Jumat, 11 Juli 2014

Sejak Mengenalku




Picture By me
Seorang gadis sedang menuju kearahku.  Langkahnya mendekat, semakin mendekat. Dia telah menghampiriku. Lalu menatap seketika, terbelalak. Pandangannya mengikuti setiap jengkal dari diriku, menyiratkan kecurigaan. Sorot matanya tajam laksana pisau yang siap menyayat bagian – bagian dari diriku. Kelihatannya dia membenciku. Aku tak mengerti mengapa. Apa sebelumnya dia pernah mengenalku? Apa dia pernah punya pengalaman buruk denganku kala itu? Ah aku tak mengerti. Setelah beberapa detik memandang, gadis itu menyapa Aqla, gadis yang sedang bersamaku. Menyapa dengan sapaan dingin. Terjadi sebuah percakapan singkat antara mereka. Benar saja, gadis itu menyampaikan sejumput kegerahan mengenai diriku. Bahkan menganjurkan Aqla agar kelak tidak bersamaku terlebih saat bertemu dengannya. Aqla mencoba menjelaskan alasannya bersamaku. Tapi gadis itu tidak mau mendengar. Dia tidak suka, benar – benar tidak suka. Aku tidak tahu mengapa.

Aqla tertunduk sedih setelah kepergian gadis itu. Gadis itu teman baiknya. Teman yang sering besertanya di banyak waktu. Di sekolah, lingkungan rumah dan tempat – tempat favorit lainnya yang sering mereka kunjungi. Wajahnya memerah, matanya berkaca - kaca. Disunggingkan sedikit bibirnya untuk memberi nyaman dihati. Sungguh tak diharapkannya kejadian itu. Sebenarnya dia telah mempersiapkan diri atas segala resiko yang akan terjadi sejak ia memutuskan akan selalu bersamaku kemanapun langkah tertuju sedari keluar pintu rumah. Seseorang yang telah membuka hati dan pikirannya bahwa bersamaku berarti sebuah kebenaran telah jauh – jauh hari memberi gambaran akan hal itu. Namun jujur, jika boleh memilih, dia lebih memilih menjalani semua dengan aman dan nyaman. Naluriah bukan. Selain teman akrabnya itu, beberapa teman lain bersikap sama, sinis. Ini cukup menyakitkan bagi Aqla.
Untung saja ayah dan ibunya tidak demikian. Ibu dan ayah justru senang jika Aqla pergi keluar rumah besertaku. Mereka merasa lebih nyaman melihat kebersamaan kami. Sejak Aqla mengenalku, perlahan kebiasaan Aqla berubah. Dulunya Aqla tidak suka membaca buku, sering menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik, menonton sinetron dan tontonan murahan ala gosip artis. Tapi sekarang, tiap waktu luangnya selalu diisi dengan membaca buku.
Uang jajannya pun sebagian besar digunakan untuk membeli buku, buku pelajaran sekolah dan buku – buku pemahaman Islam. Padahal sebelum mengenal aku, Aqla lebih suka menggunakan uang jajannya untuk membeli bakso, makanan kesukaan Aqla. Ibu dan ayah sangat khawatir dengan kebiasaan Aqla itu. Sebagaimana masyarakat pada umumnya, ibu dan ayah Aqla tahu persis tidak ada jaminan jajanan bakso halal lagi baik. Karena belakangan, untuk kesekian kalinya terungkap fakta bahwa telah banyak beredar bakso yang terbuat dari campuran daging sapi dan daging babi. Mengerikan. Siapa yang berani menjamin yang Aqla makan bukan jenis itu. Kalau pun sesekali ingin menyantap bakso, ayah dan ibu berharap Aqla bersikap ekstra hati – hati. Lebih banyak orang yang saat ini mengutamakan untung rugi ketimbang halal haram.
Upps, ada lagi perubahan yang disenangi ayah dan ibu. Aqla sekarang lebih bijak, perlahan semakin mampu menjelaskan sesuatu dengan kata – kata yang mudah dimengerti. Aqla juga tidak cepat marah. Mengesankan. Sebab sebelumnya Aqla terkenal sebagai anak yang kurang percaya diri. Itu kelihatan dari caranya menjelaskan sesuatu pada orang lain, terbata – bata. Mudah tersinggung pula. Kini lebih baik. Perlahan, dengan penjelasan Aqla, ayah dan ibu mulai mengerti hubungan antara aku dan perubahan dirinya.
***
Pagi ini cuaca begitu cerah. Awan putih dan hangat matahari mengiringi Aqla dan sepeda motornya menuju sekolah. Perjalanan Aqla bertemankan debu jalanan dan asap kendaraan. Warna cerah sang pagi lumayan ternodai dengan keadaan itu. Maklumlah kondisi kota sangat padat dengan keberadaan kendaraan bermotor. Ditambah beberapa hari tidak hujan membuat suasana tidak asri, meski pagi bertemankan awan putih dan hangatnya matahari. Aqla beruntung karena pergi pagi sekali sehingga tidak begitu terkena macet. Kendaraan sudah cukup padat dan menimbulkan sedikit kemacetan tapi belum akut. Masih mampu berjalan sedikit leluasa disela – sela kendaraan yang ada. Dan Aqla tetap bersamaku sebagaimana biasanya. Hanya saja jika kesekolah kebersamaan kami tidak terlalu mencolok. Banyak yang tidak menyadari kalau kami sedang bersama. 
“Assalamu’alaikum.” Sapa Aqla pada temannya sesampai dikelas. “Wa’alaikum salam.” Balas temannya. “Kamu dipanggil guru konseling tuh. Barusan bu Leli dari sini.” Aqla menyimpan tasnya dilaci meja kemudian tanpa duduk terlebih dahulu langsung melangkah menuju ruang guru konseling. Aqla penasaran akan kedatangan bu Leli ke kelas dengan maksud mencari dirinya. Apa yang telah dilakukannya hingga bu Leli tiba – tiba mencari dirinya. Biasanya yang dipanggil oleh guru konseling adalah orang – orang yang bermasalah. Aqla sulit mengingat – ingat apa kesalahan yang dilakukannya. Aqla dikenal sebagai anak yang cukup baik disekolah. Belum pernah melakukan hal yang menyebabkannya masuk ruang konseling.
“Assalamu’alaikum. Ibu mencari saya.” Aqla berdiri dimuka pintu ruang konseling sambil menyapa bu Leli. “Wa’alaikum salam. Masuk Aqla. Ada yang ingin ibu tanyakan kepada kamu.” Seraya berkata tangan bu Leli menunjuk kursi pertanda mempersilahkan Aqla untuk turut duduk bersama dirinya. “Begini, kemarin ibu melihat kamu di depan papan mading sedang menempel bahan. Ibu tidak sengaja melihat sepertinya baju kamu tersambung dengan roknya. Bisa ibu pastikan lagi Aqla. Sini, ibu ingin lihat!” Aqla agak terkejut. Beberapa hari sudah ia menggunakan model pakaian barunya itu. Beberapa hari sudah ia menikmati hari hari bersamaku, sepaket jilbab dan kerudung, yang ia pahami sebagai kewajiban untuk dipakai sejak ia mengkaji Islam dengan  kak Rini, mahasiswi kampus dekat rumahnya. Selama itu tidak ada yang memperhatikan. Ikat pinggang yang digunakan cukup mampu menyamarkan. Terus terang Aqla belum siap menjelaskan pada pihak sekolah. Ia butuh beberapa waktu kedepan untuk benar – benar mantap menjelaskan pilihan barunya.Tapi kini mau tak mau semua harus ia hadapi.
  Aqla mendekati bu Leli dan membiarkan beliau memeriksa pakaiannya. “Ternyata benar. Sekarang coba kamu jelaskan mengapa kamu menyambung seragam sekolahmu Aqla?”
“Bu, saya menyambung pakaian ini agar berbentuk jilbab. Jilbab adalah pakaian yang harus digunakan muslimah keluar rumah. Perintah Allah ini jelas tercantum dalam Al Qur’an bu.”
“Setau ibu kita diperintahkan menutup aurat. Jadi kalau aurat sudah tertutup, model apa saja tidak masalah. Lagi pula sekolah punya peraturan yang harus ditaati semua yang berada disekolah ini. Pakaian kamu aneh. Sudahlah yang biasa – biasa saja. Repot sekali pakai disambung segala. Islam itu kan memudahkan, tidak menyusahkan.” Bu Leli coba menasehati Aqla. “Bu, saya pikir jika dikerjakan dengan keimanan, tidak ada yang repot. Allah amat menyayangi kita hamba- hambaNya. Tidak mungkin memerintahkan hal yang tidak bisa dilakukan. Saya meyakini inilah yang benar bu.” Aqla berusaha meyakinkan bu Leli.
“Baiklah Aqla. Kalau ibu tidak ada masalah. Ibu tidak akan bilang apa – apa sama Kepala Sekolah. Tapi kalau nanti Kepala Sekolah mengetahui hal ini, apa kamu siap menghadapinya?”
Aqla diam sejenak. Kepala Sekolah adalah seorang yang tegas dengan peraturan yang telah dibuatnya. Beliau tidak suka dengan pelanggaran aturan. Terbayang olehnya resiko yang kira – kira akan didapatkannya. Resiko paling berat yaitu dikeluarkan dari sekolah. Aqla sudah kelas dua. “Ah sayang sekali kalau akhirnya aku dikeluarkan karena ini.” Batinnya berkata. Tapi ia segera menepis bisikan itu. Ia melawan rasa takut itu. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Belum tentu itu terjadi. Tidak ada yang lebih layak ditakuti selain Allah SWT. “Saya siap bu.” Aqla mantap menjawab pertanyaan bu Leli.”    
    ***
Seperti biasa Aqla bersamaku ketika bepergian keluar rumah. Aku yang merupakan identitas seorang muslimah. Dengan memakai aku, kehormatan seorang muslimah dapat terjaga. Hikmah yang gamblang telah Allah sampaikan dalam firmannya, para wanita diwajibkan mengenakan jilbab agar mudah dikenali dan tidak diganggu.
Aqla dan sepeda motornya berjalan menuju toko buku yang berada cukup jauh dari rumahnya. Ketika sampai dan telah memarkirkan sepeda motornya, tiba – tiba gedebuk…Aqla terjatuh. Aku tersangkut pada rem kaki sepeda motor itu ketika Aqla hendak pergi meninggalkannya di parkiran. Aqla meringis kesakitan lalu duduk di atas tanah menghadap kearah sepeda motornya. Tak sanggup ia langsung berdiri. Kedua telapak tangannya yang menghantam tanah memar dan berdarah.     
“Aqla.” Suara itu datang dari arah belakang Aqla. Gadis itu lagi. Gadis yang tidak suka denganku, yang tempo hari menganjurkan perpisahanku dengan Aqla. “Aku kan sudah bilang kemaren kamu jangan pakai pakaian model gituan lagi. Pakaian itu merepotkan, ya kan. Tu..kamu jatuh. Tiga tahun yang lalu sepupuku meninggal karena pakaian itu. Waktu itu sepupuku naik angkot menuju rumah sepulang dari pasar. Ketika akan turun dari angkot, pakainnya yang besar dan lebar itu tersangkut pada tubuh angkot. Dan tubuhnya…tubuhnya terseret angkot itu yang lagi terburu – buru melaju kencang karena mengejar angkot lain yang menyelisihinya.” Gadis itu bercerita sambil perlahan terisak karena teringat masa lalu yang melukai hatinya.
Aqla mengusap – usap bahu temannya itu. “Aku paham kekhawatiran kamu. Ditinggalkan oleh orang yang kita cintai memang menyakitkan. Tapi kita harus selalu ingat bahwa kematian itu pasti. Semua makhluk bernyawa tidak ada yang kekal. Semua akan mendapat giliran untuk kembali pada Ilahi. Meninggalnya sepupu kamu tidak ada hubungan sama sekali dengan jilbab ini.” Aqla berkata sambil memegang jilbabnya. “Dia hanya kurang hati – hati hingga jilbabnya tersangkut. Dan kejadian itulah yang akhirnya menjadi jalan kematiannya. Tapi bukan peristiwa itu yang menyebabkan dia meninggal. Kalau Allah belum menghendaki ia meninggal. Ia tidak akan meninggal karena kejadian itu.”
“Kamu keras kepala.” Gadis itu mengucapkan kata terakhirnya dengan setengah berteriak kemudian beranjak meninggalkan Aqla. Sambil berjalan dihapusnya air mata sisa tangisan  tadi dan berlalu dari hadapan Aqla menuju toko buku. Aqla beristighfar dalam hati dan berharap suatu saat dia bisa meyakinkan temannya itu hingga memahami kewajiban sebagai hamba Allah sebagaimana dirinya. Semoga gadis itu kedepannya bisa mengenalku dan bersamaku kemanapun dia pergi.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Klik untuk tembah komentar

Posting Komentar

Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...