24 Maret 2020

Beraktivitas di Tengah Wabah Corona

https://www.vivanews.com/


Masih dalam masa karantina, demi membantu memutus rantai penyebaran virus Covid 19. #DiRumahSaja. Menonton film Contagion (2011) menjadi salah satu menu aktivitas aku dan suami di hari Senin, 23 maret 2020. Ceritanya mirip sekali dengan kondisi kita hari ini.

Muncul satu jenis virus baru, yang berakibat menimbulkan gejala batuk, sakit kepala, demam hingga sesak nafas. Tak menunggu lama, hari ketiga terjangkiti virus tersebut, korban pertama yang dimunculkan dalam film itu pun tewas mengenaskan. Tubuhnya kejang – kejang, mulut mengeluarkan busa dan seketika kehilangan nyawa.

Kejadian yang sama secara cepat ditemukan pula pada anak korban, serta orang – orang yang pernah kontak dengannya. Setiap harinya jumlah orang yang terpapar virus tersebut terus bertambah. Penularan yang cepat terjadi melalui kontak fisik, percikan batuk penderita dan bersentuhan dengan benda – benda yang terkontaminasi virus.

Di hari kesembilan belas negara – negara yang terpapar virus tersebut mengalami chaos. Khususnya Amerika. Kebanyakan orang panik, hingga menghabiskan persediaan makanan di toko. Rumah – rumah dimasuki maling hanya untuk mencari makanan. Sebagiannya mencoba keluar dari kota tempat tinggalnya. Namun dicegah oleh kepolisian.

Rumah sakit – rumah sakit kelebihan pasien, hingga dibuat beberapa tempat perawatan darurat di lapangan olahraga. Ketersediaan alat – alat kesehatan pun mengalami defisit. Sementara sebagian besar perawat memilih undur diri dari tugas berat ini. Mereka tak bersedia mengambil resiko merawat pasien dalam kasus ini.

Beberapa dokter yang membantu menangani pasien korban virus ikut terpapar virus. Satu orang meninggal dalam perawatan di sebuah lapangan olahraga. Jadi teringat kondisi dokter Indonesia saat ini yang sebagiannya telah gugur di tengah tugas membantu menangani pasien corona. Semoga Allah swt membalas kebaikan mereka dengan surga. Aamiin.

Belakangan diketahui bahwa virus bermula di Hongkong. Virus itu muncul dari hasil kolaborasi kelelawar dan babi. Seekor kelelawar yang sedang terbang menjatuhkan suatu benda kecil hingga terkena seekor babi ternak. Babi tersebut dibunuh dan dibersihkan untuk dimasak oleh seorang koki restoran. Koki tersebut terlihat bersalaman dengan perempuan korban tewas yang dimunculkan di awal film.

Film itu diakhiri dengan penemuan vaksin oleh seorang ahli di laboratorium. Dikatakan bahwa untuk memproduksi dan mendistribusikan vaksin tersebut ke berbagai wilayah butuh waktu setidaknya satu tahun.

***

Para dokter yang bersedia merawat pasien corona hari ini meminta masyarakat untuk membantu tugas mereka dengan #DiRumahSaja. Karena tugas mereka sungguh berat. Fasilitas kesehatan minim mengalahkan jumlah pasien yang setiap harinya bertambah.

Namun beginilah model masyarakat Indonesia. Sebagiannya minim literasi dan kepedulian. Seperti di daerah rumahku, sebagian besar masyarakat masih beraktivitas seperti biasa. Padahal Sumatera Utara sudah dikategorikan zona berbahaya.

Meskipun ada dari mereka yang memang terpaksa keluar demi memastikan dapur tetap ngebul. Sebab arahan sosial distancing oleh pemerintah tidak didukung jaminan terpenuhinya kebutuhan selama karantina.

Data terakhir Selasa 24 Maret 2020, lebih dari 1391 orang yang melaporkan diri berinteraksi dengan orang terinfeksi virus Covid 19. 58 orang diantaranya berstatus PDP (Pasien Dalam Pengawasan). 8 orang positif corona dan 8 lainnya dinyatakan negatif. Setidaknya 2 orang dilaporkan telah meninggal dunia karenanya.

Bila ditimbang – timbang, pada akhirnya tindakan pemerintah tetaplah yang paling berpengaruh pada penanganan kasus ini. Jika upaya pemerintah maksimal memudahkan kerja para dokter dan mampu menertibkan masyarakat, insya allah masalah ini cepat selesai.

Sayangnya 49 TKA China yang berhasil masuk ke Kendari minggu lalu telah membuat masyarakat kecewa. Memupuskan harapan masyarakat akan kesungguhan upaya pemerintah menghentikan penyebaran virus Covid 19.

Ya Allah, hanya kepadamu kami berserah diri. Mudahkanlah para dokter yang bekerja untuk kasus corona dalam menjalankan tugasnya. Beri mereka kesehatan. Ampunilah kami. Lindungi kami dan selamatkanlah kami dari wabah virus corona. Aamiin.

26 Desember 2019

Berani Membuka Pintu Rezeki



Allah swt tak pernah ingkar janji. Jaminan rizki dariNya itu benar. Kuncinya dua. Yakin dan usaha. Satu pengalaman tentang datangnya rizki dari arah tak terduga terjadi pada kami. Di usia pertama pernikahan kami, kondisi keuangan keluarga belum stabil seperti sekarang. Suamiku bisnis bimbingan belajar kecil - kecilan. Hanya itu. Belum ada usaha tambahan. Waktu itu penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari – hari dan menabung untuk sewa rumah.

Akhir semester genap adalah libur terpanjang bagi usaha suamiku. Sebab murid – murid bimbel kebanyakan adalah siswa kelas akhir, yang tengah persiapan UN. Sekitar bulan April UN dilaksanakan. UN berlangsung, jumlah murid bimbel pun menurun drastis. Tersisa sedikit murid dari kelas lain. Sebulan kemudian mereka pun ujian dan libur les pula. Bulan tujuh awal sekolah baru dimulai lagi.

Artinya, bisa dikatakan selama dua bulan lebih hampir – hampir tak ada penghasilan yang kami dapatkan. Hingga keuangan kami mulai seret. Tambah seret. Makin seret.

Masa liburan masih tersisa sebulan lebih waktu itu, uang di tangan tinggal dua puluh ribu. Ada beberapa pilihan bagi kami. Pertama, menghemat uang tersebut hingga masa libur usai. Makan nasi pakai garam misalnya. Karena beras masih ada. Tinggal beli garam. Kedua, berhutang. Tapi pilihan ini tidak disukai suamiku. Ketiga, menjadikan uang dua puluh ribu itu sebagai modal buka pintu rezeki.

Suamiku memilih alternatif ketiga. Dengan keyakinan bahwa setiap yang hidup pasti ada rezekinya. Siapa yang berusaha, Allah swt pasti menghargai usaha tersebut. Allah maha penyayang, akan memberi rezeki pada siapa yang kehendakiNya. Kami yakin Allah swt tidak akan meninggalkan kami.

Saat itu keahlian suamiku hanya mengajar. Maka suamiku memutuskan mencoba mencari murid privat. Padahal kalau ditimbang pakai akal, siapa sih yang mau les masa libur begitu? Ada sih satu dua orangtua yang memilih mengkursuskan anaknya di masa libur. Daripada main terus, ntar lupa dengan pelajaran, mending liburan diisi kursus. Kata mereka. Tapi orang – orang seperti itu langka.
25 Desember 2019

Andai Aku Menjadi Muslimah Uyghur

http://terkininews.com/2019/12/24/Solighur-Unjukrasa-Protes-Bungkamnya-Pemerintah-Indonesia-Terkait-Muslim-Uighur.html


Aku membayangkan menjadi muslimah Uyghur, dipaksa menikah dengan pria asing. Terutama berbeda akidah denganku. Seumur hidup harus kujalani dengannya. Hatiku pasti terluka. Padahal dalam Islam seorang wanita berhak ditanyai persetujuannya, terhadap pria yang ingin meminangnya. Tapi pemerintah China tak kenal toleransi. Mereka bertangan besi. Memaksakan kehendaknya pada muslimah Uyghur.

Bagaimana pula jika aku menjadi muslimah Uyghur yang bernasib lebih malang. Bukan dinikahi. Tapi diperkosa. Naudzubillah. Tapi itulah yang terjadi. Muslimah Uyghur digagahi oleh petugas – petugas pemerintah China secara bergantian. Tak ada belas kasihan. Tiada terbayang oleh mereka, bagaimana seandainya yang diperkosa itu adalah istri atau anak perempuan mereka.

Bagaimana jika aku menjadi muslimah Uyghur, yang suaminya dimasukkan ke tahanan bersama satu juta warga Uyghur lainnya. Tanpa salah apa – apa. Tanpa kejahatan yang menjadi alasan ia pantas menerima siksa. Suamiku harus menerima tindak kekejaman setiap harinya. Didoktrin dengan ajaran – ajaran komunis. Dipaksa berbangga dengan pemerintah China yang faktanya kejam. Dipaksa mencintai negara yang menebar kejahatan bagi kaumku.

Apa rasanya menjadi muslimah Uyghur yang dirampas hak beragamanya? Al Qur’an disita dari tanganku. Kitab suciku malah dibakar pemerintah China. Tak boleh memahami Islam. Tak boleh mengamalkan Islam. Tak boleh belajar membaca al Qur’an. Tak boleh menutup aurat.

Hatiku pasti sedih dan terluka. Takut, marah, tak berdaya semua menyatu. Apa mereka tak melihatku sebagai manusia merdeka? Siapa aku dimata mereka? Kenapa mereka memperlakukanku seperti itu?

Bagiku dan kaumku, masih adakah harapan merdeka? Siapa yang akan membebaskan kami dari siksaan pemerintah China? Siapa yang berani menghentikan kejahatan pemerintah China? Penguasa negeri muslim mana yang berani melepaskan diri dari pengaruh China lalu dengan sigap membela kami? 

Penguasa negeri muslim mana yang sanggup mengembalikan kedamaian hidup kami? Penguasa muslim mana yang mampu mengembalikan kehormatan kami? Penguasa muslim mana yang bisa mengembalikan senyum anak – anak kami?

25 November 2019

Jasa Guruku

#SelamatHariGuru


Tetiba peringatan hari guru, saya terkenang dengan seorang guru. Namanya ibu Aisyah. Beliau guru saya di kelas 1 SD. Saat itu beliau sebenarnya sudah lebih cocok saya panggil nenek. Usia beliau sudah 60 tahun lebih. Jelang pensiun. Meski begitu tetap dipanggil ibu guru.

Sebenarnya saya masuk SD di usia yang cukup, yaitu tujuh tahun. Namun tingkah saya kayak anak balita. Masih suka pecicilan. Padahal lagi ada bu Aisyah di ruang kelas waktu itu. Tapi saya tak peduli, main di kelas. Pukul – pukul meja dan berlarian. Apa reaksi bu Aisyah?

Beliau santai menghadapi saya. Beliau tidak memarahi saya. Hanya menegur dengan halus. Suara beliau lembut dan mudah senyum. Kami murid beliau merasa nyaman diajar beliau.

Tak sampai setahun seingat saya beliau mengajar, lalu pensiun. Terputus kabar tentang beliau. Dengan hitung – hitungan manusia, hari ini sekitar 27 tahun telah berlalu. Beliau mungkin sudah menghadap Allah swt. Semoga amal salihmu diterima Allah swt buk. Terima kasih atas kasih sayang dan ilmu yang engkau berikan pada kami murid – muridmu.