Senin, 13 Februari 2017

Kesalahan Sistem Ekonomi Kapitalisme Hingga Sosialis Marxisme


Judul buku          : Muqaddimah Sistem Ekonomi Islam, Kritik Atas Sistem
                              Ekonomi Kapitalisme Hingga Sosialisme Marxisme
Penulis                 : K.H. Hafidz Abdurrahman, MA
Penerbit               : Al Azhar Press
Tahun terbit         : Cetakan kedua , 2014
Ketebalan             : 189 hal
ISBN                    : 979-3118-87-3
Peresensi              : Eva Arlini

Indonesia tidak kekurangan ahli ekonomi. Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani sendiri dianggap sudah teruji kemampuannya, sebab sudah pernah menjabat sebagai petinggi di World Bank.

Namun apa lantas masalah kemiskinan dan pengangguran selesai? Ternyata tidak. Meski angka kemiskinan tahun 2016 diklaim oleh pemerintah menurun, namun kualitas kemiskinannya makin dalam dan makin parah.

Misalnya saja, kalau tadinya keluarga miskin makan tiga kali sehari dengan lauk seadanya, kini makin banyak orang miskin yang makannya sekali sehari. Angka kemiskinan yang menurun itu tak seberapa jumlahnya, tapi tingkat keparahan dari penduduk miskin itu jauh lebih mengkhawatirkan. Apa yang salah pada perekonomian kita?

Buku ini mengurai kesalahan-kesalahan mendasar dari ekonomi kapitalis yang sedang diterapkan saat ini. Kesalahan mendasar tersebut tak pernah dibahas oleh para ahli ekonomi termasuk pemerintah. Padahal kesalahan mendasar tersebut merupakan sisi paling penting dan utama yang menjadi penyebab rentetan permasalahan ekonomi yang ada.

Sabtu, 28 Januari 2017

Aturan Yang Nggak Logis


Susahnya hidup di zaman kapitalis. Hanya untuk mempertahankan pakaian syar’i saja butuh ketahanan mental yang kuat. Tiga orang siswi kelas 3 SMK, binaan saya di pengajian, sedang menghadapi masalah. 

Mereka resah dan gelisah ketika sekolah mereka mengharuskan berfoto tanpa kerudung untuk kebutuhan ijazah nantinya. Itu sama saja menyuruh muslimah buka aurat dong ya.

Sebenarnya aturan tersebut sudah diberlakukan hampir disemua sekolah khususnya sekolah umum non agama. Pengalaman saya, bahkan di Universitas bernuansa Islam sekalipun aturannya sama seperti itu.

Alasannya, dalam pas photo para siswi harus tampak jelas jidat dan telinganya agar mudah dikenali dan mudah cari kerja. Ada lagi siswi yang bilang alasannya karena ingin dipastikan kesempurnaan organ tubuh bagian atasnya terutama telinga.

Dengan mudah sih kita bisa mempertanyakan, emangnya kalau tidak nampak telinga dan jidat, seseorang susah ya untuk dikenali? Kalau saya merasa nggak gitu. Dengan melihat bagian wajah apa itu mata, hidung ataupun postur wajah, kita bisa banget untuk mengenali seseorang. Nggak logis kan alasannya tuh.

Sabtu, 24 Desember 2016

Partai Islam Dalam Kacamata Ilmu Komunikasi


Judul buku                 : Komunikasi Politik Partai Politik Islam
Penulis                        : Dr. Dedi Sahputra, MA
Penerbit                      : Orbit Yogyakarta
Tahun terbit               : 2016
Cetakan                      : Pertama
Dimensi buku            : 20,2 cm x 14,5 cm
Harga buku                : Rp. 100.000

Sewajarnya jumlah umat Islam Indonesia yang besar berkorelasi positif dengan dukungannya terhadap partai politik (Parpol) Islam. Dimana keberadaan partai politik merupakan kebutuhan bagi umat untuk menampung aspirasi menyangkut kemaslahatan hidup mereka. 

Namun kenyataan yang terjadi sebaliknya, partai politik Islam semakin lama semakin tidak populer di kalangan umat Islam.

Pada Pemilihan Umum (Pemilu) pertama tahun 1955, lima Parpol Islam dari 30 Parpol yang bertarung menguasai hampir separuh suara parlemen yakni 43,72%. Partai tersebut yakni Masyumi (memperoleh 20,92% suara), Nahdatul Ulama/NU (memperoleh 18,41% suara), Partai Syarikat Islam Indonesia/PSII (memperoleh 2,89% suara), Pergerakan Tarbiyah Indonesia/Perti (memperoleh 1,28% suara), dan Partai Politik Tarikat Islam/PPTI (memperoleh 0,22% suara), (Herbert Feith, dalam Katimin, dalam Dedi Sahputra, h. 05).

Sedangkan dalam Pemilu tahun 2009, 9 Parpol Islam diantara 38 Parpol yang menjadi peserta hanya memperoleh 23,84% total suara. Dengan rincian, Partai Keadilan Sejahtera/PKS (memperoleh 7,88% suara), Partai Amanat Nasional/PAN (memperoleh 6,01% suara), Partai Persatuan Pembangunan/PPP (memperoleh 5,32% suara), Partai Kebangkitan Bangsa/PKB (memperoleh 4,94% suara), Partai Bulan Bintang/PBB (memperoleh 1,79% suara), Partai Kebangkitan Nasional Ulama/PKNU (memperoleh 1,47% suara), Partai Bintang Reformasi /PBR (memperoleh 1,21% suara), Partai Matahari Bangsa/PMB (memperoleh 0,40% suara), Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia/PPNUI (memperoleh 0,14% suara), (www.kpu.go.id, dalam Dedi Sahputra).

Fenomena tersebut disinyalir merupakan efek dari kesenjangan antara aktivitas partai politik Islam dengan Islam itu sendiri. Selayaknya, Islam sebagai pandangan hidup paripurna yang diturunkan Allah swt kepada umat manusia melalui RasulNya terwujud dalam tubuh partai politik Islam. Hal inilah yang ingin dijawab oleh penulis buku ini melalui pendekatan ilmu komunikasi.

Aku dan Buku


Yang ku ingat, sejak masuk SD aku kenal yang namanya buku. Buku pelajaran sekolah. Senang juga baca cerita-cerita di Buku Bahasa Indonesia. Tentang apa? Aku lupa. Selanjutnya, buku sekolah jadi hal biasa. Masih terus senang baca cerita di Buku Bahasa Indonesia. Cuma sebatas itu.

Aku termasuk juara di sekolahku loh. Oh iya, di luar buku sekolah, aku pernah dibelikan buku sama pamanku. Buku doa-doa harian anak dan nama-nama benda dalam bahasa inggris. Tanpa sadar, seingatku untuk beberapa nama benda dalam bahasa inggris saat SD aku ingat. Meski di bangku SD sama sekali belum pernah belajar bahasa Inggris.

Perkembangan mengenal buku terjadi di bangku SMP. Semasa aku sekolah, ibuku bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Di rumah majikan mamaklah aku kenal Komik Doraemon, Komik Detektif 5 Sekawan dan komik-komik Jepang lainnya. Milik anak majikan mamak.

Maafkan aku yang saat bantu bersih-bersih kamar anak majikan mamakku, membawa bukunya pulang dan membacanya di rumah. Maafkan aku. Sebahagian besar bukunya ku pulangkan kok. Tapi sebagian kecil masih bersamaku.

Lagipula, buku komiknya banyak sekali. Apa dia akan merasa kehilangan kalau satu dua komiknya nggak ada? Tapi kalau dia sangat sayang pada bukunya. Mungkin saja dia akan merasa kehilangan. Tapi buktinya nggak ada ribut-ribut di rumah itu bilang kalau si anak majikan kehilangan komiknya. Makanya hobi baca komik itu berlangsung cukup lama, hingga mamakku berhenti bekerja dari sana.

Jumat, 23 Desember 2016

Merawat Energi Dakwah


Judul buku    : Puzzle Dakwah
Penulis         : Nurisma Fira dkk
Penerbit      : Irtikaz
Tahun terbit    : Cetakan pertama , 2014
Ketebalan      : 210 hal
ISBN           : 978-979-97937-9-9
Peresensi     : Eva Arlini

Memilih ada di jalan dakwah membutuhkan energi berlipat-lipat.  Pasalnya jalan ini penuh liku tantangan dan menuntut pengorbanan harta, waktu, tenaga bahkan jiwa.

Energi utama tentu datangnya dari iman. Maka para pengemban dakwah harus merawat keimananya dengan menjaga kedekatan pada Allah swt.

Setelahnya, kedekatan dengan jamaah, membenamkan diri pada pergolakan pemikiran dengan umat dan membaca kisah-kisah teladan para nabi, sahabat dan orang-orang yang senantiasa istiqamah di jalan dakwah akan turut menyuburkan semangat dakwah dalam diri.

Buku ini satu diantara kumpulan kisah para aktivis dakwah tentang suka duka dunia dakwah yang dijalaninya. Lebih dari lima puluh cerita di dalamnya, yang dikumpulkan dari tulisan sekitar lima puluh kontributor. Kisah dari berbagai penjuru dunia, oleh yang muda hingga yang tua dengan segala sisi kehidupan mereka. Luasnya ragam kisah tersebut yang membedakan buku ini dengan buku sejenisnya.

Fataatun Najibun bercerita tentang kelegaannya, bahwa dakwah juga butuh seni, sesuai hobinya. Seni tak bebas nilai, namun juga tidak dilarang secara mutlak dalam Islam, melainkan diatur pelaksanaannya oleh Islam. Rasulullah saw saat hijrah pun disambut dengan nyanyian “Thala’ah Badru ‘Alaina..”.

Selasa, 20 Desember 2016

Jangan Seperti Cinderella (Review Buku)



Judul buku    : Cinderella Syndrome
Penulis          : Leyla Hana
Penerbit         : Salsabila
Tahun terbit    : Cetakan pertama , 2012
Ketebalan      : 240 hal
ISBN              : 978-602-98544-2-8
Peresensi      : Eva Arlini

Ini kisah tiga orang perempuan yang terkena sindrom kisah Cinderella. Erika, 30 tahun, seorang wanita karir yang anti pernikahan, bertekad untuk tak menikah seumur hidupnya. Kegagalan rumah tangga orangtuanya yang berujung pada trauma mendalam ibunya dan kisah-kisah kelam rumah tangga teman-temannya yang sering dicurahkan kepadanya cukup untuk membentuk persepsi negatif terhadap lembaga bernama pernikahan. “Jangan berharap menemukan kebahagiaan dalam pernikahan”, pikirnya.

Sampai suatu saat ia menghadapi masalah dengan anak bos perusahaan tempat ia bekerja, ditambah kehadiran seorang lelaki rekan kerja yang tanpa disengaja menarik hatinya, membuatnya sempat berfikir untuk menikah demi berlepas diri dari masalah yang membelitnya.

Sementara Violet, 25 tahun, seorang penulis maniak, anak semata wayang yang manja dan pelupa berat dalam hal mengenali suatu jalan. Keperluannya terbiasa diurus semua oleh orangtuanya. Mulai masalah uang, beresin rumah hingga soal makan, semua beres diurus ibu dan ayahnya. Ia tinggal terima bersih. Kondisi Violet yang tak mandiri menyulitkan ia untuk pergi kemana saja, sementara ia harus menghadiri berbagai even yang bersangkut paut dengan dunia tulis menulis sesuai bidang yang digelutinya.

Petualangan Yang Melelahkan (Riview Buku)



Judul buku    : Sarvatraesa Sang Petualang
Penulis          : Dian Nafi
Penerbit         : Diandra Pustaka Indonesia
Tahun terbit  : Cetakan pertama , 2013
Ketebalan      : 158 hal
ISBN               : 978-602-1612-04-0

Sarvatraesa, seorang lelaki tampan dan cerdas yang sukses berkarir sebagai dokter tentara. Ia memiliki istri yang setia dan dua orang buah hati, disenangi banyak teman dan adik-adik senior dalam bidang profesinya. Rasanya hidup Sarva sudah sempurna. Tak perlu memiliki masalah yang berarti dalam hidupnya.

Sayang, ia mencapai semuanya karena rasa dendam. Ia ingin membuktikan diri dihadapan Mayana, gadis yang dimasa SMA membuatnya jatuh cinta. Mayana berhasil membuat Sarva penasaran setengah mati karena sikap ‘jual mahal’ yang ia tunjukkan. Mayana dan Sarva sempat menjadi sepasang kekasih karena suatu insiden. Namun hubungan itu berakhir menyakitkan. Sarva tak pernah bisa memenangkan hati Mayana.

Dalam memuluskan jalannya mencapai kesuksesan di kampus, Sarva mendekati anak salah satu profesornya yang bernama Davina. Kebetulan Davina memang cinta berat pada Sarva. Meski Sarva terus terang tentang hatinya yang tertambat hanya pada Mayana, namun Davina tetap bersedia menikah dengan Sarva.

Davina menjadi istri super sabar menghadapi suaminya yang menjadi petualang cinta, memacari wanita di setiap daerah tempat suaminya bertugas. Sikap mertua yang merendahkan harga diri Sarva, memperkeruh hubungan Sarva dengan Davina . Sarva menjadi manusia bermasalah sepanjang hidupnya. Membawa-bawa beban berat sakit hati , hingga tega menyakiti banyak hati.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...