Jumat, 06 Oktober 2017

Bantu Diri Istiqamah


Judul buku      : Hikmah-Hikmah Bertutur Untuk Jiwa Yang Mudah Futur
Penulis            : Arief B. Iskandar
Penerbit          : Al Azhar Press
Tahun terbit     : Cetakan pertama, 2010
Ketebalan       : 280 hal
ISBN               : 979-3118-78-4
Peresensi       : Eva Arlini

Sesuai judulnya, buku ini berisi kumpulan tulisan penuh hikmah yang menyegarkan keimanan kita. Sumber tulisan adalah ayat-ayat al qur’an dan hadist beserta tafsir dan syarah hadist. Diramu bersama kisah-kisah menarik zaman nabi dan para sahabat juga generasi salih/ saliha setelahnya.

Buku ini diperuntukkan bagi para pengemban dakwah khususnya dan kaum muslim pada umumnya. Bila untuk istiqamah butuh teman salih/ saliha, rutin ikut kajian Islam dan perbanyak mendekat pada Allah swt, maka buku ini melengkapi ketiga hal tersebut. Buku ini berisi banyak ilmu penunjang diri agar mantap menapaki jalan Islam.

Buku ini mengajak untuk menguatkan ketaatan pada Allah swt. Ia memaparkan keagungan al Qur’an dan para pengembannya. Ia mengingatkan untuk meneladani baginda nabi saw. Ia menjelaskan cara meraih ‘Izzah dakwah. Ia juga mengingatkan agar menjauh dari neraka dengan mengubur dosa. Iapun mengabarkan keagungan Islam dan kemuliaan Islam.

Dengan membaca buku ini, kita diajak merenungkan kembali tentang makna dzikir. Bahwa mengingat Allah swt ditunjukkan dengan lisan, hati dan perbuatan. Lisan yang basah oleh kalimah-kalimah thayyibah. Hati yang senantiasa ingat Allah dan muhasabah diri. Perbuatan yang kerap diikatkan dengan syariahNya yang agung.

Dalam buku ini akan kita temukan kedahsyatan para mukhlishin. Syetan itu kerjanya menggoda manusia. Tapi ada satu tipe manusia yang tak bisa digoda syetan. Itulah para mukhlishin (orang-orang ikhlas). “ Iblis berkata, “Demi kemuliaan-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka (anak-anak Adam) semuanya, kecuali hamba-hambaMu dari kalangan al –Mukhlashin di antara mereka.” (QS. Shad: 82-83).

Jumat, 29 September 2017

(review buku) Inspirasi Dari Ibunda Para Ulama


Judul buku    : Ibunda Para Ulama
Penulis         : Sufyan bin Fuad Baswedan MA
Penerbit        : Pustaka Al Inabah
Tahun terbit  : Cetakan pertama, 2016
Ketebalan     : 154 hal
ISBN             : 978-602-7986-46-6
Peresensi      : Eva Arlini

Produktifnya kaum ibu adalah menghasilkan generasi yang hebat. Setuju? Kalau kita amati jejak-jejak keberhasilan banyak orang, sebahagian besarnya pasti tak lepas dari peran ibu. Dari dulu hingga sekarang, ibu tetap teristimewa, motivator utama bagi pembentukan pribadi anak. Islam pun mengakuinya.

Peradaban Islam mencatat sejumlah ibu yang berperan penting melahirkan para ulama. Meski jarang kitab sejarah berbahasa arab yang khusus membahas biografi para ibu, tapi dimana ada kisah para ulama, di buku itu biasanya ada cerita ibunya. Dan kita tidak perlu repot lagi mencari kisah para ibu itu di tumpukan kitab tebal biografi para ulama. Cukup baca buku karya Sufyan ini. Penulis berhasil merangkum kisah-kisah ibunda para ulama sejak generasi salaf hingga kini.

Ada kisahn ibunda Anas bin Malik, ibunda Urwah bin Zubeir dan ibu susu Hasan al Bashry. Ketiga ibunda dari para ulama besar itu adalah shabiyah ahli syurga, insya allah. Ada pula ibunda Hasan bin Shalih bin Huyai. Ibunda Rabi’ah bin Abi ‘Abdirrahman, ibunda Iman Asy-syafi’i, ibunda dari ibundanya Umar bin Abdul Aziz dan lain-lain. Salah satu mutiara yang dihasilkan para ibu di masa kegemilangan Islam adalah imam syafi’i. Sama-sama kita mengenal beliau sebagai ulama yang fiqihnya dipakai banyak muslim di negeri kita. Saat itu lingkungan islami berpadu dengan peran ibu dalam merawat anaknya.

Para ibu shaliha masa kini menghasilkan ulama seperti Syaikh bin Baz, Syaikh ‘Ali bin Muhammad al-Sinan, ulama Mauritania dan lain-lain. Kesungguhan para ibu tersebut dalam mendidik anak telah menghasilkan ‘produk gagal’ dari sistem sekuler khas barat yang sedang menaungi kita. Menghasilkan para ulama yang berperan dalam upaya kebangkitan Islam, insya allah.

(review buku) Apa Alat Kontrasepsi Terbaikmu?


                                                   


Judul buku          : Memilih Kontrasepsi Alami dan Halal
Penulis                 : dr. Dwi Anton & dr. Dyah Andari
Penerbit                : Aqwam Medika
Tahun terbit         : Cetakan pertama, 2013
Ketebalan             : 192 hal
ISBN                     : 978-602-8831-03-1

Bagi muslim, menggunakan alat kontrasepsi sepatutnya bukan karena ingin mencegah kehamilan guna membatasi kelahiran. Sebab banyak dalil larangan menghentikan kehamilan secara permanen. Jika karena takut miskin, Allah swt sudah tegaskan rizki itu datangnya dari Allah swt, bukan dari manusia. Kalau karena merepotkan dalam perawatan, Allah swt menyampaikan bahwa dalam tiap aktivitas mengurus anak ada pahala yang mengalir. Kalau karena takut tak mampu membentuk generasi yang kuat menjalani hidup, sebenarnya cukup penuhi tuntunan Islam dalam merawat dan mendidik anak. Insya allah hasilnya memuaskan.

So, penggunaan alat kontrasepsi dibutuhkan untuk mengatur jarak kelahiran. Karena manajemen kelahiran anak berpengaruh terhadap kualitas pertumbuhan si anak maupun kondisi fisik dan mental si ibu. Dalam hal ini Islam membolehkan. Sayangnya berbagai alat kontrasepsi yang beredar tak semua baik, tak semua halal. Kita perlu kenal dengan jenis-jenis kontrasepsi berikut sisi positif dan negatifnya. Buku ini memberi penjelasan tentang hal tersebut.

Alat kontrasepsi terbagi dua jenis. Ada kontrasepsi alami dan ada yang buatan. Yang alami seperti metode azl, penyusuan dan metode pantang berskala seksual (KB Kalender, Suhu Basal Badan dan lendir serviks). Sedangkan kontrasepsi buatan seperti kondom, vasektomi dan suntik KB. Ada juga kontrasepsi buatan khusus untuk wanita seperti kontrasepsi hormonal, IUD (Intra Uterine Divice) dan sterilisasi. Sang dokter penulis buku menyatakan dibanding kontrasepsi buatan, yang alami lebih aman dari efek samping dan cenderung lebih terjamin kehalalannya. Misalnya kontrasepsi hormonal (pil, suntik, susuk) yang bisa menimbulkan gangguan menstruasi, mual, sakit kepala, disfungsi seksual dll. Metode IUD dan sterilisasi dinyatakan oleh ulama haram hukumnya.

Rabu, 20 September 2017

(Review) Bekerja Untuk Mengembangkan Diri

  
Judul buku     : Bekerja Bukan Untuk Uang
Penulis           : Venny Eriska
Penerbit         : Jejak Publisher
Tahun terbit   : Cetakan
Ketebalan      : 90 hal
ISBN              : 978-602-61595-6-4
Peresensi      : Eva Arlini

Kalau boleh saya sebut, buku ini buku motivasi. Iya. Karya remaja yang menggelari dirinya gadis kecil ini mengajak pembaca agar memandang pekerjaan lebih dari sekedar uang. Terinspirasi dari gurunya, Venny berkesimpulan bahwa pertimbangan utama dalam memilih pekerjaan sebaiknya adalah peluang untuk berkembang.

Kalau saya menafsirkan sih, yang dimaksud lebih kepada pekerja pemula yang belum banyak pengalaman. Kalau untuk seorang ahli, tentu dirinya dan perusahaan harus memperhitungkan gaji yang pantas untuk sang ahli. Sebab gaji yang sesuai standar keahlian tersebut menunjukkan penghargaan kepada ilmu. Artinya, kalau seseorang yang sudah berpengalaman dan amat ahli dalam bidang tertentu tidak menjadikan uang sebagai pertimbangan, sama saja ia tidak menghargai ilmu yang dimilikinya. Ini menurut saya loh hehe.

Maka demi mematangkan diri jadi seorang ahli, kita harus mau mencoba sebuah pekerjaan meski gaji tak seberapa. Sebab, pengalaman lebih berharga. Ketika sudah terbina dengan ilmu dan pengalaman, maka uang bakal datang dengan sendirinya. Ini yang saya tangkap dari buku tersebut. Untuk meyakinkan pembaca Venny memberi ilustrasi dan contoh-contoh kasus yang membuktikan pandangannya.

Saya menemukan spirit perjuangan dalam buku ini. Motivasi untuk pembaca dan penulis sendiri. Karena kabarnya penulis ingin bekerja dan cari pengalaman di Jepang, untuk membentuknya sebagai professional di bidang yang ia pilih. Makanya pembahasan dilengkapi dengan tips menjadi seorang pekerja yang baik dan beragam contoh negara yang sukses karena pekerjanya bekerja dengan baik. Memuat pula jenis-jenis pekerjaan unik yang ada di dunia. Membacanya bikin gelik, hehe.

Sabtu, 09 September 2017

Romantisme Rumah Tangga Saya


Di sesi sharing bareng adek adek jomblo saliha kemaren, saya diminta cerita tentang romantisme kehidupan rumahtangga saya. Alasannya, saya menjemput jodoh tanpa pacaran. Penasaran mereka gimana interaksi saya dengan suami.

Bertemu jodoh dengan jalan ta’aruf saya syukuri banget. Sebab dari kajian Islam yang saya dapatkan, saya meyakini jodoh yang baik akan ketemu kalau jalan yang ditempuh baik pula. Seperti janji Allah swt dalam al qur’an, lelaki yang baik untuk perempuan yang baik, demikian sebaliknya.

Dengan segala kekurangan dan kelebihan suami saya, harapan dulunya cukup terpenuhi. Dua hal yang paling saya harapkan dulu, punya suami yang nggak galak, nggak suka bentak dan cinta ilmu.

Kenapa yang nggak galak? Ceritanya saya sejak kecil diperlakukan galak oleh adik ibu yang merupakan satu-satunya lelaki di rumah. Maksud tulang saya barangkali mendidik. Supaya saya disiplin, kalau melanggar aturan maka saya akan dapat hukuman bentakan dan pukulan.

Udah bosan diperlakukan kasar, mohon betul sama Allah swt jodoh saya kelak bersikap lembut. Nggak mukul dan nggak bentak.

Selasa, 05 September 2017

Venny, Remaja Hebat


Awal kenal remaja Medan satu ini, Venny Eriska, bisa dibilang nggak sengaja sih. Udah lama nggak main ke Grup Fb Blogger Medan, beberapa waktu belakangan mulai kunjungan rutin lagi. Eh ketemu satu postingan Venny berisi cerita traveling di vlog pribadinya. Ini dia https://www.youtube.com/watch?v=6RFj927gCeE&t=272s.

Kunjungan pertama menghantarkan saya ke video Venny lainnya. Disitu saya ketahui Venny remaja yang sedang belajar seputar dunia pembuatan film. Doi juga hobi nulis dan baru saja menelurkan buku berjudul “Bekerja Bukan Untuk Uang”. Buku itu adalah buku ketiga Venny. Buku pertama dibuat saat Venny SMP.

Saya pikir Venny salah satu remaja yang tidak biasa. Dia istimewa dengan hobi menulisnya. Ditambah lagi sejak muda ia sudah berhasil membentuk cita-citanya yaitu menginjakkan kaki ke Jepang untuk belajar tanpa biaya orangtua alias beasiswa. Tak heran meski usianya kini masih tujuh belas tahun tapi aktivitas Venny cukup terarah. Karya buku dan Vlognya membuktikan hal itu.

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan main ke rumah Venny. Kita janjian ketemu karena saya pengen beli buku terbaru Venny plus buku keduanya Novel “Sensei”. Tiba di rumah Venny saya bersama seorang teman disambut ibu Venny. Ternyata Venny belum pulang sekolah. Agak kecewa juga sih, soalnya udah janjian.

Untungnya sembari menunggu Venny pulang ibunya menemani dengan terus bercerita tentang Venny. Ibu Venny tampak begitu bangga sama anak pertama beliau itu. Pujian demi pujian terus mengalir dari lisan ibu Venny untuk anak kesayangan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...