Sabtu, 11 April 2015

Amanah Pembekalan UN

hanya ilustrasi, diambil dari https://plus.google.com

        Meski untuk tahun ini UN bukan penentu kelulusan, tetapi tetap saja dirasa penting untuk bersiap menghadapinya. Sebagai tim pengisi kajian Islam remaja di sekolah, saya diamanahkan oleh guru agama Islam dan guru bimbingan konseling SMA Yapim Medan untuk memberikan pembekalan akhir terkait UN kepada siswi yang beragama Islam. Saya menyampaikan materi berjudul “UN, Cool Aja”. Judul tersebut saya ambil dari pembahasan yang dibawakan Mario Teguh diacara kebesaran beliau “Mario Teguh Golden Ways”. Sebanyak 32 orang siswi yang beragam Islam mengikuti acara ini. Sekolah Yapim memang mayoritas siswanya adalah non muslim. Jadi jumlah 32 orang murid muslimah yang ikut kajian bersama saya sudah hitungan maksimal.
        UN....., saya bisa, saya bisa, Allahu Akbar. Itulah bunyi yel-yel yang disuarakan oleh para siswi tersebut. Saya berharap, kata-kata tersebut dapat lebih menyemangati mereka. Mereka bisa lulus UN secara terhormat (tanpa curang), asalkan mereka bersama Allah yang Maha Besar. Artinya, mereka harus berusaha menghadapi ujian dengan jujur, agar Allah Swt ridho kepada mereka.
        Selama ini, UN dipandang suatu hal yang menakutkan bagi siswa. Meski sudah les tambahan, tetap saja masih merasa takut. Seperti curhat salah satu siswi, “soal Matematika sulit kak. Udah beberapa kali try out tetap nilainya jelek, nggak mencapai target minimal. Jadi ya takut menghadapi UN”.
Takut itu, karena konsekuensi nggak lulus UN dianggap besar. Mereka akan merasa malu dan orangtua akan kecewa berat karenanya. Seolah kelulusan itu penentu masa depan. Saya bilang, “Kan kalo nggak lulus bisa ikut paket C.”
        “Iya, tapi nanti sulit diterima kerja kak”. Bela mereka.
        Padahal banyak yang jadi orang hebat (kalo ukurannya memang harta), nggak lulus UN. Bahkan sama sekali nggak pernah ikut UN. Karena sekolahnya pun nggak dilanjutkan hingga selesai, seperti misalnya konglomerat Bob Sadino. Yaaah, tapi bagaimanapun, UN bagian dari evaluasi belajar paling akhir. Jadi sudah seharusnya menjadikan ia penting. Hanya saja saya menyarankan, jangan takut yang berlebihan. Karena merasa takut, justru akan berefek buruk, bisa mengurangi konsentrasi saat ujian.
        Sebenarnya siswa yang serius belajar dan sering mengulang pelajaran secara rutin meski tak sedang ingin menghadapi ujian, pasti nggak takut menghadapi UN. Hanya saja, kebanyakan dari pelajar tidak memiliki motivasi yang kuat untuk belajar. Mereka tidak paham tujuan dari belajar. Sehingga, hanya tergerak belajar kalo mau ujian. Mereka senang menghabiskan waktu untuk kegiatan hiburan. Nonton konserlah, asyik OL, nongkrong sana sini dan kegiatan sia-sia lainnya. Saya tanya kepada salah seorang siswi, “sejak kapan mempersiapkan UN dek?”
“Sejak sekolah mengadakan les tambahan untuk persiapan UN”.
Rupanya, persiapan UN hanya beberapa bulan saja. Itupun belajarnya nggak setiap hari. Pantas, persiapan nggak matang hingga menimbulkan keraguan akan kelulusan. Kalo saja dipahami bahwa belajar adalah bagian dari ibadah, pasti belajar menjadi suatu yang menyenangkan. Kalo saja cinta kepada Allah ditempatkan paling utama, maka aktivitas apapun yang menghasilkan pahala dari Allah Swt pasti semangat dilakukan. Jangankan belajar ilmu pengetahuan, bahkan yang utama pemahaman Islam pun akan semangat dipelajari. Karena keduanya sama penting dihadapan Allah Swt. Inilah masalahnya, motivasi belajar yang belum lurus. Sekolah juga seharusnya menyajikan proses belajar mengajar yang menyenangkan bagi siswa serta membantu untuk membentuk motivas belajar siswa.
Itulah pesan saya pada para siswi, agar mereka meluruskan kembali motivasi belajar mereka. Mereka harus memahami hakikat diri sebagai makhluk Allah Swt, agar mencintai belajar dan nggak takut ujian. Kalo kali ini persiapan terlanjur kurang matang, maka ini menjadi pelajaran ke depan. Agar ujian-ujian yang akan datang bisa dihadapi dengan lebih baik.
Tak lupa saya kasih tips juga untuk meminimalisir kesalahan teknis saat ujian. Seperti menjaga kesehatan, tidur yang cukup, mempersiapkan peralatan dimalam hari jelang ujian, sarapan dan lain sebagainya.
Dan yang paling penting saya sampaikan kepada mereka adalah, tawakkal kepada Allah. Sesuai judul materi saya untuk mereka, hadapilah UN dengan tenang, berdoalah sungguh-sungguh kepada Allah Swt. Minta juga doa orangtua. Ridho orangtua adalah ridho Allah Swt. Seberapapun usaha kita, tetap Allah Swt yang Maha menentukan hasilnya. Serahkan semua kepada Allah Swt. Semoga dengan usaha yang selama ini dilakukan, diganjar Allah Swt dengan kelulusan.
Saya sampaikan pula, sebagai hamba Allah Swt, sudah seharusnya kita berpikir untuk selalu menjadi lebih baik. Ujian sekolah belum seberapa dari ujian kehidupan. Yang dibutuhkan adalah pemahaman Islam agar suskes dalam kehidupan dunia dan akhirat. Pelajarilah Islam, pahami dan amalkan.

Acara ditutup dengan doa. Semoga adik-adik semua lulus UN, amin.  
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...