11 Juli 2020

3 Hal Ganjil di Tengah Gencarnya Program KB

https://www.hipwee.com/
 

Hari keluarga nasional 2020 disambut BKKBN dengan menggencarkan program Keluarga Berencana (KB). Tampaknya peningkatan kelahiran terus menjadi momok menakutkan bagi pemerintah. Apalagi di musim pandemi yang melemahkan perekonomian. Sempat ada sikap ‘menyalahkan pandemi’. Gara-gara ada covid-19 masyarakat enggan ke fasilitas kesehatan. Akibatnya angka pengguna konstrasepsi menurun. Efek berikutnya, berbagai daerah melaporkan peningkatan angka kehamilan. (https://health.detik.com/29/06/2020)

Di tengah gencarnya program KB oleh BKKBN, sejumlah hal menjadi ganjil bila dipikirkan.

1.  Ada fenomena pasangan yang sulit memiliki keturunan.

https://sarawakvoice.com/

Sadarkah pemerintah, kesulitan memiliki keturunan pada sebagian masyarakat jauh lebih bermasalah dibandingkan angka kelahiran yang dianggap masalah. Di tahun 2015, Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi Budi Wikeko  pernah menyebutkan bahwa dari 40 juta pasangan yang mengalami masa subur, 10-15 persen diantaranya mengalami infertilitas atau gangguan kesuburan berefek sulit memiliki keturunan.(https://www.cnnindonesia.com/23/12/2015).

Di tahun 2018, dokter ahli kandungan dan kehamilan dr Beeleonie, BmedSc. Mengatakan bahwa status tidak subur pada sekitar 25 persen pasangan terjadi di Indonesia. Dijelaskan oleh Dokter spesialis akupuntur medik RS Pondok Indah, dr Handaya Dipanegara MKes SpAK, bahwa saat ini, kasus infertilitas menjadi masalah kompleks di bidang kesehatan reproduksi. https://health.detik.com/19 Des 2018

Tampak dari tahun ke tahun kasus infertilitas bertambah. Jumlahnya bukan hitungan ratusan atau ribuan, tapi jutaan. Akibat kasus infertilitas, dengan sendirinya jumlah potensi kelahiran berkurang, bahkan jumlah pengurangannya cukup besar. Masalah ini dipicu setidaknya oleh dua hal. Pertama, adanya masalah berkaitan dengan kesuburan baik pada isteri maupun suami. Kedua, adanya keengganan pada pasangan suami isteri untuk memiliki keturunan.

Inilah yang luput dari perhatian pemerintah. Solusi bagi permasalahan pasangan yang kurang subur telah ditangani oleh pihak swasta. Atas nama penggunaan teknologi yang canggih, upaya memiliki keturunan dengan jalan medis seperti bayi tabung, berbiaya mahal. Biaya berkisar antara puluhan hingga ratusan juta rupiah. Efeknya, sesiapa yang minim finansial tak berkesempatan ikut mencoba cara tersebut.

Sedangkan masalah pasangan yang memang enggan memiliki keturunan dipicu oleh pemahaman mereka tentang kehidupan. Diantara mereka ada yang berpendapat mengejar karir atau pendidikan lebih layak didahulukan. Sehingga mereka tersibukkan dengan aktivitas tersebut. Saat kesadaran itu datang, usia wanitanya pun telah menua dan masa emas kesuburan telah berlalu. Paling maksimal pasangan semacam ini memiliki anak satu orang.

Pemahaman keliru tersebut tak lepas dari kenyataan semakin tingginya biaya hidup dan meningkatnya persaingan di dunia kerja. Pada akhirnya memiliki anak pun ada pula yang memandangnya sebagai tambahan beban. Baik menambah beban aktivitas maupun biaya hidup. Bahkan dianggap mengurangi produktifitas. Meski jumlah pasangan dengan pemikiran dangkal seperti itu belum banyak di negeri kita, namun dengan kondisi politik dan ekonomi yang semakin carut marut, mereka berpotensi bertambah.

Di barat dan beberapa negara maju di Asia seperti Jepang dan Korea, keengganan pasangan memiliki keturunan dengan alasan karir dan pendidikan telah meresahkan. Keberadaan mereka semakin mengancam terjadinya lost generation di negara-negara tersebut.  Seperti yang terjadi di Amerika Serikat, tingkat kelahiran bayi pada 2018 jatuh ke level terendah dalam 31 tahun terakhir. Salah satu laporan pemerintah Inggris juga mengungkapkan tingkat kelahiran di Inggris dan Wales di tahun yang sama mencapai rekor terendah. https://www.krjogja.com/25/10/2019

Lantas dimana peran pemerintah untuk mengatasi persoalan rakyatnya ini?

2.    Rakyat dianggap beban, padahal rakyat sumber utama pendapatan negara


Pernyataan pemerintah aneh dan memprihatinkan. Mereka selalu mengulang alasan gencarnya program pengurangan angka kelahiran yakni menambah beban negara. Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo, SpOG(K) mengatakan bahwa peningkatan angka kehamilan yang tidak direncanakan berpotensi menimbulkan masalah, seperti peningkatan beban BPJS Kesehatan, kenaikan angka aborsi, hingga stunting. (https://health.detik.com/29/06/2020)

Sebagian kecil masyarakat miskin memang ditanggung iuran BPJS-nya oleh negara. Namun sumber utama keuangan negara bukan dari kantong para pejabat, melainkan dari rakyat yang membayar pajak. Bukankah berarti pada hakikatnya rakyat sendiri yang mensubsidi sesamanya? Bukankah sejak awal BPJS digadang-gadang sebagai solusi jaminan kesehatan bagi masyarakat? Namun mengapa seolah rakyat dilarang menggunakan jasa BPJS, dengan menyebut angka kelahiran yang meningkat bakal membebani BPJS?

Bukankah beban yang sebenarnya bagi negara adalah utang yang menumpuk beserta bunganya? Bukankah yang menguras habis ‘isi kantong’ negara adalah para koruptor rakus pencuri uang negara? Bukankah yang mengurangi potensi pendapatan negara adalah keberadaan perusahaan swasta dan asing yang mengambil keuntungan dari kekayaan alam negeri kita? Sementara yang merasakan efek buruk beban negara ini bukan pula para pejabat. Mereka bisa hidup mewah. Rakyatlah yang merasakan buruknya kondisi ekonomi negeri ini.

3.    Keyakinan agama dianggap menghalangi program KB

https://medium.com/

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Surakarta, Purwanti mengatakan bahwa diantara kendala pelaksanaan program KB adalah kepercayaan masyarakat terkait mitos banyak anak banyak rejeki, serta keyakinan terkait peraturan agama masing masing penduduk. (https://rri.co.id/18/03/2019)

Pernyataan bahwa kepercayaan banyak anak banyak rezeki adalah mitos sesungguhnya telah melecehkan ajaran agama. Konsep rezeki secara jelas dibahas dalam sumber-sumber hukum agama Islam. Di dalamnya Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan telah menjamin rezeki seluruh makhluk di muka bumi. Firman Allah swt: “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS. Saba’: 24)

 “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”(QS. Hud: 6)

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS Al-Isra: 31)

Rasulullah saw pun menyukai jumlah umatnya yang banyak. Sabda Rasulullah saw: “Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat.” (Shahih Riwayat Ahmad)

Jaminan rezeki dari Allah swt bukan sekedar janji, namun dilengkapi dengan aturan Islam yang menjamin terwujudnya kehidupan sejahtera. Aturan Islam mengenai politik, ekonomi, pendidikan dan lain-lain bersatu padu menciptakan masyarakat yang berkualitas berapapun besarnya jumlah mereka.

Inilah yang belum diterapkan saat ini. Sistem kapitalis sekuler yang rusak dan merusak telah memporak-porandakan perekonomian. Lantas jumlah penduduk yang meningkat dijadikan kambing hitam terhadap permasalahan yang ada. Selayaknya kita bersyukur atas bertambahnya jumlah umat ini. Merekalah generasi yang kelak ikut memperjuangkan Islam dan mengisi peradaban masa depan

20 Juni 2020

4 Prinsip Sukses Berbisnis Ala Suami Saya

dok. pribadi

Kehidupan kita hari ini bak hutan rimba. Masing-masing penghuni di dalamnya harus survive dengan usahanya sendiri. Siapa yang kuat dialah pemenangnya. Bagi yang lemah, tak ada pengayoman maksimal dari negara. Hanya bantuan seadanya yang lebih banyak diberikan oleh sesama masyarakat.

Sebenarnya kondisi ini tidak ideal. Dalam sistem politik Islam ada kewajiban bagi negara menciptakan kondisi stabil bagi rakyatnya, mendekatkan antara yang kuat dan yang lemah. Mendistribusikan harta pemberian Allah swt di muka bumi secara merata. Serta menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok semua manusia.

Dengan kondisi yang ada, kita tidak bisa menjadi orang biasa-biasa saja. Kita harus menjadi pribadi luar biasa, kreatif, agar mampu membangkitkan diri dan orang-orang sekitar kita.

Dalam hal kemandirian ekonomi secara individu, sejumlah prinsip diajarkan suami saya. Dipelajari dari dua gurunya yaitu Tung Desem Waringin dan Mario Teguh. Bukan menjadi pekerja orang lain. Melainkan bisnis.

Jika dipahami dan dijalankan, insya allah ekonomi keluarga berpeluang untuk berkembang makin baik setiap harinya. Simak ya;


1.  Lakukan usaha sebanyak-banyaknya. Terserah Allah swt rezeki kita dari pintu yang mana.

dok. pribadi

Janji Allah swt tentang rizki bersifat qath’i. Artinya benar-benar kuat kepastiannya. Allah swt berfirman: “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan. (QS. Adz-Dzariyat: 22-23).

Kepastian akan rezki bukan menyuruh muslim untuk berdiam diri menunggu rizki jatuh dari langit. Sebaliknya, justru muslim diminta optimis untuk melakukan berbagai upaya menjemput rizki Allah swt. Selama manusia hidup, pasti ada rizki yang Allah sediakan untuknya.

19 Juni 2020

Nyurhatin Para Suami Yang Abai Beri Nafkah

koleksi pribadi

Aku kecewa berat dengan para suami masa kini. Sekitar 60 persen rumah tangga yang ku kenal, suaminya kurang bertanggung jawab. Memberi nafkah adalah salah satu kewajiban suami pada keluarga. “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf” [al Baqarah / 2:233]

Jika kewajiban nafkah diabaikan, jatuhnya dosa. “Seseorang dikatakan berbuat dosa, ketika dia menyia-nyiakan orang yang wajib dia nafkahi.” (HR. Abu Daud No.1694, Ibnu Hibban No.4240 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

Nafkah diwajibkan bagi suami dan ia berhak untuk ditaati serta dilayani. Aku pikir ajaran Islam sudah menempatkan peran suami istri sedemikian adilnya, sehingga kalau masing-masing menjalankannya, amanlah rumah tangga.

Namun zaman ini adalah zaman kerusakan. Diman Islam tak menjadi pedoman hidup individu, masyarakat dan negara. Saat ini peran para istri terlihat lebih dominan memenuhi nafkah keluarga dibanding para suami. Para istri telah berubah menjadi tulang punggung. Bukan lagi tulang rusuk. Sungguh berat beban para perempuan bersuamikan lelaki lemah tanggung jawab. Sudah mengurus anak, rumah, masih dibebani urusan ekonomi keluarga.

Masih mending beberapa dari para istri itu, suaminya bisa diajak kerjasama meski inisiatif ada pada istri. Jualan online misalnya. Ada pesanan, suami bersedia bersama istri antar pesanan pembeli.

Sebagian rumah tangga lainnya, malah asli suaminya lepas tanggung jawab nafkah. Ada yang diingatkan malah marah. Atau dia bekerja namun upahnya hanya cukup buat dirinya sendiri.

Sebenarnya si suami masih bisa berusaha mencari lebih agar pendapatannya cukup untuk semua anggota keluarga. Tapi dia malas. Dia merasa apa yang diberikannya harus cukup. Nggak peduli biaya hidup yang tinggi, biaya sekolah anak, biaya kontrakan rumah, listrik dan lain sebagainya. Dia sekedar bekerja tapi tak mau maksimal padahal masih mampu untuk dimaksimalkan.

Sampai-sampai ada istri yang terpaksa cari utang demi menutupi kebutuhan rumah tangga. Mestinya yang usaha cari utang juga kan suaminya. Tapi urusan beginian juga istri. Bikin orang lain tahu seberapa lemah kepemimpinan si suami.

Aku pikir beberapa faktor telah menjadi penyebab fenomena suami-suami lemah tanggung jawab;

18 Juni 2020

(Resep) Es Rempah Plus, Segar, Enak Banget dan Menyehatkan

Apakah kamu pencinta  jajanan  kayak boba ice, cendol atau sejenisnya? Minuman-minuman itu enak sih, tapi kurang sehat. Karena mengandung gula yang tinggi serta santan. Ada loh minuman yang rasanya nggak kalah enak namun lebih sehat. Nggak perlu beli. Kamu bisa buat sendiri di rumah. Bahannya familiar dan caranya gampang kok. Kalau dianggap repot, yaah repot-repot dikit nggak apa-apa-lah ya. Kan yang penting enak dan sehat. Bahan utamanya adalah rempah, plus tambahan buah-buahan dan bijian. Simak resepnya di bawah ini;

Bahan-bahan


200 ml air

Madu 5 sm

Jahe sepotong ukuran jempol

Kunyit setengah kuku kelingking/ bisa juga pakai bubuk kunyit seujung sendok makan

Lengkuas setengah kuku kelingking/ bisa juga pakai bubuk lengkuas seujung sendok makan

Jeruk lemok ¼ potong

Sereh satu potong

Daun salam selembar

Daun pandan selembar (opsional), kalau kurang suka aromanya nggak usah dipakai

Chia seed satu sendok makan

Kurma 3 butir

Kismis 15 butir

Agar-agar jelly sesuai selera (original tanpa gula)

Cara membuat


Rebus air beserta jahe, kunyit, lengkuas, sereh, daun salam dan daun pandan kalau suka, sampai mendidih. Setelah mendidih matikan api, saring dan tuang air rebusan ke gelas. Lalu masukkan perasan lemon dan madu. Campurkan ke dalamnya chia seed, kurma dan kismis serta agar-agar jelly. Dinginkan di dalam lemari es beberapa jam. Sesudah dingin, kamu bisa menikmati es yang super sehat, enak dan segar.

Aku sendiri sudah coba minuman ini pakai dan tanpa daun pandan. Kalau aku lebih suka tanpa pandan. Tapi siapa tahu kalian lebih suka pakai daun pandan, di coba aja keduanya kayak aku. Selamat mencoba ya. Yuk tetap sehat untuk hadapi masa pandemi.