31 Desember 2014

Orang Biasa VS Orang Luar Biasa



Orang biasa, dalam kaitannya dengan pelaksanaan Islam sering diartikan sebagai mereka yang kehidupannya mengikuti kebanyakan orang. Cukup dengan mengenal atau mengerjakan sholat, puasa, zakat dan berhaji kalau mampu. Sementara muslimah misalnya, yang berkomitmen menutup auratnya dengan jilbab dan kerudung setiap keluar rumah, atau selalu menjaga pergaulannya dengan yang bukan muhrim, tidak berpacaran dan suka bicara Islam dianggap luar biasa. Apalagi kalau ngomongin khilafah, bisa-bisa dikatain aneh, tidak wajar, garis keras dan sebutan memanaskan telinga lainnya. Hari ini tambah satu lagi sebutannya, anggota ISIS. 
Konsekuensi dari cara pandang seperti itu berat. Karena, saat seseorang merasa menjadi orang biasa, dia merasa menjadi bagian dari kebanyakan orang. Artinya, tidak ada yang jadi masalah. Tidak terpikirkan akan dosa. Yang terpikir hanya,“Aku kan orang biasa, jadi gak perlu gitu-gitu kali. Yang biasa-biasa aja”. Baginya, yang perlu menutup aurat sempurna adalah muslimah yang dibina di suatu pengajian. Menurutnya, yang cocok mendakwahkan Islam adalah dia yang lulusan pesantren atau sarjana jurusan agama. Sementara, Al Qur’an di rumahnya, Al Qur’an di depan matanya, mungkin dia setiap hari membacanya, tapi sayang ia gagal mengambil pelajaran darinya. 
29 Desember 2014

Produk Gagal dari Liberalisme

Picture by www.nahimunkar.com
Lingkungan memiliki magnet yang dapat mempengaruhi diri kita sedemikian rupa. Lingkungan yang baik berdampak baik. Demikian sebaliknya. Meski begitu, tetap ada yang namanya produk gagal. Lingkungan ibarat mesin. Ketika ia ingin memproduksi produk A, sedikit darinya pasti gagal berproduksi. Begitulah alamiahnya. Sebagai bukti bahwa makhluk di alam ini adalah lemah. 
Lingkungan kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini dikepung oleh pengaruh liberalisme. Diantaranya liberalisasi ekonomi. Liberalisasi ekonomi terlihat salah satunya dari kebijakan menaikkan harga BBM sebagai pelaksanaan doktrin ‘pencabutan subsidi’. Pencabutan subsisdi merupakan ciri khas dari ideologi kapitalisme neo-liberal. Kebijakan tersebut menandai liberalisasi migas di sektro hilir. Pihak swasta atau asing semakin leluasa bermain dalam bisnis eceran migas khususnya BBM, setelah mereka menguasai sektor hulu. Sebut saja SPBU milik Petronas, Shell dan Total telah eksis di Indonesia. 
28 Desember 2014

USI dan SILA




Ini Usi dan Sila. Kedua gadis kecil ini pernah menjadi muridku di bimbingan belajar yang aku kelola bersama suami. Usaha keluargaku memang mengelola bimbingan belajar bagi anak-anak tingkat dasar, pertama maupun tingkat menengah. Setahun sudah mereka tidak lagi belajar di bimbelku. Sekarang, usia Usi dan Sila sekitar 9 tahun. Mereka anak kembar loh. Tapi kok gak mirip ya. 
Mereka seperti anak-anak lainnya, ceria dan senang bermain. Konsentrasi belajar mereka hanya bertahan sekitar 30 menit awal. Selebihnya mereka pasti berulah yang macam-macam. Seringnya, mereka senang mengajak gurunya untuk ngobrol. Obrolannya bukan tentang pelajaran, tapi tentang berbagai hal. Mulai dari cerita tentang adik mereka yang sangat disayangi, teman-teman di sekolah hingga seputar aktivitas mereka di rumah. Benar, tidak ada salahnya mereka bercerita. Karena itu menunjukkan mereka adalah anak-anak yang percaya diri dan mampu menyampaikan sesuatu dengan baik kepada orang lain. Hanya saja itu masih jam belajar. Sesuai komitmen di bimbel, kalau waktunya belajar ya belajar. Setelelah selesai baru boleh bercerita. Jadi, aku sering menegur mereka dan mengehentikan jika mereka mulai mengajakku bercerita pada jam belajar. 

Banjir Di Depan Rumahku


Banjir yang menggenang itu persis berada di jalan depan rumahku. Kalau teman-teman melihat spanduk yang dipasang berwarna dasar putih merah, itu spanduk bimbingan belajar milik keluargaku. Di seberang jalan sana ada sekolah TK dan SD. Jadi kalau lagi banjir begitu, anak-anak sekolah pada nenteng sepatunya agar bisa melewati jalan.
Eh tahu gak, di pinggir jalan itu ada parit yang cukup besar lo. Tapi gak kelihatan kan? Iya, sebab paritnya sudah rata dengan genangan air banjir. Jadi, bayangin saja kalau ada orang asing yang lewat dan tidak menyadari ada parit, pasti kecebur. Kejadian itu pernah terjadi. Suatu malam, sebuah becak motor kecebur ke dalam parit. Bukan semata-mata karena tidak menyadari ada parit. Tetapi karena ingin menghindari lubang besar yang menganga di tengah jalan, bertepatan becak motor itu berpapasan dengan sepeda motor. Keadaan tersebut spontan membuat lupa pak sopir bahwa ada parit di sana. Atau juga memang panik sehingga tidak pikir panjang daripada menabrak sepeda motor lebih baik menceburkan diri ke parit. Si bapak terluka. Dan peristiwa itu terjadi saat banjir.
25 Desember 2014

Obrolan Hangat

 Picture by http://myquran.or.id/
Agenda silaturahmi ke rumah teman sesama aktivis hari itu diwarnai obrolan hangat mengenai banyak hal. Mengenai hal-hal pribadi, kenaikan harga BBM hingga masalah perempuan. Bagian menarik, saat ditanyakan kepadaku perkara hukum Islam berkaitan dengan perempuan yang duduk di  pemerintahan. Aku coba menjawab sesuai dengan apa yang aku pahami. Terlebih dahulu aku sampaikan bahwa jamaah tempatku dibina senantiasa menjadikan Islam sebagai standar berpikir maupun bertingkahlaku. Termasuk ketika menanggapi tentang boleh tidaknya perempuan menjadi pejabat pemerintahan. 
19 Desember 2014

Toleran Dalam Islam

Picture by http://romokoko.com/
Bagi kaum muslim, jelang Natal dan Tahun Baru, menjadi penting untuk memahami makna toleransi. Karena, atas nama toleransi sering seorang muslim terpaksa mengucapkan, “Selamat Natal”. Demikian pula dengan Menteri Agama yang notabene beragama Islam. Setiap kali perayaan hari besar agama tiba, beliau selalu mengucapkan hal tersebut. Atau bahkan ada muslim yang turut diundang untuk menghadiri perayaan natal. Jika menolak untuk datang, intoleran menjadi layak dilekatkan pada diri mereka. Presiden Jokowi sendiri beserta beberapa pejabat muslim lainnya berencana untuk menghadiri perayaan Natal sebagai bentuk toleransi beragama. Seperti apa sebenarnya toleransi di dalam Islam?
5 Desember 2014

Dodol Pun Terkena Imbas Kenaikan Harga BBM

Picture by meymeylurf.blogspot.com
Saya suka dodol. Keluarga saya suka dodol. Kalau pulang kampung biasanya oleh-oleh yang dibawa adalah dodol. Tapi pulang kampung baru-baru ini, saya kecewa. Dodol fovorit saya tidak selezat biasanya. Kalau sebelumnya begitu lemak, menandakan santan yang digunakan cukup. Namun kini tidak terasa lagi lemaknya santan pada dodol itu. Kalau sebelumnya gula merah yang digunakan berjenis gula aren. Kini gula yang digunakan sepertinya gula merah kelas rendah. Kalau kata seorang kenalan saya yang pernah menyaksikan bagaimana pengolahan gula merah bukan aren, gula merah tersebut berbahan gula-gula kotor sisa dari pengolahan tebu mejadi gula putih. Rasanya memang tidak semanis biasanya. Ya, saya kecewa. Kalau difikirkan, kenapa ya harga dodol favorit saya tidak naik? Padahal rata-rata barang harganya naik terkena imbas kenaikan harga BBM.