Selasa, 26 Mei 2015

Menuju Puncak RPA Jakarta


Tak ada yang lebih layak diucapkan selain alhamdulillah, tsumma alhamdulillah,tsumma alhamdulillah atas terselenggaranya acara Rapat dan Pawai Akbar (RPA) 1436 H gelombang pertama pada 10 Mei 2015 lalu tanpa kendala yang berarti.  Hizbut Tahrir Indonesia sebagai penggagas acara RPA merasa bahagia, karena ramai umat Islamyang telah mengikuti acara tersebut di 17 kota yaitu Medan, Padang, Pekan Baru, Palembang, Batam, Bengkulu, Lampung, Semarang, Sorong, Yogyakarta, Surabaya, Mamuju, Mataram, Baubau, Palangkaraya, Palu dan Samarinda.Insya allah kota – kota lainnya menyusul, hingga menggenapi 36 kota untukmengadakan acara yang sama. Puncak acara RPA akan diadakan di Gelora Bung Karno Jakarta pada tanggal 30 Mei 2015 yang insya allah menghadirkan ratusan ribu umat Islam.
Hingga detik ini, HTI tetap mempertahankan komitmen perjuangan penegakan Syariah dan Khilafah.Meski jalan dakwah dihantam berbagai cobaan, namun komitmen perjuangan Islam masih akan terus dipegang hingga cita-cita itu tercapai, insya allah. Acara RPA adalah salah satu bentuk kegiatan yang dihelat untuk semakin memperluas dan memperkuat opini Syariah dan Khilafah ke segala penjuru wilayah di Indonesia bahkan dunia.Karena tegaknya Khilafah mutlak memerlukan kesadaran umat Islam di berbagai kalangan terutama para intelektual. Islam tidak akan dipaksakan untuk diterapkan. Khilafah tidak akan ditegakkan dengan jalan kekerasan. Syariah dan Khilafah akan tegak dengan kerelaan umat Islam, bahkan dengan kerinduan yang teramat sangat untuk diatur dengan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ini pula alasan mengapa tema besar yang diusung pada acara RPA yaitu “Bersama Umat Tegakkan Khilafah”.
Mari mengingat kembali sejumlah alasan mengapa umat Islam harus memusatkan perhatian dan bersama – sama berjuang untuk tegaknya Syariah dan Khilafah. Pertama, perjuangan ini tak lain merupakan panggilan akidah kita. Syahadat la ilaha illallah muhammadurrasulullah bermakna ketundukan total hanya kepada Allah Swt dengan jalan mengikuti wahyu yang diturunkan Allah Swt kepada nabiyullah Muhammad Saw. Seluruh aturan Allah Swt yang termaktub dalam Al Qur’an dan As sunnah menjadi sebuah keharusan untuk dijalankan sebagai bukti dari syahadat umat Islam. Tidak boleh kita membeda – bedakan antara ayat Allah yang satu dengan ayat Allah yang lainnya. Ibadah mahdhoh yaitu sholat, puasa, zakat dan haji harus dijalankan sebagaimana aturan Islam tentang akhlak. Kewajiban bermuamalah dan melaksanakan sanksi Islam harus dilaksanakan sebagaimana wajibnya menutup aurat.
Sebagai contoh, ada dua ayat dalam Al Qur’an yang memiliki kesamaan redaksi. Yang membedakan kedua ayat tersebut hanya isi perintahnya saja. Yaitu Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 183 yang berbunyi : “Hai orang – orang yang beriman diwajibkanbagi kamu berpuasa.” Lalu Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 178 berbunyi, “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.”Artinya kewajiban berpuasa dan menjalankan hukum sanksi qishaashtak boleh dibedakan. Keduanya harus dperlakukan sama, harus sama-sama dijalankan. Namun saat ini aturan berpuasa bisa kita laksanakan, tetapi aturan sanski Islam yaitu qishash tidak dapat kita laksanakan. Sebab Indonesia tidak menerapkan syariah Islam secara total. Institusi yang mampu menjalankan Syariah Islam secara total hanya Khilafah. Syahadat kita akan benar – benar terwujud secara sempurna dalam bingkai Khilafah.
Alasan kedua urgensi perjuangan penegakan Khilafah ialah bahwa Indonesia sedang terancam oleh Neoliberalisme. Liberalisasi budaya semakin menjangkiti masyarakat terutama remaja. Kita dapat menyaksikan bagaimana aksi remaja melepas masa sekolahnya. Pasca UN mereka mengadakan pesta seks dan tawuran. Budaya kebebasan menjadikan para perempuan semakin kehilangan harga dirinya. Terlihat dari bisnis prostitusi yang baru – baru ini terungkap dan melibatkan para artis ibu kota. Tak tanggung – tanggung para artis itu menjual kehormatannya seharga 80 hingga 200 juta (Waspada, 8 Mei 2015). Bukan tidak mungkin fakta-fakta lain yang lebih mengejutkan akan muncul kepermukaan seiring semakin menguatnya cengkraman neoliberalisme.
Belum lagi bicara soal liberalisasi ekonomi. Pencabutan subsidi membuat harga BBM, listrik, pupuk dan kebutuhan masyarakat lainnya semakin mahal. Pemberlakuan pasar besar yaitu Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), mematikan potensi ekonomi rakyat Indonesia yang kebanyakan dari kalangan bawah.Liberalisasi pendidikan membuat biaya pendidikan semakin mahal. Liberalisasi kesehatan membuat pelayanan kesehatan terbaik hanya dapat dinikmati oleh orang – orang berduit.  Neoliberalisme sebagai bagian dari ideologi kapitalisme membahayakan kehidupan rakyat Indonesia di semua sisi.
Alasan ketiga ialah bahwa penerapan Syariah dalam wadah Khilafah menjanjikan keberkahan. Allah Swt berfirman dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 96 :”Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”Islam dijamin mampu menyelamatkan umat dari neoliberalisme dan neoimperialisme. Syaratnya, perkuat keimanan dan ketaqwaan dan terapkan Syariah Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah. Maka berkah Allah Swt dari langit dan bumi akan diberikan kepada kita. Hidup akan nyaman di dunia dan selamat di akhirat karena Allah ridha pada kita.
Bila pergerakan dilakukan karena emosi semata, niscaya api semangat perjuangan akan cepat padam. Namun, bila alasan perjuangan karena keimanan dan pemikiran Islam, insya allah semangat itu akan tetap berkobar. HTI menyeru umat untuk berpartisipasi pada acara puncak Rapat dan Pawai Akbar 1436 H di Jakarta tanggal 30 Mei 2015 yang akan datang. Ayo dukung perjuangan Syariah dan Khilafah. Terus kobarkan semangat perjuangan hingga kemenangan Islam benar – benar kita saksikan atau jiwa terlepas dari raga dalam keadaan mulia. Wallahu a’lam bishawab.
Dimuat di Waspada Medan 25/05/2015
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...