Kamis, 06 Maret 2014

PERAN MUSLIMAH

Picture by me
Muslimah Di Rumah
Syariat Islam begitu sempurna. Dengannya Allah SWT mengatur kehidupan muslimah sedemikian rupa hingga ia mampu berperan aktif dimana saja ia berada. Muslimah shalehah dambaan keluarga. Ia adalah anak yang taat kepada orangtuanya. Bukan ketaatan buta. Tetapi ketaatan karena Allah SWT. Ia pun senantiasa saling menjaga dalam ketaatan dengan seluruh anggota keluarga. Amar ma’ruf nahi munkar harus dimulai dari rumah. Karena dalam Al qur’an surat At Tahrim ayat 6 Allah SWT mengatakan  : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…”.
Muslimah adalah “ratu” di rumah suaminya. Ia berhak mengurus rumahtangganya senyaman yang ia suka. Ia berhak mendidik anak-anaknya dengan pola didik Ilahiyah. Ia penyemangat suami, penentram hati para anggota keluarga dikala mereka butuh sandaran. Ia akan meraih pahala sebesar-besarnya dari Allah SWT atas tanggungjawab berat tersebut. Dengan imbalan pahala dan ridhaNya tidak ada yang terasa berat. Tiada keluh kesah dalam menjalani tiap amanah. Batasan syariah menjadikan kehidupan muslimah tertata dengan indah. Itulah muslimah sang ibu dan pengatur rumahtangga.

Muslimah Di Masyarakat
Muslimah sama halnya dengan lelaki muslim memiliki peluang untuk berperan di masyarakat. Hari ini, eksis diluar rumah bagi perempuan dimaknai sesuai cara pandangan sekuler barat oleh masyarakat. Feminisme memandang pria dan wanita harus setara kedudukannya di ranah publik. Itu diartikan, jika pria mampu bekerja dengan gaji yang besar dan pangkat yang tinggi, harus demikian dengan wanita. Jika pria bisa menjadi pemimpin dalam pemerintahan, wanita pun harus mendapat kesempatan yang sama. Jadilah para wanita menyalahi fitrahnya. Mengejar eksistensi, bekerja diluar rumah dan meninggalkan tugasnya dirumah sebagai pendidik dan pengatur rumah tangga. Peran domestik tersebut dianggap rendah.
Lain halnya dengan muslimah. Islam memperbolehkan muslimah beraktivitas diluar rumah. Bukan sekedar untuk unjuk diri, eksis di dunia kerja. Namun untuk melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. Terutama dalam kondisi saat ini, dimana Islam membutuhkan para pejuang tangguh guna membangkitkan Islam dan umatnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Ali Imran ayat 104: 
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” Kalamullah itu jelas diperuntukkan bagi kaum muslimin baik pria atau wanita. Mereka sama-sama berkewajiban bergabung dalam jamaah demi perjuangan Islam.
Muslimah harus selalu membekali dirinya dengan kekuatan akidah dan tsaqofah-tsaqofah Islam. Sebab masyarakat perlu gambaran jelas tentang pelaksanaan Islam secara kaffah yang realitanya belum ada dihadapan mereka. Terlebih daya pikir kaum muslim berusaha terus ditumpulkan oleh budaya-budaya dari ideologi kapitalis. Tidak ada waktu untuk diam, tidak ada waktu untuk menunggu. Sebaliknya kaum muslimin keseluruhan harus terus menerus melakukan gerak-gerak terarah demi tegaknya dinul Islam.

1 komentar:

  1. Manusia yang beruntung adalah manusia yang bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...