Kamis, 12 Maret 2015

IBU OTOMATIS

Picture by me
Kupandangi balita itu yang hanya terdiam saat sang ibu menghela dengan kasar tangannya seraya bilang, “ntah apa aja la kerjaannya”. Gadis kecil itu baru saja dimarahi karena memegang sebuah benda di kedai saat ikut ibunya belanja. Benda itu dianggap nggak layak dipegang si anak, karena kotor dan baunya tak sedap. Ingin sekali aku bilang, “Anak itu bukan sedang berbuat nakal. Tapi dia ingin tahu benda yang ada disekitarnya”. Sebenarnya si ibu cukup menyebut nama benda itu, lalu dengan lembut melarang sang anak agar jangan memegangnya karena sebuah alasan tertentu. Dengan begitu, ada kebaikan yang bisa didapat. Anak dapat tambahan kosa kata. Yaitu nama si benda. Sekaligus informasi tentangnya, bahwa itu benda yang cukup dilihat saja, tidak perlu dipegang. Ekspresi si balita, menunjukkan kalau dia sering diperlakukan kasar oleh ibunya. Tanpa sadar, si ibu sedang membentuk anak pemalu, penakut dan minderan. Beginilah kalau jadi ibu otomatis.

Lain hari aku melihat seorang ibu menyisir dengan kasar rambut anaknya yang ikal, lebat dan panjang. Ia terlihat kesal. Mungkin karena kesulitan menyisir rambut anaknya. Atau karena lain hal, wallahu a’lam. Yang jelas  kepala si anak sampai dihempas-hempaskan agak keras. Kalau memang masalah rambut yang sulit disisir, yah gimana nggak sulit, dia menyisir dengan sisir bergigi rapat dan berukuran kecil. Trus, di sisir dari pangkal. Terang aja susah, sisir itu nyangkut di tengah jalan. Nggak tersisir sampai ujung rambut. Seharusnya si ibu bisa mengatasi dengan menggunakan sisir bergigi jarang dan berukuran besar serta mulai menyisir dari ujung rambut. Bisa juga ditambah dengan pelembab rambut atau minya rambut biar tambah mudah menyisirnya.
Tapi yang jadi inti, sebenarnya bukan teknik menyisir si ibu yang salah. Melainkan bagaimana seorang ibu bersikap terhadap anaknya ketika si anak membuatnya kesal. Dengan berbuat kasar, hemm, benar-benar bukan sikap yang baik. Apa si ibu nggak sadar bahwa dia sedang menempa si anak menjadi seorang yang berperangai kasar. Ibu yang ini pun kelihatannya demikian, menjadi ibu karena otomatis.
Waktu aku pulang dari suatu tempat, dipinggir jalan terlihat dua orang ibu dan anak balita berjalan beriringan. Sesekali si ibu membenturkan pelan helm yang dibawanya ke kepala si anak disertai wajah sangar. Si anak hanya terisak. Semakin keras suara isak tangisnya, semakin bertambah daya bentur helm itu. Kasihan. Mungkin memang si anak yang salah. Biasanya anak-anak merengek di jalan saat ada keinginannya yang tak dipenuhi ibunya.  Biasanya pula si ibu jengkel menyaksikan tingkah laku anaknya seperti itu. Kalau nggak diteriaki, ya kayak nasib anak ini, ditoyor (dipukul) kepalanya. Hemm, kalau saja si ibu bisa bersikap bijak. Cukup diam sambil membelai kepala si anak dan menggandeng tangannya saja, tanpa bentakan, tanpa pukulan, insya allah, tangisnya berhenti. Kalau masih beralasan, si anak bereaksi lebih keras dari sekedar isak tangis, ya tetap diam saja. Udah capek juga si anak diam. Jangan lukai dia dengan sikap kasar kita. Tapi begitulah kalau menjadi ibu otomatis.
Ibu otomatis, istilah ini ku dapat dari seorang pakar sosial kemasyarakatan, Iwan Januar. Beliau bilang, bahwa perempuan bisa saja otomatis bergelar ibu karena dia melahirkan, tapi dia tidak bisa otomatis menjadi pendidik. Sementara, mendidik adalah tugas ibu. Jadi, kalau mau jadi ibu ideal, ibu berkualitas yang melahirkan anak-anak cerdas dunia akhirat, nggak bisa hanya bergelar ibu otomatis. Para muslimah, jauh sebelum menikah harus mengisi dirinya dengan ilmu mendidik anak yang diajarkan Islam. Kalau ibu otomatis, memperlakukan anaknya sebagaimana perlakukan orang-orang terdahulu kepadanya. Kalau kebetulan dididik dengan baik, ia akan wariskan itu pada anaknya. Begitu sebaliknya. Kalau ibu cerdas ala Islam akan memperlakukan anaknya sesuai petunjuk Al Qur’an dan As sunnah. Dia akan menyaring, hanya nasehat maupun pengalaman baik dari orangtuanya yang akan dia teruskan kepada anaknya. Hasilnya, bukan anak yang minderan, pemarah dan kasar seperti anak-anak sekarang. Melainkan akan seperti generasi Islam terdahulu, layaknya Imam syafi’i dan teman-temannya.
Namun, kita sulit berharap dalam masyarakat saat ini akan muncul ibu-ibu tangguh ala Islam. Kalaupun ada, jumlah mereka sangat sedikit. Sebab, kita hidup dalam sistem sekuler, dimana masyarakat saat ini memandang agama sekedar urusan ibadah mahdhoh saja, tidak mengatur kehidupan. Paham sekuler membentuk pribadi berpikiran pendek. Mereka mencari jodoh dengan pacaran. Lalu waktunya menikah tiba, yang dipirkan pestanya, undangannya, baju pernikahannya, bulan madunya dan pernak-pernik lainnya. Sudah menikah, tinggal mikirin mau hamil, nyiapain biaya melahirkan, nama bayi, baju bayi, dan pernak-perniknya. Lah, mikirin dan nyiapin ilmu mendidiknya kapan? Yah paling mengamati sekitar dan berdasarkan pengalaman aja.  Buku-buku mendidik anak bertebaran dimana-mana, tapi para muslimah jarang yang terdorong untuk membacanya.
Pendidikan saat ini pun tidak punya program untuk menyiapkan para ibu tangguh, tidak memberi para muslimah penyadaran bagaimana melakukan peran utamanya sebagai ummu wa rabbatul bait (ibu dan pengurus rumah tangga). Justru, dorongan yang ada saat ini adalah bagaimana agar perempuan berperan aktif di luar rumah dengan berkarir. Di alam kapitalis sekuler ini, kaum feminis lebih mendapat tempat untuk memasarkan model ibu ala barat. Para ibu pencetak generasi Islam hanya akan banyak bermunculan saat sistem kehidupan Islam diterapkan dalam naungan Khilafah. Wa ma taufiqi illa billah.   


1 komentar:

  1. saat ini banyak Ibu2 tangguh...tidak hanya dalam melakukan pekerjaan seputar rumah tangga, merawat dan mendidik anak, namun juga ibu2 tangguh mencari nafkah..mulai dari sektor informal hingga pekerja kantoran..

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...