (Myanmar). Dengan jubah agamanya, dia menyebarkan kebencian kepada Muslim Rohingya hingga menjadi pemicu pembantaian dan pengungsian ribuan manusia.
Dalam sebuah video yang menyebar di Youtube, si Biksu Budha ceramah di depan para pengikutnya. Dia menjelaskan kebenciannya kepada umat Muslim: karena punya solidaritas di antara sesama Muslim. Selain itu karena dia khawatiran Burma menjadi seperti Indonesia dengan populasi Muslim terbesar. (Saya tidak bisa bayangkan apa yang terjadi jika alasan yang sama digunakan di setiap negara dengan umat Budha minoritas).
Maka teror pun berlangsung secara "telanjang". Dia menjalankan ajaran kebaikan dengan melarang orang Budha belanja di toko Muslim, yang membuat Burma menjadi negara diskriminatif dan teror terbuka bagi Muslim. Untuk ini dia kemudian di penjara selama 25 tahun. Ketika rezim Burma berganti, kepemimpinan Presiden Thein Sein membebaskannya di tahun 2012 lalu--dari seharusnya 2028.

Tidak perlu lama, keluar penjara dia langsung menyebarkan ajaran kelembutan agamanya dengan melakukan teror terhadap umat Islam. April 2013, di kota Meiktila, 20 anak laki Muslim diambil dari madrasah dan dibunuh. Mayat-mayat mereka disiram bensin dan dibakar.
Ribuan lainnya ketakutan luar biasa. Mereka umumnya kelompok tak berdaya, perempuan dan anak-anak. Teror dari ajaran agama yang ditebar Biksu Budha telah menimbulkan ketakutan yang sangat--memaksa mereka berlayar berbulan-bulan dengan kapal nelayan yang sangat sederhana. Mereka menempuh maut untuk mencari hidup.
Oleh : Dedi Syahputra (Penggalan Foliopini, 25/05/2015)
Film Muhammad Al Fatih produksi barat menggambarkan, sang panglima memasuki negeri taklukan Konstantinopel tanpa menumpahkan darah warga sipil seorang pun. Ia berdiri dihadapan rakyat Konstantinopel yang sedang ketakutan menanti aksi kaum muslim. Lalu ia menyampaikan ucapan yang melegakan, bahwa takkan ada yang disakiti. Islam itu adil, anti diskriminatif. Hak dan kewajiban mereka berkaitan dengan aturan kemasyarakatan sama dengan warga negara lainnya dari kalangan kaum muslim. Hingga detik ini tak pernah tercatat dalam sejarah kaum muslim membantai warga sipil non muslim. Bukti lainnya, bahwa banyak bangunan gereja yang masih berdiri dibekas negara Khilafah, yaitu Turki.
Di Indonesia saat ini, kaum muslim mayoritas. Meski mengetahui saudaranya dibantai habis-habisan oleh para Biksu Budha di Myanmar, tak lantas kami ramai – ramai mengucilkan atau mengganggu kehidupan umat Budha seperti orang Eropa berlaku jahat kepada kaum muslim Eropa saat marak isu ISIS.
Lanjut pak Dedi,
Bahwa hubungan antar masyarakat di dunia ini adalah hubungan yang tak setara, tak selalu universal, tak memihak pada keadilan. Inilah rahasia di balik diamnya orang Inggris, Amerika dan sekutunya melihat pembantaian manusia Myanmar di depan mata. Mereka tidak galak seperti ketika terjadi diskriminasi agama dan ras di negara Timur Tengah, atau Indonesia. Mereka gak bakalan mau mensponsori terbentuknya Densus 969 di Burma, atau mendanai aktivis HAM di sana. Maka terjawablah mengapa aktivis HAM di negeri ini juga seolah "tiarap".
***
Di mana peran media? Ini menjadi bagian yang menariknya. Media menjadi pihak yang meneruskan, membelokkan, mengecilkan, dan membesarkan peristiwa-peristiwa penting ini. Dan setelah meneliti berita-berita tentang perang seperti di Irak, Afghanistan, dan Kosovo, David Edwards, dan David Cromwell kemudian menyimpulkan kebebasan media cuma mitos. Kesimpulan yang kemudian menjadi judul buku mereka Guardians Of Power; The Myth Of The Liberal Media. Buku yang oleh Jhon Pilgerdinyatakan sebagai buku paling penting yang diingatnya.
Polarisasi selalu terjadi pada tiga segitiga yang saling bertalian; Pemerintah, kelompok kepentingan, dan media. Jika pemerintah adalah Barat dan aliansinya, maka kelompok kepentingan bisa kelompok agama (biasanya Yahudi, dan Budha adalah contoh terbaru di Burma). Sedangkan media dimaksud adalah media mainstream yang menjadi pengisi kepala banyak manusia di dunia ini.
Demikianlah dinamika kehidupan dunia ini berlangsung. Kalau yang berjenggot dan bercelana cangkring adalah wujud teroris yang sengaja ditempelkan, maka di Burma, yang botak dan berjubah oranye adalah teroris yang dilestarikan.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...