31 Desember 2014

Orang Biasa VS Orang Luar Biasa



Orang biasa, dalam kaitannya dengan pelaksanaan Islam sering diartikan sebagai mereka yang kehidupannya mengikuti kebanyakan orang. Cukup dengan mengenal atau mengerjakan sholat, puasa, zakat dan berhaji kalau mampu. Sementara muslimah misalnya, yang berkomitmen menutup auratnya dengan jilbab dan kerudung setiap keluar rumah, atau selalu menjaga pergaulannya dengan yang bukan muhrim, tidak berpacaran dan suka bicara Islam dianggap luar biasa. Apalagi kalau ngomongin khilafah, bisa-bisa dikatain aneh, tidak wajar, garis keras dan sebutan memanaskan telinga lainnya. Hari ini tambah satu lagi sebutannya, anggota ISIS. 
Konsekuensi dari cara pandang seperti itu berat. Karena, saat seseorang merasa menjadi orang biasa, dia merasa menjadi bagian dari kebanyakan orang. Artinya, tidak ada yang jadi masalah. Tidak terpikirkan akan dosa. Yang terpikir hanya,“Aku kan orang biasa, jadi gak perlu gitu-gitu kali. Yang biasa-biasa aja”. Baginya, yang perlu menutup aurat sempurna adalah muslimah yang dibina di suatu pengajian. Menurutnya, yang cocok mendakwahkan Islam adalah dia yang lulusan pesantren atau sarjana jurusan agama. Sementara, Al Qur’an di rumahnya, Al Qur’an di depan matanya, mungkin dia setiap hari membacanya, tapi sayang ia gagal mengambil pelajaran darinya. 
29 Desember 2014

Produk Gagal dari Liberalisme

Picture by www.nahimunkar.com
Lingkungan memiliki magnet yang dapat mempengaruhi diri kita sedemikian rupa. Lingkungan yang baik berdampak baik. Demikian sebaliknya. Meski begitu, tetap ada yang namanya produk gagal. Lingkungan ibarat mesin. Ketika ia ingin memproduksi produk A, sedikit darinya pasti gagal berproduksi. Begitulah alamiahnya. Sebagai bukti bahwa makhluk di alam ini adalah lemah. 
Lingkungan kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini dikepung oleh pengaruh liberalisme. Diantaranya liberalisasi ekonomi. Liberalisasi ekonomi terlihat salah satunya dari kebijakan menaikkan harga BBM sebagai pelaksanaan doktrin ‘pencabutan subsidi’. Pencabutan subsisdi merupakan ciri khas dari ideologi kapitalisme neo-liberal. Kebijakan tersebut menandai liberalisasi migas di sektro hilir. Pihak swasta atau asing semakin leluasa bermain dalam bisnis eceran migas khususnya BBM, setelah mereka menguasai sektor hulu. Sebut saja SPBU milik Petronas, Shell dan Total telah eksis di Indonesia. 
28 Desember 2014

USI dan SILA




Ini Usi dan Sila. Kedua gadis kecil ini pernah menjadi muridku di bimbingan belajar yang aku kelola bersama suami. Usaha keluargaku memang mengelola bimbingan belajar bagi anak-anak tingkat dasar, pertama maupun tingkat menengah. Setahun sudah mereka tidak lagi belajar di bimbelku. Sekarang, usia Usi dan Sila sekitar 9 tahun. Mereka anak kembar loh. Tapi kok gak mirip ya. 
Mereka seperti anak-anak lainnya, ceria dan senang bermain. Konsentrasi belajar mereka hanya bertahan sekitar 30 menit awal. Selebihnya mereka pasti berulah yang macam-macam. Seringnya, mereka senang mengajak gurunya untuk ngobrol. Obrolannya bukan tentang pelajaran, tapi tentang berbagai hal. Mulai dari cerita tentang adik mereka yang sangat disayangi, teman-teman di sekolah hingga seputar aktivitas mereka di rumah. Benar, tidak ada salahnya mereka bercerita. Karena itu menunjukkan mereka adalah anak-anak yang percaya diri dan mampu menyampaikan sesuatu dengan baik kepada orang lain. Hanya saja itu masih jam belajar. Sesuai komitmen di bimbel, kalau waktunya belajar ya belajar. Setelelah selesai baru boleh bercerita. Jadi, aku sering menegur mereka dan mengehentikan jika mereka mulai mengajakku bercerita pada jam belajar. 

Banjir Di Depan Rumahku


Banjir yang menggenang itu persis berada di jalan depan rumahku. Kalau teman-teman melihat spanduk yang dipasang berwarna dasar putih merah, itu spanduk bimbingan belajar milik keluargaku. Di seberang jalan sana ada sekolah TK dan SD. Jadi kalau lagi banjir begitu, anak-anak sekolah pada nenteng sepatunya agar bisa melewati jalan.
Eh tahu gak, di pinggir jalan itu ada parit yang cukup besar lo. Tapi gak kelihatan kan? Iya, sebab paritnya sudah rata dengan genangan air banjir. Jadi, bayangin saja kalau ada orang asing yang lewat dan tidak menyadari ada parit, pasti kecebur. Kejadian itu pernah terjadi. Suatu malam, sebuah becak motor kecebur ke dalam parit. Bukan semata-mata karena tidak menyadari ada parit. Tetapi karena ingin menghindari lubang besar yang menganga di tengah jalan, bertepatan becak motor itu berpapasan dengan sepeda motor. Keadaan tersebut spontan membuat lupa pak sopir bahwa ada parit di sana. Atau juga memang panik sehingga tidak pikir panjang daripada menabrak sepeda motor lebih baik menceburkan diri ke parit. Si bapak terluka. Dan peristiwa itu terjadi saat banjir.
25 Desember 2014

Obrolan Hangat

 Picture by http://myquran.or.id/
Agenda silaturahmi ke rumah teman sesama aktivis hari itu diwarnai obrolan hangat mengenai banyak hal. Mengenai hal-hal pribadi, kenaikan harga BBM hingga masalah perempuan. Bagian menarik, saat ditanyakan kepadaku perkara hukum Islam berkaitan dengan perempuan yang duduk di  pemerintahan. Aku coba menjawab sesuai dengan apa yang aku pahami. Terlebih dahulu aku sampaikan bahwa jamaah tempatku dibina senantiasa menjadikan Islam sebagai standar berpikir maupun bertingkahlaku. Termasuk ketika menanggapi tentang boleh tidaknya perempuan menjadi pejabat pemerintahan. 
19 Desember 2014

Toleran Dalam Islam

Picture by http://romokoko.com/
Bagi kaum muslim, jelang Natal dan Tahun Baru, menjadi penting untuk memahami makna toleransi. Karena, atas nama toleransi sering seorang muslim terpaksa mengucapkan, “Selamat Natal”. Demikian pula dengan Menteri Agama yang notabene beragama Islam. Setiap kali perayaan hari besar agama tiba, beliau selalu mengucapkan hal tersebut. Atau bahkan ada muslim yang turut diundang untuk menghadiri perayaan natal. Jika menolak untuk datang, intoleran menjadi layak dilekatkan pada diri mereka. Presiden Jokowi sendiri beserta beberapa pejabat muslim lainnya berencana untuk menghadiri perayaan Natal sebagai bentuk toleransi beragama. Seperti apa sebenarnya toleransi di dalam Islam?
5 Desember 2014

Dodol Pun Terkena Imbas Kenaikan Harga BBM

Picture by meymeylurf.blogspot.com
Saya suka dodol. Keluarga saya suka dodol. Kalau pulang kampung biasanya oleh-oleh yang dibawa adalah dodol. Tapi pulang kampung baru-baru ini, saya kecewa. Dodol fovorit saya tidak selezat biasanya. Kalau sebelumnya begitu lemak, menandakan santan yang digunakan cukup. Namun kini tidak terasa lagi lemaknya santan pada dodol itu. Kalau sebelumnya gula merah yang digunakan berjenis gula aren. Kini gula yang digunakan sepertinya gula merah kelas rendah. Kalau kata seorang kenalan saya yang pernah menyaksikan bagaimana pengolahan gula merah bukan aren, gula merah tersebut berbahan gula-gula kotor sisa dari pengolahan tebu mejadi gula putih. Rasanya memang tidak semanis biasanya. Ya, saya kecewa. Kalau difikirkan, kenapa ya harga dodol favorit saya tidak naik? Padahal rata-rata barang harganya naik terkena imbas kenaikan harga BBM.
17 November 2014

Menjadi Pembela Islam

Picture by me
Patut diapresiasi usaha seorang muslim yang ingin menunjukkan bahwa agamanya itu damai, tidak suka kekerasan. Sudah semestinya kaum muslim menjadi pembela Islam. Sebagaimana pesan yang disampaikan dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa.
Based on true story, film ini bercerita tentang perjalanan spiritual seorang tokoh bernama Hanum. Selama tiga tahun Hanum tinggal di Austria menemani suaminya yang sedang menempuh studi di sana. Tak berapa lama, takdir mempertemukannya dengan seorang muslimah bernama Fatma Pasha. Keakraban mereka membuahkan satu kesepakatan, Hanum dan Fatma ingin menapaki jejak-jejak Islam di Eropa dari barat hingga ke timur Eropa. Dari Andalusia Spanyol hingga ke Istanbul Turki. Pada akhirnya, Hanum berhasil menjejaki Katedral Mezquita di Cordoba, Istana Al Hambra di Granada, Hagia Sophia di Istanbul dan tempat-tempat bersejarah lainnya. Menariknya, bagi Hanum tempat yang dikunjunginya mengalahkan Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola gondola di Venezia.
14 November 2014

Sadarlah, HAM itu rusak

kasuspelanggaranham.blogspot.com 
“HAM itu memang bukan dari Islam, tetapi ia memiliki sisi positif yang mesti diperhitungkan. Contohnya, seorang guru tidak akan memukul muridnya karena takut melanggar HAM si murid”. Seorang teman berstatus aktivis dakwah kampus berkata demikian kepada saya. Bisa diterima argumennya? Sekilas pendapat tersebut tampak benar. Tetapi jika dipandang dari kacamata Islam, tunggu dulu.
Islam mengajarkan seorang muslim untuk memandang segala sesuatu berdasarkan halal haram, bukan sekedar manfaat. Salah satu dalilnya terdapat didalam Al Qur’an surat Al Ahzab ayat 36 yang berbunyi : ”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.

Pesan dari Film Lovely Man


Kamu pernah menonton film Lovely Man? Film ini terbilang unik. Ia bercerita tentang seorang lelaki yang memilih “memenuhi panggilan hati”, sehingga berperan dalam kehidupan sebagai perempuan. Sebutan akrabnya bencong. Tak sekedar berdandan seperti perempuan. Namun ia menjalani profesi sebagai pelacur. Uniknya lelaki ini sempat dekat lalu jatuh cinta pada seorang wanita. Kedekatan mereka membuahkan seorang anak yang dilahirkan tanpa ikatan pernikahan. Unik ya.
Dan kasihan si anak. Karena, meski si ayah tetap bertanggung jawab secara nafkah lahiriah kepada anaknya, namun anak itu tak mendapatkan sosok ayah dalam hidupnya. Tak memperoleh pula pendidikan dari ayahnya. Tapi memang, meski lelaki itu pada akhirnya menikahi perempuan yang telah memberinya anak, lalu mereka tinggal serumah, dalam pandangan Islam itu bukanlah kondisi ideal. Karena Islam memiliki aturan, anak yang lahir dari hasil perzinahan akan putus nasabnya dari ayah. Tak ada saling mewarisi di antara mereka. tak ada hak perwalian bagi si ayah ketika nanti anak perempuannya menikah. Si anak sepenuhnya dibawah tanggungjawab ibu.
10 September 2014

Agar Sukses Tak Sekedar Dunia

Banyak orang yang mencita-citakan kesuksesan. Sukses dalam arti meraih harta melimpah dan pekerjaan berkelas. Salah satu keuntungan sukses model ini ialah terpandang di mata manusia. Berhubung secara alamiahnya manusia memang suka dihargai dan dihormati, alhasil apa yang dapat membuatnya berharga dimata orang lain akan dikejar terus sampai dapat. Kalau sudah seperti itu manusia jadi rentan sekali menggunakan cara-cara tidak sehat untuk meraih sukses.

Picture by satriyadiwibowo.wordpress.com 

Disela-sela obrolan bersama kenalan, ia bercerita bahwa ia berencana mendaftarkan anaknya menjadi tentara. Tak tanggung-tanggung ia harus mengeluarkan biaya puluhan juta untuk bisa menjamin anaknya lolos dalam tes masuk. Loh kenapa mendaftar jadi tentara kok bayar? Kalau urusan ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Terlalu banyak oknum di instansi terkait yang bermain diranah jual beli kesempatan menduduki karir sebagai tentara. Termasuk juga menjadi polisi dan pegawai negeri lain ada calonya. Seperti sudah menjadi kebudayaan di Indonesia. Saya juga punya pengalaman melamar menjadi PNS. Saat itu di luar bangunan kantor tersebut terpasang spanduk berukuran besar bertuliskan kalimat yang kira-kira maksudnya tidak dibenarkan ada praktek suap menyuap dalam kepengurusan lamaran kerja PNS (redaksi aslinya saya lupa). Namun lucunya tepat dibawah spanduk itu ada dua pihak yang sedang bertransaksi memuluskan seseorang menjadi PNS.
11 Juli 2014

Sejak Mengenalku




Picture By me
Seorang gadis sedang menuju kearahku.  Langkahnya mendekat, semakin mendekat. Dia telah menghampiriku. Lalu menatap seketika, terbelalak. Pandangannya mengikuti setiap jengkal dari diriku, menyiratkan kecurigaan. Sorot matanya tajam laksana pisau yang siap menyayat bagian – bagian dari diriku. Kelihatannya dia membenciku. Aku tak mengerti mengapa. Apa sebelumnya dia pernah mengenalku? Apa dia pernah punya pengalaman buruk denganku kala itu? Ah aku tak mengerti. Setelah beberapa detik memandang, gadis itu menyapa Aqla, gadis yang sedang bersamaku. Menyapa dengan sapaan dingin. Terjadi sebuah percakapan singkat antara mereka. Benar saja, gadis itu menyampaikan sejumput kegerahan mengenai diriku. Bahkan menganjurkan Aqla agar kelak tidak bersamaku terlebih saat bertemu dengannya. Aqla mencoba menjelaskan alasannya bersamaku. Tapi gadis itu tidak mau mendengar. Dia tidak suka, benar – benar tidak suka. Aku tidak tahu mengapa.

Murtad Karena Cinta



Picture by www.kisahemasputih.com 

     Siapa sangka artis Asmirandah telah keluar dari agama Islam. Siapa sangka artis yang biasa berperan menjadi muslimah sholeha pada beberapa sinetron di Televisi ini telah murtad. Saya masih ingat sosok dokter dr. Vivi di film Ketika Cinta Bertasbih yang diperankan oleh gadis yang biasa disapa Andah itu. dr Vivi tampak lugu berbalut kerudung dan jilbab. Andah sukses menghadirkan nuansa keimanan pada sosok yang diperankannya. Namun ternyata hal tersebut tak menjamin apa-apa. Kini, sekali lagi siapa sangka ia mengikuti agama sang kekasih Jonas Rivanno. Naudzubillahi minzalik.
 Kalau dikatakan terkejut banget sih, enggak. Sebab jejak yang sama juga dilakukan oleh banyak muslim lainnya. Baik yang secara terang-terangan keluar dari Islam ataupun menjadi penganut pluralisme agama. Maksudnya masih ber KTP Islam, tapi kerap mengikuti ritual agama lain. Seringnya itu terjadi karena pacar. Pemberitaan oleh Liputan6.com mengenai ditemukannya foto Asmirandah dan Jonas Rivanno pada Selasa pagi 28 Januari lalu sedang bersama di sebuah gereja di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara hanya melengkapi daftar kaum muslim yang amat sangat lemah keimanannya.

"Jadilah Pemalas"




Picture by http://islamic-style.al-habib.info/
Malas itu buruk. Malas pangkal bodoh. Malas kata negatif yang harus dijauhi semua orang yang ingin hidupnya sukses. Setuju? Kalau saya sendiri berkata, “tergantung malas ngapain”. Malas tidak selalu berarti buruk. Malas tidak selalu menjadi penyebab kebodohan. Adakalanya malas merubah seseorang menjadi lebih baik.
Jika malas diartikan sebagai enggan melakukan sesuatu, maka kalau sesuatu itu adalah perbuatan buruk, malas melakukannya adalah baik. Bagi pelajar, malas menyontek itu baik. Kalau kamu malas menyontek, artinya kamu itu orang yang giat belajar dan persiapan ujian di sekolah matang. Tentu jadi pelajar yang beruntung karena tujuan belajar tercapai, yaitu mendapat ilmu. Malas bolos sekolah itu baik. Tentu ia adalah murid kesayangan para guru karena rajin pergi kesekolah.
5 Juni 2014

KIP, Sarana Pendidikan Politik Umat



                  


Alhamdulillah, Konferensi Islam dan Peradaban Sumatera Utara yang digagas oleh Hizbut Tahrir Indonesia telah sukses dilaksanakan pada tanggal 1 Juni 2014 di Selecta Convention Hall Medan. Ini merupakan rangkaian acara nasional yang diadakan oleh HTI di lebih dari 60 kota di Indonesia sejak akhir bulan Mei hingga minggu pertama bulan Juni 2014. Hizbut Tahrir merupakan sebuah partai politik non parlemen yang bergerak ditengah-tengah masyarakat dalam rangka mengembalikan kehidupan Islam. Maka acara ini diselenggarakan sebagai sarana dakwah atau pendidikan politik Islam bagi masyarakat muslim Sumut.
6 Maret 2014

Hikmah Manajemen Waktu




Picture by me


Berikut hikmah yang bisa diraih dengan mengatur waktu yang diberikan Allah Swt kepada kita.

Terhindar Dari Stress

Kadang kala stress terjadi akibat kita tidak mampu mengurai persoalan untuk diselesaikan. Kegiatan terasa banyak, berat, menumpuk dan semua menuntut untuk segera diselesaikan. Akibatnya hati merasa tidak tenang karena bingung memilih pekerjaan yang harus didahulukan. Konsentrasipun terganggu. Pada akhirnya membuat banyak amanah tidak terselesaikan.

Sebelum menikah aku mengalami hal semacam itu. Sempat juga berusaha membuat perencanaan kegiatan namun aku kurang konsisten menjalankannya. Masih banyak melakukan aktivitas mubah (sia-sia). Sehingga terbentuk persepsi dalam benakku, dengan kegiatan kuliah, membantu orangtua mengurus rumah seadanya, dakwah dan mengaji ditambah bekerja sampingan membantu pekerjaan tulangku dan sesekali menulis saja aku merasa keteteran. Gimanalah jadinya bila aku diamanahkan sebagai pembina. Betapa beratnya.

Lalu bagaimana pula kalau nanti aku sudah menikah. Tidak terbayangkan bagaimana aku bisa melewatinya. Namun kini, aku bisa melewatinya dengan menyenangkan. Salah satunya karena telah berhasil menyusun agenda sehari-hari dan menjalankannya secara konsisten. Maka mengurai masalah dalam bentuk rincian catatan sangat membantu. Hati akan merasa tenang saat satu persatu aktivitas terselesaikan. Konsentrasi lebih terjaga dan lebih banyak karya yang bisa dihasilkan.

Menulis adalah Bekerja Untuk Sejarah


Picture by me
Sejarah mencatat, peradaban Islam pernah melahirkan para intelektual terkemuka di dunia. Mereka ahli di bidangnya sekaligus patuh dan tunduk kepada Allah SWT. Keahlian mereka begitu dihargai oleh negara. Bagi mereka yang mampu menulis kitab, imbalannya adalah emas seberat buku yang ia tulis. Pada masa khilafah Abbasiyah yang berdiri sekitar tahun 800-an Masehi, kemajuan ilmu pengetahuan berada pada puncaknya. Para ilmuan seperti Al Khawarizmi, Ibnu al Haitsam dan ilmuan lainnya mewariskan ilmu mereka pada orang-orang dimasa depan melalui buku. Wajar jika koleksi buku yang disediakan di perpustakaan universitas dalam daulah  terbilang lengkap. Penghargaan yang begitu besar pada kemajuan ilmu pengetahuan, mendorong warga negara Khilafah berlomba-lomba menghasilkan karya intelektual mereka. Sehingga sejarahpun mengenal mereka.

PERAN MUSLIMAH

Picture by me
Muslimah Di Rumah
Syariat Islam begitu sempurna. Dengannya Allah SWT mengatur kehidupan muslimah sedemikian rupa hingga ia mampu berperan aktif dimana saja ia berada. Muslimah shalehah dambaan keluarga. Ia adalah anak yang taat kepada orangtuanya. Bukan ketaatan buta. Tetapi ketaatan karena Allah SWT. Ia pun senantiasa saling menjaga dalam ketaatan dengan seluruh anggota keluarga. Amar ma’ruf nahi munkar harus dimulai dari rumah. Karena dalam Al qur’an surat At Tahrim ayat 6 Allah SWT mengatakan  : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…”.
Muslimah adalah “ratu” di rumah suaminya. Ia berhak mengurus rumahtangganya senyaman yang ia suka. Ia berhak mendidik anak-anaknya dengan pola didik Ilahiyah. Ia penyemangat suami, penentram hati para anggota keluarga dikala mereka butuh sandaran. Ia akan meraih pahala sebesar-besarnya dari Allah SWT atas tanggungjawab berat tersebut. Dengan imbalan pahala dan ridhaNya tidak ada yang terasa berat. Tiada keluh kesah dalam menjalani tiap amanah. Batasan syariah menjadikan kehidupan muslimah tertata dengan indah. Itulah muslimah sang ibu dan pengatur rumahtangga.

Siapakah Muslimah?

Picture by raudhatulhusnia.wordpress.com
Hakikat dan Kedudukan
Sadarilah wahai muslimah, dirimu begitu istimewa. Kau adalah mitra para pria dalam menjaga kelestarian hidup di alam ini. Pincang kehidupan ini tanpamu. Jika pria merupakan sosok yang gagah, tegas dan bijaksana, engkau mengimbanginya dengan kelembutan sikap serta kesabaran menapaki episode demi episode kehidupan.
Ada kalimat yang begitu terkenal mengenai perempuan. Dibalik lelaki hebat, ada perempuan hebat, itu kalimatnya. Tokoh-tokoh dunia, besar karena perempuan. Adalah Thomas Alfa Edison yang merasakan benar dukungan perempuan dibelakangnya. Dia memiliki Nancy Aliot, ibunda yang terus mendampingi dan memotivasi hingga ia menjadi salah satu orang ternama di dunia. Untuk Indonesia, kita mengenal seorang professor yang sangat ahli dibidangnya. Seorang guru besar di Jerman. Dialah Prof. Dr. ing. BJ. Habiebie. Beliau juga memiliki seorang perempuan dibelakang layar yang menjadi penyemangat hidupnya. Yaitu sang istri tercinta, Ainun.

BANGUNAN SD NEGERI 064031 RUSAK



Komitmen pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan dipertanyakan. Pasalnya, dari aspek bangunan saja masih banyak sekolah terutama Sekolah Dasar (SD) yang kondisi gedungnya tidak layak dijadikan tempat belajar. Salah satunya adalah SD Negeri 064031 Kecamatan Medan Amplas, Medan. Sekolah yang resmi berdiri pada 4 Februari 2010 ini kini mengalami kerusakan pada atap bagian terasnya. Dinding-dinding kelasnya juga tampak kusam dipenuhi bercak-bercak kecoklatan. Demikian dengan pintu kelas, tampak kurang sedap dipandang mata.
Didalam ruang kelas memang kondisinya masih terbilang cukup baik. Atap, bangku, meja dan lainnya setidaknya masih layak menjadi tempat belajar. Namun begitu para murid keluar dari kelasnya, suasana pasti terasa tidak nyaman. Karena kerusakan bangunan luar yang ada mengganggu pandangan siapapun yang melihatnya. Termasuk anak-anak pada saat bermain sangat mungkin merasa kurang nyaman dengan keadaan sekolah mereka. Terlebih jika mereka membandingkan dengan sekolah-sekolah lainnya terutama sekolah swasta yang bangunannya bagus, dicat dengan indah sehingga suasana segar dan menyenangkan. Bukankah suasana bermain yang nyaman membantu anak untuk lebih senang belajar.

Takut Riya’, Luruskan Niat

Picture by frame123.net
Kehati-hatian itu perlu. Karena dengan bersikap hati-hati, kita akan terhindar dari bahaya. Berhati-hati dalam mengendarai motor akan meminimalisir potensi terjadinya kecelakaan. Tentu ini dengan hitung-hitungan manusia. Diluar qadho Allah lo ya. Demikian jika berhati-hati dalam hal menggunakan suatu benda, akan mengurangi potensi kerusakan benda akibat kelalaian kita. Takut akan kerusakan itu wajar. Rasa itulah yang mendorong manusia untuk bersikap hati-hati.
Konsekuensi dalam sikap berhati-hati adalah melakukan berbagai pilihan yang tepat untuk dilakukan. Agar harapan yang dimiliki dari sikap tersebut terwujud. Berhati-hati dalam berkendara berarti memperhatikan segala sesuatu terkait keamanannya. Kita harus memakai helm dan tidak ngebut. Didukung pula senantiasa memperhatikan berbagai peraturan lalu lintas yang ada. Menjaga agar tidak terjadi kerusakan pada benda berarti memberi perhatian yang cukup kepadanya. Tidak meletakkannya sembarangan serta merawatnya dengan baik.

Dia Bisa, Kenapa Aku Tidak!!

Picture by www.dakwatuna.com
       Seorang teman pernah tersinggung hatinya saat ku bandingkan dengan orang lain. Maaf ya teman, kalau aku menyinggung hatimu. Sungguh bukan maksudku untuk membuatmu marah. Pertanyaannya, apakah yang ku lakukan benar-benar salah menurut standar agama?
       Salah satu sifat alamiah manusia adalah rasa ingin mempertahankan diri. Ia tak ingin dikatakan lebih buruk dari yang lain. Sebaliknya ia selalu ingin dikatakan baik. Maka kalau kamu ingin cari marah temanmu, silahkan katakan kelemahannya dengan membandingkan ia dengan yang lain. Bersiap-siaplah untuk menerima amukan darinya. Atau minimal ia bakal cemberut ke kamu.
      Seperti aku yang tanpa niat buruk membandingkan teman yang satu ini dengan sesosok perempuan. Maksudku sih, agar temanku dapat belajar darinya. Bahkan berusaha menjadi lebih baik darinya. Tapi ya gitu, dia marah.