Minggu, 31 Mei 2015

Belajar Dari Kucing

http://mewarnai.us/309014-gambar-kucing-kucing-lucu-kucing-persia-kucing-anggoraanak-kucing
                Sebenarnya aku tak begitu suka dengan kucing. Tapi kucing yang ada di rumahku baik. Dia menjaga rumahku dari tikus-tikus nakal. Dia sangat gesit. Penciumannya tajam. Tikus yang coba iseng menginjakkan kaki di rumahku, tak berkutik disambar si kucing. Haap, secepat kilat kucing itu menangkap, lalu menikmati si tikus lezat tanpa sisa. 

                “Terima kasih ya kucing. Kau memang baik. Karenamu rumahku terjaga”. 

            Aku belum menamai kucing di rumahku. Ya karena itu, aku kurang suka padanya. Tapi, bukan pula aku membencinya. Hanya tak suka bermain dengannya. Ini masalah trauma masa lalu. Saat dulu aku pernah dicakar kucing yang sedang ku ajak bermain.

             Meski enggan menyentuh atau bermain-main dengannya, aku senang mengamati pola tingkah kucing itu. Dia kucing betina yang lucu. Bagi sesamanya dia pasti cantik. Buktinya ada dua kucing jantan yang sering mendekatinya. Yang satu kucing berbulu belang hitam putih bertubuh agak kurus. 

             Yang satunya lagi berwarna abu-abu bertubuh gemuk. Si jantan belang bertubuh kurus terlihat lebih sering bersama si kucing betina ketimbang yang satunya. Saat si jantan yang satunya melihat mereka berduaan, dia mengerang tanda marah. Sesaat kemudian kedua jantan itu  berkejar-kejaran. 

                 Lalu mereka saling serang, memperebutkan si betina. Di lain hari, si kucing betina terlihat berganti pasangan. Dia enjoy bersama si jantan bertubuh gemuk. Tak berapa lama kemudian datang si jantang belang. Kejadian yang pernah terjadi berulang. Mereka berkejar-kejaran, lalu saling serang memperebutkan si betina.

                Aku suka mengatakan, saat si kucing betina sedang bersama si jantan belang, mereka pacaran. Habis hubungan mereka memang mirip dengan orang yang sedang pacaran. Mereka tak butuh ikatan pernikahan untuk bisa dekat. 

                 Saat saling suka, mereka dekat dan bermesraan. Saat si betina berganti pasangan, aku sebut dia sedang selingkuh. Habis, tak perlu menikah apalagi berpoligami, dia mudah saja dekat dengan jantan lainnya. Mirip kan dengan prilaku manusia. Sebenarnya, kucing yang mirip manusia atau manusia yang mirip kucing ya?

                Belajar dari mengamati kucing yang baik itu, aku jadi prihatin kepada sesamaku. Allah Swt begitu baik. Allah Swt Sang Pencipta telah telah menganugerahi akal kepada manusia. Dengan akal itu derajat manusia dilebihkan atas makhluk Allah lainnya. 

             Jika akal digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, lalu menggunakannya untuk mengatur kehidupan, saat itulah mereka menjadi mulia. Saat mereka memenuhi naluri menyukai lawan jenis dengan aturan kehidupan dari Allah Swt, saat itulah ia pantas menduduki derajat lebih tinggi dari hewan dan makhluk Allah yang lainnya. 

             Kalau kucing berhubungan dengan lawan jenisnya tanpa aturan, itukan wajar. Dia tidak punya akal. Namun sebaliknya, jika manusia yang berbuat demikian, namanya apa? Mari belajar dari hewan di sekitar kita. Tak selayaknya aktivitas kehidupan kita sebagai manusia sama seperti mereka. “Terima kasih kucingku yang baik, atas pelajarannya.”
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...