1 April 2019

Minuman Sehat di Pagi Hari

https://www.youtube.com/channel/UCGra1BUP8MPDDcnfU4XzDXw

Kombinasi kayu manis, cengkeh, kapulaga dan jahe menjadi minuman saya dan suami di pagi hari. Maklum, pasca terkena TBC beberapa tahun lalu, saya dituntut untuk lebih memperhatikan kesehatan. Jika daya tahan tubuh saya menurun, saya mudah terserang batuk. Butuh waktu lama buat saya untuk pulih bila sudah terlanjur terkena batuk. Alhamdulillah kayu manis, cengkeh, kapulaga dan jahe turut membantu menjaga daya tahan tubuh saya. Batuk pun jarang datang.

Awalnya terinspirasi gaya hidup baru yang dijalani oleh Dewi Hughes. Dimana mbak Dewi menjadikan rempah – rempah sebagai salah satu minuman sehat beliau. Ditambah membaca buku berjudul Rasulullah is My Doctor karya Jerry D. Grey. Jadilah saya dan suami memilih mengganti teh manis yang biasanya diminum di pagi hari menjadi teh rempah – rempah.

Selain menjaga daya tahan tubuh, empat jenis rempah – rempah itu memiliki keunggulan lainnya. Berbagai sumber menyebutkan bahwa kayu manis misalnya, dapat mencegah kanker dan dapat menurunkan berat badan. Jahe baik diminum oleh pasangan yang sedang program kehamilan. Terlebih disebutkan dalam al Qur’an bahwa jahe adalah minuman surga (QS. Al Insan: 17). Tentu hal itu menunjukkan bahwa jahe adalah minuman istimewa.

Kalau mbak Dewi Hughes meramu rempah – rempah sebagai minuman, tanpa menyertakan pemanis. Kalau saya sih tetap bisa menikmati bila ikutan cara mbak Dewi. Tapi tidak dengan suami saya. Minuman tanpa rasa ogah beliau minum. Jadi setelah saya merebus rempah – rempah tersebut bersama air secukupnya, saya pun memberi campuran gula aren dan madu ke dalamnya. Terkadang juga kami turut mencampurkan dua sendok makan susu kambing bubuk ke dalamnya. Wah kalau yang ini rasanya lezat sekali. Rasa bandrek lah. Silahkan dicoba minuman sehat nan lezat ini ya ibu – ibu.

Agar Barang Pecah Belah Tidak Mudah Pecah



Barang berbahan kaca memang rentan pecah. Sementara kita ibu – ibu ini cenderung sayang dengan perabotan rumah yang kita miliki. Aduh, kalau sedikit – sedikit peralatan dapur pecah saat nyuci piring, jadi galau dong. 

Kebetulan pas buka – buka lagi buku jadul tentang merawat perabotan rumah tangga, saya nemu tips ini. Cara agar barang pecah belah tidak mudah pecah.

Pertama, ambil panci dan isi air secukupnya. Beri 1 sendok makan deterjen

Kedua, masukkan barang pecah belah ke dalam panci hingga terendam deterjen.

Ketiga, panaskan air sampai mendidih dan air tinggal setengahnya

Keempat, diamkan sampai air menjadi dingin, baru diangkat.

Saya sendiri belum mencoba tips ini. Maklum kesibukan sehari – hari membuat lupa untuk merawat barang – barang yang ada di rumah. Menurut bukunya tips ini sih manjur. Niscaya barang – barang pecah belah menjadi awet dan tidak gampang pecah katanya. 

Ibu mau coba? Ntar kalau sudah coba hasilnya boleh share di kolom komentar ya.

Sumber: Buku 101 Tips Cerdas Merawat Rumah Dan Perabotnya by Farida Utami

27 Maret 2019

Berharap Dapat Inspirasi Dari Biografi Haji Anif

Gramedia Digital



Biografi adalah salah satu jenis bacaan yang ku suka. Jadi, beberapa waktu lalu saat berkunjung ke toko buku bersama suami, rak buku – buku biografi salah satu space bagiku untuk betah berlama – lama. Ketemulah buku biografi Pak Haji Anif berjudul Hidup Ikhlas Tanpa Tipu Muslihat.

Aku mengenal nama Haji Anif sejak kuliah. Nama itu tertera di sebuah gedung dalam Universitas Negeri Medan. Ternyata gedung itu milik si bapak. Belakangan nama itu kembali ku ingat sebab anak lelaki si bapak mencalonkan diri menjadi wakil gubernur Sumatera Utara dan terpilih.

Haji Anif adalah salah seorang hartawan Sumut. Sebagai seorang yang berhasil meraih dunia, sudah pasti beliau istimewa. Sebab tidak semua orang dapat berada di posisi tersebut. Biasanya ada proses yang dijalani oleh seseorang sehingga  dapat mencapai level tertentu yang melampaui orang kebanyakan.

Inilah yang ku harapkan ketika membaca biografi Haji Anif. Aku penasaran pada kerja kerasnya. Barangkali hal itu dapat tambah menginspirasiku bersemangat melakukan pencapaian di bidangku.

Buku Berkualitas, Mencerahkan



Tokopedia


Judul buku    : Meniti Jalan Intelektual Tercerahkan
Penulis          : Ahmad Wasim
Penerbit         : CV. Garuda Mas Sejahtera
Tahun terbit  : 2017
Cetakan         : ke-2
Ketebalan      : 270 hal
ISBN               : 978-623-212-124-9

Ada benarnya yang dikatakan penulis buku satu ini. Kita tak sekedar butuh membaca. Lebih dari itu, kita butuh membaca bacaan berkualitas. Buat apa membaca bacaan sampah, cuma mengotori pikiran saja. Namun kita tak satu suara mengenai kriteria bacaan berkualitas atau tidak.

Penulis buku ini menawarkan tulisan – tulisan esai berbau politik, agama, sosial, ideologi dan pengetahuan. Dikemas dengan sub – sub judul yang cukup unik menurut saya. Puber Politik, Arsitektur Syurga: Solusi Untuk Isu Pemanasan Global, ‘Rancu’ nya Shalat Para Sahabat dan lain sebagainya. Sub – sub judul yang unik ternyata bukan cuma sebatas judul, isinya pun cukup menarik. Seperti sub judul kedua yang disebutkan, penulis menyimpulkan bahwa gambaran syurga dalam al Qur’an yang bernuansa alam adalah solusi tepat bagi pemanasan global.

Kumpulan tulisan tersebut sebelumnya diposting di media sosial milik penulis. Rupanya menurut penulis, tulisan – tulisan seperti inilah yang dapat disebut berkualitas. Bacaan yang mendidik katanya. Lebih merangkul, tidak mengadu domba.

Entah tulisan seperti apa yang dimaksud penulis sebagai tulisan semrawut non kualitas. Genre buku banyak sekali. Masing – masing penikmat genre tersebut memiliki penilaian akan kuaitas bacaan mereka. Lagi – lagi penilaiannya subjektif. Dinilai berdasarkan manfaat yang diperoleh.

Tampaknya penulis buku ini cukup percaya diri dengan pendapatnya. Yaah, setidaknya kita sepakat satu hal, bahwa bacaan berkualitas harus membawa kebaikan tak hanya bagi diri sendiri tapi juga dirasakan oleh orang lain. Lagi – lagi, terlepas dari standar penilaian baik buruk yang berbeda – beda antar penikmat buku hari ini.

4 Februari 2019

Mengenal Tokoh Seni





Belajar itu kewajiban. Belajar itu kebutuhan. Salah satu sumber belajar adalah buku. Hal itu kusadari. Meski tak semua isi buku mampu terserap dalam benak, setidaknya satu dua pelajaran diperoleh juga. Baca buku saja tak kunjung diri menjadi padat berilmu, apalagi tak baca buku. Intinya, buku jadi penting sebagai bagian dari keseharian kita.

Kali ini diberi rezeki oleh Allah swt memiliki buku berjudul “Questioning Everything; Kreativitas Di Dunia Yang Tidak Baik – Baik Saja”, karya duo pemuda Tomi Wibisono dan Soni Triantoro. Buku ini berisi kumpulan hasil wawancara penulis dengan para tokoh seni. Konon para tokoh seni ini isi kepalanya tak melulu soal seni. Mereka juga bicara soal politik dan sosial.

27 Desember 2018

Berharaplah Hanya Kepada Allah


“Enaknya ya punya anak. Dimasa tua bisa diurusi”. Ucap seorang nenek padaku. Beliau berusia 71 tahun. Sedang menderita kolestrol tinggi dan darah tinggi. Beliau senang dikunjungi karena ada teman bercerita. 

Hari itu suara hatinya tercurah. Betapa beliau merindukan kehadiran anak sejak awal pernikahan dahulu. Tenaga, waktu dan harta sudah dihabiskan sebagai ikhtiar memperoleh anak. Namun Allah swt berkehendak lain. Hingga suami berpulang anak tak kunjung datang. 

Kini rindu itu masih sering muncul. Terutama saat sakit mendera. Ingin ada anak mendampingi dan merawatnya.

Ucapan si nenek membuat ingatanku melayang ke beberapa kenalan. Mereka juga sudah tua. Memiliki anak kandung. Namun nasib mereka tak jauh beda dengan nenek yang ku ceritakan di awal. Mereka pun kesepian karena ditinggalkan anak – anak mereka. 

Cerita semisal banyak sekali. Banyak anak hari ini menelantarkan orang tua yang telah melahirkan dan merawat mereka hingga dewasa. Alhasil panti jompo pun ramai. Ditemukan pula banyak orang lanjut usia terkatung katung di jalanan.