Selasa, 19 Mei 2015

Ditampar Maut



Hari itu kampusku gempar. Kabarnya, sepasang muda mudi yang terdaftar sebagai mahasiswa dikampusku mengalami kecelakaan motor. Motor yang mereka tumpangi tak terelakkan, terbentur sebuah mobil truk berbadan besar. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, satu dari mereka menghembuskan nafas di tempat. Ia gadis yang kuliah baru seumur jagung. Belum genap setahun. Sementara yang pria sekarat dan segera dilarikan ke rumah sakit oleh pak polisi. Mengenai supir truk, tak mau diamuk massa dia buru-buru melarikan mobilnya ke kantor polisi untuk menyerahkan diri.
Bagai ditampar, semua yang mendengar terkejut dan sedih. Siapa yang menyangka, mahasiswi yang tadinya baru saja berada di kampus, ceria dan bercanda bersama teman-temannya, lalu pulang diantar pacarnya, kini telah terbujur kaku tak bernyawa dalam keadaan mengenaskan. Keluarga berduka, teman-teman pun berbela sungkawa. Surat kabar memuat kejadian itu dan media sosial ramai membicarakan selama beberapa hari.
Begitulah hidup, rahasianya hanya Allah yang tahu. Saya ikut sedih dengan peristiwa itu. Semakin tersadar diri ini, bahwa hidup di dunia sementara. Ada saat dimana nyawa berpisah dari raga. Kematian, tak kenal tua ataupun muda. Siapa saja, bila sudah tiba saatnya akan kembali kepada Rabbnya. Dan yang paling dikhawatirkan adalah pertanggungjawabannya.
Firman Allah Swt :
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”(QS. Ali Imran:185).
Sobat, kita tidak tahu, sama sekali tidak tahu kapan giliran kita. Kapanpun bisa. Tidak peduli kita siap atau sebaliknya. Tidak peduli sedang taat atau sedang maksiat. Hari itu akan datang.
Itu yang semakin membuat saya sedih. Karena gadis itu berpulang dalam keadaan berduaan dengan pacarnya. Gadis itu kembali pada Rabbnya saat bermaksiat. Bagaimana pertanggungjawaban dihadapan Allah kelak?
“YaAllah, berikan ampunanMu padanya. Ya Allah, jadikanlah amal ibadah selama hidupnya sebagai pemberat timbangan kebaikan dihadapanMu”. Itulah harapan kita kepada teman kita yang sudah tiada. Meski kita tidak tahu apa Allah mengampuni dosa-dosa beliau atau tidak.



Sobat, mari kita belajar dari peristiwa kematian di sekitar kita. Kita mau menyambutnya dengan apa? Bergelimang amalan baik ataukah sebaliknya? Sedang taat atau bermaksiat? Sebelum masa itu tiba, terbuka lebar kesempatan bagi kita untuk mengisi hidup dengan amal baik. Kita hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik dalam hidup ini.Sebelum terlambat, mari berbenah.

Semoga Allah memperkenankan kita berpulang padaNya dalam keadaan sedang sholat, sedang bertaubat, sedang mengkaji Islam, sedang berdakwah, sedang memikirkan keadaan umat, sedang mendoakan kebangkitan Islam dan sedang melakukan amalan-amalan yang disukai Allah Swt lainnya, amin. Sungguh, kita berharap mati dalam keadaan khusnul khatimah.
kutipan seorang penyair

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...