Senin, 11 Juni 2018

Berhijab, Tak Membuatku Berhenti Melakukan Apa Yang Aku Suka?





Fenomena hijaber patut kita syukuri. Sebab berhijab atau menutup aurat bagian dari perintah Allah swt bagi muslimah. Kesadaran berislam makin meningkat, tentu membahagiakan. Orang beriman mana yang tak senang dengan kebaikan. Iya kan?

Beberapa tahun belakangan gamis (jilbab) jadi tren berpakaian muslimah. Jelang lebaran ini pun, gamis masih bertahan menjadi pakaian yang banyak diminati. Seiring dengan meningkatnya kesadaran berislam pada diri kaum muslim, ke depan sepertinya gamis masih jadi tren. Bahkan diikuti dengan tren baru, yaitu cadar.

Meski berbagai upaya membunuh citra positif Islam terus dilakukan oleh para pembenci, nyatanya tren berhijab jalan terus. Manusia takkan bisa menghalangi terbitnya fajar. Alhamdulillah.

Di tengah kebahagiaan menyaksikan hijrahnya para muslimah, ada yang mengusik saya. Ada sebuah iklan memperlihatkan para muslimah berkerudung, mengusung motto, “Berhijab, Tak Membuatku Berhenti Melakukan Apa Yang Aku Suka”.

Selasa, 05 Juni 2018

Mengatasi Problem Kesehatan Dengan Islam

(Review Buku)

 

Judul buku          : Menggagas Kesehatan Islam
Penulis                 : dr. Fauzan Muttaqien dkk.
Penerbit                : Kaaffaah Penerbit
Ketebalan             : 243 hal
ISBN                     : 978-602-61591-2-0

Saya pernah membaca buku yang judulnya mirip judul buku ini, “Menggagas Pendidikan Islam”. Ditulis oleh Ustaz Ismail Yusanto dkk. Isinya menjelaskan dengan cukup rinci, konsep pendidikan Islam sejak dini hingga tingkat lanjut, yang digagas oleh penulis. Buku itu cocok sebagai panduan bagi siapa saja yang ingin membuka lembaga pendidikan.

Namun buku Menggagas Kesehatan Islam ini berbeda penuturannya dengan buku pendidikan tersebut. Buku ini lebih bersifat deskriptif. Gambaran problem dunia kesehatan yang diungkapkan oleh para praktisi dan pemerhati masalah kesehatan. Ditulis dengan data-data, khas orang-orang eksakta.

Uniknya, mereka bukan hanya para profesioal di bidang kesehatan, namun plus pejuang Islam. Mereka tergabung dalam komunitas yang diberi nama Helpsharia. Sebuah komunitas yang dibentuk untuk mengumpulkan para tenaga kesehatan yang punya kepedulian akan masalah bangsa.

Mereka mengkritisi problem bangsa dari sisi kesehatan, dan meyakini bahwa solusi atas problem tersebut adalah penerapan Islam kaffah.

Buku ini dibagi kedalam lima bab. Pertama; Dari Meja Praktek Menuju Tegaknya Islam. Kedua; Menyehatkan Keluarga Dengan Syariah. Ketiga; Gurita Kapitalis Mengcengkram Kesehatan. Keemat; Berkaca Sehat, Kala Khilafah. Kelima; Meretas Jalan Sehat Bernaung Syariah.

Sebelumnya saya berpikir menjadi dokter sekaligus aktivis Islam itu sangat sulit. Akan sangat sedikit yang bisa menjalankannya. Mengingat studi maupun profesi kedokteran menyita sebagian besar waktu, sampai-sampai yang menggelutinya tak sempat lagi memikirkan hal lain.

Sabtu, 02 Juni 2018

Drama Ketidakadilan Hukum yang Tidak Pernah Tamat

Meme Comic Indonesia

Ketika penguasa mempertontonkan ketidakadilan, kepercayaan rakyat akan hilang dengan sendirinya. Untuk kesekian kali standar ganda digunakan oleh penguasa untuk menyikapi prilaku rakyatnya. 

Baru-baru ini beredar dan viral, video seorang remaja berusia 16 tahun yang sedang menghina Presiden Jokowi. 

Dalam video berdurasi 19 detik di akun Instagram @jojo_ismayaname itu sang pria memegangi foto presiden, menunjuk-nunjuk ke arah foto tersebut sambil mengucapkan kalimat-kalimat kebencian. “Gue tembak orang ini. Gue pasung, ini kacung gue, kacung gue. Gue lepasin kepalanya,” teriaknya di dalam video.

Tak lama setelah remaja itu diamankan, pihak kepolisian memberikan keterangan. Kabid Humas Polda Metro Jaya. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, saat dimintai keterangan oleh polisi, remaja tersebut mengaku tak benar-benar berniat menghina Presiden (Kompas.com). 

Setelah minta maaf, pelaku pun dibebaskan. Pasca kejadian, polisi bermaksud mengusut penyebar video tersebut.

Ingatan netizen pun terbang ke beberapa waktu sebelumnya. Seorang remaja SMK berusia 18 tahun, pemilik akun Facebook Ringgo Abdillah ditangkap karena di duga menghina Presiden Jokowi dan Kapolri Tito Karnavian. 

Ia pun akhirnya divonis delapan belas bulan penjara. Andai ia tahu bahwa penghina presiden lainnya bisa dibebaskan dengan minta maaf, dia pasti sudah melakukannya. Tapi apakah pemuda SMK ini tak menyesali perbuatannya yang berujung bui itu? Mungkinkah sebenarnya dia pun minta maaf tapi tak diindahkan?

Mengapa Intervensi Amerika Serikat Terhadap Persoalan Indonesia Harus Ditolak? Ini Sebabnya

Ambil Tahu Dunia Islam


Sebuah video yang diunggah sebuah akun instagram memperlihatkan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk PPB, Nikki Haley dipermalukan saat ia berpidato di University of Houston, Texas. 

Di tengah pidatonya sejumlah aktivis mahasiswa pro-Palestina berteriak dengan ucapan “pembunuh”. Dalam kondisi terdiam, Nikki terus diteriaki dengan ucapan “kaki tangan teroris”, “penjajah Israel”. Tampaknya para mahasiswa tersebut sadar betul, Nikki Haley mewakili wajah bengis Amerika sebagai pendukung utama sang pembantai, Israel.

Nikki menjadi bagian dalam usaha pembenaran pemindahan Kedutaan Besar AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Al Quds. Baru-baru ini enam puluh lima orang rakyat Palestina tewas dan ribuan terluka oleh militer Israel dalam aksi protes pemindahan Kedubes AS ke al Quds. 

Terlalu telanjang kekejaman Israel dan Amerika bagi dunia. Sehingga, meskipun pelaku kejahatan tersebut adalah pemerintahnya sendiri, para aktivis mahasiswa tidak mengamini. Rasa kemanusiaan para aktivis mahasiswa itu lebih tersentuh pada derita rakyat Palestina.

Dengan kejadian tersebut, yang lebih tak masuk akal lagi adalah wacana yang beredar dari lisan Bapak Wiranto, bahwa Amerika akan membantu Indonesia dalam memerangi terorisme. Bayangkan, pemerintah Amerika pendukung Israel yang utama. Amerika membenarkan apapun langkah Israel dalam upaya merampas seluruh tanah Palestina. 

Amerika tak peduli dan tetap setia meski ribuan rakyat Palestina kehilangan nyawa disebabkan ulah Israel. Ancaman nyata bagi tiap nyawa rakyat Palestina adalah Israel. Namun kini teman setia Israel berbaik hati membantu Indonesia selesaikan masalah terorisme? 

Kamis, 31 Mei 2018

Pramuniaga Toko Berwajah Cemberut

Tribunnews.com

Umumnya, pramuniaga sebuah toko bakal beramah tamah atau minimal bermuka cerah pada pengunjung toko yang datang. Harapannya, dengan begitu pengunjung lebih berminat untuk membeli. Sebab, selain faktor benda yang dijual, pelayanan juga cukup menentukan terjadinya jual beli. Tapi beberapa kali berkunjung ke toko sekitar rumah saya, penampakannya tak demikian.

Saat berkunjung ke toko assesoris hp, sang pramuniaga yang berwajah ketat membuntuti saya. Saya paham, bahwa ia memang ditugaskan demikian, berada di sisi pengunjung toko agar bisa memberi bantuan. Tapi dengan wajah tak ramah, ditambah satu sikap lagi yang cukup bikin tak nyaman (dia buru-buru merapikan barang yang baru saja saya pegang, dihadapan saya), saya pikir itu kurang etis.

Di Ramadhan ini, hal serupa terjadi lagi. Kemarin saya menemani suami membeli baju koko ke sebuah toko. Kami datang ke toko itu memang awal sekali. Toko itu belum sempurna dibuka, kami sudah memilih-milih baju. Masih ada yang menyapu dan mengeluarkan baju-baju untuk dipajang dibagian depan toko.

Saat sedang memilih-milih baju, seorang pramuniaga menghampiri kami, dengan wajah datar. Saat itu keadaan masih normal. Hingga saat kami minta size lain dari baju pilihan kami kepadanya. Tanpa berusaha mencari lebih maksimal, diapun bilang size yang kami minta tidak ada.

Masih dengan wajah cemberut bahkan kelihatan lebih buruk lagi ekspresinya. Kalau boleh saya simpulkan menurut penglihatan saya, dia tidak suka kami mintakan bantuan. “Cari saja dari apa yang dilihat”, seolah begitu kata wajahnya.

Kamis, 24 Mei 2018

Buang Sekulerisme, Ambil Islam Kaffah




“Ingaaat, Ramadhan nih, stop dulu pacarannya. Tiga puluh hari harus puasa pacaran.” Kata seorang pria pada wanita di sebelahnya sambil senyum-senyum.

Pemandangan itu terlihat di pasar, saat saya berbelanja di hari kedua Ramadhan. Saya lirik sekilas, wanita yang ‘dinasehati’ temannya itu sedang menempelkan handphone ke telinganya seraya cuap-cuap.

Peristiwa itu bikin saya menyimpulkan beberapa hal. Pertama, makin banyak saja orang yang paham kalau pacaran itu dilarang dalam Islam.

Kalau diingat-ingat lagi, sudah sejak lama sih pacaran diyakini banyak orang sebagai aktivitas terlarang. Lah, buktinya saat nikah bilang, “Alhamdulillah halal”. Berarti sebelum nikah haram dong. Betul kan?

Kedua, masyarakat kebanyakan bakal tetap sekuler selama Islam belum diterapkan secara sempurna dalam kehidupan. Ya, sekuler yang berarti memisahkan agama dari kehidupan, akan bikin muslim salah paham tentang cara menjalankan Islam.

Mereka pikir, keharaman pacaran hanya berlaku saat Ramadhan. Sebab Ramadhan adalah bulan suci. Kalau bulan-bulan yang lain bagaimana? Ya tidak apa-apa.

Sama seperti menutup aurat, kesadaran menutup aurat keluar rumah memang makin meningkat di kalangan muslimah. Tapi yang menyangka bahwa nutup aurat itu cocoknya saat Ramadhan saja, lebih banyak.

Inilah sekulerisme, paham memisahkan aturan Islam dari kehidupan. Ia merupakan pangkal dari semua kerusakan yang ada. Karenanya cara berpikir kaum muslim saat ini jadi jauh dari tuntunan Islam.

Sebaik-baik muslim adalah yang maksimal memanfaatkan berkah Ramadhan. Saatnya jadikan Ramadhan momen memperbaiki ketaatan kita. Buang jauh sekulerisme, ambil Islam secara kaffah.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)

Islam itu sempurna, harus dijalankan dalam seluruh aspek hidup kita. Mau Ramadhan, atau di bulan-bulan lainnya, setiap perintah dan larangan Allah swt berlaku bagi kita.

#RamadanBaper
#RamadhanBersamaRevowriter
#IslamRahmatanLilAlamin
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...